BIDADARI SURGAKU

BIDADARI SURGAKU

ZeeZee93

5.0
Komentar
551
Penayangan
40
Bab

Zaira Khazanah merasakan pelik yang juga dirasakan oleh kaum Hawa pada umumnya. Setelah lima tahun pernikahannya, kehadiran si kecil yang menjadi dambaan setiap pasangan suami istri pun tak kunjung hadir mewarnai hari-hari mereka. Berbagai macam pertanyaan yang dia dapatkan akan kapan hadirnya si buah hati. Sakit? Tentu saja, tapi Zaira beruntung memiliki Zafran yang tidak pernah mempermasalahkan itu. Di lima tahun pernikahan Zaira meminta kepada Zafran untuk dicarikannya adik madu. Zafran tentu saja menentang keras permintaan Zaira. Baginya adanya Zaira dalam hidupnya sudah melebihi dari segalanya. Sosok Arumi hadir di tengah mereka atas peminatan Zaira. Sosok yang sejak lama menyimpan rasa terhadap Zafran. Suatu kebahagiaan yang tak terduga bagi Arumi adalah dengan ditawarinya menjadi adik madu Zaira. Akankah Zaira menyerah pada takdir yang telah ia jalani? Akankah Zafran menyerah dan menerima Arumi dalam hidupnya? Akankah Zaira dan Zafran tetap tegar menghadapi segala cobaan yang dihadapi?

BIDADARI SURGAKU Bab 1 Wanita itu bernama Zairah

Senin pagi seperti biasa aktifitas padat dimulai. Jalanan Ibu Kota akan dipenuhi oleh kendaraan yang lalu lalang. Saat fajar datang menyapa, kebanyakan dari para pengais rejeki akan memulai aktifitasnya. Sama seperti diriku yang memilih berangkat setelah shalat subuh kutunaikan agar aku bisa menghirup udara segar di pagi hari, juga menghindari macet yang menjadi ikon kota ini. Kota dengan tingkat kemacetan yang tinggi.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, aku tiba di pelantaran sebuah bangunan tempatku mengais rejeki. Bangunan tiga lantai berdiri tegak atas hasil keringat sendiri.

Suasananya masih sepi. Tentu saja. Aku lebih suka datang lebih awal agar aku bisa berehat sejenak sebelum memulai aktifitasku. Menghambakan kepada Sang Pemilik diri ini untuk memohon keberkahan atas segala usahaku hari ini.

Satu jam berlalu, satu persatu karyawan mulai berdatangan dan memulai aktifitas sesaat setelah breafing yang rutin setiap pagi dilakukan untuk menambah semangat kerja para karyawan.

Saat aku tengah sibuk memeriksa laporan bulanan, terdengar pintu diketuk. Seseorang muncul setelah aku persilahkan untuk masuk.

"Hari ini jadi nggak ngisi poadcast di channel Muslimah Berbagi Inspirasi?" tanya Rayyan setelah mendudukkan dirinya di sofa ruang kerjaku.

Aku melirik jam di tangan sejenak.

"Sepuluh menit lagi aku berangkat," jawabku tanpa menoleh.

"Ayolah, Zafran. Kamu bakal tampil, loh, di channel youtube terkenal. Perbaiki dulu penampilanmu."

Aku tersenyum tipis menanggapi.

"Apa penampilan begitu penting?"

Rayyan beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri di hadapanku dengan tangan menyilang di depan dada.

"Kamu akan ditonton oleh banyak orang. Jelaslah penampilan penting," ucapnya sewot.

Aku berdiri mengikuti dia yang lebih dulu sudah di depan lemari pakaian yang memang aku siapkan di ruang kerja. Ini adalah ide Rayyan. Saat aku tanya kenapa, dia malah menjawab di luar perkiraanku.

"Takutnya kamu tiba-tiba butuh untuk berganti pakaian. Kan sampai saat ini belum ada yang ngurusin kamu. Maka bersyukurlah punya sahabat sebaik aku." Aku hanya diam tanpa menanggapi.

"Makanya buruan, gih, cari pendamping sebelum aku yang nikah duluan."

Aku mendelik malas jika ujung-ujungnya membahas ke arah sana. Menikah.

Lamunanku buyar saat sebuah tangan menepuk wajahku.

"Jangan bengong! Entar kesambet kamu."

