Cemburu yang Tak Pernah Reda

Cemburu yang Tak Pernah Reda

Heri Purnomo

5.0
Komentar
Penayangan
23
Bab

Di usianya yang hampir menginjak 31 tahun, Alisha Mariska belum juga menemukan secercah kebahagiaan dalam cinta. Setelah bertahun-tahun mendengar gosip-gosip tetangga dan keluarga yang tak henti-hentinya menanyakan soal jodohnya, Alisha akhirnya menyerah dan menyetujui perjodohan yang diatur orang tuanya. Tanpa sepengetahuannya, pria yang dipilih untuk menjadi calon suaminya ternyata telah beristri. Malang tak dapat ditolak, malam pertama mereka berakhir dengan kekacauan ketika istri sah pria itu datang dan menegurnya di depan mata sendiri. Malu dan kecewa, Alisha pun memutuskan untuk pergi. Dalam pelariannya, ia menemukan sebuah harapan baru-seorang duda beranak satu yang diam-diam telah menarik hatinya. Namun, pria itu bukanlah orang yang mudah didekati. Misterius, dingin, dan hatinya sudah terkunci rapat, masih terbebani luka lama karena kehilangan istrinya yang dulu dikabarkan meninggal saat menyelamatkannya. Alisha, yang tak ingin terus tenggelam dalam rasa malu, menerima tawaran seorang sahabat untuk tinggal sementara di rumahnya. Di sana, sahabatnya juga menawarkan pekerjaan sebagai baby sitter, yang ternyata justru menjadi titik awal perjalanan baru bagi Alisha-satu perjalanan yang mengajarkannya tentang cinta, pengorbanan, dan keberanian untuk membuka hati lagi.

Cemburu yang Tak Pernah Reda Bab 1 Usianya yang hampir 31 tahun

Alisha Mariska menatap langit senja dari balkon rumahnya. Warna oranye dan ungu berpadu di cakrawala, namun di dalam hatinya hanya ada kegalauan yang tak kunjung reda. Usianya yang hampir 31 tahun membuat banyak orang sekitarnya-tetangga, keluarga, bahkan teman lama-terus bertanya tentang jodohnya. Pertanyaan yang terdengar polos di telinga mereka, tapi baginya seperti jarum yang menusuk-nusuk hati.

"Hampir tiga puluh satu, masih sendiri," gumamnya pelan, menatap secangkir teh yang mulai dingin di tangannya.

Dia menghela napas panjang. Sudah bertahun-tahun ia menolak berbagai tawaran perjodohan. Tidak karena sombong, tapi Alisha selalu percaya bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Namun, tekanan dari keluarga semakin hari semakin tak tertahankan. Orang tuanya sudah mulai mengeluh, mengancam, bahkan menyindir di depan saudara dan tetangga.

Suatu sore, ibunya masuk ke kamar dengan ekspresi serius, namun dipaksakan tersenyum.

"Lisha, Mama sudah bicara dengan Pak Raditya. Dia punya seorang putra yang baik, mapan, dan-" Ibunya berhenti sejenak, menatap tajam ke arah Alisha. "-dan dia menunggu jawabanmu."

Alisha menutup matanya, berusaha menenangkan diri. "Mama, aku... aku tidak mau dipaksa. Aku tidak bisa begitu saja menikah dengan orang yang bahkan belum aku kenal."

Ibunya mendesah panjang, menyerah pada kesabaran yang hampir habis. "Lisha, ini bukan soal mau atau tidak. Ini soal keluargamu. Kau sudah terlalu lama sendiri. Sudah waktunya kau menyerahkan sebagian hidupmu pada keputusan orang tua."

Alisha menatap ibunya, hatinya campur aduk antara kesal dan takut. Namun, tekanan itu akhirnya membuatnya memilih menyerah. Ia tidak ingin lagi menjadi sumber gosip di lingkungan rumahnya. Ia ingin semua ini berakhir, meski dengan risiko hatinya hancur.

