Ketika Cinta Pertama Berujung Penderitaan

Ketika Cinta Pertama Berujung Penderitaan

Miftakhul

5.0
Komentar
9
Penayangan
22
Bab

Laila, seorang gadis yang awalnya polos, terperosok dalam jerat pergaulan yang salah, menyeretnya ke dalam jurang penyesalan yang dalam. Puncaknya, ia terpaksa melahirkan seorang bayi di tempat yang paling sunyi dan tak layak: sebuah gedung tua yang terbengkalai. Keputusan dan kesalahan fatal di masa mudanya itu menjadi awal dari babak baru yang penuh duri. Di hari-hari berikutnya, hidup Laila tak pernah lepas dari rentetan ujian, stigma, dan perjuangan berat demi menghidupi dan melindungi buah hatinya. Mampukah Laila, sang ibu muda yang dihantui masa lalu, menemukan jalan untuk membersihkan luka batinnya? Bisakah ia melewati badai penyesalan, meraih kembali kehormatan diri, dan akhirnya menemukan kebahagiaan sejati yang selalu ia idamkan?

Bab 1 Rasa sakit itu datang lagi

Laila meremas seonggok kain lusuh di tangannya. Rasa sakit itu datang lagi, jauh lebih kuat dari yang sebelumnya, seolah-olah ada tangan raksasa yang meremas tulang punggungnya sampai hancur. Ia menggigit bibirnya, menahan suara jeritan yang tercekat di tenggorokan. Ini bukan lagi sakit biasa, ini puncaknya. Ia tahu. Setelah sembilan bulan menyangkal, setelah berbulan-bulan lari dari kenyataan, sekarang alam menariknya paksa untuk menghadapi segala konsekuensi dari pergaulan yang salah itu.

"Nggak, nggak sekarang," bisiknya pada dinding bata yang dingin dan berlumut.

Ia ada di lantai tiga sebuah gedung terbengkalai. Tempat ini dulunya mungkin akan jadi kantor mewah, tapi proyeknya berhenti lima tahun lalu. Sekarang, ia hanyalah kerangka beton tanpa jendela, berbau apek, lembap, dan menjadi rumah bagi laba-laba serta tikus-tikus. Laila memilih tempat ini, bukan karena ia punya pilihan, tapi karena di sini-di antara sisa-sisa kemewahan yang gagal-ia bisa menyembunyikan aibnya. Tidak ada yang akan mencarinya di sini, tidak ada yang akan mendengar suaranya, dan yang paling penting, tidak ada yang akan menghakimi.

Laila berusaha bangkit, lututnya gemetar. Ia harus pindah ke sudut yang lebih terlindung, tapi gelombang kontraksi berikutnya menghantam, membuatnya kembali terhuyung. Ia merangkak, menyeret perut besarnya melintasi lantai semen yang kasar. Setiap inci gerakan terasa seperti siksaan. Air matanya sudah kering, digantikan oleh keringat dingin yang membasahi dahi. Ia tidak bisa menelepon siapa pun. Nomor teman-teman lamanya sudah diblokir, dan keluarganya? Ah, keluarganya. Ingatan itu datang seperti belati.

"Kalau kau keluar dari pintu itu, jangan pernah anggap kami orang tuamu lagi. Jangan pernah bawa aib ini kembali!"

Itu kata terakhir Bapaknya, diucapkan dengan suara yang berat dan mata yang memancarkan rasa malu sekaligus kekecewaan yang tak terhingga. Malam itu, tiga bulan lalu, Laila berjalan keluar, membawa tas ransel berisi beberapa potong baju dan beban penyesalan sebesar gunung. Sejak itu, ia hidup dari sisa uang tabungan, bekerja serabutan yang menerima ibu hamil, dan akhirnya, bersembunyi di sini.

Kontraksi kembali datang. Laila mencengkeram besi tua yang menjulur dari dinding. Kali ini, ia tidak bisa menahan suara rintihan yang lolos. Ia terengah-engah, merasakan sesuatu yang dingin dan basah mengalir di kakinya. Air ketuban pecah. Waktunya sudah habis.

