/0/30175/coverbig.jpg?v=db14e568f4c595c3e85e350081afdf2a&imageMogr2/format/webp)
WARNING!! Mengandung unsur kedewasaan, intrik keluarga, dan tema-tema dewasa. Harap bijak dalam memilih bacaan!! ____""____ "Nona, kamu yakin mau memberikannya kepada saya?" Bisik Tuan muda Sooya. Bola mata Fyorin yang indah menatap dalam manik mata Tuan muda Sooya yang berada beberapa senti di atasnya, tatapannya sayu, dengan suara yang bercampur dengan deru nafasnya Fyorin berusaha menyahuti. "Iya, Tuan... Saya akan memberikannya," ucapnya nyaris berbisik. Setelah mendapatkan jawaban dari Fyorin, ia lantas menurunkan kain penutup terakhir yang tadi sengaja ia sisakan demi untuk memastikan lagi sang pemilik benar-benar mengijinkan. Pun dengan miliknya sendiri yang sekarang sudah tidak berpenghalang lagi. Bola mata Fyorin membelalak lebar. Sebuah tongkat besar dan panjang berdiri dengan gagah di hadapan matanya. Belum pernah ia melihat benda seperti itu sebelumnya. Apalagi ia tiba-tiba membayangkan benda itu harus menerobos memasukinya. Belum apa-apa Fyorin sudah ngeri sendiri. "Tuan, kenapa bes4r sekali?" Cicit Fyorin dengan polosnya dengan mata yang melebar menatap kearah benda itu. Tuan muda Sooya terkekeh, dan lagi-lagi ini adalah pertama kalinya Fyorin melihat kekehan laki-laki itu. "Kenapa kamu polos sekali, Nona? Apakah hal seperti itu harus kamu tanyakan di saat-saat seperti ini?" Ujarnya. "Tapi itu, sebesar itu? Saya jadi takut," sahutnya. "Kalau kamu takut kamu pejamkan mata saja, jangan dilihat," Fyorin mengangguk. Ia pun memejamkan matanya dengan erat. Kedua tangannya berpegangan pada tepian bantal yang menjadi alas kepalanya.
"Bangun!!" Suara laki-laki itu menggema di telinga Fyorin menembus alam bawah sadarnya membuat kesadarannya yang sempat hilang dalam beberapa saat kembali pulih.
Kelopak matanya ia buka perlahan, dengan sisa-sisa tenaganya ia berusaha keras untuk membuka kelopak matanya yang entah sudah berapa lama terkatup. Oh, kepalaku sakit sekali. Rintihnya seraya memegangi kepalanya yang terasa berat.
Samar-samar ia melihat seorang laki-laki tampan berbadan tinggi, berkulit putih berdiri di sampingnya. Oh, tampan sekali laki-laki ini? Apa aku sudah ada di surga? Racaunya. Matanya memicing, memindai laki-laki itu dengan kesadarannya yang belum sepenuhnya kembali.
Kilasan-kilasan kejadian tiba-tiba bermunculan di otaknya. Kejadian yang dia alami dalam batas antara sadar dan tidak sadar. Ah, Aku baru saja tidur bersama seorang laki-laki yang sangat tampan. Tubvhnya wangi sekali. Bahkan aku masih bisa merasakan pelvkannya yang begitu hangat. Dia pasti laki-laki penghuni surga yang semalaman menemani aku tidur. Orang-orang jahat itu pasti sudah berhasil membun-uhku dan mengirimku ke surga. Otaknya meracau tidak karuan di tengah pandangannya yang kabur yang sedikit demi sedikit semakin jelas.
"Hey, wanita bo-doh! Bangun!!"
Fyorin mengerjap, apakah di surga ada orang sekasar itu? Batinnya.
"Coba sebut nominal yang kamu butuhkan! Saya akan memberikannya secara cuma-cuma, tanpa harus kamu menjual diri kamu seperti ini!"
Fyorin terlonjak. "Menjual diri?!" Ia bangkit dari tidurnya. Termenung sejenak sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Kamu dengar Saya?!"
Fyorin menatap ke arah laki-laki itu, "Apa ini di surga? Terus apakah di surga boleh berkata-kata kasar seperti itu?" Tanya Fyorin dengan polosnya. Entah apa yang terjadi kepadanya sehingga membuat kesadarannya sedikit terganggu seperti itu. Yang pasti ada seseorang yang sudah berniat jahat kepadanya.
"Surga? Surga mana yang kamu maksud? Kalau yang kamu maksud adalah surga dunia tentu saja kata-kata kasar diperbolehkan," sahutnya.
"Surga dunia?" Tanya Fyorin seraya terus berusaha menormalkan kesadarannya.
"Iya, di sini salah satunya, kamar hotel!"
Kamar hotel? Kenapa aku bisa ada di kamar hotel?
Fyorin terus berusaha mengembalikan kewarasannya. Apa aku belum m4ti? Apa mereka tidak membvnuhku? Tapi justru mengirimku ke tempat ini? Fyorin membelalakkan matanya.
"Sebenarnya kamu butuh uang berapa sampai kamu nekat menjual tubvh kamu seperti ini?!"
Seketika ia menoleh ke arah di mana laki-laki itu berdiri, ia terhenyak lantas melompat dari tempatnya berbaring, kepalanya yang terasa pusing membuatnya sedikit terhuyung, namun dengan cepat ia kembali mengatur keseimbangannya.
"Tuan! Saya tahu uang anda banyak! Dan mungkin memang Tuan bisa memberi saya banyak uang. Tapi bukan berarti Tuan bisa seenaknya menghina saya dan merendahkan saya seperti ini!" Protesnya tak terima.
Laki-laki itu melipat kedua lengannya di depan dada, dagunya ia angkat, sangat terlihat angkuh di mata Fyorin.
"Jadi, Kamu lebih suka mendapatkan uang dari hasil menju4l diri daripada diberi secara cuma-cuma?"
Fyorin mengernyitkan alisnya, "Apa maksud anda berbicara seperti itu? Saya tidak pernah merendahkan diri saya sendiri dengan cara menju4l diri, Tuan! Anda jangan kurang ajar!" Tukasnya.
Laki-laki itu mengangkat sebelah sudut bibirnya, "lalu kamu pikir kamu berada di tempat ini untuk apa?"
Fyorin tertegun. Oh, iya... Ini aku di mana? Fyorin mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan tempatnya berada sekarang. Ruangan Itu tampak seperti sebuah kamar, kamar hotel pastinya. Iya, tidak salah lagi, Aku sedang berada di dalam kamar hotel. Tapi kenapa aku bisa berada di tempat ini? Lalu kenapa laki-laki ini juga ada di dalam kamar ini? Batinnya.
Laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya saat ini sepertinya bukan orang biasa-biasa. Dari penampilannya sepertinya dia orang kaya. Baju dan celana serta jam tangan yang dikenakannya pasti tidak dibeli dari emper pasar atau toko-toko yang berderet di pinggir jalan. Harganya pun pasti sangat mahal lebih mahal dari harga sepeda motornya.
"Ah! Sepeda motorku!" Fyorin menepuk dahinya. Sekarang ia ingat, terakhir kali ia bertemu dengan dua orang Dept Collector yang selama ini mengejar-ngejarnya untuk menagih hutang-hutang ayahnya. Mereka berhasil membawanya kepada seseorang. Seorang bandot tua berperut buncit yang sudah meminjamkan sejumlah uang yang tidak sedikit kepada ayahnya untuk berju-di. Yang dilipat gandakan dengan bunga yang tentunya tidak sedikit pula. Membuat ayahnya harus mendekam di penjara karena mencuri untuk membayar hutang-hutangnya itu. Kakak laki-lakinya terpaksa harus menjadi ABK di sebuah kapal yang pulangnya bisa sampai bertahun-tahun demi untuk membayar hutang-hutang ayahnya yang sangat banyak. Dan sialnya, Fyorin juga ikut terkena imbasnya.
"Pasti sepeda motorku diambil oleh mereka," Fyorin benar-benar frustasi. Padahal itu adalah modal satu-satunya untuk Fyorin bekerja mengantar makanan. Sepertinya sekarang dia harus kehilangan pekerjaannya itu.
"Mereka? Siapa yang mengambil sepeda motor kamu?" Tanya laki-laki itu.
Fyorin kembali menatap laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya. Hampir saja dia lupa kalau saat ini ada orang itu di sana.
"Bukan urusan anda!" Dengusnya.
Laki-laki itu tidak menanggapi, sekarang ia duduk di sofa yang memang berada tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Kaki kanannya ia angkat lalu ia tumpang kan di atas kakinya yang lain cara yang memperhatikan Apa yang dilakukan oleh Fyorin.
"Sebenarnya anda siapa? Kenapa tiba-tiba anda ada di ruangan ini? Terus kenapa saya juga ada di sini?!" Serang Fyorin.
"Oh, jangan-jangan anda culik saya?!" Imbuhnya dengan jari telunjuk yang ia arahkan kepada laki-laki bertubuh tinggi, berkulit putih, dengan rambut yang disemir dengan warna putih keunguan, dan ciri khas yang paling menonjol adalah ada tahi lalat di hidungnya yang mancung.
Laki-laki yang tampannya nyaris sempurna, namun sayang terlihat angkuh dan sombong di mata Fyorin.
"Saya melakukan permainan dengan teman saya dan saya menang, lalu saya dihadiahi menginap di hotel ini oleh teman saya. Dia pemilik hotel ini. Saya juga sebenarnya tidak tahu kalau ternyata dia juga menghadiahi teman tidur untuk saya," ucapnya seraya menyeringai.
Fyorin membelalakkan matanya, dengan mulut yang terngnga, "Te-teman tidur?! Ma-maksudnya?!
"Kamu," ujar laki-laki itu seraya menunjuk ke arah Fyorin.
Seketika Fyorin membekap mulutnya sendiri. Sejak kapan Aku beralih profesi menjadi p3l-4cur? Terakhir yang aku tahu, Aku ini seorang kurir pengantar makanan, Ah! Dunia jahat sekali! Umpatnya dalam hati.
"Maaf, tapi saya bukan wanita seperti itu! Semiskin-miskinnya saya, Saya tidak akan mungkin menjual harga diri saya semurah itu!" Sanggahnya.
Laki-laki itu menyeringai. Sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang miring, "Munafik sekali," gumamnya.
"Munafik?? Saya nggak munafik, Saya memang bukan p3l-4cur!!" Teriaknya.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun, karena saya tidak peduli. Hanya saja saya sangat menyayangkan, perempuan secantik kamu harus menjual kecantikan kamu yang sebenarnya bisa bernilai sangat mahal di tangan laki-laki yang tepat. Kamu malah menyerahkannya dengan harga yang sangat murah kepada para laki-laki hidung belang,"
"Tapi kamu tenang saja, saya bukan laki-laki seperti itu. Seberapa besar pun keinginan saya untuk men!km4ti kamu, Saya tidak akan melakukannya. Karena saya tidak suka merendahkan seorang perempuan meskipun perempuan itu sudah merendahkan dirinya sendiri,"
Fyorin meradang. Perkataan yang diucapkan oleh laki-laki itu sangat beragam. Ada pujian, tapi ada juga hinaan. Tapi jika diambil keseluruhan, isi pembicaraannya sangat menyakitkan. Laki-laki itu seolah menganggap Fyorin benar-benar seorang p3l-4cur. Fyorin tidak terima itu.
"Kurang ajar sekali mulut anda! Saya sudah bilang kalau saya bukan perempuan seperti itu!" Hardiknya.
Laki-laki itu hanya mengedikkan bahunya. Seolah tidak peduli dengan segala bentuk pembelaan yang dikatakan oleh Fyorin.
"Jam berapa sekarang?!" Fyorin mencari tasnya, ia pikir kalau dia akan memeriksa jam melalui ponselnya. Tapi sialnya, lagi-lagi Fyorin tidak menemukan barang yang dia cari itu. Dia pun termenung. Ah! Siallll!!! Pasti mereka juga mengambilnya! Fyorin mengacak kasar rambutnya lalu menjatuhkan bokongnya di atas kasur empuk di dalam kamar hotel itu.
"Kamu cari apa?"
"Handphone!!" Ketus Fyorin.
"Tadi Saya dengar kamu tanya jam berapa, Kenapa harus repot-repot mencari handphone kamu. Kamu tinggal lihat di sebelah sana ada jam dinding besar, kamu bisa tahu sekarang jam berapa dari jam dinding itu. Jadi tidak perlu repot-repot mencari handphone kamu dulu, menyusahkan diri sendiri saja," ujar laki-laki itu dengan nada yang datar namun terdengar seperti sebuah ejekan.
Fyorin melirikan matanya dengan tajam. "Ini bukan hanya masalah jam, tapi saya memang butuh semua barang-barang yang ada di dalam tas saya, handphone, dompet, dan semua yang ada di dalam tas itu!" Ujar Fyorin.
Laki-laki itu merogoh kantong celananya, mengeluarkan dompet kulit berwarna hitam yang pastinya dibeli dengan harga dengan digit angka yang tidak sedikit. Lalu mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari dalam sana lantas melemparkannya ke atas tempat tidur di mana Fyorin duduk.
Fyorin yang sejak tadi memperhatikan apa-apa saja yang dilakukan oleh laki-laki itu pun mengernyitkan alisnya tatkala melihat sebuah kartu berwarna hitam mendarat cantik tepat di sampingnya, "apa ini?" Tanyanya.
"Kamu bisa membeli semua barang-barang kamu yang hilang dengan kartu itu, jadi kamu sudah tidak perlu berisik lagi meratapi barang-barang kamu yang hilang itu dengan terus mengumpat, Saya tidak suka orang yang berisik," ujarnya.
"Nggak! Saya nggak mau menerima apapun dari anda, nanti bisa-bisa hutang saya semakin banyak. Saya sudah cukup pusing memikirkan bagaimana caranya saya membayar hutang-hutang ayah saya, Saya tidak mau menambah deretan panjang angka-angka yang harus saya bayar, apalagi dari rentenir seperti anda," ujar Fyorin.
"Saya bukan rentenir, bo-doh!" Umpatnya.
"Lho, terus untuk apa Anda menawarkan uang kepada saya untuk membeli semua barang-barang saya yang hilang kalau tidak untuk dipinjamkan dengan bunga yang bisa membuat anda lebih kaya, saya sudah sangat hafal dengan modus-modus para l!nt4h darat," Fyorin berbicara dengan sangat yakin.
"Terserah! Tapi saya memang bukan l!ntah D4rat seperti yang ada di pikiran kamu. Saya memang murni berniat untuk menolong kamu, tapi kalau kamu tidak mau, ya sudah... Saya tidak akan memaksa," ujar laki-laki itu dengan santainya.
"Saya tidak akan mudah percaya, di zaman seperti ini mana ada orang yang berbaik hati memberikan uang secara cuma-cuma tanpa ada embel-embel maksud lain di belakangnya,"
"Ok, kalau kamu tidak mau tidak masalah. Saya akan ambil lagi kartunya, tapi apa kamu tahu sekarang kamu ada di mana? Apa kamu pernah berpikir bagaimana cara kamu pulang ke rumah kamu, sementara kamu tidak punya kendaraan bahkan tidak punya uang sepeserpun, coba kamu pikirkan itu!"
Fyorin terdiam, benar apa yang dikatakan oleh laki-laki itu. Bahkan ia sendiri tidak tahu posisinya di mana, karena saat terakhir dia bertemu dengan laki-laki buncit berhati busuk ia lantas sudah tidak ingat apa-apa lagi. Entah apa yang sudah mereka lakukan kepadanya yang jelas tengkuknya terasa sakit saat ia sadar tadi. Sekarang sepeda motor dan tas berisi semua barang-barang penting entah ada di mana. Mungkin diambil oleh para manusia-manusia s!alan itu, pikirnya. Lalu sekarang aku harus bagaimana? Apakah menerima bantuan dari laki-laki ini bukan ide buruk? Gimana kalau ternyata ini akan menambah daftar panjang penderitaanku kedepannya?
Laki-laki itu mengambil sehelai kertas dan juga bolpoin dari sebuah laci yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk. Lalu tampak menuliskan sesuatu di sana. Lagi-lagi ia melemparnya ke arah Fyorin.
"Itu nomor PIN kartu kredit saya, kamu bisa menggunakan kartu itu untuk memenuhi semua kebutuhan kamu. Tapi tolong ingat kata-kata saya, tolong berhenti dari kerjaan kotor ini, hargai diri kamu," Ujarnya.
