Hijaunya Rumput Tetangga

Hijaunya Rumput Tetangga

Nyi Malika

5.0
Komentar
3.4K
Penayangan
35
Bab

Fian, seorang lelaki setia dan tipe idaman banyak wanita, dikagetkan oleh permintaan cerai dari Anti, sang istri yang menganggap bahwa dirinya terlalu baik-baik saja, namun jauh dari kata romantis. Tekad Anti semakin bulat ketika ia bertemu kembali dengan kekasih masa lalu yang sifatnya bertolak belakang dengan Fian.

Hijaunya Rumput Tetangga Bab 1 Permintaan Cerai

"Bang, adek minta cerai," lirih Anti dengan suara tertahan dan wajah ditekuk.

Fian, sang suami yang sedang menyantap makanan, menghentikan kunyahannya. Ditajamkan pendengarannya untuk memastikan apa yang didengar tidak salah. Mungkin saja Anti minta diambilkan selai yang ada di atas meja makan dekat tempat sendok.

"Minta apa, Dek?" tanyanya pelan sambil tangannya menyuap kembali makanan ke mulut.

"Adek minta cerai. Udah jelas belum?" sungut Anti kembali seraya mengambil kursi dan duduk berhadap-hadapan.

"Ngomong apa kau, Dek? Gak salah dengar abang?" jawab Fian terperangah.

"Gak salah! Adek minta cerai!" jawab anti setengah berteriak.

"Apa-apaan sih, Dek. Ngaco pagi-pagi. Gak ada angin gak ada ribut tiba-tiba minta cerai. Emangnya cerai itu main-main? Jangan becanda, Dek."

"Gak salah, Bang. Adek minta cerai! Cerai, pisah," ulang Anti, lagi.

"Alasannya apa? Coba jelasin!" Fian menjawab dan menatap lekat wajah Anti. Ia terlihat mulai gusar. Ternyata Anti serius, ini aneh.

"Abang gak romantis, jarang peluk-peluk, suka lupa hari-hari penting, gak pernah ngasih hadiah. Banyak lagi sebabnya!"

"Haah!"

Fian menatap istrinya dengan mata membulat. Sendok berisi nasi yang sudah hampir masuk ke mulutnya, diturunkan kembali lalu ia menelisik wajah istrinya dengan mimik serius.

"Jadi cuma gara-gara semua itu minta cerai?"

"I-iya."

"Gara-gara alasan itu adek minta cerai? Coba pikir baik-baik, apa abang pernah gak setia, pernah marah-marah, pernah gak kasi napkah? Pikir baik-baik, Dek!" Fian berdiri dengan gusar.

Anti tampak terdiam. Semoga dia paham, pikir Fian. Aneh juga, Anti yang biasanya penurut, pendiam, tiba-tiba jadi seperti kesambet jin. Ada apa?

Ternyata diamnya cuma sebentar, tiba-tiba Anti meraung sesenggukan. Fian semakin bingung, gegas ia memeluk wanita satu-satunya yang pernah singgah di hatinya itu. Ia berusaha menenangkan sang istri yang terus meronta di pelukannya.

"Abang gak romantis! Gak seperti Bandi, tuh suami Mba Dira. Sayang banget sama Mba Dira. Raungan Anti semakin menjadi. Airmata tumpah ruah membasahi pipi mulusnya. Sakit rasanya hati Fian melihat luka di wajah cantik sang istri. Ia merasa gagal sebagai suami tak bisa membahagiakan Anti. Apalagi ini adalah tangisan pertama yang dilihatnya selama menikahi wanita itu. Membuat Fian semakin merasa bersalah.

Dira yang dimaksud Anti adalah tetangga depan rumahnya.

Setiap hari, Anti sering mengintip keseharian pasangan itu. Apa yang dilihatnya, kerap menimbulkan perasaan gundah. Kala berangkat kerja, sebelum masuk ke mobil, Bandi selalu memeluk Dira. Dira pun tersenyum bahagia melepas keberangkatan suaminya. Begitupun ketika pulang kerja, hal pertama yang dilakukan Bandi ketika turun dari mobil adalah mencium kening atau memeluk Dira.