"Kamu terlalu cerewet. Kayak perempuan aja," ujarku sambil memilih baju yang akan kupilih.

"Terserahlah. Asal kamu nurut."

Sepuluh menit berlalu, tak perlu banyak waktu untuk memilih. Kali ini kemeja koko warna navi adalah pilihan yang tepat untukku yang berkulit cerah. Rambut sedikit kurapikan kemudian memasang peci berwarna hitam , jam tangan digital dengan merk ternama melingkar manis di pergelangan tangan kiri serta sepatu santai warna hitam sepadan dengan celana kain berwarna senada.

Dering ponsel menghentikan aktifitasku. Tertera nama Mas Taufik salah satu kru channel Muslimah Berbagi Inspirasi.

"Assalamu'alaikum. Iya, aku sudah menuju ke sana. Mungkin setengah jam lagi aku tiba di sana."

Gegas aku menyambar kunci mobil di atas meja lalu melangkah keluar. Tak kupedulikan teriakan Rayyan yang protes ditinggal begitu saja.

Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, kembali aku merapikan diri sebelum masuk ke dalam gedung berlantai dua itu.

"Bagaimana?" tanyaku memastikan.

"Udah keren," jawabnya dengan menaikkan dua jempol.

Langkah kaki ini kemudian membawaku menaiki lantai tiga. Rayyan tentunya sejak tadi mengekor di belakangku. Selain menjabat sebagai manajer, dia juga merupakan sahabatku sejak kecil. Jadi tak salah jika dia secerewet itu.

Di lantai tiga kami disambut oleh tiga orang yang kuyakini para kru.

"Assalamu'alaikum, Ustadz Zafran," sapa Mas Taufik.

"Wa'alaikumussalam, Mas. Maaf kami telat," ucapku sambil merangkul Mas Taufik.

Pandanganku kemudian tertuju pada dua wanita yang berdiri bersisian di samping Mas Taufik. Salah satu di antara mereka sedikit mengalihkan perhatianku. Kuucapkan istighfar sebelum setan mengambil kesempatan ini.

"Assalamu'alaikum, Ustadz," sapanya lembut sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan.

"Wa'alaikumussalam," balasku kikuk.

"Sudah bisa dimulai, Ustadz?" tanya Mas Taufik kemudian.

"Boleh."

"Silahkan masuk Ustadz. Lima menit lagi kita mulai, ya." Aku mengangguk kemudian mengikuti langkahnya.

Wanita yang belum aku tahu namanya tersenyum simpul lalu kubalas dengan senyum pula.

Di dalam ruang persegi dengan warna dominan putih serta kaligrafi menghiasi setiap sudut ruangan. Aku dan Rayyan duduk bersisian. Saat aku sedang asyik mengobrol dengan Rayyan, muncul salah satu wanita tadi.

"Maaf mengganggu, Ustadz. Mungkin ustadz Zafran sudah bisa masuk ke ruang utama untuk mengambil rekaman hari ini."

Sejenak aku menoleh ke arah Rayyan yang tak pernah berkedip menatap wanita tadi.

'Semoga nggak kumat, batinku'

Aku berjalan menuju ruangan yang dituju. Di dalam sudah ada wanita yang duduk di balik meja yang berhadapan langsung dengan kursi yang akan menjadi tempatku nanti. Wanita dengan gamis berwarna navi dengan paduan khimar berwarna abu muda. Sangat cocok dengan wajahnya yang manis.

'Jadi, dia yang akan memandu acara hari ini?' tanyaku dalam hati.

Sejenak pandangan kami bertemu.

"Silakan duduk, Ustadz," ujarnya dengan lembut dengan senyum menghiasi wajahnya.

Aku mendudukkan diri kemudian sedikit merapikan penampilan sebelum ditake.

"Bisa kita mulai ya, Ustadz?" Aku menggangguk patuh. Ada dentuman dari dalam dada yang sedang berusaha kukontrol.

Pandangannya mulai melihat ke arah sisi kanannya kemudian mengangkat jempol kanannya.

"Bismillahirrohmanirrohim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pertama - tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wata'ala yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat berkumpul pada hari ini dengan keadaan sehat wal'afiat.

Tak Lupa Sholawat serta salam tak henti - hentinya kita haturkan kepada Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam, yang kita tunggu syafaatnya di hari kiamaat nanti. Semoga kita termasuk golongan umat yang mendapatkan syafa'atnya kelak. Aamiin Allahumma Aamiin."

"Sahabat MBI di mana pun berada, apa kabar hari ini? Semoga senatiasa dalam lindungan Allah Subhana Wa Ta'ala. Aamiin. Seperti biasa hari ini Zaira Khazanah kembali menyapa sahabat fillah semua untuk berbagi kisah inspirasi dengan ornag hebat."

Aku sekali-sekali mencuri pandang kepadanya. Zaira, nama yang indah. Tanpa sadar senyum tercipta diwajahku.

"Alhamdulillah hari ini kita kedatangan tamu istimewa yang belakangan ini jadi pembicaraaan hangat akan sosoknya. Ustadz Zafran Abdullah. Pengusaha muda dengan berjualan busana muslim. Masya Allah."

"Assalamu'alaikum, Ustadz"

"Wa'alaikumussalam," jawabku yang kini berhadapan dengannya.

"Sebelumnya jazakallah khairan katsiran Ustadz sudah bersedia membagi waktunya di tengah kesibukan Ustadz untuk menjadi narasumber kami hari ini."

"Wa jazakillah khair."

"Sebelumnya kita santai saja ya, Ustadz, agar sharing kita berjalan dengan mudah."

Entah dia menangkap sinyal rasa gugupku atau memang prosedurnya.

"Baik."

"Sebelumnya, apa Ustadz bisa sedikit bercerita bagaimana kisah di balik kesuksesan Ustadz dalam mengelola usaha ini?"

"Awalnya itu bermula pada tiga tahun silam. Saat itu aku masih menempuh pendidikan di salah satu universitas ternama di kota ini. Di kampus kami itu ada suatu lembaga yang mengadakan kegiatan khusus sebagai wadah bagi mahasiswa beragama muslim untuk mengembangkan dakwah di kampus kami. Setiap hari jum'at sore kami akan mengadakan kajian rutinan yang dihadiri oleh beberapa petinggi universitas, staf dan juga mahasiswa."

"Sampai suatu hari kami berencana mengadakan lomba dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan. Salah satunya adalah kelompok shalawatan. Petinggi kampus meminta untuk membuat seragam sendiri yang akan didanai oleh pihak kampus."

"Kebetulan Umi saya memiliki keahlian menjahit. Lalu dengan bantuan beliaulah, seragam itu jadi. Alhamdulillah setiap kegiatan kampus bertema islami, seragam akan dipesan dengan saya sebagai perantara. Katanya, jahitan, kain dan modelnya berbeda dari yang ada di pasaran."

"Saat itulah saya terinspirasi untuk menjadi pedangan muslim dan banyak belajar dari Umi."

"Masyaa Allah sangat inspiratif sekali yang berawal dari seorang aktifis dakwah di kampus, lalu sentuhan jahitan seorang ibu dan pastinya diselingi do'a sehingga bisa seperti ini ya, Ustadz?" Aku mengangguk ramah.

"Lalu untuk nama brandnya sendiri yaitu An-Nur Barokah itu terinspirasi dari mana, Ustadz?"

"Untuk nama brandnya seperti artinya adalah cahaya berkah. Berharap apa yang saya lakukan senantiasa mendapatkan limpahan cahaya keberkahan di dalamnya."

"Masyaa Allah berarti sebuah do'a ya, Ustadz?" Aku mengangguk kembali.

Lalu pertanyaan terus terlontar darinya. Wanita yang berhasil menarik perhatianku sejak awal jumpa. Wanita shalihah yang cerdas dan santun. Zaira Khazanah.

Satu jam telah berlalu, obrolan ringan yang sedikit diselingi canda darinya membuatku semakin tertarik. Pembawaannya yang ringan dan mudah membawa lawan bicara sudah seperti sangat dekat.

"Alhamdulillah sharing pada hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang disampaikan oleh narasumber kita pada hari ini bermanfaat untuk kita semua."

"Jazakallah khairan kepada Ustadz Zafran Abdullah yang telah menyampaikan sharing luar biasa pada hari ini. Semoga menjadi amal jariyah untuk Ustadz."

"Sebelum kami akhiri sharing hari ini, ada sedikit kenang - kenangan dari kami sebagai ucapan terimakasih."