Panik mulai merayap naik, menggantikan rasa sakit. Ia sendirian. Tidak ada bidan, tidak ada handuk bersih, tidak ada air hangat, apalagi obat pereda nyeri. Yang ada hanya kegelapan yang mulai turun, memeluk lantai semen, dan bayangan-bayangan seram dari besi-besi konstruksi di sekelilingnya.

"Ya Tuhan, tolong aku... Tolong aku," ratapnya, suaranya parau dan kecil, hilang ditelan ruangan besar yang kosong.

Ia mencoba mengingat-ingat film atau drama yang pernah ia tonton tentang melahirkan. Apa yang harus dilakukan? Mendorong? Menarik napas? Hanya ada satu insting yang tersisa: insting untuk bertahan hidup, dan insting untuk memastikan makhluk kecil di perutnya ini juga bertahan.

Laila memosisikan dirinya bersandar pada tumpukan karung bekas. Dinginnya semen menjalar cepat ke punggungnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan dorongan untuk menjerit. Otaknya bekerja keras, menyaring informasi di tengah kabut rasa sakit. Ia meraba sekeliling, mencari sesuatu yang bisa dijadikan alas atau pembalut. Ia menemukan beberapa lembar koran bekas yang sedikit kering, dan sebuah plastik pembungkus makanan sisa. Tidak higienis, tapi ini satu-satunya yang ia punya.

Setiap sepuluh menit, rasa sakit itu datang, menguat seperti gelombang pasang, memaksa tubuhnya melakukan hal yang tidak pernah ia latih. Ia mendorong, bukan karena kemauan, tapi karena tubuhnya memerintahkannya.

Sambil merintih, pikirannya berkelana liar. Ia memikirkan Emon, si biang kerok yang membawanya ke lingkungan itu. Emon yang memberinya janji manis, yang menghambur-hamburkan uang sewa kos yang ternyata uang haram, dan yang meninggalkannya begitu tahu Laila hamil. Laki-laki pengecut. Laila tidak membencinya, ia sudah melampaui fase itu. Yang ia rasakan hanya penyesalan konyol. Kenapa ia bisa begitu bodoh, begitu rapuh, dan begitu mudah percaya?

Rasa sakit berikutnya datang lagi, kali ini disertai sensasi perih yang merobek. Laila berteriak, suara teriakannya memantul dari dinding ke dinding, terdengar asing dan menyedihkan di ruang kosong itu. Itu adalah jeritan keputusasaan dan penyerahan diri. Ia tidak lagi peduli jika ada gelandangan lain yang mendengarnya.

Ia merasakan ada tekanan luar biasa di bawah sana. Ia mendorong sekuat tenaga, memanggil semua energi yang tersisa dari tubuh yang sudah berhari-hari hanya makan mi instan. Ia mendorong lagi, dan lagi. Kepalanya terasa pusing, matanya berkunang-kunang.

Tiba-tiba, ada sensasi licin dan hangat, diikuti oleh suara pluk yang tidak disengaja.

Laila berhenti bernapas.

Dalam remang-remang senja yang masuk dari celah atap, ia melihatnya. Sosok kecil, ungu kemerahan, tergeletak di atas tumpukan koran bekas. Tangan mungilnya yang terkepal. Keheningan selama sepersekian detik terasa seperti keabadian. Hanya suara napas Laila yang tersengal-sengal yang memecah kesunyian.

Lalu, tangisan itu datang.

Bukan tangisan manja, bukan tangisan lembut. Itu adalah tangisan perjuangan, tangisan marah, tangisan nyaring yang mengisi seluruh ruangan kosong. Tangisan itu adalah konfirmasi. Konfirmasi bahwa ia berhasil. Konfirmasi bahwa ia adalah seorang ibu. Dan konfirmasi bahwa hidupnya, yang sudah hancur, kini akan menjadi jauh lebih rumit.

Air mata Laila akhirnya turun, bukan karena sakit lagi, tapi karena rasa lega, takut, dan cinta yang tumpah ruah dalam satu waktu. Ia mengulurkan tangan yang gemetar, menyentuh kulit basah bayi itu.

"Anakku..." bisiknya, suaranya pecah.

Ia menyeka pandangannya, mencari cara. Tali pusat. Ia harus memotongnya. Ia sudah menyiapkan sepotong pecahan kaca yang ia temukan dua hari lalu, ia cuci dengan air sisa minumannya. Ini bukan gunting yang steril, ini adalah benda tajam kotor yang harus ia gunakan, risiko infeksi ada di depan mata. Namun, ia tidak punya pilihan.