Kurang apa coba pasangan itu?

Pemandangan itu seperti racun dalam dosis kecil yang terus berulang merasuki hati Anti yang semakin hari semakin menyakitinya. Bahagianya Dira bersuamikan Bandi, pikirnya.

Seandainya Fian melakukan hal yang sama, minimal mendekati juga lumayan. Nyatanya?

Anti pun tak pernah meluputkan membaca status WA Dira yang berisi kata-kata pujian buat suaminya. Bagaimana tidak iri?

"Terima kasih, Sayang. Surprise nya." Tulis Dira pada sebuah gambar cincin yang indah. Sesak dada Anti, ia tidak iri dengan cincinnya tapi soal perhatian Bandi ke Dira. Itu saja.

Di lain waktu, status Dira tak kalah dahsyatnya.

"Suami terbaik." Pada sebuah gambar yang nampaknya pesta ulang tahun mewah Dira, dikelilingi para sahabat.

Dan paling menyesakkan Anti, ketika Dira memposting liburannya di Bali, momen ulang tahun pernikahan keduanya. Dira tampak sangat bahagia, padahal pernikahan mereka sudah berjalan sepuluh tahun, tapi Bandi memperlakukannya bak pengantin baru.

Sedangkan dirinya?

Dalam diamnya, Anti terus membandingkan semua perlakuan yang diterima Dira dari suaminya.

Sesekali mereka berempat pergi makan bersama, lagi-lagi Anti harus menahan hati menyaksikan kemesraan keduanya. Bandi sangat memanjakan Dira, menarikkan kursi buat istrinya duduk, membukakan pintu mobil, mengambilkan tissue dan hal-hal kecil yang terlihat sepele tapi sukses membuat Anti semakin iri.

Sementara Anti, jangankan ulang tahunnya, ulang tahun pernikahan saja Fian lupa. Jangan-jangan tempat mereka mengadakan resepsi pernikahan pun Fian lupa. Tidak ada sikap mesra yang sangat didambakan Anti diberikan suaminya itu. Fian memang tampan tapi tampan saja tidak cukup, Anti perlu dimanja.

Bukankah itu hal gampang? Lihat saja Bandi. Secara ekonomi pun kehidupan mereka tak jauh berbeda, artinya Fian pun bisa memanjakan Anti.

Anti merasa dirinya bukan istri yang beruntung. Hal itu membuatnya nekat menumpahkan isi hatinya pagi ini. Anti tak merasa punya pilihan lain yang lebih baik selain perceraian.

"Maafkan abang, Dek. Abang terlalu fokus sama kerjaan, jadi kadang lupa untuk hal-hal seperti itu. Lagipula kita kan sudah menikah belasan tahun, abang pikir udah rutinitas seperti ini. Kenapa kamu jadi seperti anak kecil gitu?"

"Pokoknya adek minta cerai!"

"Pikirin lagi, Dek. Anak-anak bagaimana? Abang janji berubah lebih sayang sama adek. Lebih perhatian, lebih banyak waktu sama-sama. Please, jangan ngomong cerai." Fian mencoba menarik tangan Anti, ingin menggenggamnya tapi dihentakkan hingga terlepas.

Anti berlari ke kamar dan membanting pintunya, meninggalkan Fian yang melongo. Mimpi apa dia semalam, masih pagi harus menghadapi ujian seberat ini. Fian memutuskan untuk tidak ke kantor hari ini agar bisa menenangkan diri sekaligus Anti.

Ah, Anti. Andai kau tau yang sebenarnya. Siapa si Bandi yang dianggapnya sosok suami hebat itu? Mungkin akan menyesali permintaan yang barusan kau utarakan itu.

Fian memang mengenal Bandi dengan baik. Mereka rekan satu kantor, bukan hanya itu, mereka juga teman sejak SMA. Karena kedekatan keduanya, mereka pun membeli rumah di komplek perumahan yang sama.

Apakah benar Bandi sesempurna pria di mata Anti?

"Hufh, andai kau tahu, Dek. Kau jauh lebih beruntung dibanding Dira."

***

"Fian, jangan sampai ketahuan, Ya."

"Sampai kapan lu gini, Ban. Kasian Dira. Suatu hari kau akan menuai masalah besar."

"Yang namanya perselingkuhan itu gak akan jadi masalah kalau gak ketahuan. Nah jangan sampai ketahuan Dira supaya gak jadi masalah. Dan yang tau soal ini cuma lu. Jadi bantu simpan rahasia ini, oke."

"Sial, lu."

"Yang penting tanggung jawab kita sebagai suami tetap dilakukan, limpahi dia dengan perhatian supaya gak merasa kekurangan. Aman kita. Lu terlalu setia sih jadi gak bakalan paham biar ku jelasin pun," celoteh Bandi seraya menyukai rambut berkali-kali.

Jam kantor usai.

Linda, wanita lain di hati Bandi sejak dua tahun terakhir, sudah menunggu di parkiran. Ia menyambut Bandi yang kemudian menggandengnya mesra. Keduanya masuk ke mobil, melaju menuju apartemen Linda. Rutinitas yang dilakukan Bandi senin-jumat, sebelum pulang telat ke rumah, dengan alasan macet atau makan dulu bersama Fian.

Jangan tertipu rumput tetangga, ia tak selalu hijau dan indah, sehijau yang terlihat.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Nyi Malika

Selebihnya

Buku serupa

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Hijaunya Rumput Tetangga Hijaunya Rumput Tetangga Nyi Malika Romantis
“Fian, seorang lelaki setia dan tipe idaman banyak wanita, dikagetkan oleh permintaan cerai dari Anti, sang istri yang menganggap bahwa dirinya terlalu baik-baik saja, namun jauh dari kata romantis. Tekad Anti semakin bulat ketika ia bertemu kembali dengan kekasih masa lalu yang sifatnya bertolak belakang dengan Fian.”
1

Bab 1 Permintaan Cerai

23/02/2022

2

Bab 2 Ruang Kosong di Hati Dira

02/03/2022

3

Bab 3 Introspeksi Diri

02/03/2022

4

Bab 4 Dusta tak Selalu Indah

02/03/2022

5

Bab 5 Semakin Galau

02/03/2022

6

Bab 6 Terlambat

02/03/2022

7

Bab 7 Anti

02/03/2022

8

Bab 8 Anti-02

02/03/2022

9

Bab 9 Reuni

02/03/2022

10

Bab 10 Semakin Hilang Arah

02/03/2022

11

Bab 11 Terlena

11/03/2022

12

Bab 12 Hati yang Bimbang

11/03/2022

13

Bab 13 Tunjukkan Aku Jalan

11/03/2022

14

Bab 14 Kecewa

11/03/2022

15

Bab 15 Kejutan Dari Fian

11/03/2022

16

Bab 16 Duniaku Runtuh

11/03/2022

17

Bab 17 Tragedi

11/03/2022

18

Bab 18 Penyesalan

11/03/2022

19

Bab 19 Pertemuan dengan Bandi

11/03/2022

20

Bab 20 Hampa

11/03/2022

21

Bab 21 Tanda Tanya

11/03/2022

22

Bab 22 Pengakuan Dira

11/03/2022

23

Bab 23 Segala Sesuatu Ada Maksudnya

11/03/2022

24

Bab 24 Sosok yang Tak Asing

11/03/2022

25

Bab 25 Kabar Dari Tania

11/03/2022

26

Bab 26 Paket

11/03/2022

27

Bab 27 Sebuah Kerelaan

11/03/2022

28

Bab 28 Keajaiban

11/03/2022

29

Bab 29 Bukan Akhir Segalanya

11/03/2022

30

Bab 30 Kejutan

11/03/2022

31

Bab 31 Jangan Ambil Bahagia Ini

11/03/2022

32

Bab 32 Harus Sekarang

11/03/2022

33

Bab 33 Kebesaran Hati Fian

11/03/2022

34

Bab 34 Arkan Pergi Membawa Cintanya

11/03/2022

35

Bab 35 Ini Sudah Sempurna

11/03/2022