icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bayangan Mafia Mengintai Setiap Nafasku

Bab 4 bayangan yang selalu mengintai

Jumlah Kata:2026    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

jendela kamar, menatap langit abu-abu dengan perasaan campur aduk. Ada ketenangan, tapi juga kegelisahan yang terus menghantui.

cil. Namun saat ia keluar dari dapur, Kaelion sudah ada di sana, berdiri de

tegas. "Aku harap tidurmu nyenyak. Kita m

Aku... aku baik-baik saja," jawabnya, berusaha

enatapnya penuh perhatian. "Kamu akan baik-baik saja jika kamu belajar memahami dunia in

uh. Ia mengajak Nina ke ruang kerja pribadinya, tempat dokumen, peta, dan grafik memenuhi dinding. Ia mulai menjelaskan bagaimana sebuah keputusa

. Ia merasa kagum dan sekaligus takut. Dunia ini begitu kompleks, begitu ber

ko, dan membuat keputusan cepat. Awalnya, Nina merasa kewalahan. Setiap kesalahan kecil membuatnya merasa gagal, setiap ketidakpastian membuatnya takut. Nam

akan udara segar, merasakan kontrol atas dirinya sendiri meskipun sebentar. Namun langkahn

ia ini penuh jebakan. Bahkan di tempat yang terlihat aman, bahaya bisa muncul dari mana

tegas. "Aku... ingin belajar meng

emahami setiap gerak, membaca setiap tanda, dan selalu siap untuk bertin

aktif dalam permainan yang Kaelion ciptakan. Ia belajar membaca orang, memperhatikan gerak-gerik Kaelion, dan mencoba me

kon, memandangi hujan, ketika Kaelion muncul di sampingnya dengan dua cangkir teh hangat.

ini keras. Tapi aku percaya, jika kamu mau belajar, kamu b

penasaran, dan sesuatu yang sulit ia definisikan. "Aku

ulit diabaikan. "Kadang pilihan itu bukan milikmu. Kadang dunia memili

i Kaelion-baik sebagai musuh, guru, atau teka-teki yang harus dipecahkan. Dan di sanalah ia mulai menyadari bahwa kekuatan sejati buk

iri sendiri: "Aku akan bertahan. Aku akan belajar. Dan suatu hari, ak

alah ujian, setiap langkah adalah pertarungan, dan setiap detik adalah pe

uk menemukan cara agar bebas, meskipun dunia di sekitarnya terasa semakin g

di aspal basah. Nina baru saja keluar dari kafe tempat ia dan beberapa teman kuliahnya biasa berkumpul setelah kelas sore. Suara tawa masih te

g waktu dosen kamu sempat berhenti ngomong gara-gara semua orang nengok?" ucap Shania, salah satu sahab

nggak cuma sekali. Kayaknya dia nggak ngerti

k sekeren dia mau jemput aku di kampus,

it terangkat. "Tapi kamu nggak tahu dia kayak apa kalau sedang marah. Di

nya. "Kamu ngomong ka

ahami tentang Kaelion. Ia bukan sekadar pria dengan wajah sempurna atau kekayaan melimpah. Ada miste

