back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Unspoken Pain (Luka yang Tak Terucap)

Unspoken Pain (Luka yang Tak Terucap)

Hee Yuzuki

5.0
Ulasan
11.7K
Penayangan
69
Bab

Ini tentang Alle yang mencintai sahabatnya -Earl Sanders-, namun sang sahabat mencintai wanita lain yang tidak seharusnya pria itu cintai. Sebuah permintaan dari Earl tentang pernikahan untuk menutupi hubungan terlarang itu membuat Alle setuju. Dia akan mempertaruhkan hidupnya untuk membuat Earl juga mencintainya, walau dia tau resikonya, dan tentu perjuangannya tidak akan mudah, akan selalu ada rasa sakit yang harus dia rasakan di setiap langkah, namun dia tetap akan mencobanya. Mendapatkan cinta dari sang sahabat. Namun, sebuah fakta terungkap, Earl yang mengetahui jika Alle mencintainya dan melanggar janji persahabatan mereka sangat murka. Dia melakukan kesalahan fatal dengan mengusir wanita itu dari hidupnya, di saat Alle tengah hamil anak mereka. Bagaimanakah kehidupan Alle selanjutnya yang harus berjuang sendiri dalam keadaan hamil? Apakah Earl menyesali apa yang telah dia lakukan pada Alle?

Bab 1
Unspoken Pain (Luka yang Tak Terucap)
Prologue

Raut wajah pria itu terlihat menyeramkan saat memasuki kediamannya, tatapannya nyalang, membuat siapa pun langsung tau jika pria itu tengah menahan emosi yang sebentar lagi mungkin akan meledak.

Tujuannya hanya satu, mencari seorang wanita yang berstatus sebagai istrinya, yang telah mengkhianatinya, yang dengan berani memberi tahukan rahasia besarnya kepada keluarganya.

Wanita itu sukses menghancurkannya, juga wanita yang dia cintai, kepercayaan dan rasa sayangnya sebagai sahabat benar-benar kandas untuk wanita itu, kini yang tersisa hanyalah kebencian yang mendalam untuk seorang Allexa Aldene. Istrinya.

Dobrakan pintu yang cukup kuat itu mengagetkan seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggenggam sesuatu yang sangat berharga untuk hidupnya. Tatapannya berbinar melihat pria yang selalu ia cintai dalam diam, pria yang berhasil mengukir banyak luka dan cinta dalam hidupnya.

"Earl," panggil Alle dengan lidah kelu saat tubuhnya tiba-tiba di dorong ke dinding, lalu Earl langsung mengungkungnya dengan tatapan tajam, mencengkram kuat rahangnya tanpa perasaan.

"Kenapa kau melakukan ini, Alle?! Kenapa kau memberitahukan semuanya pada orang tuaku?! Lalu apa gunanya kau di sini, hah?! Aku memintamu menjadi istriku untuk menutupi hubunganku dengan Vale?!" Earl berteriak kuat, meninju dinding hingga membuat Alle memejamkan matanya dengan perasaan takut.

"Earl," cicit Alle dengan raut berkaca-kaca, kepalanya menggeleng, berusaha mengeluarkan sepatah kata namun lidahnya terlalu kelu melihat tatapan Earl yang begitu mengerikan, tidak ada Earl yang menatapnya lembut seperti kemarin, kini yang Alle lihat adalah tatapan benci yang semakin menjadi.

"Kau mencintaiku?! Iya kan?!" Sekali lagi Earl berbisik dengan tatapan mengerikannya, pria itu tertawa sinis, sangat keras dan menatapnya nyalang. "Bagaimana kau bisa mencintaiku, brengsek?! Karena itu kau mau menikah denganku?! Iya, Alle?! Menjijikan!! Kau sangat licik. Rasa cintamu padaku benar-benar menggelikan. Dan tingkahmu yang menerima ini dan berperan layaknya korban, benar-benar menjijikan. Kau menikmatinya. Kau memanfaatkan rasa bersalahku yang mengikatmu dalam pernikahan ini untuk memuaskan hasratmu yang mencintaiku. Dan, sekarang, dengan serakah kau menginginkanku juga cintaku, hingga membuatmu mengatakan semuanya tentangku dan Vale!! Aku benar-benar membencimu, Allexa!! Sekarang, keluar dari sini dan jangan harap kita bisa bertemu lagi. Aku. Tidak. Lagi. Ingin. Melihatmu. Dalam. Hidupku." Earl menatapnya tajam, melepaskan kungkungannya pada Alle yang kini menatapnya penuh luka.

Bagaimana pria itu bisa menjadi begitu jahat? Rasa cinta yang selama ini dia jaga, tetap dia dekap sekali pun dia juga harus mendekap luka. Pria itu mengatakan cintanya menjijikan, menggelikan? Alle tertawa miris, wanita itu menatap Earl dengan berlinang air mata dan penuh luka.

