icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Teratai Abadi

Bab 48 Sampai Jumpa Lagi

Jumlah Kata:721    |    Dirilis Pada: 22/03/2024

lmu lebi

erti sedang menahan tawanya.

tersenyum lagi. 'M

ujarnya, tidak dengan nada yang tinggi. "Kita tidak terika

Buka bab ini

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Teratai Abadi
Teratai Abadi
“Karena kejadian memilukan yang menimpa ibunya, Puti Bungo Satangkai terlahir prematur, bisu, dan hanya bisa mendengar dengan sebelah telinga kanannya saja. Meski demikian, berkat ketelatenan Inyiak Mudo yang menemukannya di lembah Ngarai Sianok dan merawatnya, dia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan menguasai silat serta kesaktian. Bungo besar dan mendapat pengajaran Inyiak Mudo di sebuah pulau kecil, di lepas pantai barat Andalas, bernama Pulau Sinaka. Setelah kematian Inyiak Mudo dalam pertarungannya dengan Inyiak Gadih, Bungo akhirnya meninggalkan Pulau Sinaka menuju daratan utama Andalas melalui pelabuhan Bandar Bangkahulu. Berbekal sebuah liontin berbentuk satu kelopak teratai pemberian Inyiak Mudo, Bungo memulai pencarian atas jati dirinya. Langkah membawa pertemuannya dengan si Kumbang Janti, salah satu Hulubalang Kerajaan Minangatamvan. Dari si Kumbang Janti, Bungo mengetahui bahwa liontinnya itu adalah satu bagian dari tujuh kelopak Teratai Abadi, pusaka Kerajaan Minanga yang telah lama menghilang. Petunjuk-petunjuk yang didapat Bungo mengarah ke kerajaan yang sama. Maka, dia memutuskan untuk pergi bersama si Kumbang Janti menuju Istana Minanga di Batang Kuantan. Di Istana Minanga, Bungo justru terseret kasus asusila bersama si Kumbang Janti yang dituduhkan oleh si Balam Putiah kepada mereka. Meski demikian, Bungo tetap tenang dan mampu menyelesaikan permasalahan itu, meski harus mengalahkan Halimunan, pasukan rahasia penjaga Raja Minanga, Rajo Mudo. Di sini pula terungkap bahwa Bungo ternyata adalah keturunan Sialang Babega bersama Zuraya, dan dia memiliki seorang abang yang sakti bernama Mantiko Sati. Semua itu bersangkut-paut dengan liontin miliknya yang sejatinya adalah milik Sialang Babega, dan Sialang Babega mendapatkan kelopak Teratai Abadi itu dari tangan Datuak Rajo Tuo, Raja Minanga dua generasi sebelumnya. Dengan kata lain, Bungo adalah keturunan seorang yang terpandang dan dekat dengan istana. Terlebih lagi, Ratu Nan Sabatang adalah tetangga keluarganya semasa dahulu. Dari sinilah pertualangan Bungo memasuki masa yang lebih kejam dan menyakitkan. Demi memenuhi keinginan Rajo Mudo, mengumpulkan semua kelopak Teratai Abadi, Bungo harus berhadapan dengan tokoh-tokoh sakti Tanah Andalas, bahkan hingga ke Selat Malaka. Dalam perjalanannya menemani Bungo, si Kumbang Janti yang mencintai Bungo justru tewas. Namun cinta Bungo bukanlah kepada si Kumbang Janti, melainkan kepada Antaguna, seorang pimpinan Penjahat Berbaju Hitam. Sebab Antaguna juga mencintai Bungo, maka ia rela meninggalkan dunia hitamnya dan berjuang bersama sang gadis demi berbakti pada kerajaan. Di akhir perjalanannya mengumpulkan kelopak Teratai Abadi, Bungo akhirnya bertemu dengan satu-satunya keluarga kandung yang ia miliki, Mantiko Sati. Dan kala itu, Mantiko Sati yang beristrikan Ratu Mudo, pemimpin Minangatamvan sebelum Rajo Mudo, hidup dengan mengasingkan diri dari keramaian. Selesai dengan urusan istana, Bungo dan Antaguna menikah di Pulau Sinaka.”
