Ketika Rencana Jahatmu Kembali Kepadamu

Ketika Rencana Jahatmu Kembali Kepadamu

Nuranisah

5.0
Komentar
Penayangan
25
Bab

Maura Laksmi, gadis polos berusia 21 tahun, baru saja diterima bekerja di rumah mewah keluarga Santoso, konglomerat ternama di kota. Cantik alami dan berhati lembut, Maura selalu berusaha menjaga sikapnya agar tidak mencolok di antara para pegawai yang sudah berpengalaman. Namun, takdir seakan menaruh ujian berat padanya. Suatu malam, Ravel Santoso, putra sulung keluarga itu, pulang dalam keadaan mabuk setelah patah hati karena tunangannya tiba-tiba menikah dengan sahabatnya sendiri. Malam itu, Maura harus menanggung akibat kelalaian Ravel-yang membuatnya trauma dan membuatnya memutuskan pulang ke rumah kakek dan neneknya. Beberapa bulan kemudian, nasib kembali memperlihatkan ujian yang lebih besar. Maura menyadari bahwa dia sedang mengandung buah dari malam yang menghancurkan hidupnya itu. Kini, dia harus menghadapi dilema yang berat. Haruskah dia meminta pertanggungjawaban Ravel, pria yang tak pernah ia duga akan menghancurkan hidupnya?

Bab 1 pekerjaan pertamanya

Maura Laksmi menatap ke langit senja dari jendela kereta yang membawanya menuju rumah keluarga Santoso. Kota terasa berbeda dari kampung halamannya; gedung-gedung menjulang, lampu jalan berkilau, dan suara kendaraan bergemuruh di setiap sudut jalan. Hatinya campur aduk antara gugup dan takjub. Ini adalah pekerjaan pertamanya setelah lulus kuliah, dan sekaligus kesempatan besar untuk memperbaiki nasib keluarganya.

Sejak kecil, Maura terbiasa hidup sederhana. Ayahnya adalah sekretaris pribadi seorang pengusaha besar, dan ibunya seorang guru taman kanak-kanak. Mereka menanamkan nilai kejujuran, kerja keras, dan kesederhanaan dalam diri Maura. Tapi kehidupan sederhana itu membuatnya terbiasa dengan kenyamanan emosional yang stabil-bukan gemerlap dunia yang kini akan ia masuki.

Kereta berhenti di stasiun mewah dekat kawasan elit, dan Maura menarik koper kecilnya dengan langkah ringan tapi hati berdebar. Seorang sopir berpakaian rapi menunggu, memberikan senyum ramah.

"Selamat datang, Nona Maura. Ini mobil yang akan membawa Anda ke rumah keluarga Santoso," katanya sambil membuka pintu mobil.

"Terima kasih, Pak," jawab Maura, suaranya pelan namun sopan. Ia menatap mobil hitam mengilap itu dan menyadari betapa jauh berbeda dunia yang akan ia masuki dibandingkan kampung halamannya.

Perjalanan ke rumah keluarga Santoso memakan waktu hampir tiga puluh menit. Selama perjalanan, sopir itu tidak banyak bicara, hanya sesekali menunjuk gedung pencakar langit atau taman kota yang rapi. Maura mencoba menenangkan diri, mengatur napas, dan membayangkan kehidupan baru yang akan dimulai. Ia harus profesional, tak boleh terlihat gugup atau canggung.

Rumah keluarga Santoso ternyata lebih megah dari yang dibayangkan. Gerbang besi tinggi dengan ukiran emas, taman luas dengan bunga-bunga yang rapi, dan patung-patung klasik menambah kesan mewah dan elegan. Hati Maura berdegup kencang.

"Saya... saya tidak menyangka rumahnya sebesar ini," gumamnya pelan, hampir untuk dirinya sendiri.

Sopir tersenyum tipis. "Ini memang rumah utama keluarga Santoso, Nona. Banyak pegawai yang mengurus semuanya."

