back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Gairah Terkutuk

Gairah Terkutuk

Xii Zii

5.0
Ulasan
3.7K
Penayangan
66
Bab

Liana menyeret Hart ke dalam hidupnya, dipaksa menjalani status sebagai budak. Namun, siapa sangka kalau ternyata budak itu adalah seorang dari masa lalunya. Hart menyembunyikan jati diri dan statusnya hingga akhir. Masuk ke dalam kehidupan Veronica rupanya telah ia rencanakan sejak awal, segalanya telah diatur hingga terlihat seperti sebuah kebetulan. Semuanya demi suatu tujuan.

Bab 1
Melayani

Hart mulai sadar perlahan membuka mata, tapi pandangannya terhalang selembar kain hitam yang menutup wajahnya.

Hart mencoba menggerakkan tangan kiri guna melepaskan kain yang menghalangi, tetapi tak bisa. Pergelangan tangan kirinya terikat pada sebatang tiang kecil, begitu juga dengan tangan kanan pria kidal itu.

Bukan hanya tangan, ujung kedua kakinya yang mengangkang juga terikat. Hart yang mulai sadar dengan keadaan dirinya mencoba berteriak. Namun, tindakan itu sia-sia, ada lakban hitam yang melekat erat pada mulutnya mencegah ia melontarkan teriakan.

Hart meronta, berusaha melepaskan tubuhnya yang terikat.

"Huuustt, tenanglah anak muda," pinta seseorang pria yang menjaganya di ruangan itu.

"Hmmm ... hmmm." Hart ingin mengatakan sesuatu.

"Tenangkan dulu dirimu! Percayalah kami tidak akan menyakitimu," kata pria penjaga seraya mendekati tubuh Hart yang diikat diatas ranjang mewah.

Melihat keadaan tawanannya mulai tenang, pria penjaga itu melepaskan kain yang menutupi wajah Hart dan menarik paksa lakban yang melekat di mulutnya.

Kini Hart dapat melihat pria umur 40-an dengan setelan rapi mengenakan jas hitam berdiri di samping ranjang tempat ia terbaring.

"Namaku Ali, Kau pasti haus." Pria itu menyuguhkan segelas air putih pada Hart untuk diteguknya.

"Saya sarankan agar kau menghemat suaramu, tidak akan ada yang mendengar teriakanmu di tempat ini, permisi." pamitnya setelah memberikan peringatan halus pada tawanannya.

Ribuan pertanyaan melayang di dalam kepala Hart, mencoba mengingat kembali setiap kejadian sebelum ia berada di tempat itu.

"Dia sudah bangun," bisik Ali pada seseorang yang sedang menikmati segelas anggur di ruangan tengah. Wanita muda itu adalah Veronica Diarliana-atasannya.

"Beri aku privasi untuk malam pertamaku," ungkap Liana.

"Permisi." Ali pamit dengan sopan.

Hart menoleh, ia mendengar suara langkah kaki perlahan mendekat. Pintu terbuka diikuti wanita dengan mantel tebal melangkah masuk.

"Kau?" lirih Hart.

Liana tersenyum tipis, menutup pintu tanpa berpaling. Melangkah pelan mendekati ranjang sambil melepaskan mantel tebalnya, lekuk indah tubuhnya tampak samar dari balik gaun tipis yang ia kenakan. Hart langsung memalingkan pandangannya.

Liana merangkak anggun di atas ranjang mendekati tubuh Hart lalu duduk di atas perut yang berbalut otot.

Jemari Liana mulai melepaskan satu per satu kancing kemeja Hart hingga tampak gumpalan otot dada lelaki itu. Jemari Liana semakin nakal, meraba permukaan kulit Hart dan sesekali meremasnya.

Hart masih diam, belum berani menatap ke arah Liana yang menindihnya. Kini dia paham tujuan tali yang melilit bagian tubuhnya.

Setelah puas bermain di area atas, Liana berbalik 90 derajat mengubah arah posisi duduknya. Hart diam-diam melirik punggung molek Liana yang sibuk melepaskan tali pinggangnya.

Libido Hart mulai meningkat saat Liana memainkan bagian tubuhnya yang paling istimewa. Seharusnya host profesional itu masih bisa menahan birahi, tapi kali ini hasratnya begitu kuat hingga tak dapat dibendung lagi.

Tubuhnya terasa panas, aliran darah berpacu dengan detak jantung yang semakin kencang, seluruh indra semakin peka. Hart merasakan sensasi kenikmatan yang berlebihan pada salah satu bagian tubuhnya.

"Lepaskan ikatannya," pinta Hart.

Liana tersenyum mendengar permintaan Hart, ia tahu jika tawanannya itu mulai hanyut dalam permainan nakalnya. Liana yakin jika cairan yang di tambahkan Ali ke dalam minuman Hart mulai bekerja.

Liana hanya melepaskan pengikat pada salah satu tangan Hart lalu berbaring dan membiarkan Hart melepaskan sisanya.