1 Bab 1 Rasian2 Bab 2 Makna yang Lebih Dalam3 Bab 3 Suami-istri yang Selalu Berseteru4 Bab 4 Takdir Pertemuan5 Bab 5 Bayi yang Menolak Mati6 Bab 6 Puti Bungo Satangkai7 Bab 7 Alasan yang Tepat8 Bab 8 Rahasia di Balik Liontin9 Bab 9 Setipis Kulit Ari10 Bab 10 Kedatangan yang Mengejutkan11 Bab 11 Tak Lagi Terhindari12 Bab 12 Api dan Air13 Bab 13 Menjadi Wadah14 Bab 14 Satu Kesatuan15 Bab 15 Sehidup Semati16 Bab 16 Perpaduan yang Menguntungkan17 Bab 17 Si Cantik yang Bisu18 Bab 18 Menuju Singkarak19 Bab 19 Bukan Hantu Bukan Manusia20 Bab 20 Penjahat-Penjahat Rendahan21 Bab 21 Gelagat Aneh22 Bab 22 Sedikit Kecurigaan23 Bab 23 Hubungan yang Pelik24 Bab 24 Ayah dan Anak yang Konyol25 Bab 25 Dusun yang Damai26 Bab 26 Kebaikan yang Tulus27 Bab 27 Kawanan Berbaju Hitam28 Bab 28 Penyerang Misterius29 Bab 29 Caping dan Jubah30 Bab 30 Pendekar Wanita31 Bab 31 Aroma Menggiurkan32 Bab 32 Kesempatan Kedua yang Disia-siakan33 Bab 33 Mengolah Raga34 Bab 34 Lawan Sepadan35 Bab 35 Jaring Jerat Naga36 Bab 36 Tangkapan Besar37 Bab 37 Pelampiasan38 Bab 38 Hal yang Berbeda39 Bab 39 Rumah di Dalam Tebing40 Bab 40 Sifat yang Aneh41 Bab 41 Pria Baik yang Menjadi Jahat42 Bab 42 Bukan Musuh43 Bab 43 Topeng44 Bab 44 Di Balik Hal Buruk45 Bab 45 Raksasa Berhati Lembut46 Bab 46 Pria Aneh47 Bab 47 Sibunian Tongga48 Bab 48 Sampai Jumpa Lagi49 Bab 49 Menyeberangi Bukit Barisan50 Bab 50 Perkelahian di Danau Tes51 Bab 51 Berpikir Sebelum Bertindak52 Bab 52 Tekad yang Kuat53 Bab 53 Turun Tangan54 Bab 54 Sedikit Pelajaran55 Bab 55 Hal yang Belum Terungkap56 Bab 56 Menuju Minangatamvan57 Bab 57 Keterbatasan58 Bab 58 Sikap dan Perilaku59 Bab 59 Hari yang Baru60 Bab 60 Satu Kamar61 Bab 61 Olah Tenaga Dalam62 Bab 62 Keributan di Siang Hari63 Bab 63 Fitnah Berdarah64 Bab 64 Dilema65 Bab 65 Melarikan Diri66 Bab 66 Bersikap67 Bab 67 Situasi yang Canggung68 Bab 68 Tentang Teratai Abadi69 Bab 69 Hal yang Sama70 Bab 70 Sedikit Keanehan71 Bab 71 Aura yang Sama72 Bab 72 Tiba di Kotaraja73 Bab 73 Kondisi Mencurigakan74 Bab 74 Situasi Tak Menyenangkan75 Bab 75 Aura yang Menekan76 Bab 76 Sidang Mufakat77 Bab 77 Tuduhan demi Tuduhan78 Bab 78 Praduga Tak Bersalah79 Bab 79 Mencuci Tangan80 Bab 80 Bimbang81 Bab 81 Kenyataan di Balik Liontin82 Bab 82 Benang Kusut83 Bab 83 Kekacauan di Balai Sidang84 Bab 84 Salah Paham85 Bab 85 Kenyataan Sesungguhnya86 Bab 86 Kenangan Masa Lalu87 Bab 87 Bertalian88 Bab 88 Permintaan sang Raja89 Bab 89 Duri dalam Daging90 Bab 90 Sebuah Rahasia91 Bab 91 Wanita Seribu Akal92 Bab 92 Pertimbangan93 Bab 93 Keputusan94 Bab 94 Sebuah Janji95 Bab 95 Meninggalkan Istana96 Bab 96 Tamu Tak Biasa97 Bab 97 Membaca Situasi98 Bab 98 Malam Laknat99 Bab 99 Secepat Angin100 Bab 100 Orang Dekat