Saat melewati halaman depan, Maura melihat beberapa pegawai lain sedang membersihkan halaman atau menata bunga. Mereka menatapnya sekilas, beberapa dengan senyum sopan, beberapa lagi dengan tatapan penasaran. Maura menunduk sopan dan melanjutkan langkahnya, mencoba menenangkan rasa gugup yang semakin memuncak.

Di dalam rumah, aroma kayu dan wangi parfum mahal menyambutnya. Lobi besar dengan lampu kristal menggantung di langit-langit, lantai marmer yang berkilau, dan lukisan-lukisan klasik memenuhi dinding. Maura merasa seolah masuk ke dunia yang sama sekali berbeda.

Seorang wanita paruh baya menghampirinya dengan senyum hangat. "Selamat datang, Nona Maura. Saya Ibu Laras, manajer rumah tangga di sini. Anda pasti Maura Laksmi, pegawai baru yang akan membantu di bagian administrasi dan urusan pribadi keluarga Santoso, kan?"

"Ya, Ibu. Senang bertemu dengan Ibu," jawab Maura, suaranya sedikit bergetar karena gugup.

Ibu Laras menepuk bahunya dengan lembut. "Jangan khawatir, Nona. Semua orang di sini profesional, dan kita akan membimbing Anda. Tapi saya harus jujur, rumah ini besar, dan kehidupan keluarga Santoso kadang rumit. Tetaplah rendah hati, dan jangan terlalu menonjolkan diri."

Maura mengangguk. "Baik, Ibu. Saya akan berusaha sebaik mungkin."

Ibu Laras tersenyum, lalu membawa Maura menelusuri lorong-lorong rumah, menunjukkan ruangan-ruangan, kantor keluarga, ruang tamu utama, dan area pribadi para pegawai. Maura memperhatikan semuanya dengan seksama, mencoba menyerap setiap detail agar ia bisa menyesuaikan diri.

"Malam ini, Nona Maura, putra sulung keluarga Santoso, Ravel, mungkin akan pulang. Tapi jangan khawatir, dia biasanya tidak banyak bicara kepada pegawai baru. Tugas Anda malam ini hanya memastikan segalanya beres di area kerja Anda," jelas Ibu Laras.

Maura mengangguk lagi, mencoba menenangkan hatinya yang semakin berdebar. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi malam itu, tetapi naluri mengatakan sesuatu akan berbeda.

Waktu malam tiba. Hawa di luar cukup sejuk, tapi dalam rumah terasa hangat dan mewah. Maura sibuk menata dokumen dan beberapa catatan administrasi di meja kerjanya, ketika terdengar suara pintu depan dibuka dengan keras.

Langkah Ravel terdengar dari lorong. Suara itu berat, agak goyah, dan Maura menahan napas saat seorang pria tinggi, berpakaian rapi namun sedikit berantakan, muncul dari balik pintu. Bau alkohol tercium samar.

"Ravel Santoso," bisik Maura dalam hati. Wajahnya tampan, dengan mata gelap yang menusuk, namun ada sesuatu yang berbeda malam ini-matanya merah, napasnya berat, dan sikapnya kacau.

Tanpa diduga, Ravel menoleh ke arah Maura dan tersenyum miring, namun matanya penuh dengan kebingungan dan kemarahan yang tak terkontrol.

"Maura," suaranya berat dan serak, "kamu di sini, ya?"

Maura tersentak, hampir menjatuhkan dokumen di tangannya. "Y-ya, Tuan Ravel," jawabnya, suara bergetar.

Dia ingin berpaling, tapi Ravel sudah melangkah lebih dekat, napasnya terasa panas dan aroma alkohol semakin kuat. Maura merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Malam ini aku ingin sesuatu yang berbeda," gumam Ravel, matanya menyala samar. Maura tidak sempat menanggapi karena langkah Ravel mendekat begitu cepat.

Malam itu berlalu begitu cepat bagi Maura. Ia terjebak dalam kejadian yang menghancurkan hidupnya, yang membuatnya trauma hingga ia memutuskan pulang ke rumah kakek dan neneknya. Suara Ravel yang mabuk, tatapannya yang tak terkendali, dan semua yang terjadi malam itu membekas begitu dalam di pikirannya.

Hari-hari berikutnya di rumah kakek dan nenek Maura dipenuhi air mata dan kesedihan. Ia merasa dunia runtuh di sekelilingnya. Semua impian, pekerjaan baru, dan harapan masa depannya terasa hancur. Ia berusaha menghibur diri, tetapi rasa sakit itu terlalu berat untuk dihilangkan begitu saja.

Beberapa minggu berlalu, dan Maura mulai beradaptasi kembali dengan kehidupan sederhana di rumah nenek dan kakeknya. Ia membantu neneknya menyiapkan makanan, menjaga taman, dan belajar menenangkan diri. Namun, satu pertanyaan terus menghantuinya: malam itu, apa yang sebenarnya akan terjadi?

Hingga suatu pagi, ketika Maura merasakan perubahan aneh pada tubuhnya, ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Hatinya berdebar kencang, takut dan penasaran sekaligus. Hasilnya menghancurkan lebih dari yang pernah ia bayangkan. Maura ternyata hamil.

Berita itu membuat dunianya semakin runtuh. Ia duduk di kursi klinik, menatap tangan gemetarnya sendiri, mencoba memahami kenyataan yang baru saja dihadapinya. Ia teringat malam itu, teringat Ravel, dan teringat semua yang hilang dari hidupnya.

"Bagaimana ini bisa terjadi?" bisik Maura, suaranya hampir tak terdengar. Air mata menetes di pipinya. Ia tahu hidupnya akan berubah selamanya. Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah ia akan menghadapi Ravel atau menghadapi hidup sendiri sebagai seorang ibu tunggal?

Maura tahu satu hal-pilihan yang akan ia ambil malam ini, besok, dan bulan-bulan berikutnya akan menentukan seluruh masa depannya. Trauma, rasa takut, dan ketidakpastian bercampur menjadi satu, tapi di balik semua itu, ada kekuatan yang mulai tumbuh dalam dirinya.

Ia menatap cermin di kamar klinik, dan untuk pertama kalinya, ada kilau tekad di matanya. Maura Laksmi, gadis polos yang pernah takut menghadapi dunia, kini menyadari bahwa ia tidak bisa lari dari kenyataan. Ia harus berdiri, menghadapi semua konsekuensi, dan menemukan jalan untuk melindungi dirinya serta bayi yang kini ada di dalam rahimnya.

Malam itu, di bawah langit kota yang ramai dan lampu jalan yang berkelap-kelip, Maura memutuskan sesuatu: Ia tidak akan membiarkan trauma atau ketakutan mengendalikan hidupnya. Ia akan berjuang, meskipun sendirian.

Tetapi Maura belum tahu, Ravel Santoso, pria yang telah mengubah hidupnya malam itu, belum selesai dengan permainan nasib yang menimpa mereka berdua.

Matahari baru saja menembus jendela kamar Maura ketika ia terbangun dengan tubuh lelah dan pikiran yang penuh. Hatinya terasa berat, seolah ada batu besar yang menekan dadanya. Beberapa hari terakhir ia habiskan dengan menenangkan diri, memikirkan langkah apa yang harus diambil. Bayangan Ravel terus menghantui, bukan hanya karena malam itu, tetapi karena kenyataan yang tak bisa ia elakkan: ada nyawa baru yang tumbuh di dalam rahimnya.

Kakek dan neneknya tampak khawatir setiap kali melihat Maura. Meski mereka tak banyak bertanya, sorot mata mereka selalu penuh pertanyaan yang tak terucap. Maura tahu mereka mencintainya, tapi ia juga tahu, mereka takut masa depan cucu mereka akan penuh kesulitan. Ia menghela napas panjang dan menatap jendela, menenangkan pikirannya.

