Freya Thorne
1 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Freya Thorne
Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah
Romantis Di ulang tahun pernikahan kami yang kelima, aku berdiri gemetar memegang test pack positif, siap memberikan kejutan terindah untuk suamiku.
Namun, kejutan itu berbalik menamparku saat aku melihat Bara justru sedang memeluk mesra sepupuku sendiri, Fathia, di ruang kerjanya.
"Diah itu membosankan, sayang. Dia cuma pajangan rumah yang patuh, tidak ada gairah," kata Bara dengan nada meremehkan yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Saat Fathia khawatir aku akan hamil, Bara tertawa dan berkata, "Tenang saja, dia tidak hamil. Lagipula, dia terlalu sibuk dengan hal tidak penting."
Darahku mendidih, tapi aku menahan diri untuk tidak melabrak mereka saat itu juga.
Aku menyimpan kembali alat tes kehamilan itu ke dalam kotak beludru. Bara tidak pantas tahu bahwa dia akan menjadi ayah.
Aku menghapus air mataku dan memasang topeng senyum terbaikku.
Aku akan bersandiwara menjadi istri sempurna selama tiga hari terakhir ini, lalu menghilang selamanya dari hidup mereka dengan membawa serta anakku. Anda mungkin suka
Satu Malam Bersama Bos Miliarderku
Paco Pizzi Selama tiga tahun, aku mengorbankan segalanya untuk mendukung karier pacarku, sementara aku rela hanya menjadi asisten junior yang tak terlihat.
Hingga suatu pagi setelah malam amal yang kacau, aku terbangun di atas seprai sutra di ranjang penthouse milik CEO perusahaanku yang dingin dan ditakuti, Ezra Wijaya.
Malam itu, pacarku, Indra, mengabaikan semua panggilanku dengan alasan ketiduran. Di saat aku dihantui rasa panik karena Ezra menjebak dan memaksaku menandatangani kontrak pernikahan demi menstabilkan sahamnya, sebuah kebenaran lain menamparku. Aku melacak lokasi ponsel Indra dan menemukan titik biru itu tidak berada di rumahnya, melainkan berhenti tepat di gedung sahabat baikku, Liana.
"Aku lembur malam ini, Sayang," pesannya dengan manis.
Padahal dia sedang tidur dengan sahabatku sendiri. Tiga tahun kesetiaanku dibalas dengan pengkhianatan paling menjijikkan oleh dua orang yang paling kupercayai. Hatiku hancur, berubah menjadi rasa dingin yang menusuk tulang.
Mengapa mereka tega mempermainkanku selama ini? Di saat aku merasa terekspos dan tidak punya siapa-siapa lagi, Ezra justru menyodorkan sebuah kesepakatan yang tak mungkin kutolak. Dia mengetahui rahasia terbesarku, dan dia menawarkan akses langsung ke Senator Pratama—pria berkuasa yang telah menghancurkan hidup ibuku dua puluh tahun lalu.
Aku membuang bunga pemberian Indra ke tempat sampah, lalu menatap pria paling berkuasa di New York itu.
"Aku ingin akses ke Keluarga Pratama. Itu syaratku."
Malam ini, berbalut gaun sutra zamrud dan menggenggam erat tangan Ezra di karpet merah, aku menatap wajah pucat pasi mantan pacar dan sahabatku yang terkejut melihatku. Pembalasan dendamku baru saja dimulai.