Login to Bakisah
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Gairah Bad Boy Salah Sasaran

Gairah Bad Boy Salah Sasaran

EL ZERO

5.0
Komentar
67.3K
Penayangan
36
Bab

Bad boy adalah istilah yang dipakai untuk menjuluki Elang. Mahasiswa tampan yang tingkahnya masuk dalam kategori 'nakal'. Dalam acara malam keakraban dengan mahasiswa baru yang digelar di alam terbuka, Elang hadir sebagai panitia dengan misi pribadi. Yaitu mendekati mahasiswi yang memiliki paha mulus seperti Syahreni. Mahasiswi yang jadi sasaran kadal kampus karena daya tariknya yang konon seperti Afrodit. Namun, Elang yang setengah mabuk bukannya mengencani sang pujaan hati, tapi justru terdampar di tenda dengan dosen pembimbing saat malam sebelum acara rafting dimulai. "Ini salah paham, Bu Nindya!" ujar Elang tercekat. Wajahnya pucat dan penuh sesal sesaat setelah mengendurkan gairahnya. Sang dosen melotot, menaikkan kedua alis lalu menyahut galak, "Ini bukan salah paham namanya! Ini murni salah paha, Elang!"

Bab 1 Rapat Panitia

[Teruntuk putraku tersayang, Elang

Hai El sayang, mama tebak kamu pasti sudah menemukan satu dari sekian banyak surat yang sengaja mama tinggalkan untuk kamu. El nemuin surat yang mama simpan dimana? Di meja belajar El, tumpukan baju, lemari pakaian atau yang selalu ada di kantong baju mama?

Jadi, gimana kabar El hari ini?

El udah makan?

Apa El sedang banyak kegiatan?

Mama harap El bisa menjalani hari dengan lebih baik setiap saat, meskipun itu tanpa ada mama lagi di sisimu sekarang.

Maafin mama ya El, maaf karena mama belum bisa menjadi orang tua terbaik untuk kamu!

Maafin mama yang pada akhirnya membuat El kecewa!

Maafin mama yang nggak pernah bisa berterus terang tentang kondisi yang sebenarnya!

........

....... ]

Elang melipat kertas kusam yang sesekali masih dibacanya. Meski tidak membacanya sampai selesai, tapi Elang masih hafal tiap kata yang disampaikan sang mama dalam suratnya. Elang sudah ratusan kali membaca surat tersebut sejak ditemukannya pertama kali.

Namun, hatinya masih saja sulit menerima, masih selalu merindukan sosok cantik yang melahirkannya itu hingga sekarang. Sosok yang tidak pernah terganti dan selalu menimbulkan nyeri saat dikenang. Sosok yang sudah hampir lima tahun menghilang dari pandangan Elang.

Oleh sebab itu, Elang menyibukkan diri dengan mempunyai banyak aktivitas, baik di kampus, alam dan bermain-main dengan wanita yang menarik hatinya.

***

Matahari terik di atas kepala, hujan deras yang mengguyur kampus pagi tadi sudah tidak menyisakan air genangan di depan gedung tempat Elang berada.

Elang bergegas turun dari laboratorium kimia tempatnya melakukan penelitian. Mata kuliah paling sulit itu harus ditempuh sebagai syarat kelulusan di sekolah tinggi swasta tempatnya mencari ilmu.

"Kemana, El? Udah selesai penelitian hari ini?" tanya teman perempuan satu angkatan Elang yang juga sedang melakukan penelitian tugas akhir di lab yang sama dengannya.

"Ada perlu sebentar," jawab Elang singkat.

"Aku beli minum buat kamu!"

"Bawa ke atas aja May, aku ada rapat sama panitia makrab. Nanti aku balik lagi kok, sampai sore kayaknya nanti di lab!" Elang menepuk bahu Mayra yang berpapasan di tangga, lalu meninggalkannya tanpa menoleh lagi.

"Hm, iya!" Mayra hanya tersenyum masam, Elang selalu memperlakukannya dengan baik. Tapi tidak pernah menganggapnya lebih dari sekedar teman. Mayra bukannya tidak cantik, hanya saja dia seperti kurang beruntung karena bukan tipe gadis yang disukai Elang.

Dengan senyum semakin kecut, Mayra meniti tangga menuju lab kimia yang satu jam lalu ditinggalkannya untuk istirahat makan. Memulai lagi aktivitasnya dengan beberapa gelas pyrex berisi sampel bahan dan seperangkat alat destilasi. Menyingkirkan Elang dari pikirannya.

