Suami pura-pura
5.0
Komentar
14.6K
Penayangan
33
Bab

"Pak, bagaimana ini? Mengapa Bapak mengatakan kalau kita suami istri?" Adinda mulai berani menyuarakan isi hatinya. "Apa kamu tega melihat Nenek Laila yang sudah menaruh harapan kepada kita? Nenek Laila sangat baik," jawab Alan, kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. "Tapi, Pak. Bagaimana jika Nenek tahu yang sebenarnya?" "Tidak akan." "Saya tidak ingin menjadi istri pura-pura, dan begitupun Bapak menjadi suami pura-pura saya." "Jadi, kamu ingin menjadi istri saya sesungguhnya?" Deg! Adinda terdiam, ia tidak mampu menjawab pertanyaan Alan. Ia terjebak dengan perkataannya sendiri. Tetapi, Adinda tidak tinggal diam. Ia terus berdebat dengan Alan. Hingga akhirnya, Adinda kesal dan membelakangi Alan. "Saya tidak ingin berpura-pura seperti ini, Pak!" tegasnya.

Suami pura-pura Bab 1 Pertemuan

Suasana tegang menghiasi ruangan itu. Seorang anak sedang berseteru dengan kedua orang tuanya. Mereka saling beradu pendapat, dan tidak ada mengalah di antara ketiganya. Wajahnya pun tampak memerah karena menahan amarah.

Adinda Salsha, seorang gadis yang baru saja menggapai gelar sarjana, dipaksa menikah oleh kedua orang tuanya. Ia menentang, karena menurutnya perjalanan hidup masih panjang, dan Adinda belum puas untuk menikmati masa muda. Sementara Lukman – ayah Adinda, terus bersikeras agar anaknya segera menikah. Dengan alasan umurnya yang tidak akan lama lagi, mengingat dirinya sudah paruh baya dan ingin melihat puterinya ada yang membimbing.

"Ayah, Adinda tidak mau jika harus menikah sekarang," ujar Adinda dengan penuh penekanan.

"Sampai kapan kamu akan sendiri seperti ini? Ayah sudah tua, dan tidak mungkin bisa mendampingimu lebih lama."

"Ayah jangan berkata seperti itu. Adinda masih bisa jaga Ayah, tidak harus dengan menikah secepat ini."

Lukman mendengus kesal, "Kalau kamu tidak mau menikah, maka tidak akan ada harta warisan untukmu."

Lukman kemudian pergi meninggalkan mereka. Sementara Hana – Ibu Adinda, mengusap pundaknya agar anaknya sedikit lebih tenang. Adinda merasa kalau dirinya telah melakukan kesalahan. Sebab, telah membuat sang ayah terluka karena perkataannya.

"Sudah, biar nanti Bunda bicarakan hal ini kepada ayahmu."

"Tapi, Bunda. Kenapa Ayah tega sekali dengan Adinda? Padahal Adinda ingin menikmati masa muda."

Hana mengusap pundak anaknya itu, "Kamu tidak usah khawatir, mungkin Ayah itu sedang banyak pikiran. Yang membuat Ayah seperti itu."

Adinda menghela nafas, karena tidak mau bertengkar lagi dengan ayahnya. Adinda memutuskan untuk pergi ke luar rumah, dan mencari udara segar yang mampu pikirannya kembali tenang. Adinda pergi mengendarai mobilnya, sepanjang perjalanan ia terus memikirkan permintaan ayahnya tersebut. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, Adinda tidak ingin mengecewakan ayahnya. Tetapi ia juga tidak mungkin menikah muda. Kepala Adinda terasa pusing dan berdenyut. Hal itu membuat ia tidak focus mengendarai mobil. Dan secara tiba-tiba, ada seorang pria yang melintas begitu saja. Membuat Adinda menghentikan laju mobilnya secara mendadak.

"Astaga! Siapa itu?" Kejadian itu membuat tubuhnya condong ke arah depan.

Ia melihat seorang pria tengah berdiri kaku tepat berada di depan mobilnya. Ia tidak kalah terkejut, bahkan sampai berteriak sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua lengannya. Adinda kemudian turun untuk menghampiri pria tersebut. Terlihat seorang pria yang berpenampilan biasa saja. Mengenakan kaos polos berwarna hitam, dan sandal jepit yang melindungi kakinya.