Hart kemudian berbaring menyamping di sebelah tubuh Liana, menatap wajah Liana sambil mengelus rambutnya lalu mulai mencumbu lembut batang leher Liana.

Tangan kiri Hart perlahan menarik turun tali gaun Liana, lalu meremas lembut gumpalan daging kenyal yang tergantung bebas, berlanjut meraba turun dan berhenti pada area yang mulai basah di antara kedua paha Liana.

Suhu terasa semakin panas, Hart melepaskan pakaian yang melekat pada tubuh indah Liana hingga tak tersisa sehelai pun.

Dengan celana sedikit melorot, Hart melancarkan serangan pamungkasnya dengan dorongan yang sangat lembut.

"Pelan-pelah, akh ...." Liana mendesah saat benda keras menyentuh permukaan kulitnya yang paling sensitif.

"Akhhh ... aaakh," desah panjang Liana, tubuhnya menggeliat, jemarinya meremas seprai.

Sebuah sensasi kenikmatan dirasakan Liana untuk pertama kalinya, rasa nikmat bercampur rasa nyeri dan ngilu.

Hart terus melakukan gerakan yang sama, bibirnya tak bisa berhenti beraksi, mencium, melumat, dan menghisap bagian tubuh Liana.

Lelaki yang semula terkesan terpaksa, kini justru menjadi penguasa yang mengendalikan permainan birahi di atas ranjang. Sentuhannya lembut, tapi tepat sasaran, gerakan pinggulnya pelan dan satai dengan irama tetap.

Tidak ada tindakan kasar atau beringas seperti singa kelaparan yang menerkam mangsa. Semuanya dilakukan sangat lembut dalam diam, tapi hal itu justru mempercepat perjalanan Liana untuk sampai ke puncak.

"Aaakkhhhh, sesuatu ... keluar, aakhhh." Liana mendekap tubuh kekar Hart, pelukan yang begitu erat diikuti cairan kenikmatan yang meluncur deras, bagaikan mata air mengalir membasahi sungai yang kering.

Liana mencapai puncak lebih awal. Sensasi itu kembali terulang hingga tiga kali.

Kini giliran Hart, seluruh kenikmatan berkumpul pada satu titik, dorongan gairah semakin kuat menuju klimaks. Hart bisa merasakan carian kental mengalir deras pada saluran kecil. Akhirnya, dengan otot yang mengeras dan urat yang tertarik, pemuda itu menembakkan peluru kejantanan beberapa kali di atas perut liana.

Hart langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Liana, wanita itu juga terkapar lemas setelah proses pendakian yang cukup panjang.

"Apa yang telah kulakukan?" gumam Hart seakan menyesali perbuatannya.

"Heii, tolong jelaskan maksud semua ini!"

Hart menatap benci pada wanita di sampingnya. Setelah bertahun-tahun dia bekerja sebagai host profesional, baru kali ini ada wan

ita yang berani memperlakukannya sampai sejauh itu.

Meski pekerjaan Hart memang untuk menyenangkan hati para pelanggan wanita, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya dijadikan pemuas nafsu bagi tamu-tamunya.

"Surat perjanjiannya akan menjelaskan semuanya padamu, jadi diam dan tidurlah," lirih Liana yang terbaring lemas dengan mata terpejam.

"Huh! Perjanjian?" Jawaban Liana justru mengundang pertanyaan baru di dalam kepala Hart.

"Kau berisik sekali! Diamlah atau keluar dari kamar ini, tapi jangan berpikir kalau kau bisa kabur dariku."

Hart terpaksa menahan diri, mencoba tenang dan bersabar, menunggu sampai wanita itu siap menjelaskan segalanya.

"Hei, bersihkan ini!" Liana menunjuk ke arah perutnya.

Hart meraih tisu di atas meja kecil, meletakkan di samping Liana lalu turun dari ranjang.

Hart bangun lalu turun dari tempat tidur, berdiri di samping ranjang, mengenakan serta merapikan kembali pakaiannya yang sebelumnya dilucuti paksa oleh wanita yang tidak dikenalnya.

"Ali akan menjelaskan semuanya padamu."

Liana masih terbaring lesu, perlahan menarik kain selimut untuk membungkus tubuh bugilnya, mengubah posisi tidurnya dengan memutar badan ke arah yang berlawanan.

Hart melangkah keluar kamar, meninggalkan Liana seorang diri agar wanita itu biasa tidur dengan tenang. Lagi pula, berada di dekatnya hanya akan memancing Hart untuk terus melontarkan pertanyaan padanya.

"Sepertinya rumah ini ditinggalkan cukup lama," gumam Hart berbicara sendiri.

Pemuda itu keliling mencari sesuatu yang dapat mengalihkan perhatiannya dari semua peristiwa yang membuatnya kebingungan.

Hart berhenti ketika tiba di balkon, tempat yang menurutnya sangat cocok untuk menenangkan pikiran. Di sana ia dapat melihat hamparan langit malam bertabur bintang, meskipun sisanya hanya gulita yang terbentang menyelimuti rumah tempatnya bernaung.