"Ck, apaan sih! Saya sudah bilang kalau saya bukan p3l-4cur, Tuan yang terhormat! Saya ini seorang kurir makanan, Saya sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba saya bisa terdampar di sini, sepertinya ada orang yang sengaja menjual saya!" Sanggahnya. Ia benar-benar tidak terima dianggap melakukan pekerjaan yang kotor oleh laki-laki itu. Ini tentang harga diri, pikirnya.
Dering ponsel menyela pembicaraan mereka, laki-laki itu tidak menanggapi lagi perkataan Fyorin karena teralihkan oleh dering ponselnya.
Benda pipih yang menjerit-jerit dari balik jasnya yang tergeletak di atas sofa diraihnya. Beberapa saat ia mengamati layar ponselnya yang menyala, dan menampakan sebuah nama yang sekilas tertangkap oleh mata Fyorin.
'Raina' nama itulah yang tertulis di layar ponsel laki-laki itu. Pasti itu ceweknya! Pikir Fyorin.
"Hallo, ada apa?" Tanya laki-laki itu datar.
Fyorin yang sedang menguping mengernyit heran. Datar banget ngobrolnya, aku ralat deh pasti bukan pacarnya. Mana mungkin ngobrol sama pacar sedatar itu. Fyorin kembali menguping.
"Ok, sebentar lagi aku jemput kamu, Kamu sekarang di mana?" Tanya laki-laki itu.
Fyorin kembali mengernyit. Hah? Mau jemput? Oh, berarti emang pacarnya... Aarrghh!! Kenapa aku jadi mikirin hal nggak penting kayak gitu, terserah mau itu pacarnya atau itu pembantunya, bukan urusanku juga. Gumam Fyorin dalam hati seraya menggelengkan kepalanya pelan.
Tiba-tiba saja laki-laki itu beranjak, bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Fyorin yang masih
Terduduk di atas kasur empuk di dalam kamar hotel itu pun seketika melompat seraya berteriak memanggil laki-laki yang belum ia tahu namanya siapa, "Eh, Tuan!! Tunggu!" Teriaknya seraya berlari beberapa langkah untuk mengejar laki-laki itu.
"Tuan!! Ini kartu anda ketinggalan!" Teriaknya lagi seraya mengacung-acungkan kartu berwarna hitam ke arah laki-laki yang berjalan cepat ke arah pintu lift di ujung lorong dengan deretan pintu kamar di sisi kiri dan kanannya.
"Kamu pakai saja!" Singkatnya.
"Nggak! Saya nggak mau berhutang sama siapapun! Saya tidak mau menerima pemberian seseorang secara cuma-cuma! Saya tidak tahu siapa Anda, bisa jadi ini hanya jebakan, kan? Saya tidak mau sembarangan menerima bantuan dari orang lain, apalagi orang itu tidak saya kenal. Saya hanya akan menerima pemberian seseorang jika saya juga memberikan keuntungan kepada orang itu!"
Laki-laki bertubuh tinggi itu membalikkan badannya, berjalan cepat menghampiri Fyorin. Tiba-tiba,
Cup,
Ia mengecvp permukaan b!b!r Fyorin dengan lembut. Oh, apa ini? Fyorin mengerjapkan matanya. Sial, dia tidak bisa menolak perlakuan laki-laki tampan itu. Kejadiannya terlalu cepat. Bahkan lebih cepat dari desiran darahnya yang seketika naik ke kepalanya. Fyorin memejamkan matanya, merasakan benda lembut itu menyentuh permukaan b!b!rnya. Oh, Tuan...
---
Bab 1 1. Terjebak Surga Dunia
24/11/2025
Bab 2 2. Tuan Muda Sooya
24/11/2025
Bab 3 3. Men0dai Saya
24/11/2025
Bab 4 Menju-alku Demi Egonya
24/11/2025
Bab 5 Pernikahan
24/11/2025
Bab 6 Kamu Cantik
24/11/2025
Bab 7 Sebuah Kecvpan
24/11/2025
Bab 8 I'm Really Love You
24/11/2025
Bab 9 Kamu Mencintai Saya
24/11/2025
Bab 10 Kenyamanan yang Sama
24/11/2025
Bab 11 Kebutuhan b!olog!s
03/12/2025
Bab 12 Tidur Dimana
04/12/2025
Bab 13 Bertemu Sagara
06/12/2025
Buku lain oleh Senja melingkar
Selebihnya