"Kalau jalan lihat-lihat, jangan asal menyebrang begitu saja," oceh Adinda.

"Harusnya anda yang hati-hati. Kalau mengendarai mobil itu pelan saja."

Adinda berdecak kesal, bukannya meminta maaf, pria itu malah memarahinya.

"Anda tidak sopan sekali. Sudah tahu anda yang salah, kenapa malah menyalahkan saya?" Nada bicara Adinda meninggi.

Pria itu menatap Adinda dengan intens, ia tidak mau mempermasalahkan lebih jauh. Dan memutuskan pergi begitu saja, meninggalkan Adinda yang masih dikuasai oleh rasa kesalnya.

"Awas saja kalau bertemu, aku tidak akan pernah mengampuni pria seperti itu."

Adinda kembali berjalan masuk ke dalam mobil. Ia mengarahkan laju mobil pada sebuah café yang terletak di kota tersebut. Tetapi sebelum ke sana, Adinda lebih dulu menghubungi Chika – sahabatnya untuk menemani dirinya.

Sampainya di cafe, Chika sudah lebih dulu sampai ke sana. Bahkan ia sudah memesankan minuman untuk dirinya dan juga Adinda. Chika melihat kedatangan Adinda dan langsung menghempaskan tasnya ke atas meja. Menyebabkan suara bising.

"Kamu kenapa? Wajah ditekuk seperti itu," oceh Chika.

"Hari ini membuat suasana hatiku hancur. Sudah Ayah yang terus memaksa untuk menikah. Dan tadi ada pria yang tidak sopan, sudah dia yang salah dan dia juga tidak mau meminta maaf." Adinda menceritakan semua kejadian sialnya hari ini.

Chika yang mendengar cerita itu terkekeh geli, "Hahaha. Makanya patuh dengan nasihat orang tua. Jangan melawan."

"Tapi aku masih mau menikmati masa muda. Masa mau nikah sekarang?"

Chika menaikkan bahunya tanda tidak tahu.

Adinda mengaduk minuman itu dan sesekali menyeruputnya. Hatinya benar-benar hancur, dan tidak tahu harus berbuat apa. Tak berapa lama, datang makanan yang sudah dipesankan oleh Chika. Tanpa aba-aba, Adinda langsung saja melahap semua makanan itu. Chika menelan ludahnya, memang sudah biasa melihat Adinda yang rakus dengan makanan. Tetapi Adinda tetap menjaga tubuhnya agar terlihat ramping dan menarik.

"Oiya, bagaimana jika kamu tinggal di rumahku saja?" Tawar Chika.

"Boleh juga, telingaku rasanya panas kalau harus terus menerus mendengarkan Ayah yang mendesak untuk menikah."

"Oke, baiklah kalau begitu. Nanti kita langsung saja ke rumahku."

Adinda setuju dengan itu semua. Chika memang sudah memiliki rumah sendiri, itu ia lakukan karena kampung halamannya yang jauh. Mengharuskan Chika membeli rumah agar tidak harus pulang pergi ke rumah kedua orang tuanya. Setelah makan selesai, Chika langsung mengajak Adinda untuk segera pulang. Kebetulan Chika datang ke café dengan menaiki taksi.

Sampainya di rumah Chika. Adinda langsung turun bersama dengan sahabatnya itu. Tampak sebuah rumah, yang bisa dibilang tidak terlalu mewah. Tetapi terkesan sederhana, dan cukup nyaman dengan taman kecil di samping rumah itu. Ini bukan kali pertama Adinda berkunjung ke rumah Chika. Ia sudah sering sekali mampir atau menginap sekalipun di rumah itu. Mereka memang bersahabat sejak pertama kali menjejakkan kaki di bangku perkuliahan.

Suasana rumah yang rapi, Chika itu tidak akan tinggal diam jika melihat rumahnya berantakan. Maka ia sering dijuluki gadis rajin oleh teman-temannya yang lain. Berbeda sekali dengan Adinda yang tidak terlalu perduli dengan sekitar. Bahkan barangnya saja Adinda jarang merapikan. Selalu saja Hana yang merapikan itu.