Elang masuk ruangan dimana teman-temannya sudah menunggu. Undangan rapat dari ketua Himpunan Mahasiswa (HM) tidak bisa diabaikan. Sebagai wakil ketua, Elang wajib hadir dalam rapat untuk membahas acara malam keakraban mahasiswa baru di jurusannya. Teknik kimia.

Meski bukan panitia utama, kedudukan Elang sebagai pengurus HM tetap dinantikan kehadirannya setiap kali ada rapat. Dan terlambat datang bagi Elang adalah hal biasa dan bisa dimaklumi oleh rekan panitia. Elang termasuk orang yang sibuk dan padat acara.

Hal itu karena Elang bukan hanya aktif dalam kegiatan himpunan mahasiswa jurusan, tapi juga aktif di unit kegiatan mahasiswa pecinta alam dan musik. Debutnya sebagai atlet panjat dinding membuat nama Elang semakin dikenal luas di kampus, bukan hanya di kalangan mahasiswa tapi juga kalangan dosen dan petinggi kampus.

Menang dalam beberapa kali kejuaraan yang membawa nama institusi, membuat Elang ditunjuk sebagai duta kampus untuk menarik minat calon mahasiswa baru. Kegiatannya di luar kampus bersama institusi memang sudah tidak sepadat sebelumnya, tapi tetap ada karena ada target kampus untuk tahun berikutnya.

Elang memimpin rapat hari ini karena ketua HM yang bernama Ryan sedang tidak bisa hadir. Mandatnya pada Elang agar langsung menyelesaikan persiapan acara malam keakraban mahasiswa baru jurusan hari ini juga. Rapat terakhir sebelum pemberangkatan.

Sementara Ryan pergi meninjau lokasi bersama koordinator acara dan panitia lapangan. Laporan tiap bagian sudah masuk semua, dan Elang puas dengan persiapan terakhir dari panitia dari apa yang dibacanya.

"Malam api unggun sebelum rafting fix bikin kambing guling ini ya?" tanya Elang memastikan.

"Yes," jawab bagian konsumsi mengacungkan ibu jari.

"Anak EO minta uang muka 50% dari total pembayaran." Elang melihat ke arah bendahara, menunggu persetujuan.

"El ... kamu yakin mau pakai temen-temen kamu yang anak Mapala itu?" tanya Sisil skeptis selaku sekretaris HMTK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia).

"Yakin, standar mereka sama kalau dibandingkan dengan EO arung jeram umum. Bedanya ... mapala ada di bawah naungan kampus. Kalau soal skill jangan diragukan, untuk urusan kegiatan outdoor sudah pada ahli semua. Alasan terakhir juga biayanya lebih murah, sesuai sama budget kita!" terang Elang tegas.

"Bukan karena mereka teman-teman kamu kan?" Sisil menatap Elang lembut, tidak berusaha menyinggung. Dia hanya ingin memastikan situasi ada dalam kendali.

"Silahkan kalau mau cari yang lain! Harusnya kamu bilang itu dari awal rapat, bukan di rapat terakhir begini," sahut Elang penuh tekanan.

"Sorry ...!" Sisil menekuk wajah menyesal.

Elang mengabaikan ucapan gadis yang meliriknya dengan rumit, dia memilih untuk membahas satu persatu laporan pekerjaan panitia yang lain yang sudah ada di tangannya.

Rapat terus berlanjut hingga satu jam berikutnya. Setelah mengambil keputusan bersama, seluruh panitia bersiap menyelesaikan pekerjaan terakhir sebelum mereka berangkat ke tempat malam keakraban akan diadakan besok.

Fix, malam keakraban untuk mahasiswa baru dengan konsep outdoor, rafting dan api unggun di pinggir sungai, akhirnya siap dilaksanakan. Elang menghembuskan nafas lega, langkahnya mantap saat menghampiri Arga, rekan panitia yang mewakili mapala sebagai EO kegiatan.

"Ga, pastikan besok tenda Vivian ada di sebelah tenda kita ya!" Elang menepuk bahu Arga seraya memamerkan tawa mesum.

Arga yang udah paham hanya menyeringai iri. "Dasar sinting!"

**

Hari berikutnya, tenda dome berjajar di atas tanah terbuka seperti lapangan kecil, hanya berjarak dua puluh meter dari sungai yang akan menjadi pusat kegiatan arung jeram.