Dengan hati-hati, ia mengambil pecahan kaca itu. Tangannya gemetar hebat. Ia harus melakukannya sekali tebas. Jika ia gagal, bayinya akan terluka. Ia menarik napas panjang, menenangkan jantungnya yang berdebar seperti genderang perang.

"Aku nggak boleh salah. Demi kamu," ucapnya pada bayi itu, yang kini hanya menangis pelan, mencari kehangatan.

Cret!

Bukan tebasan bersih, tapi cukup. Laila segera membalut ujung tali pusatnya seadanya dengan sobekan kain yang ia siapkan, lalu segera memeluk bayinya ke dada. Kehangatan kulit bertemu kulit. Insting keibuan mengambil alih sepenuhnya.

Ia menggendongnya erat. Rasa dingin dari gedung, rasa sakit di tubuhnya, rasa lapar yang menusuk-semuanya seolah lenyap, digantikan oleh keajaiban kecil yang menggeliat di pelukannya. Ia menyandarkan punggungnya di dinding, memejamkan mata, membiarkan tubuhnya beristirahat setelah perang yang panjang.

Bayi itu laki-laki. Ia meraba-raba wajah mungil itu, matanya masih tertutup. Ia melihat hidungnya, mirip dengan hidung Bapaknya. Ya, Bapaknya yang kini tak mau ia pandang. Tapi ia tak mau itu merusak momen ini.

"Siapa namamu, Nak?" gumam Laila, sambil tersenyum tipis-senyum pertama yang ia rasakan dalam waktu yang lama.

Di tengah keheningan, ia melihat ke sekeliling ruangan lagi. Kerangka-kerangka baja, debu tebal, bau kotoran burung. Ini adalah tempat kelahiranmu, Nak. Bukan rumah sakit bersih, bukan kamar berpendingin, tapi gudang penuh aib dan kesendirian.

Penyesalan itu kembali. Bukan penyesalan memiliki anak ini, tidak. Anak ini adalah harta dan anugerahnya. Penyesalannya adalah kenapa ia bisa membuat masa depan anak ini begitu sulit bahkan sebelum ia sempat menghirup udara bersih. Anak ini lahir dari kesalahan dan kini harus membayar harga yang mahal.

Laila tahu, malam ini hanya permulaan. Begitu matahari terbit, ia harus membuat keputusan besar. Apakah ia harus meninggalkan anak ini di panti asuhan agar mendapat hidup yang layak? Atau ia harus menggenggamnya erat, menghadapi dunia yang kejam sendirian, dan membuktikan bahwa ia mampu menjadi ibu yang baik, meskipun dari awal ia sudah salah jalan?

Ia memeluk bayinya lebih erat. Beratnya bayi itu di lengannya adalah berat tanggung jawab yang luar biasa. Ia adalah satu-satunya pelindung bagi jiwa kecil ini.

"Aku nggak akan kasih kamu nama yang berat, Nak. Kamu sudah bawa beban yang cukup besar. Namamu... Aku akan kasih kamu nama Arka. Pelangi yang melengkung. Harapan," bisik Laila, menamai putranya di bawah atap langit-langit yang bocor.

Arka. Harapan.

Laila menatap mata Arka yang kini terbuka, sepasang mata gelap dan polos. Mata yang tidak menghakimi. Mata yang hanya membutuhkan ibunya.

Ia harus kuat. Demi Arka, ia harus bertahan. Rasa sakit fisik bisa hilang, tapi rasa sakit kehilangan anak akan membunuhnya. Ia memilih untuk berjuang. Ia memilih jalan yang paling terjal.

Malam itu, di antara dinginnya beton dan bau apek, Laila tidur, bukan sebagai gadis bodoh yang terjerumus, melainkan sebagai seorang ibu yang baru lahir, memeluk harapan kecilnya erat-erat, siap menghadapi badai ujian yang akan datang sebentar lagi. Ujian itu akan jauh lebih besar daripada rasa sakit melahirkan tadi.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Miftakhul

Selebihnya

Buku serupa

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku