icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bab 2
Aku Memiliki Orang Lain di Hatiku
Jumlah Kata:819    |    Dirilis Pada:30/12/2022

Semua pelayan keluar untuk menyambut kepulangan Levon, tetapi Scarlet tetap di lantai atas dan diam-diam mengawasi kedatangannya dari jendela kamar tidur.

Dia harus mengakui bahwa Levon begitu menawan dan seksi. Tubuhnya tinggi dan memiliki kaki yang panjang, dan keseluruhan bentuk tubuhnya proporsional. Tidak ada bagian yang bergelambir di tubuhnya, dan otot-ototnya ramping serta kuat.

Ya, Scarlet tahu sebanyak itu tentang fisik Levon karena dia telah merasakan tubuh itu sepenuhnya di malam yang mengubah segalanya itu.

Apa yang terjadi di antara mereka malam itu terasa sangat tidak nyata sampai Scarlet masih mengira itu semua hanya mimpi. Dia tidak tahu bagaimana harus memberi tahu Levon setelah dia kembali ke rumah keesokan paginya.

Wajah Levon tanpa cela, seolah-olah Tuhan sengaja menggunakan waktu yang lebih lama untuk memahat wajahnya dengan hati-hati. Dia terlihat sangat tampan, tangguh, dan tegas.

Tuhan sangat tidak adil. Levon tidak hanya dianugerahi dengan tubuh sempurna dan wajah tampan, tetapi juga kecerdasan tinggi dengan latar belakang pendidikan yang mengesankan.

Levon mendapat gelar sarjana hukum dan keuangan di usia remaja. Setelah lulus, dia mengambil alih bisnis keluarga. Bisnis tersebut berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir, dan menjadi perusahaan raksasa komersial nomor satu di ibu kota. Beberapa tahun yang lalu, perusahaan itu merambah pasar luar negeri dan mampu berkembang dengan baik.

Setelah mereka menikah, Levon pergi ke luar negeri keesokan harinya. Alasan keberangkatannya karena perusahaan sedang memulai cabang baru dan dia harus fokus pada hal itu. Namun, sejak itu, dia tidak pernah pulang.

Scarlet tenggelam dalam pikirannya ketika dia tiba-tiba merasakan tatapan dingin Levon ke arahnya. Tertegun, dia segera menutup tirai dan menjauh dari jendela.

Dia tidak tahu apa yang membuatnya bereaksi seperti itu. Mungkin karena dia merasa tidak percaya diri di depan Levon.

Scarlet tidak disukai oleh keluarganya sendiri, yang merupakan akibat hasutan ibu tirinya. Jika dia tidak menikah dengan Levon, dia mungkin masih harus berperan sebagai pelayan pribadi ibu tirinya saat ini.

Pernikahan mereka terjadi berkat ibu kandung Scarlet yang pernah menyelamatkan nyawa nenek Levon.

Dia tahu bahwa meskipun Levon tidak menyukainya, pria itu tidak membencinya. Bagaimana pun juga, dia sadar akan posisinya dan selalu berperilaku baik.

Tiba-tiba, seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya.

"Nyonya, Tuan Fabianto telah kembali, dia ingin Anda makan malam bersamanya di lantai bawah."

Scarlet bergegas turun. Di ruang makan, meja telah ditata dan hidangan sudah disajikan.

Levon duduk di salah satu ujung meja makan yang panjang. Scarlet menuju ujung lain meja di mana sebuah tempat telah disiapkan untuknya.

Mereka berdua menyukai hidangan yang berbeda. Mengingat ini adalah perayaan kepulangannya, semua hidangan yang disajikan sesuai dengan kesukaannya.

Melihat steik setengah matang yang masih berwarna kemerahan di piringnya, Scarlet refleks mengerutkan hidung.

"Kenapa?" tanya Levon yang menatapnya sambil sedikit mengernyit.

"Steikku masih ada darahnya," jawab Scarlet. Dia tidak terbiasa dengan steik yang tidak dimasak sampai matang. Belum lagi, nafsu makannya agak menurun akhir-akhir ini, mungkin dikarenakan cuaca yang panas.

"Beri dia steik yang matang."

"Terima kasih." Scarlet mengucapkan terima kasih dengan suara rendah.