Ryan dan Elang sibuk berbincang dengan koordinator lapangan, Arga.

"Gimana bapak ketua dan wakil? Apa persiapan kami bisa dinilai baik?" tanya Arga cengengesan.

"Oke, sip semua. Good job, Arga!" jawab Ryan antusias, puas dengan hasil kerja rekannya.

Elang menimpali dengan semangat, "Semoga besok sukses raftingnya! Jangan lupa rescue team di briefing ulang sebelum kegiatan ya, Ga!"

"Beres! Sebelum api unggun akan ada evaluasi keseluruhan persiapan kok!" ujar Arga menegaskan.

"Aku minta daftar maba dan pembagian tenda, Ga! Mau atur siapa aja yang ikut perahuku besok." Elang menyeringai penuh maksud.

"Astaga, kamu nggak percaya sama aku? Aku udah atur tenda Vivian pas di sebelah kita, besok doi juga ikut perahumu, apa lagi?"

Elang tergelak, "Cuma memastikan aja!"

Malamnya, langit sangat cerah, bulan malu-malu mengintip di balik pepohonan. Suara gitar dan nyanyian merdu mengiringi kebersamaan mahasiswa baru yang berkumpul dalam acara api unggun, dengan sajian kambing guling, yang digelar tepat di pinggir sungai.

Elang melirik satu mahasiswi baru yang membuatnya terpikat dari sejak pandang pertama. Tidak terlalu cantik jika dibandingkan dengan Diah, mantannya yang baru saja minta putus, maba ini tubuhnya menonjol depan belakang dengan porsi yang menantang.

Vivian namanya, gadis yang benar-benar sesuai dengan selera pria yang selalu membayangkan punya pacar wanita, dengan tubuh model majalah dewasa.

Pemuda tampan itu memang sengaja menempatkan tenda Vivian di sebelah tendanya. Niat iseng saat malam keakraban usai, terbersit begitu saja dalam otak kotornya.

Elang memang cukup percaya diri bisa menaklukkan Vivian dengan mudah. Dia sudah membuktikan berkali-kali, kalau perempuan memiliki kesulitan yang sangat besar untuk menolaknya. Jadi, bersaing dengan kadal kampus lainnya buat Elang bukan hal yang terlalu sulit.

Hal itu karena Elang termasuk pemuda dengan jenis yang membuat wanita, baik muda ataupun tua ingin melihatnya lebih dari satu waktu yang semestinya. Kategori tampan yang sangat menarik perhatian perempuan, baik yang masih lajang maupun yang sudah menjadi istri orang.

Kerlingan Elang ditanggapi Vivian dengan senyum manis. Elang pun tak segan menggeser tubuhnya untuk duduk di sebelah Vivian dan mengajaknya ngobrol ringan. Memberikan kode kalau dirinya tertarik dengan pesona yang dimiliki Vivian.

"Tidurnya nanti jangan malem-malem ya, besok acara raftingnya pagi," pesan Elang perhatian.

"Duh ... Vivi susah tidur kayaknya, belum pernah tidur di alam terbuka gini."

"Mau ditemenin?" Elang berbisik lirih penuh canda, mengulas segaris senyum menawannya.

Vivian menggeleng sembari tertawa renyah. "Modus!"

Obrolan Elang terhenti karena pembantu ketua (Puket) yang membawahi bagian kemahasiswaan datang bersama ketua jurusan (Kajur). Memberikan sambutan pada mahasiswa baru jurusan teknik kimia dengan konteks santai dan penuh semangat belajar.

Elang ikut menemani mengobrol selayaknya anak dengan orang tua selepas sambutan selesai. Namanya sudah dikenal oleh petinggi kampus, sehingga Elang memiliki kedekatan dan mendapatkan sedikit kemudahan saat berhubungan dengan mereka.

Obrolan berlangsung tidak begitu lama karena kedatangan petinggi kampus yang terlambat dari jadwal, sehingga setelah mencicipi makanan dari panitia, dua petinggi kampus tersebut diantarkan ketua HM memasuki tenda untuk beristirahat.

Panitia juga memberi instruksi pada semua mahasiswa baru untuk pergi tidur ke tenda masing-masing agar tetap fit saat acara arung sungai besok pagi dilaksanakan.