"Aku... Aku tidak mengerti, kenapa kau bisa berkata sejauh itu. Selama ini, aku selalu menyimpan kesakitanku sendiri. Aku tidak pernah menyuarakan rasa sakitku atau rasa cintaku padamu. Selama ini aku diam akan semuanya, iya, aku mencintaimu, sejak dulu, namun aku tidak pernah memintamu untuk membalasnya. Bahkan saat kau menceritakan semua hal tentang hubungan terlarangmu dan Vale, aku menelan semua rasa sakit itu seorang diri. Lalu, kau tiba-tiba menghakimiku, menertawakan rasa cintaku, di saat aku berjuang tertatih-tatih menyembuhkan hatiku akan semua rasa sakit karena mencintaiku. Earl... " Alle menatapnya berlinang air mata, akhirnya menyerukan semua rasa sakit yang selama ini ia tahan.

"Tidak ada yang salah dengan cinta, dan aku tidak tau, bagaimana kau bisa sejahat itu dengan merendahkan perasaan cintaku yang tidak memiliki salah. Aku. . . Aku. . .. " Alle kembali menarik napasnya dalam, memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, mencengkram kuat sesuatu di tangan kirinya dengan perasaan hancur.

"Baiklah. Setelah ini, kau tidak akan pernah melihatku lagi, kita. ..tidak akan...pernah bertemu...lagi." Alle tersenyum miris, menghapus kasar air matanya, berlalu dari hadapan Earl yang kini mematung dengan segala pikirannya.

Wanita itu menatap testpack dalam genggamannya, tersenyum miris dengan hati hancur, namun setidaknya dia tidak sendiri setelah ini, setidaknya dia telah membawa sebagian dari diri Earl, yang akan memberikannya harapan baru, sepahit apapun dan seberat apapun dia mencoba berjuang untuk hidupnya.

***

Wajah pucat itu kini semakin erat menemani hari-harinya, tubuhnya yang seharusnya semakin gemuk karena kehamilannya kini justru menyusut drastis karena sakit yang di deritanya. Wanita itu menatap sayu pada pria paruh baya juga saudara kembarnya yang menatapnya penuh luka.

"Dad, aku. . . Aku. . . baik, jangan. . . jangan.. . sedih." Alle berusaha menggapai tangan Kern, tersenyum walau wajahnya terlihat pucat. Kern sekali lagi menahan tangisnya, duduk di samping ranjang dengan hati hancur dan menggenggam erat tangan Alle yang begitu dingin, kehancuran melihat bagaimana keadaan Alle kini, sesaat berpikir, mungkinkah ini karna dari semua kejahatannya dulu.

"Anak Daddy adalah anak yang kuat, kan. Saat Alle memutuskan berjuang untuk anak Alle, maka Alle juga harus berjuang untuk hidup Alle. Janji pada Daddy, tidak boleh menyerah. Oke?" Kern menggenggam tangannya erat, tidak lagi menyembunyikan air matanya, dia mengusap lembut wajah pucat Alle yang terlihat semakin tirus.

"Ya... Daddy, Alle berjanji." Alle tersenyum, berusaha menahan segala rasa sakit yang menyertainya. Hingga dobrakan pintu yang kuat itu menyentak keduanya.

Alle menatap terkejut pada seorang pria yang cukup lama tidak dilihatnya, semenjak pria itu tidak lagi ingin melihatnya.

"Earl," gumam Alle lirih, dengan berlinang air mata, lalu meringis saat rasa sakit itu kembali menghantamnya.

Sedangkan Earl, tubuhnya langsung luruh ke lantai, melihat bagaimana menyedihkan keadaan Alle yang tengah berjuang mengandung anaknya. Tubuh wanita itu sangat kurus, wajahnya sangat pucat juga tirus, matanya cekung. Dada Earl seketika berdenyut sakit dengan rasa sesak yang semakin menjadi, wanita yang mencintainya dengan tulus, yang paling mengerti dirinya, memahaminya lebih baik dari dirinya sendiri, yang tidak pernah mengeluh apapun padanya, kini terlihat begitu rapuh, bukan, wanita itu sekarat, berjuang sendirian di saat dia membutuhkan kekuatannya.

"A... Alle.. Xa.. Aku... Aku." Earl berlutut, menatap berlinang air mata pada Alle yang menatapnya nanar, wanita itu tersenyum penuh luka, dan pelan-pelan memejamkan matanya dengan rintihan sakit yang seolah menjadi vonis kematian untuk seorang Earl Sanders Addison.

"Dad... Daddy... Sa... Sakit." Alle mencengkram kuat lengan Kern dengan berlinang air mata, berusaha menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa saat dadanya begitu sesak hingga membuatnya kesulitan bernapas. Pelan-pelan mata sayu itu tertutup, mengantarkannya untuk mengakhiri rasa sakitnya sementara waktu. Sebelum sang luka kembali menyambutnya dengan rasa sakit lain.

Buku serupa
Unduh Buku