a lain terdengar dari belakang. "Kamu ma

ang. Ia menoleh pelan, dan benar saja, Kaelion berdiri tak jauh di sana, mengen

ah. "Tuhan... di

n, aku baru keluar sama teman ku

ajam tapi wajahnya tetap tenang. "Aku

k minta d

tu yang berharga," balasnya ringan, seol

onton adegan dari film romantis yang menegangkan. "Oke

p Kaelion dengan nada setengah kesal. "Kamu sadar nggak kalau

in karena aku memang berasal da

lama. Entah kenapa, ia merasakan

Naiklah, Nina. K

pu-lampu kota tampak berkilauan di bawah langit malam. Kaelion memati

rlalu rapuh," ka

eran. "Kamu lag

inta, keluarga, kekuasaan. Mereka lupa, semua itu sementara. Di du

kan kepala, bingung. "Kamu bic

m samar. "Mungkin aku memang bukan

hembus masuk dari jendela, membawa arom

elemah. "Kamu menakutkan

jahat, Nina. Kadang, sesuatu yang menakutkan ju

hampir terlambat ke kelas. Di depan gedung kampus, ia

ah baca grup? Soal seminar nasional

gusap rambutnya yang masih berantaka

kumentasi. Kamu orang yang paling

pi jangan suruh aku wawancara oran

i ini bukan pejabat kampus

iuh dengan persiapan acara. Spanduk besar terbentang di depan

a. Ia menoleh ke arah pepohonan di belakang gedung, tapi tak ad

leponnya bergetar. Sebuah pesan dar

ina. Dunia Kaelion bukan tempat

coba membalas, tapi pesan itu sudah

Rania, saudara ibunya, datang tanpa pemberitahuan. Wanita

menelusuri ruang tamu. "Kecil sekali, Nina. I

yaman di sini, Tante. Aku nggak

i," desak Rania. "Kamu harusnya menikah, cari suami k

na sendiri, Tante. Aku nggak mau hidup cu

ar dari dapur mencoba menengahi, tapi Rania

. Jangan bilang kamu jatuh cinta pada seseo

m. "Kamu nggak tahu

ti dia. Berbahaya. Dan aku tidak akan diam kalau kamu

penilaian orang. Tapi lebih dari itu, ia mulai merasa takut-takut

agi. Kali ini tidak dengan mobil mewahnya, tapi berjalan masuk ke aula sepe

pa?" bisikn

ya," balas

Darel sebentar sebelum berkata pada

, aku la

l kesela

ngan seakan membeku. Nina akhirnya m

serius. "Ada yang mengikuti lan

pa

manusia biasa. Me

mong seolah dunia itu n

Kaelion nyata, Nina. Dan sekarang, kamu s

aneh. Seperti bergetar halus, seolah ada ge

lain berdiri di depan rumahnya-bermata perak s

gi?" suara itu menggema tanpa suar

ing Nina dalam sekejap

nya, Kaelion. Siapa pun yang terlibat dengan

. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi, tapi sa

h ke arah Nina. "Mulai malam ini, kau tidak sendirian lagi,

gan yang menakutkan, sementara bayangan du

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bayangan Mafia Mengintai Setiap Nafasku
Bayangan Mafia Mengintai Setiap Nafasku
“Terseret dalam lumpur gelap dunia mafia, aku bertekad mencari celah untuk keluar. Aku hanya ingin hidup damai, jauh dari kekacauan dan darah. Meski bercita-cita untuk dikenal, aku ingin dikenal tanpa harus tampil di depan sorotan. Ya, aku memang setertutup itu. Namun, takdir sepertinya punya selera humor yang kejam. Di tengah perjalanan kuliahku, ibuku memutuskan menikah dengan mantan bos besar mafia. Dan dari pernikahan itu, aku mendapat satu sosok yang tak pernah kuharapkan: Kaelion Verez Montefalco, pewaris tunggal dan kepala mafia Italia Selatan. Pria itu adalah badai dalam hidupku. Dia menjeratku dalam jaring yang tak bisa kuputus. Dia mengatur langkahku, mengubah arah mimpiku, bahkan menentukan napas yang boleh kuhela. Ke mana pun aku melarikan diri, dia selalu di sana-menatap, mengawasi, mengancam. Kaelion ingin aku tunduk pada aturannya. Dia dingin, kejam, dan terlalu terbiasa mendapatkan apa pun yang dia mau. Sementara aku berjuang untuk mempertahankan kebebasan, dia berjuang untuk menghancurkannya. Dan sebesar kebencianku padanya... sebesar itulah obsesi dia padaku.”
1 Bab 1 Aku selalu percaya hidupku akan berjalan2 Bab 2 langkahku terasa diawasi3 Bab 3 perhatian tanpa harus bersuara4 Bab 4 bayangan yang selalu mengintai5 Bab 5 wartawan kampus mondar-mandir6 Bab 6 serpihan kaca7 Bab 7 mengizinkan kelemahan8 Bab 8 garam laut bercampur jadi satu9 Bab 9 Aku tidak tahu harus percaya pada siapa lagi10 Bab 10 Ini bukan main-main11 Bab 11 Suasana sepi12 Bab 12 memeriksa setiap bayangan13 Bab 13 semalam telah membuat jalanan licin14 Bab 14 tidak akan membiarkan siapa pun15 Bab 15 risiko tinggi16 Bab 16 tangannya mengepal di pinggang17 Bab 17 gangguan18 Bab 18 mulai pulih19 Bab 19 lusuh20 Bab 20 Anak itu duduk di lantai dekatnya21 Bab 21 menjaga yang mereka cintai22 Bab 22 pengkhianat23 Bab 23 sangat sulit diprediksi24 Bab 24 pojok ruangan25 Bab 25 bisa jatuh ke tangan mereka26 Bab 26 Segalanya terkendali