Selama makan, tak satu pun dari mereka berbicara. Mereka begitu acuh terhadap satu sama lain, seolah-olah mereka bukan pasangan suami-istri. Mereka tampak seperti dua orang asing yang kebetulan makan di meja yang sama.

Selesai menyantap makanannya, Levon mengambil serbet dan menyeka bibirnya. Melihat itu, Scarlet menarik napas dalam-dalam setelah sempat ragu-ragu sejenak, lalu dia membulatkan tekad untuk memberitahunya apa yang telah terjadi malam itu.

"Levon."

"Scarlet."

Keduanya berbicara pada saat yang bersamaan.

Sambil menatapnya, Scarlet berkata dengan gugup, "Kamu bicaralah lebih dulu."

Levon tidak menolak dan langsung berbicara. "Scarlet, aku ingin bercerai."

Kalimat pendek itu bergema di kepala Scarlet selama beberapa saat.

Saat itu, seorang pelayan masuk dan menyerahkan sebuah dokumen perceraian padanya. Levon sudah menandatanganinya. Tulisan tangannya indah, seperti seorang penulis kaligrafi berpengalaman.

Namun, Scarlet sudah tidak berminat untuk mengaguminya lagi.

Distribusi properti adalah hal terpenting yang perlu diselesaikan selama proses perceraian.

Scarlet langsung membahas kesepakatan itu. Dia akan mendapatkan dua properti setelah bercerai, yaitu sebuah toko dan sebuah apartemen. Keduanya berada di lokasi strategis dengan kisaran harga pasar yang mencapai puluhan miliar rupiah.

Selain itu, dia akan menerima uang 100 miliar sebagai bentuk kompensasi serta sebuah perusahaan kecil yang menghasilkan laba bersih tahunan di angka miliaran rupiah.

Tampaknya tidur sekali dengan Levon mampu menghasilkan kesepakatan yang adil.

Namun, Scarlet lebih penasaran dengan alasan Levon yang ingin menceraikannya. Jadi, dia menutup folder yang berisi dokumen perceraian dan menatapnya dengan berani untuk pertama kalinya.

Levon membalas tatapannya dengan intensitas yang sama.

Ini pertama kalinya Levon melihat wajah Scarlet dengan cermat. Wajahnya kecil dan halus. Matanya besar dan indah, berbinar cerah seperti sepasang permata. Tatapan murni dan polos di matanya mengingatkannya pada genangan air yang jernih.

Dia sangat kurus, seolah-olah keluarganya memperlakukannya dengan buruk.

Entah mengapa ... sosoknya terlihat mirip dengan wanita yang ditemuinya malam itu.

Jika Levon bertemu dengan wanita itu lagi, dia pasti akan membuatnya menjadi lebih gemuk. Wanita itu terlalu kurus, yang membuatnya bersimpati padanya.

"Bolehkah aku bertanya apa alasannya?" tanya Scarlet.