Tangan lentiknya mengeluarkan sebuah plakat

sebagai tanda terimakasih dan telah bersedia membagi waktuku untuk berbagi di akun channel mereka.

Tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat hingga sharing hari ini selesai. Ada rasa sedikit sesal karena waktu yang kuminta begitu sedikit. Ah, andai saja aku memilih waktu sedikit lwbih lagi, tentu saja aku bisa menikmati kedekatan ini meskipun hanya sebagai tuan rumah dan tamu. Tapi rasa nyaman itu muncul seketika.

'Astagfirullah ada apa ini? Ampuni Hamba' batinku.

Setelah kami selesai sharing di ruangan persegi kini kami terlibat obrolan ringan di sebuah meja kecil.

"Masyaa Allah begit menginspirasi cerita di balik suksesnya usaha Ustadz." Mas Taufik membuka obrolan.

"Di luaran sana pasti masih banyak lagi inspirator hebat, Mas."

Kami tertawa ringan sambil menikmati kopi dan beberapa irisan kue bronis cokelat pandan.

"Oh, iya, ini dua rekan saya ustadz, yang satunya pasti ustadz sudah kenal tadi. Zaira Khazanah, dan sahabatnya Khadijah." Mas Taufik memperkenalkan dua rekannya kembali.

"Ini sahabat sekaligus partner saya dalam bisnis ini. Rayyan Habibullah.

Mereka kemudian saling berkenalan. Bisa kutangkap sesekai Zaira mencuri pandang kepadaku. Akupun begitu selalu tertangkap basah mencuri pandang ke arahnya. Saat mata kami bertemu, Zaira akan otomatis menunduk, sedang aku membuang pandangan.

"Maaf ustadz, di kisahnya tadi ustadz belum pernah menyebut sosok wanita yang senantiasa mendampingi ustadz selain sosok umi. Apa sengaja tidak disebut ustadz?"

Khadijah sebagai salah satu yang hadir di sini bertanya sesuatu yang sangat jarang ditanyakan oleh kebayakan orang.

Kulihat rona wajah Zaira seolah menunggu sebuah jawaban dariku. Apakah dia? Ah, aku tak ingin menimbulkan praduga yang berujung kecewa.

"Sayangnya sosok itu memang belum ada," jawabku dengan sedikit terkekeh.

"Jadi ustadz masih sendiri ternyata. Saya pikir ustadz sudah ada yang punya," celetuk Mas Taufik.

"Apa Mas Taufik ada calon untuk Ustadz Zafran?" tanya Rayyan.

"Segan aku ustadz. Nanti ustadz sendiri yang memilih. Aku yakin pilihan ustadz paling terbaik," timpal Mas Taufik.

Tak terasa setengah jam berlalu. Aku harus kembali ke kantor. Aku tidak bisa meninggalkan lebih lama lagi pekerjaan di sana.

Sebelum benar-benar berlalu, aku sengaja menyuruh Rayyan turun duluan. Aku menghampiri Zaira yang tengah merapikan bekas minum kami.

Aku berdehem yang membuatnya sedikit tersentak.

"Ada apa, Ustadz?" tanyanya.

"Eum, apa kamu....masih sendiri?"

Jujur, aku sangat ragu untuk menanyakan hal yang sangat pribadi. Untuk mengumpulkan keberanian bertanya saja sangat butuh lama hingga sedikit terjeda.

Zaira tersenyum lantas menunduk.

"Belum, Ustadz," lirihnya.

"Alhamdulillah."

Zaira mendongak menampakkan wajahnya yang tengah menghangat. Aku mengulum senyum melihat wajahnya begitu lucu saat ini.

"Zaira, jika kita ditakdirkan bertemu lagi, maka ijinkan aku untuk membawa namamu dalam do'aku."

Wajahnya semakin bersemu merah. Secara tidak langsung aku telah mengakui memiliki daya tarik untuknya. Entah Zaira mengerti atau tidak.

"Aku permisi. Assalamu'alaikum."

Aku pemait setelah mendapatkan balasan atas salam yang telah terucap. Meninggalkan dia yang masih mematung di tempat.

Zaira, ijinkan aku membawa namamu dalam sujud panjangku.

"Lama amat sih, di atas masih ada ketinggalan?" tanya Zafran saat aku sudah berada di balik kemudi.

'Ada, Rayyan. Hatiku, bisikku dalam hati.'

"Tidak ada," jawabku santai namun ditanggapi tawa renyah oleh Rayyan.

"Zafran, aku nggak mengenalmu baru kemarin. Sejak tadi tuh gerak-gerik kamu aku awasi semua."

Aku terkesiap. Jangan-jangan dia tahu.

"Sudahlah. Nggak usah berlagak sok kalem di depanku. Aku tahu. Zaira kan?" godanya.

"Ah, sok tahu kamu," kilahku.

"Tatapan mata kamu itu buktinya. Saat sebelum mulai acara. Pandangan kamu itu udah mengarah ke dia. Meskipun ada Khadijah di sampingnya." Aku bergeming.

"Saat mulai sharing. Tatapan kamu nggak lepas dari dia."

"Sok tahu kamu." Aku terus berpura-pura fokus menyetir.

"Zafran, aku sangat mengenal kamu. Aku setuju kalau sama dia. Dia cantik, baik, shalihah." Aku mengerling tajam.

"Hey, biasa aja dong tatapannya. Apa salahnya?" tanyanya seolah-olah apa yang dia lakukan adalah benar.

"Kamu memujinya di depanku. Membayangkan wajahnya. Itu dosa!"

"Hey, kamu cemburu?" Rayyan terkekeh.

Aku diam dan memilih fokus menyetir.

"Tenang aja, aku akan bantu kamu untuk mencari tahu soal dia." Aku memilih tetap diam.

Zaira, akankah kita akan bertemu lagi? Kapan? Di mana? Atau apakah justru ini adalah pertemuan terakhir kita?

'Astaghfirullah'

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Bosku Kenikmatanku

Bosku Kenikmatanku

Juliana
5.0

Aku semakin semangat untuk membuat dia bertekuk lutut, sengaja aku tidak meminta nya untuk membuka pakaian, tanganku masuk kedalam kaosnya dan mencari buah dada yang sering aku curi pandang tetapi aku melepaskan terlebih dulu pengait bh nya Aku elus pelan dari pangkal sampai ujung, aku putar dan sedikit remasan nampak ci jeny mulai menggigit bibir bawahnya.. Terus aku berikan rangsang an dan ketika jari tanganku memilin dan menekan punting nya pelan "Ohhsss... Hemm.. Din.. Desahannya dan kedua kakinya ditekuk dilipat kan dan kedua tangan nya memeluk ku Sekarang sudah terlihat ci jeny terangsang dan nafsu. Tangan kiri ku turun ke bawah melewati perutnya yang masih datar dan halus sampai menemukan bukit yang spertinya lebat ditumbuhi bulu jembut. Jari jariku masih mengelus dan bermain di bulu jembutnya kadang ku tarik Saat aku teruskan kebawah kedalam celah vaginanya.. Yes sudah basah. Aku segera masukan jariku kedalam nya dan kini bibirku sudah menciumi buah dadanya yang montok putih.. " Dinn... Dino... Hhmmm sssttt.. Ohhsss.... Kamu iniii ah sss... Desahannya panjang " Kenapa Ci.. Ga enak ya.. Kataku menghentikan aktifitas tanganku di lobang vaginanya... " Akhhs jangan berhenti begitu katanya dengan mengangkat pinggul nya... " Mau lebih dari ini ga.. Tanyaku " Hemmm.. Terserah kamu saja katanya sepertinya malu " Buka pakaian enci sekarang.. Dan pakaian yang saya pake juga sambil aku kocokan lebih dalam dan aku sedot punting susu nya " Aoww... Dinnnn kamu bikin aku jadi seperti ini.. Sambil bangun ke tika aku udahin aktifitas ku dan dengan cepat dia melepaskan pakaian nya sampai tersisa celana dalamnya Dan setelah itu ci jeny melepaskan pakaian ku dan menyisakan celana dalamnya Aku diam terpaku melihat tubuh nya cantik pasti,putih dan mulus, body nya yang montok.. Aku ga menyangka bisa menikmati tubuh itu " Hai.. Malah diem saja, apa aku cuma jadi bahan tonton nan saja,bukannya ini jadi hayalanmu selama ini. Katanya membuyarkan lamunanku " Pastinya Ci..kenapa celana dalamnya ga di lepas sekalian.. Tanyaku " Kamu saja yang melepaskannya.. Kata dia sambil duduk di sofa bed. Aku lepaskan celana dalamku dan penislku yang sudah berdiri keras mengangguk angguk di depannya. Aku lihat di sempat kagett melihat punyaku untuk ukuran biasa saja dengan panjang 18cm diameter 4cm, setelah aku dekatkan ke wajahnya. Ada rasa ragu ragu " Memang selama ini belum pernah Ci melakukan oral? Tanyaku dan dia menggelengkan kepala