Sedangkan Elang dan teman-teman mapalanya masih menghabiskan waktu malam dengan menyantap sisa kambing guling di dekat api unggun sambil menghangatkan badan dengan minuman beralkohol.

Arga mengamati gelas kecil di depan Elang yang sedang menguap lebar. Dia memang suka menjadi bandar, suka iseng membagi minuman sambil meledek ringan. "Wah ... kelamaan, El! Ayo woi minum, keburu jadi agar-agar itu nanti!"

Namun, beberapa putaran minuman tadi membawa pengaruh buruk pada Elang. Setelah menenggak minuman yang diperintahkan Arga, Elang pamit ingin istirahat, otaknya sudah sedikit oleng karena mulai mabuk.

"Kepalaku pusing ... aku istirahat sekarang aja dah daripada besok nggak kuat bawa perahu," kata Elang seraya berdiri dan berjalan ke arah tendanya.

Suitan Arga memecah malam, suaranya yang disertai gelak tawa teman-temannya menggelitik telinga Elang. "Safety first than go wild, Badboy!" (Aman dulu baru berpetualang, anak nakal!)

Elang mengabaikan keusilan Arga. Kepalanya terlalu berat. Keinginan untuk mendatangi Vivian juga dibatalkan Elang, otaknya sudah malas untuk sekedar memikirkan kalimat rayuan yang tadi dirancangnya. Elang ingin segera tidur nyenyak dalam tendanya.

Elang masuk ke dalam tenda, lalu menggerutu sesaat, seseorang menggunakan kantong tidurnya. Elang berpikir, mungkin salah satu teman yang tidak membawa perlengkapan tidur anti dingin yang memakai miliknya. Sekaligus menumpang tanpa permisi di tenda yang seharusnya hanya ditempati Elang dengan Arga yang masih asyik minum di pinggir sungai.

Tidak peduli siapa di sebelahnya, Elang menarik sedikit sleeping bag miliknya untuk mengurangi rasa dingin yang mulai terasa.

Namun, tangan Elang yang gagal mengambil barangnya bergerak semakin penasaran. Elang terlanjur memeluk dan menyentuh benda kenyal milik perempuan tanpa sengaja, kini tangannya malah enggan lepas dari sana, menempel kuat seperti besi bertemu magnet.

Tubuh Elang menegang dan darahnya mengalir dengan deras. Dia tidak bisa menghentikan keinginan lelakinya yang spontan tersulut karena situasi tersebut.

What the hell ... who is she?

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Pemuas Nafsu Keponakan

Pemuas Nafsu Keponakan

kodav
5.0

Warning!!!!! 21++ Dark Adult Novel Aku, Rina, seorang wanita 30 Tahun yang berjuang menghadapi kesepian dalam pernikahan jarak jauh. Suamiku bekerja di kapal pesiar, meninggalkanku untuk sementara tinggal bersama kakakku dan keponakanku, Aldi, yang telah tumbuh menjadi remaja 17 tahun. Kehadiranku di rumah kakakku awalnya membawa harapan untuk menemukan ketenangan, namun perlahan berubah menjadi mimpi buruk yang menghantui setiap langkahku. Aldi, keponakanku yang dulu polos, kini memiliki perasaan yang lebih dari sekadar hubungan keluarga. Perasaan itu berkembang menjadi pelampiasan hasrat yang memaksaku dalam situasi yang tak pernah kubayangkan. Di antara rasa bersalah dan penyesalan, aku terjebak dalam perang batin yang terus mencengkeramku. Bayang-bayang kenikmatan dan dosa menghantui setiap malam, membuatku bertanya-tanya bagaimana aku bisa melanjutkan hidup dengan beban ini. Kakakku, yang tidak menyadari apa yang terjadi di balik pintu tertutup, tetap percaya bahwa segala sesuatu berjalan baik di rumahnya. Kepercayaannya yang besar terhadap Aldi dan cintanya padaku membuatnya buta terhadap konflik dan ketegangan yang sebenarnya terjadi. Setiap kali dia pergi, meninggalkan aku dan Aldi sendirian, ketakutan dan kebingungan semakin menguasai diriku. Di tengah ketegangan ini, aku mencoba berbicara dengan Aldi, berharap bisa menghentikan siklus yang mengerikan ini. Namun, perasaan bingung dan nafsu yang tak terkendali membuat Aldi semakin sulit dikendalikan. Setiap malam adalah perjuangan untuk tetap kuat dan mempertahankan batasan yang semakin tipis. Kisah ini adalah tentang perjuanganku mencari ketenangan di tengah badai emosi dan cinta terlarang. Dalam setiap langkahku, aku berusaha menemukan jalan keluar dari jerat yang mencengkeram hatiku. Akankah aku berhasil menghentikan pelampiasan keponakanku dan kembali menemukan kedamaian dalam hidupku? Atau akankah aku terus terjebak dalam bayang-bayang kesepian dan penyesalan yang tak kunjung usai?

