icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah

Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah

icon

Bab 1 

Jumlah Kata:672    |    Dirilis Pada: 09/12/2025

u berdiri gemetar memegang test pack positif,

aku melihat Bara justru sedang memeluk mesra

ah yang patuh, tidak ada gairah," kata Bara dengan n

dan berkata, "Tenang saja, dia tidak hamil. Lagi

menahan diri untuk tidak me

itu ke dalam kotak beludru. Bara tidak

taku dan memasang to

ma tiga hari terakhir ini, lalu menghilang selama

a

h (

yang seharusnya mengubah segalanya. Tapi yang kutemukan adalah suamiku, Bara, di pelukan sepupuku se

rmin, mengelus perutku yang masih rata. Ada kehidupan baru di sana, rahasia kecil kami yang akan kuberikan sebagai hadiah

udru di laci meja rias. Aku ingin momen ini sempurna. Hadiah termanis untuk pria yang

lu dia pakai, bukan untukku. Itu adalah nada yang sama saat ia berbicara dengan rekan bisnisnya, dengan nada yang penuh taktik da

sedikit terbuka. Aku melihat Bara. Dia bersandar di meja, ponsel di telinganya. Ada se

a licin seperti minyak. "Kau tahu, Diah terlalu membosankan

ajangan rumah yang patuh. Membosankan. Aku bukan Diah yang sama lagi, Diah yang dulu penuh mimpi

lagi, merengek manja. "Aku ingin Bara. Aku ingin Bara menema

ucu sekali. Diah tidak hamil. Kami sepakat untuk menunda. Lagipula,

u, bukti nyata masa depan yang baru saja Bara hancurkan. D

ori kulitku. Bara terus meremehkanku, merendahkanku di hadapan Fathia, sepupu yang kubiayai kuliahnya. Fat

menjadi "istri penurut". Tapi kebencian itu, pahit dan tebal, memenuhi tenggorokanku

l dalam diriku. Aku harus memastikan ini. Aku harus melihat dengan mataku sendiri

ni adalah ketenangan yang menakutkan

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah
Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah
“Di ulang tahun pernikahan kami yang kelima, aku berdiri gemetar memegang test pack positif, siap memberikan kejutan terindah untuk suamiku. Namun, kejutan itu berbalik menamparku saat aku melihat Bara justru sedang memeluk mesra sepupuku sendiri, Fathia, di ruang kerjanya. "Diah itu membosankan, sayang. Dia cuma pajangan rumah yang patuh, tidak ada gairah," kata Bara dengan nada meremehkan yang belum pernah kudengar sebelumnya. Saat Fathia khawatir aku akan hamil, Bara tertawa dan berkata, "Tenang saja, dia tidak hamil. Lagipula, dia terlalu sibuk dengan hal tidak penting." Darahku mendidih, tapi aku menahan diri untuk tidak melabrak mereka saat itu juga. Aku menyimpan kembali alat tes kehamilan itu ke dalam kotak beludru. Bara tidak pantas tahu bahwa dia akan menjadi ayah. Aku menghapus air mataku dan memasang topeng senyum terbaikku. Aku akan bersandiwara menjadi istri sempurna selama tiga hari terakhir ini, lalu menghilang selamanya dari hidup mereka dengan membawa serta anakku.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10