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
BIDADARI SURGAKU BIDADARI SURGAKU ZeeZee93 Romantis
“Zaira Khazanah merasakan pelik yang juga dirasakan oleh kaum Hawa pada umumnya. Setelah lima tahun pernikahannya, kehadiran si kecil yang menjadi dambaan setiap pasangan suami istri pun tak kunjung hadir mewarnai hari-hari mereka. Berbagai macam pertanyaan yang dia dapatkan akan kapan hadirnya si buah hati. Sakit? Tentu saja, tapi Zaira beruntung memiliki Zafran yang tidak pernah mempermasalahkan itu. Di lima tahun pernikahan Zaira meminta kepada Zafran untuk dicarikannya adik madu. Zafran tentu saja menentang keras permintaan Zaira. Baginya adanya Zaira dalam hidupnya sudah melebihi dari segalanya. Sosok Arumi hadir di tengah mereka atas peminatan Zaira. Sosok yang sejak lama menyimpan rasa terhadap Zafran. Suatu kebahagiaan yang tak terduga bagi Arumi adalah dengan ditawarinya menjadi adik madu Zaira. Akankah Zaira menyerah pada takdir yang telah ia jalani? Akankah Zafran menyerah dan menerima Arumi dalam hidupnya? Akankah Zaira dan Zafran tetap tegar menghadapi segala cobaan yang dihadapi?”
1

Bab 1 Wanita itu bernama Zairah

22/08/2022

2

Bab 2 Pria itu Bernama Zafran

22/08/2022

3

Bab 3 Untuk Kali Kedua

22/08/2022

4

Bab 4 Permintaan Abi

22/08/2022

5

Bab 5 Sosok dari Masa lalu

22/08/2022

6

Bab 6 Istikharah Cinta

22/08/2022

7

Bab 7 Menjadi Khadijah Masa Kini

22/08/2022

8

Bab 8 Sabda Cinta

22/08/2022

9

Bab 9 Bahagia Sekaligus Luka

22/08/2022

10

Bab 10 Mencari Tahu

22/08/2022

11

Bab 11 Proposal Cinta

22/08/2022

12

Bab 12 Lamaran Dadakan

22/08/2022

13

Bab 13 Hari Lamaran

22/08/2022

14

Bab 14 Penelitian Zaira

22/08/2022

15

Bab 15 Cemburu

22/08/2022

16

Bab 16 Kisah Zayn

30/08/2022

17

Bab 17 Kasih Tak Sampai

30/08/2022

18

Bab 18 Haruskah

30/08/2022

19

Bab 19 Ikhlas melepasmu

30/08/2022

20

Bab 20 Fitting Baju Pengantin

30/08/2022

21

Bab 21 Surat Pengakuan Cinta

30/08/2022

22

Bab 22 KUA

30/08/2022

23

Bab 23 Ujian Pranikah

30/08/2022

24

Bab 24 Tamu Istimewa

30/08/2022

25

Bab 25 Wanita dari Masa Lalu

30/08/2022

26

Bab 26 Bertemu

30/08/2022

27

Bab 27 Fitnah

30/08/2022

28

Bab 28 Patah Hati

30/08/2022

29

Bab 29 Aku Pergi

30/08/2022

30

Bab 30 Hari Pernikahan

30/08/2022

31

Bab 31 Bahagia

30/08/2022

32

Bab 32 Malam Pengantin

30/08/2022

33

Bab 33 Menjadi istri shalihahmu

30/08/2022

34

Bab 34 Bidadari Surgaku

30/08/2022

35

Bab 35 Zaira Cemburu

30/08/2022

36

Bab 36 Risau

04/09/2022

37

Bab 37 Saat Ujian Datang Menyapa

22/09/2022

38

Bab 38 Mas, adek ingin dimadu

22/09/2022

39

Bab 39 39. Senyum yang Hilang

18/10/2022

40

Bab 40 Dunia yang Runtuh

18/10/2022