"Oiya, aku 'kan tidak membawa pakaian? bagaimana?" Adinda baru ingat kalau ia tidak membawa apa-apa.

"Pakai saja ini. Bukannya pakaianku juga bisa dipakai sama kamu?" ujar Chika sambil melempar satu pakaian ke tangannya.

"Oiya aku lupa," jawab Adinda singkat.

**

Malam tiba.

Adinda sudah disibukkan oleh pekerjaan kantor. Sejak lulus, ia langsung melamar pekerjaan. Dan langsung diterima sebagai staff marketing. Memang tidak tinggi, tetapi Adinda selalu mensyukuri apa yang sudah ia dapat dengan jerih payahnya sendiri. Bahkan Adinda sama sekali tidak mengemis pekerjaan kepada orang tuanya, padahal Ayahnya adalah direktur utama di PT. Abadi Jaya. Sedari tadi Adinda terus sibuk dengan layar laptopnya, sampai tidak memberi jeda kepada tubuhnya untuk beristirahat.

"Ini minum." Chika meletakkan minuman di atas meja.

Adinda menoleh kemudian tersenyum, "Terima kasih, sahabat aku memang baik sekali."

"Kamu ini kalau sudah kerja suka tidak ingat waktu. Jaga kesehatan, Din, kamu juga perlu istirahat."

Adinda mengangguk faham, "Aku tahu. Tapi pekerjaan di kantor lagi banyak sekali, dan aku harus mengerjakan malam ini juga."

Chika tidak menanyakan lebih, karena ia tahu kalau sahabatnya akan melakukan yang terbaik untuk membuat pekerjaannya menjadi sempurna. Chika dan Adinda tidak bekerja pada perusahaan yang sama. Walau begitu, mereka sering sekali menghabiskan waktu berdua.

Tidak terasa malam semakin larut, Adinda memutuskan untuk menyudahi semuanya. Rasa kantuk mulai menyerang, dan ingin rasanya Adinda meregangkan otot-otot yang tegang. Sementara Chika sudah lebih dulu tertidur di kamar. Sebelum pergi ke kamar, Adinda terlebih dulu memberikan pesan kepada sang bunda. Agar Hana tidak mencemaskan dirinya. Ia mengatakan kalau akan tinggal di rumah Chika untuk beberapa hari, sampai Lukman menghentikan permintaannya untuk Adinda segera menikah.

**

Bersambung.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra
4.8

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Fantasi Gilaku

Fantasi Gilaku

MYG
5.0

Kisah wanita bernama Alice yang selama tujuh tahun pernikahannya belum pernah merasakan kepuasan dalam hal seksualnya bersama suaminya. Selama tujuh tahun itu pula ia berpura pura menikmati semua yang dilakukan oleh David sang suami. Semua berawal dari percobaan pertama ia melakukannya sendiri, dari situ ia mulai terobsesi dan mulai melakukannya setiap hari, karena hanya dengan itu ia bisa mencapai kepuasan. Semakin kesini, fakta baru yang mengejutkan mulai bermunculan, seperti David yang ternyata berselingkuh dengan teman kantornya, yang tak lain merupakan mantan pacarnya dulu di masa sekolah dan David yang ternyata seorang gay. Anehnya Alice tak sama sekali menggugat atau membuang David, ia malah senang kala melihat David bercumbu dengan sesama pria. Hingga akhirnya Alice mempunyai seorang teman wanita, ia sangat peduli padanya, Alice dengan terang terangan bercerita soal suaminya kepada Jane. Jane merupakan wanita yang mempunyai trauma besar dalam hidupnya, ia pernah dilecehkan oleh ayahnya sendiri sewaktu masih sekolah. Perlahan traumanya membaik saat jane mengenal pria yang mencintainya yang bernama Bian, namun lama kelamaan Bian juga menunjukkan sifat aslinya, selama ini ia tak tulus mencintai Jane, malah Bian sengaja memperkosanya bersama teman sekelasnya. Semenjak itu ia sangat membenci laki-laki. Ia bersumpah tak akan berhubungan baik dengan laki-laki manapun. Hingga Jane bertemu Alice dan mereka seperti menemukam kecocokan satu sama lain. Mereka berdua memutuskan untuk menjalin hubungan terlarang. Setiap hari mereka habiskan waktu berdua. Alice mengijinkan Jane untuk tinggal bersamanya di rumah mewahnya. Semua orang tak menaruh curiga terhadap Alice dan Jane. Alice memutuskan untuk menceraikan David, karena Jane sangat cemburu dengan David. Sejak saat itu hubungan Alice dan Jane semakin romantis, hingga suatu hari Alice bertemu seorang pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Kabar tersebut terendus oleh Jane, Jane sangat marah terhadap Alice, namun Alice mencoba meyakinkan Jane bahwa ia juga tak akan meninggalkannya. Akhirnya Alice mendapat restu dari Jane, Pria bernama Steve itu pun berhasil meyakinkan Jane. Steve menyadari bahwa Jane merupakan sahabat terdekat Alice, jadi ia juga harus meyakinkan Jane bahwa ia sungguh sungguh terhadap Alice. Alice hidup bahagia bersama Steve dan Jane. Steve menikahi Alice dan dikaruniai seorang anak yang lucu dan menggemaskan.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Suami pura-pura Suami pura-pura fitri alfiyah Romantis
“"Pak, bagaimana ini? Mengapa Bapak mengatakan kalau kita suami istri?" Adinda mulai berani menyuarakan isi hatinya. "Apa kamu tega melihat Nenek Laila yang sudah menaruh harapan kepada kita? Nenek Laila sangat baik," jawab Alan, kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. "Tapi, Pak. Bagaimana jika Nenek tahu yang sebenarnya?" "Tidak akan." "Saya tidak ingin menjadi istri pura-pura, dan begitupun Bapak menjadi suami pura-pura saya." "Jadi, kamu ingin menjadi istri saya sesungguhnya?" Deg! Adinda terdiam, ia tidak mampu menjawab pertanyaan Alan. Ia terjebak dengan perkataannya sendiri. Tetapi, Adinda tidak tinggal diam. Ia terus berdebat dengan Alan. Hingga akhirnya, Adinda kesal dan membelakangi Alan. "Saya tidak ingin berpura-pura seperti ini, Pak!" tegasnya.”
1

Bab 1 Pertemuan

09/12/2021

2

Bab 2 Bos kejam

09/12/2021

3

Bab 3 Perdebatan di Rumah Makan

09/12/2021

4

Bab 4 Pulang Bersama

09/12/2021

5

Bab 5 Kekasih baru

09/12/2021

6

Bab 6 Pergi dari Rumah

13/12/2021

7

Bab 7 Kejadian Tidak Terduga

14/12/2021

8

Bab 8 Satu Kamar

18/12/2021

9

Bab 9 Pasangan Suami Istri

19/12/2021

10

Bab 10 Jantung Berdebar

20/12/2021

11

Bab 11 Pria Menyebalkan

23/12/2021

12

Bab 12 Suami Sempurna

01/01/2022

13

Bab 13 Pipi yang Merona

03/01/2022

14

Bab 14 Menikmati Waktu Berdua

05/01/2022

15

Bab 15 Jatuh Hati

06/01/2022

16

Bab 16 Kedekatan Alan dan Salma

07/01/2022

17

Bab 17 Cemburu

08/01/2022

18

Bab 18 Perjodohan

25/06/2022

19

Bab 19 Pasangan Sungguhan

26/06/2022

20

Bab 20 Pijatan Di Malam Hari

26/06/2022

21

Bab 21 Percaya Diri Yang Tinggi

27/06/2022

22

Bab 22 Kekompakan

27/06/2022

23

Bab 23 Menikmati Senja

28/06/2022

24

Bab 24 Genting

01/07/2022

25

Bab 25 Ancaman

01/07/2022

26

Bab 26 Hubungan Tanpa Status

02/07/2022

27

Bab 27 Kecemasan Adinda

03/07/2022

28

Bab 28 Malang Nasib Alan dan Adinda!

04/07/2022

29

Bab 29 Kerinduan

05/07/2022

30

Bab 30 Rencana Pertemuan Dua Keluarga

06/07/2022

31

Bab 31 Jodohku, Suami pura-pura

08/07/2022

32

Bab 32 Mantan Kekasih

10/07/2022

33

Bab 33 Surat Wasiat

11/07/2022