Minggu berikutnya, Alisha diperkenalkan pada pria yang menjadi calon suaminya. Namanya Daniel Pratama, seorang pria yang kariernya cemerlang, berpenampilan menarik, dan sopan di depan umum. Namun, Alisha merasakan sesuatu yang janggal. Senyum Daniel tidak pernah sampai ke matanya, dan sorot matanya kadang menatap kosong, seolah menyimpan rahasia yang berat.

Pertemuan itu berlangsung singkat, di ruang keluarga yang hangat namun dipenuhi ketegangan.

"Salam kenal, Alisha," ucap Daniel dengan suara datar, menyalami tangan Alisha.

Alisha membalas dengan sopan, mencoba menyingkirkan perasaan cemas yang merayapi dadanya. Ia mencoba tersenyum, namun senyum itu terasa kaku. Selama beberapa jam, percakapan mereka berlangsung normal-tentang pekerjaan, hobi, dan keluarga. Tapi ada rasa aneh yang tidak bisa ia jelaskan.

Malam pertama mereka tiba lebih cepat daripada yang Alisha duga. Ia menunggu di kamar pengantin dengan hati yang campur aduk-antusias dan takut sekaligus. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dengan keras. Seorang wanita masuk dengan ekspresi marah dan air mata menetes di pipinya.

"Daniel! Apa-apaan ini?!" teriak wanita itu. Suara wanita itu memecah keheningan malam, menimbulkan gema di dinding kamar.

Alisha terpaku. Tanpa sadar, ia mundur ke pojok kamar, mulutnya terbuka, namun kata-kata tidak keluar. Pria yang seharusnya menjadi suaminya hanya menunduk, diam, wajahnya pucat.

Ternyata, Daniel sudah menikah. Dan malam itu, Alisha merasa dunia runtuh di sekelilingnya. Malu, kecewa, marah, semuanya bercampur jadi satu. Ia tidak bisa menahan air mata, dan tanpa berpikir panjang, ia mengambil beberapa barang penting dan kabur dari rumah, meninggalkan rumah yang seharusnya menjadi miliknya malam itu.

Beberapa hari setelah pelarian itu, Alisha menemukan tempat tinggal sementara lewat bantuan seorang teman lama, Nadia, yang sejak SMA selalu menjadi sahabat dekatnya. Nadia menawari Alisha kamar kosong di rumahnya, dengan senyum yang menenangkan dan pelukan hangat.

"Kau harus tenang, Lisha. Aku tahu ini sulit. Tapi kau bisa mulai lagi dari sini," kata Nadia, menepuk bahu Alisha.

Selain tempat tinggal, Nadia juga menawarkan pekerjaan untuk mengisi waktu dan membantunya berdamai dengan kenyataan. "Kau bisa jadi baby sitter di rumah tetangga. Gajinya lumayan, dan kau bisa mulai merasa punya kendali lagi atas hidupmu."

Alisha menatap Nadia, ragu namun juga bersyukur. Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus mulai kembali dari awal.

Pekerjaan itu ternyata bukan sekadar mengasuh anak-anak. Setiap hari, Alisha belajar tentang kesabaran, ketekunan, dan cara menghadapi tantangan tanpa menyerah. Ia mulai menemukan sisi dirinya yang belum pernah ia kenal-lebih kuat, lebih bijaksana, dan sedikit demi sedikit, hatinya mulai terbuka lagi.

Di balik semua itu, ada satu sosok yang selalu menarik perhatiannya. Seorang duda beranak satu bernama Rafli Ardiansyah, yang tinggal di dekat tempatnya bekerja. Pria itu misterius, dingin, dan sulit didekati, namun ada sesuatu di matanya yang membuat Alisha penasaran-rasa sakit yang tersembunyi, dan kesedihan yang belum hilang.

Setiap kali pandangan mereka bertemu, hati Alisha bergetar. Tapi ia tahu, untuk mendekati Rafli, ia harus bersabar, perlahan, dan siap menghadapi rahasia yang mungkin disimpannya.