Tidak ada tanda-tanda adanya seseorang selain mereka berdua di tempat itu, tak ada satu pun penjaga.

"Sepertinya, aku bisa pergi dari tempat ini dengan mudah," batin Hart.

Hart bergegas turun ke lantai bawah, menelisik setiap sudut ruangan mencari jalan untuk keluar. Tidak sulit baginya untuk menemukan pintu utama yang berdiri jelas di sisi ruangan lantai dasar.

Pintunya terkunci, tapi kuncinya menempel di sana, maka Hart dapat dengan mudah membuka pintunya, bergegas melangkah ke luar tanpa lupa untuk menutupnya kembali.

Hart berhasil keluar, tapi langkahnya berhenti setelah ia melewati pintu utama.

'Aku perlu kendaraan untuk pergi dari sini, tapi sepertinya ....'

Hart mulai mencemaskan rencananya ketika ia tidak melihat adanya satu pun kendaraan yang parkir di sana.

"Mungkin di tempat lain, akan kucari," batin Hart, ia tidak ingin menyerah begitu saja.

Pemuda itu mulai mengitari rumah, menyusuri setiap sisi, mencari kendaraan apa saja di setiap sudut yang dapat ia jangkau. Hart terus mencari, tapi pada akhirnya ia kembali ke tempat semula tanpa menemukan satu pun kendaraan.

"Sepertinya memang tidak ada, pasti dibawa pergi pria tadi," keluh kesah Hart dalam hatinya. Namun, itu tidak berarti kalau Hart telah putus asa, meskipun ia gagal dalam pencariannya.

Hart duduk pada tangga kecil di depan pintu, melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangannya dan mulai memikirkan kembali langkah selanjutnya yang akan ia ambil.

"Sudah hampir jam dua dini hari rupanya,"

Hart mulai memikirkan beberapa hal, mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum mengambil keputusan agar usahanya tidak berakhir sia-sia.

Hart bisa kabur dengan berjalan kaki, ia juga tidak perlu khawatir dengan arah mana yang akan diambil, ia hanya perlu menyusuri jalanan yang ada. Namun, pemuda itu tidak tahu berapa jauh ia akan berjalan dalam kegelapan tanpa alat penerangan.

Pilihan yang lain adalah menelepon kenalannya dan meminta untuk menjemputnya, tetapi Hart sendiri tidak tahu lokasi keberadaannya saat ini, ditambah lagi pemuda itu tidak menemukan ponsel miliknya di dalam saku celana, pasti direbut saat ia disekap.

'Jangan berpikir kau bisa kabur dariku.'

Hart teringat akan ucapan Liana padanya yang sebelumnya ia sepelekan. Kini Hart mengerti jika wanita itu tidak main-main dengan ancamannya.

Kini hanya tersisa satu pilihan untuk Hart, pilihan terakhir yang terpaksa ia ambil. Pemuda yang menemui kebuntuan itu berdiri dan melangkah masuk kembali ke dalam rumah, tidak ada pilihan lain lagi untuknya.

"Apa salahnya menunggu hingga esok pagi, aku juga bisa mendengarkan penjelasan dari mereka. Lagi pula, sepertinya mereka tidak berniat menyakitiku," tutur Hart dalam hatinya saat ia berjalan lamban menuju ke kamar sebelumnya. Mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan di atas ranjang yang sama dengan wanita asing.

Liana bangun lebih awal, mengenakan kembali pakaiannya dan bergegas menuju ruangan tengah.

"Ali, jemput aku sekarang!" tegas Liana lewat sambungan telepon.

"Baik, Nona."

"Ingat juga untuk mengajak dua orang pelayan ke sini."

Liana memutuskan panggilannya setelah mengatakan apa perlu ia sampaikan.

"Permisi, Nona."

Ali pun tiba beberapa menit kemudian, diikuti dua orang pelayan wanita bersamanya.

"Sudah kau jelaskan tugas mereka?"

"Sudah, Nona."

"Dia masih tertidur, jelaskan semuanya saat ia bangun!" pesan Liana sembari melirik jam mewah di pergelangan tangan kirinya sebelum berdiri dan berjalan keluar.

Ali mengawalnya sampai ke depan, di mana seorang sopir menunggu di samping sedan mewah dengan pintu belakang yang terbuka.

"Hati-hati, Nona!"

Ali kembali ke dalam setelah Liana pergi. Terlihat Hart turun dari lantai atas tepat saat pria itu melewati pintu masuk.

"Kemarilah!" ajak Ali seraya berjalan menuju tempat duduk.

"Di mana wanita itu?" tanya Hart yang tak melihat batang hidung Lina sejak ia terbangun.

"Duduklah dulu," jawab Ali tenang.

Salah satu pelayan menyajikan kopi di atas meja untuk mereka.

"Waktu yang tepat untuk secangkir kopi," ungkap Hart seraya meraih cangkir dan mencicipi kopi yang disuguhkan untuknya.

"Jadi, perjanjian apa yang di maksud wanita itu?"

Unduh Buku