icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Teratai Abadi

Bab 5 Bayi yang Menolak Mati

Jumlah Kata:794    |    Dirilis Pada: 26/02/2024

dan menyentuh perut besar wa

mayat Zuraya. "Bayi di dalam kandunganmu ternyata masih h

jawaban dari Zuraya yang te

kan halus yang mengganggu semadi serta tidurnya. Juga, tentang uc

ya. Meski masih di dalam kandungannya, namun Inyiak Mudo sudah

mu..." ujarnya dengan disertai de

a kemilau kekuningan. Seolah kembali hidup, kedua kaki Zuraya yang patah itu membuka le

Zuraya keluar dengan sendirinya. Inyiak

muti darah, namun tidak terdengar suara tan

terhadapmu?" ujarnya pada bayi tak bersuara di pangkuannya. "Kau

tertuju kembali p

ini... Akan tetapi, jika ini sudah takdirnya, maka, tidak ada yang bisa k

dih kepada Inyiak Mudo telah terbukti. Rasian

mana bukt

erajaan Minanga, lalu di mana lempengan

yang gelap. Bola matanya berkilat, seakan-akan ia benar-ben

raya. Inyiak Mudo mendesah halus, bukan lantaran ia yang telah menemukan bukti ketig

nnya ke arah benda tersebut dan seketika

ung Kacinduaan, merupakan abang dari bayi yang digendong oleh Inyiak Mudo, yang p

itu mendesah panjang ketika ia menyadari bentuk ukiran yang ada pada pecahan tembikar tersebut. Meskipun

dalah punca dari semua ma

Ia mendesah berat lagi, lalu menghentakkan satu tangannya ke arah jasad Zuraya. Dari

makan oleh hewan buas," ujarnya den

ak suara yang keluar dari mulut bayi perempuan itu, padahal mulut

, bisa pula akibat dari apa yang dialami ibunya. Ia memandang ke arah tubir jurang di sis

bayi itu sebelumnya terjatu

uh pipi sang bayi. "Mulai sekarang, ka

n untuk meneruskan langkahnya, dan dalam sekejap saja ia menghilang di antara kegelapan malam denga

*

Sabai Nan Manih alias Inyiak Gadih. Hanya saja, kali ini ia datang ke

ak Gadih," ujar Inyiak Mudo pada gadis kec

terlahir dengan kekurangan. Gadis kecil yang bahkan dalam usia semuda itu telah terlihat akan menjadi seorang gadis ya

apan Inyiak Mudo hanya denga

kah, I

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Teratai Abadi
Teratai Abadi
“Karena kejadian memilukan yang menimpa ibunya, Puti Bungo Satangkai terlahir prematur, bisu, dan hanya bisa mendengar dengan sebelah telinga kanannya saja. Meski demikian, berkat ketelatenan Inyiak Mudo yang menemukannya di lembah Ngarai Sianok dan merawatnya, dia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan menguasai silat serta kesaktian. Bungo besar dan mendapat pengajaran Inyiak Mudo di sebuah pulau kecil, di lepas pantai barat Andalas, bernama Pulau Sinaka. Setelah kematian Inyiak Mudo dalam pertarungannya dengan Inyiak Gadih, Bungo akhirnya meninggalkan Pulau Sinaka menuju daratan utama Andalas melalui pelabuhan Bandar Bangkahulu. Berbekal sebuah liontin berbentuk satu kelopak teratai pemberian Inyiak Mudo, Bungo memulai pencarian atas jati dirinya. Langkah membawa pertemuannya dengan si Kumbang Janti, salah satu Hulubalang Kerajaan Minangatamvan. Dari si Kumbang Janti, Bungo mengetahui bahwa liontinnya itu adalah satu bagian dari tujuh kelopak Teratai Abadi, pusaka Kerajaan Minanga yang telah lama menghilang. Petunjuk-petunjuk yang didapat Bungo mengarah ke kerajaan yang sama. Maka, dia memutuskan untuk pergi bersama si Kumbang Janti menuju Istana Minanga di Batang Kuantan. Di Istana Minanga, Bungo justru terseret kasus asusila bersama si Kumbang Janti yang dituduhkan oleh si Balam Putiah kepada mereka. Meski demikian, Bungo tetap tenang dan mampu menyelesaikan permasalahan itu, meski harus mengalahkan Halimunan, pasukan rahasia penjaga Raja Minanga, Rajo Mudo. Di sini pula terungkap bahwa Bungo ternyata adalah keturunan Sialang Babega bersama Zuraya, dan dia memiliki seorang abang yang sakti bernama Mantiko Sati. Semua itu bersangkut-paut dengan liontin miliknya yang sejatinya adalah milik Sialang Babega, dan Sialang Babega mendapatkan kelopak Teratai Abadi itu dari tangan Datuak Rajo Tuo, Raja Minanga dua generasi sebelumnya. Dengan kata lain, Bungo adalah keturunan seorang yang terpandang dan dekat dengan istana. Terlebih lagi, Ratu Nan Sabatang adalah tetangga keluarganya semasa dahulu. Dari sinilah pertualangan Bungo memasuki masa yang lebih kejam dan menyakitkan. Demi memenuhi keinginan Rajo Mudo, mengumpulkan semua kelopak Teratai Abadi, Bungo harus berhadapan dengan tokoh-tokoh sakti Tanah Andalas, bahkan hingga ke Selat Malaka. Dalam perjalanannya menemani Bungo, si Kumbang Janti yang mencintai Bungo justru tewas. Namun cinta Bungo bukanlah kepada si Kumbang Janti, melainkan kepada Antaguna, seorang pimpinan Penjahat Berbaju Hitam. Sebab Antaguna juga mencintai Bungo, maka ia rela meninggalkan dunia hitamnya dan berjuang bersama sang gadis demi berbakti pada kerajaan. Di akhir perjalanannya mengumpulkan kelopak Teratai Abadi, Bungo akhirnya bertemu dengan satu-satunya keluarga kandung yang ia miliki, Mantiko Sati. Dan kala itu, Mantiko Sati yang beristrikan Ratu Mudo, pemimpin Minangatamvan sebelum Rajo Mudo, hidup dengan mengasingkan diri dari keramaian. Selesai dengan urusan istana, Bungo dan Antaguna menikah di Pulau Sinaka.”