Sejak saat itu, hidup Alisha berubah. Dari seorang wanita yang kalah oleh penolakan dan gosip, ia mulai menapaki jalan baru-jalan yang penuh tantangan, luka, tapi juga harapan. Dan meski ia tidak tahu apa yang menanti, satu hal yang pasti: hatinya tidak akan lagi terbuka untuk sembarang orang.

Alisha menatap jam dinding di ruang tamu. Angka delapan pagi berpendar di layar, dan matahari mulai menembus tirai tipis kamar, menandakan hari baru. Meski tubuhnya terasa lelah setelah semalam merapikan rumah Nadia, pikirannya tidak bisa tenang. Hatinya masih penuh dengan kepahitan dari malam yang lalu, ketika ia mengetahui Daniel menyembunyikan istrinya. Malam itu bukan hanya mempermalukannya, tapi juga membuatnya kehilangan kepercayaan pada orang lain, terutama pria.

Nadia muncul dari dapur dengan membawa cangkir kopi hangat. "Kau tidak akan makan?" tanya sahabatnya, menepuk punggung Alisha.

Alisha menggeleng, suaranya serak. "Aku belum lapar, Nadi. Masih banyak yang harus kupikirkan."

Nadia duduk di sampingnya, menatap mata Alisha dengan lembut. "Lisha, kau harus berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Ini bukan salahmu. Percayalah, Tuhan selalu punya rencana. Kau hanya belum melihat jalannya."

Alisha menarik napas panjang. Kata-kata Nadia menenangkan sedikit, tapi luka yang tertinggal dari pengkhianatan Daniel masih terasa tajam. Ia merasa dunia di sekitarnya runtuh, meninggalkannya dalam kekosongan yang tidak mudah diisi.

Beberapa hari kemudian, Alisha memulai pekerjaan barunya sebagai baby sitter. Rumah tempat ia bekerja tampak besar dan rapi, dengan halaman luas dan tanaman hijau yang tertata rapi. Anak yang harus ia rawat bernama Aidan, seorang bocah laki-laki berusia enam tahun, dengan mata besar dan senyum yang selalu bisa mencairkan hati siapa pun.

Namun, pekerjaan itu tidak semudah yang ia bayangkan. Aidan memiliki sifat keras kepala dan sering menentang aturan. Pada hari pertama, Alisha harus menghadapi tantrum yang hebat ketika Aidan menolak mandi.

"Kau tidak bisa selalu melakukan sesuka hatimu, Aidan," kata Alisha dengan tenang namun tegas.

"Tidak mau!" teriak Aidan, menolak sambil menangis.

Alisha menatap bocah itu, menahan kesal. Dalam hatinya, ia tersenyum kecil. Ada sesuatu yang mengingatkannya pada dirinya sendiri saat kecil-perasaan ingin bebas tanpa batas. "Baiklah, ayo kita lakukan secara menyenangkan," ujarnya, mencoba pendekatan baru. Ia mulai bernyanyi dan memutar-mainkan air di wastafel, hingga Aidan akhirnya berhenti menangis dan ikut tertawa.

Melihat hal itu, Alisha menyadari satu hal: kesabaran bukan hanya tentang menahan diri, tapi juga tentang menemukan cara untuk mengerti orang lain. Setiap anak, seperti halnya setiap orang dewasa, memiliki cara berbeda untuk memahami dunia.

Hari-hari berikutnya, Alisha mulai terbiasa dengan ritme rumah itu. Ia belajar menyiapkan makanan, membantu Aidan belajar membaca, dan menemaninya bermain di taman kecil belakang rumah. Namun, ada satu hal yang selalu membuat hatinya bergetar: keberadaan Rafli Ardiansyah, duda yang tinggal di rumah sebelah.

Rafli bukanlah pria yang ramah pada orang luar. Saat pertama kali Alisha bertemu dengannya di pagar rumah, ia menatapnya dengan tatapan tajam, seolah menilai setiap gerakannya. Rambutnya hitam legam, wajahnya tegas, dan aura dinginnya sulit diabaikan. Namun, ada sesuatu di balik matanya yang membuat Alisha penasaran-sebuah kesedihan yang tersembunyi dan rasa kehilangan yang dalam.