Cinta yang Tersulut Kembali

Cinta yang Tersulut Kembali

Calli Laplume
4.9

Dua tahun setelah pernikahannya, Selina kehilangan kesadaran dalam genangan darahnya sendiri selama persalinan yang sulit. Dia lupa bahwa mantan suaminya sebenarnya akan menikahi orang lain hari itu. "Ayo kita bercerai, tapi bayinya tetap bersamaku." Kata-katanya sebelum perceraian mereka diselesaikan masih melekat di kepalanya. Pria itu tidak ada untuknya, tetapi menginginkan hak asuh penuh atas anak mereka. Selina lebih baik mati daripada melihat anaknya memanggil orang lain ibu. Akibatnya, dia menyerah di meja operasi dengan dua bayi tersisa di perutnya. Namun, itu bukan akhir baginya .... Bertahun-tahun kemudian, takdir menyebabkan mereka bertemu lagi. Raditia adalah pria yang berubah kali ini. Dia ingin mendapatkannya untuk dirinya sendiri meskipun Selina sudah menjadi ibu dari dua anak. Ketika Raditia tahu tentang pernikahan Selina, dia menyerbu ke tempat tersebut dan membuat keributan. "Raditia, aku sudah mati sekali sebelumnya, jadi aku tidak keberatan mati lagi. Tapi kali ini, aku ingin kita mati bersama," teriaknya, memelototinya dengan tatapan terluka di matanya. Selina mengira pria itu tidak mencintainya dan senang bahwa dia akhirnya keluar dari hidupnya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah bahwa berita kematiannya yang tak terduga telah menghancurkan hati Raditia. Untuk waktu yang lama, pria itu menangis sendirian karena rasa sakit dan penderitaan dan selalu berharap bisa membalikkan waktu atau melihat wajah cantiknya sekali lagi. Drama yang datang kemudian menjadi terlalu berat bagi Selina. Hidupnya dipenuhi dengan liku-liku. Segera, dia terpecah antara kembali dengan mantan suaminya atau melanjutkan hidupnya. Apa yang akan dia pilih?

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder

Cris Pollalis
5.0

Raina terlibat dengan seorang tokoh besar ketika dia mabuk suatu malam. Dia membutuhkan bantuan Felix sementara pria itu tertarik pada kecantikan mudanya. Dengan demikian, apa yang seharusnya menjadi hubungan satu malam berkembang menjadi sesuatu yang serius. Semuanya baik-baik saja sampai Raina menemukan bahwa hati Felix adalah milik wanita lain. Ketika cinta pertama Felix kembali, pria itu berhenti pulang, meninggalkan Raina sendirian selama beberapa malam. Dia bertahan dengan itu sampai dia menerima cek dan catatan perpisahan suatu hari. Bertentangan dengan bagaimana Felix mengharapkan dia bereaksi, Raina memiliki senyum di wajahnya saat dia mengucapkan selamat tinggal padanya. "Hubungan kita menyenangkan selama berlangsung, Felix. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi. Semoga hidupmu menyenangkan." Namun, seperti sudah ditakdirkan, mereka bertemu lagi. Kali ini, Raina memiliki pria lain di sisinya. Mata Felix terbakar cemburu. Dia berkata, "Bagaimana kamu bisa melanjutkan? Kukira kamu hanya mencintaiku!" "Kata kunci, kukira!" Rena mengibaskan rambut ke belakang dan membalas, "Ada banyak pria di dunia ini, Felix. Selain itu, kamulah yang meminta putus. Sekarang, jika kamu ingin berkencan denganku, kamu harus mengantri." Keesokan harinya, Raina menerima peringatan dana masuk dalam jumlah yang besar dan sebuah cincin berlian. Felix muncul lagi, berlutut dengan satu kaki, dan berkata, "Bolehkah aku memotong antrean, Raina? Aku masih menginginkanmu."

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku