icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Tiga Puluh Nasi Bungkus

Bab 6 Penelepon Misterius

Jumlah Kata:1144    |    Dirilis Pada: 12/09/2023

amanya itu. Aku mendengarkan perlahan percakapan antara Mas Edi

ng penelepon itu. Sayangnya aku tidak bisa mendengar dengan jelas pembicaraan dari sang penelepon karena percakapan anta

an sebuah kata-kata yang diucapkan oleh Mas Edi kepada sang penelepon itu. "Tidak usah banyak alasan. Aku akan terus menyempatkan waktu untuk bertemu

ndang status sebagai seorang janda. Dari pada aku seperti ini. Namun, bagaimana dengan anak-anakku? Apa mereka juga siap untuk menerima kenyataan jika kedua orang tuanya tidak bisa satu atap lagi

setelah aku lahiran nanti. Selama sembilan bulan aku harus bisa tegar dalam menghadapi situasi i

ng penelepon itu. Kemudian sambungan telepon pun terputus. Kugeser sedikit dindi

apa yang Mas Edi lakukan tadi di dapur. Walaupun kepalaku masih terasa pusing dengan tubuh yang masih lemas, tetap saj

angka lima dengan wajah yang menghadap ke dinding kamar dan dengan tubuh yang membela

a tiga menit ke ubun-ubun di kepalaku. "Tidurlah dengan lelap, sayangku. Jaga kondisi tu

aya akan segera ke sana," jawab Mas Edi ketika mendapatkan panggilan telepon dari seseorang. Kemudian

an ketakutan dengan sendirinya. Apa maks

pusing. Kehamilan ketiga ini sungguh luar biasa. Tidak se

Mas Edi tidak pernah sekali pun bermain rahasia-rahasiaan seperti ini. Namun, ke

Nurmi lahir ke dunia ini, aku dan Mas Edi akhirnya mampu membeli sepeda motor baru dengan tunai. Ya, tentunya tidak kredit seperti tetangga yang di sebelah rumah orang tuaku yang di mana mereka mempunyai empat orang anak dan sudah pada remaja semua, ia membelikan keempat anaknya sepeda

h datang menyerbu kehidupanku. Belum selesai m

selku berdering. Bunyi ponselku itu menyadarkanku dari lamunan yang panjang. Aku segera merai

rnya. Hanya bertuliskan "Nomor Pribadi" berarti sang penelepon

ari telepon seluler. Ketika panggilan telepon itu masuk ke ponselku, perasaanku sudah tidak en

ersambung saat aku mau menyapa sang penelepon itu, ternyata malah sang penelepon itu ya

nampilan seperti itu demi kamu agar pandangan matamu selalu tertuju padaku karena aku tidak mau pandanganmu itu

sap d

rea yang sensitifku. Pada rambutku juga. Memang sih tubuhku tidak wangi karena ak

Saya istri Pak

kira ini nomor Mas Edi yang baru. Ponsel Mas Edi kan beberapa h

Hanya itu-itu saja nomornya. Apa kata-kata itu tadi hanya alasan wanita itu

segera aku klik tombol merah pada ponselku lalu panggilan telep

datang. Berarti anak-anak sengaja

Kemudian disusul oleh Mas Edi di bela

yang aku bawa,

ng yang berada di samping Mas Edi. Or

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Tiga Puluh Nasi Bungkus
Tiga Puluh Nasi Bungkus
“"Dek, ini uang." Mas Edi memberikan sejumlah uang padaku ketika selesai makan malam. "Banyak sekali, Mas?" tanyaku dengan kedua bola mata yang membulat. "Itulah rezeki yang Allah beri untuk kita hari ini," jawab Mas Edi. Mas Edi selalu saja pulang membawa banyak uang. padahal pekerjaannya hanya sebagai ojek online. Aku tidak percaya pada Mas Edi jika uang dengan nilai satu juta rupiah per hari itu didapatkan Mas Edi dari hasil mengojek online. Mas Edi juga selalu meminta padaku untuk membuatkan tiga puluh bungkus nasi dengan lauk yang sama dengan menu makan kami sehari-hari. Apa sebenarnya yang terjadi pada Mas Edi?”
1 Bab 1 Curiga2 Bab 2 Surat Tanpa Nama Pengirim3 Bab 3 Isi Surat Menggores Hati4 Bab 4 Pertengkaran Dimulai5 Bab 5 Pingsan6 Bab 6 Penelepon Misterius7 Bab 7 Permintaan Suamiku8 Bab 8 Pertanyaan Dari Ibu Mertua9 Bab 9 Isi Dari Gumpalan Kertas10 Bab 10 Rahasia Besar Ibu Mertua11 Bab 11 Kejujuran Dari Mas Edi12 Bab 12 Cerita Seseorang13 Bab 13 Penjelasan Dari Om Tomi14 Bab 14 Tentang Tiga Puluh Nasi Bungkus15 Bab 15 Wanita Tak Dikenal16 Bab 16 Permintaan Ibu Mertua17 Bab 17 Laki-laki Yang Datang Menemui Sari18 Bab 18 Mengintai Mbak Mila19 Bab 19 Rumah Baru20 Bab 20 Rekaman Suara Untuk Mas Edi