Hari itu, Rafli muncul di halaman saat Aidan bermain. "Siapa kau?" tanyanya tanpa basa-basi.

Alisha menelan ludah. "Aku... aku babysitter baru Aidan," jawabnya sopan.

Rafli menatapnya lama, seolah membaca setiap kata yang keluar dari mulutnya. Setelah beberapa detik, ia hanya mengangguk dan pergi tanpa banyak bicara. Alisha menelan kekecewaan kecil. Ia sadar, mendekati Rafli bukanlah perkara mudah.

Suatu sore, ketika Aidan sedang tidur siang, Rafli mendekati Alisha di teras. "Kau cukup sabar dengan anak itu," ucapnya, suaranya rendah dan tenang.

Alisha tersenyum tipis. "Dia sebenarnya pintar, hanya butuh arahan yang tepat."

Rafli mengangguk, menatap ke arah taman. "Dia mirip ibunya," katanya pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Alisha menahan rasa penasaran. "Maksudmu...?"

Rafli hanya menatapnya sebentar, kemudian menunduk. "Lupakan saja."

Perkataan itu membuat Alisha merasa ada luka yang dalam di hati Rafli. Tanpa sadar, rasa ingin tahu dan empatinya muncul. Ia ingin tahu cerita di balik kesedihan pria itu, namun juga tahu bahwa ia harus berhati-hati.

Hari demi hari, hubungan mereka berkembang perlahan. Rafli mulai mempercayai Alisha, meski hanya sedikit. Ia membiarkannya membantu Aidan belajar dan menemaninya bermain di halaman. Kadang, Rafli duduk di bangku taman sambil membaca buku, diam-diam memperhatikan Alisha dan Aidan bermain, tanpa terlibat secara langsung.

Alisha merasa ada koneksi yang sulit dijelaskan. Rafli tidak banyak bicara, namun tatapannya selalu menusuk hatinya. Ada rasa aman yang aneh ketika ia berada di dekatnya, walau aura dinginnya membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Suatu malam, saat Alisha sedang menyiapkan makan malam untuk Aidan, Rafli masuk ke dapur tanpa mengetuk. "Aku ingin bicara," katanya singkat.

Alisha menatapnya waspada. "Tentang apa?"

Rafli menghela napas panjang. "Tentang hidupku. Tentang kehilangan yang tidak bisa aku lepaskan."

Alisha menunggu, tanpa menyela. Rafli duduk di kursi, menatap jauh ke luar jendela. Ia mulai bercerita tentang istrinya, seorang wanita yang konon meninggal karena menyelamatkan hidupnya dalam sebuah kecelakaan. Rasa bersalah dan kehilangan membuat hatinya tertutup rapat, dan sejak saat itu ia menutup diri dari dunia.

Alisha mendengarkan dengan penuh perhatian. Hatinya perih, tapi juga tumbuh rasa hormat dan empati yang mendalam. Ia mulai memahami bahwa setiap orang memiliki luka yang berbeda, dan kadang, orang yang paling dingin pun bisa menyimpan hati yang rapuh.

Minggu-minggu berikutnya, Alisha menemukan kenyamanan baru dalam rutinitasnya. Ia mulai menikmati interaksi dengan Aidan, melihat perkembangan anak itu, dan perlahan merasakan keterikatan yang hangat. Namun, hatinya juga semakin tertarik pada Rafli, meski pria itu tetap misterius dan sulit dijangkau.

Di sisi lain, bayangan malam pertama yang memalukan bersama Daniel masih menghantui pikirannya. Ia belajar menutup luka itu, namun tidak mudah melupakannya. Pengalaman itu mengajarkannya satu hal penting: ia tidak boleh menyerahkan hatinya kepada sembarang pria, dan kepercayaan harus dibangun perlahan, dengan bukti nyata, bukan sekadar kata-kata manis.

Alisha tahu, perjalanan ini baru dimulai. Ada banyak hal yang harus ia pelajari-tentang kesabaran, cinta, dan keberanian menghadapi kenyataan. Rafli mungkin menjadi kunci untuk membuka sisi hatinya yang lama terkunci, tapi ia juga sadar bahwa pria itu bukanlah orang yang mudah. Setiap langkah harus ditempuh dengan hati-hati, perlahan, dan penuh empati.

Sementara itu, kehidupan barunya membawa Alisha pada pengalaman yang belum pernah ia bayangkan. Setiap tawa Aidan, setiap tatapan misterius Rafli, setiap hari yang ia lalui di rumah itu, mengajarkannya tentang ketahanan, pengorbanan, dan harapan baru. Dan meski dunia di sekitarnya penuh dengan ketidakpastian, Alisha mulai merasakan bahwa ia bisa memulai babak baru dalam hidupnya-dengan hati yang perlahan membuka diri untuk cinta yang tulus.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Heri Purnomo

Selebihnya

Buku serupa

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra
4.8

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
5.0

"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Cemburu yang Tak Pernah Reda Cemburu yang Tak Pernah Reda Heri Purnomo Romantis
“Di usianya yang hampir menginjak 31 tahun, Alisha Mariska belum juga menemukan secercah kebahagiaan dalam cinta. Setelah bertahun-tahun mendengar gosip-gosip tetangga dan keluarga yang tak henti-hentinya menanyakan soal jodohnya, Alisha akhirnya menyerah dan menyetujui perjodohan yang diatur orang tuanya. Tanpa sepengetahuannya, pria yang dipilih untuk menjadi calon suaminya ternyata telah beristri. Malang tak dapat ditolak, malam pertama mereka berakhir dengan kekacauan ketika istri sah pria itu datang dan menegurnya di depan mata sendiri. Malu dan kecewa, Alisha pun memutuskan untuk pergi. Dalam pelariannya, ia menemukan sebuah harapan baru-seorang duda beranak satu yang diam-diam telah menarik hatinya. Namun, pria itu bukanlah orang yang mudah didekati. Misterius, dingin, dan hatinya sudah terkunci rapat, masih terbebani luka lama karena kehilangan istrinya yang dulu dikabarkan meninggal saat menyelamatkannya. Alisha, yang tak ingin terus tenggelam dalam rasa malu, menerima tawaran seorang sahabat untuk tinggal sementara di rumahnya. Di sana, sahabatnya juga menawarkan pekerjaan sebagai baby sitter, yang ternyata justru menjadi titik awal perjalanan baru bagi Alisha-satu perjalanan yang mengajarkannya tentang cinta, pengorbanan, dan keberanian untuk membuka hati lagi.”
1

Bab 1 Usianya yang hampir 31 tahun

01/11/2025

2

Bab 2 Hidup ini penuh luka

01/11/2025

3

Bab 3 ia sudah ada di halaman

01/11/2025

4

Bab 4 mengangkat telepon

01/11/2025

5

Bab 5 halaman belakang

01/11/2025

6

Bab 6 rasa penasaran

01/11/2025

7

Bab 7 malam ini sesuatu yang besar akan terjadi

01/11/2025

8

Bab 8 ada rasa gelisah yang tak bisa ia jelaskan

01/11/2025

9

Bab 9 Setelah melewati konflik

01/11/2025

10

Bab 10 keluarga tetap aman

01/11/2025

11

Bab 11 perhatian

01/11/2025

12

Bab 12 rahasia lama

01/11/2025

13

Bab 13 kesibukan

01/11/2025

14

Bab 14 Setiap kali malam tiba

01/11/2025

15

Bab 15 tak cukup

01/11/2025

16

Bab 16 menjatuhkannya

01/11/2025

17

Bab 17 kebakaran

01/11/2025

18

Bab 18 insiden

01/11/2025

19

Bab 19 perubahan jadwal

01/11/2025

20

Bab 20 Kamu datang lebih pagi

01/11/2025

21

Bab 21 menumpuk di hati

01/11/2025

22

Bab 22 perasaan pribadi

01/11/2025

23

Bab 23 Surabaya

01/11/2025