"Karena aku memiliki orang lain di hatiku," ungkap Levon dengan jujur.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Menceraikannya2 Bab 2 Aku Memiliki Orang Lain di Hatiku3 Bab 3 Hamil4 Bab 4 Urusanku Tidak Ada Hubungannya denganmu5 Bab 5 Dia Tidak Menggunakan Uang Keluarganya6 Bab 6 Aku Akan Mematahkan Kakimu7 Bab 7 Dipaksa Aborsi8 Bab 8 Siapa yang Berani Merampas Harta Mantan Istriku 9 Bab 9 Apa Levon Akan Menikahinya 10 Bab 10 Ibu Akan Melindungimu11 Bab 11 Bagaimana Aku Bisa Melindungimu 12 Bab 12 Tidak Ada Cedera yang Ditimbulkan Secara Sengaja13 Bab 13 Jahat dan Pendendam14 Bab 14 Itu Tidak Tergantung pada Kalian15 Bab 15 Anak Haram16 Bab 16 Apa Kamu Sakit 17 Bab 17 Meluruskan Salah Paham18 Bab 18 Kacau Balau19 Bab 19 Apa Kamu Sudah Sadar Sekarang 20 Bab 20 Apa Kamu akan Membiarkan Seseorang yang Tidak Kamu Cintai Melahirkan Anakmu 21 Bab 21 Dijebak22 Bab 22 Bertemu di Lift23 Bab 23 Grup Fabianto24 Bab 24 Menggoda25 Bab 25 Jaga Sikapmu, Tuan Fabianto26 Bab 26 Adegan yang Intim27 Bab 27 Kamu Bukan Gadis Seperti Itu, Bukan 28 Bab 28 Badai Petir29 Bab 29 Menginap di Vila Malam Ini30 Bab 30 Menginap31 Bab 31 Apa Pria Ini Impoten 32 Bab 32 Aku Akan Menemanimu Sampai Kamu Tertidur33 Bab 33 Sangat Perhatian34 Bab 34 Makan di Tengah Malam35 Bab 35 Berutang Budi Padanya36 Bab 36 Mengusirnya37 Bab 37 Mengantarnya Pulang38 Bab 38 Aku Tidak Suka Mengulangi Perkataanku39 Bab 39 Levon Menginap Semalam40 Bab 40 Akhirnya Aku Menemukanmu41 Bab 41 Aku Benar-Benar Tidak Memiliki Perasaan Untukmu42 Bab 42 Kamu Sudah Terlalu Banyak Bicara Hari Ini43 Bab 43 Wanita Itu Terlihat Akrab44 Bab 44 Saingan Cintaku Ternyata adalah Profesor Salvano45 Bab 45 Mengantarnya Pulang46 Bab 46 Kesalahan Pribadi47 Bab 47 Menguping Pembicaraannya48 Bab 48 Ciuman Penuh Gairah49 Bab 49 Menerima Telepon dari Ibu Levon50 Bab 50 Orang-orang yang Tidak Bisa Melihat Kebaikanmu51 Bab 51 Pernikahan52 Bab 52 Persyaratan Nenek53 Bab 53 Kesempatan Hidup Bersama Selama Tiga Bulan54 Bab 54 Mulai Hari Ini55 Bab 55 Aku Akan Bertanggung Jawab Padamu56 Bab 56 Perusak Hubungan57 Bab 57 Yasmin Mengetahuinya58 Bab 58 Terjadi Sesuatu pada Nona Benvolio59 Bab 59 Penyelamat60 Bab 60 Apa Anda Tidak Ingin Memperjuangkannya 61 Bab 61 Lakukan Saja Apa yang Kamu Mau62 Bab 62 Kebahagiaan yang Sederhana adalah yang Tersulit63 Bab 63 Nutrisi64 Bab 64 Kamu Melanggar Peraturan Keluarga65 Bab 65 Kebencian Evie66 Bab 66 Permintaan Maaf yang Tidak Tulus67 Bab 67 Aku Tidak Akan Pernah Berbohong Padamu68 Bab 68 Penjara Seumur Hidup69 Bab 69 Balas Dendam70 Bab 70 Mereka Pasti Memiliki Hubungan Rahasia71 Bab 71 Tunangan72 Bab 72 Scarlet adalah Wanita Perusak Hubungan73 Bab 73 Pengkhianat74 Bab 74 Mencari Saksi75 Bab 75 Apa Ini Cinta 76 Bab 76 Kepercayaan Tanpa Syarat77 Bab 77 Perlindungan78 Bab 78 Itu Bukan Salah Pak Salvano79 Bab 79 Demi Masa Lalu Kita80 Bab 80 Selera Orang Berbeda-beda81 Bab 81 Kunjungan82 Bab 82 Apa Aku Harus Melapor Padanya 83 Bab 83 Apa Berat Badanmu Naik 84 Bab 84 Dewey Mengakui Plagiarisme85 Bab 85 Dimanfaatkan86 Bab 86 Menanggung Semua Kesalahan87 Bab 87 Dia Salah Paham Pada Marlon88 Bab 88 Levon Cemburu89 Bab 89 Levon Sakit90 Bab 90 Levon Telah Membantunya Secara Diam-diam91 Bab 91 Menyuapi Obat92 Bab 92 Menangis Untuknya93 Bab 93 Merman94 Bab 94 Apa Kamu Pernah Berjuang Untuk Mendapatkannya 95 Bab 95 Pria yang Menjawab Telepon96 Bab 96 Mempertaruhkan Nyawa Anaknya yang Belum Lahir97 Bab 97 Panggilan Larut Malam98 Bab 98 Menjaga Perilaku99 Bab 99 Konspirasi100 Bab 100 Tinggal di Mansion