"Maura," suara neneknya lembut dari dapur. "Sarapan sudah siap. Ayo makan sebelum dingin."

Maura tersenyum tipis, meski hatinya berat. "Baik, Nenek," jawabnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh rasa cemas yang menggumpal.

Di meja makan, aroma masakan sederhana tapi hangat memenuhi ruangan. Nenek menaruh sepiring nasi hangat, ayam goreng, dan sayur di depannya. Maura mencoba fokus pada makanannya, tapi pikirannya melayang pada situasi yang menimpanya. Ia merasa dunia telah berubah dalam sekejap, dan dirinya harus menyesuaikan diri dengan peran yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: calon ibu sekaligus penjaga diri sendiri.

Setelah sarapan, Maura duduk di teras belakang rumah, memandangi taman kecil yang dihias bunga-bunga sederhana. Angin pagi menyapu wajahnya, dan sejenak ia merasa tenang. Namun ketenangan itu cepat terganggu oleh bayangan masa depan yang membayangi: bagaimana jika ia membesarkan anak itu sendirian? Bagaimana jika orang-orang di sekitarnya mulai menggosip, mencibir, atau bahkan menghakimi?

Ia menundukkan kepala, menahan air mata yang ingin jatuh. Maura selalu dikenal sebagai gadis kuat, tapi sekarang, kekuatan itu diuji dengan cara yang tak pernah ia duga. Ia tahu ia tidak bisa terus bersembunyi. Ia harus membuat keputusan.

Di tengah kebingungan itu, telepon genggamnya bergetar. Layar menampilkan nama yang membuat jantungnya berdebar kencang: Ravel Santoso.

Maura menatap layar dengan ragu. Ia hampir menutupnya, tapi rasa ingin tahu dan dorongan nalurinya membuat jarinya menekan tombol angkat.

"Maura," suara Ravel terdengar lebih tenang dari malam itu, tapi tetap berat dan sulit ditebak. Ada nada penyesalan yang samar.

"Ya... Tuan Ravel," jawab Maura, menahan getar pada suaranya.

"Aku... aku ingin bicara," katanya setelah hening beberapa detik. "Bisa kita bertemu? Aku... aku ingin menjelaskan."

Maura menelan ludah. Ada rasa takut, tapi juga rasa penasaran. Ia tahu Ravel tidak bisa begitu saja diabaikan. Ada tanggung jawab yang belum diselesaikan-atau setidaknya, Maura ingin memastikan bahwa pria itu tidak bisa lepas begitu saja dari konsekuensi malam itu.

"Baik," jawab Maura singkat. "Tapi aku ingin bicara di tempat yang aman."

Ravel setuju, dan mereka sepakat bertemu di sebuah kafe kecil di pinggiran kota. Maura memilih lokasi itu karena ia merasa lebih nyaman dibandingkan berada di rumahnya atau rumah keluarga Santoso. Ia ingin menjaga jarak, tapi tetap bisa mendengarkan apa yang akan dikatakan Ravel.

Hari itu terasa panjang. Setiap detik sebelum pertemuan membuat Maura cemas. Ia duduk di kursi teras rumah, menggenggam secangkir teh hangat, dan menatap bunga-bunga yang mulai layu karena sinar matahari pagi. Ia berpikir tentang masa depan, tentang anak yang ada di dalam rahimnya, dan tentang pria yang menyebabkan semuanya.

Ketika akhirnya ia melangkah keluar rumah menuju kafe, ia mencoba menenangkan diri. Langkahnya pasti, tapi hatinya tetap bergetar. Kafe itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa pengunjung yang duduk sendiri atau berdua, menikmati kopi pagi. Maura memilih meja di pojok, tempat yang cukup tersembunyi namun memungkinkan ia mengamati pintu masuk.

Ravel datang tak lama kemudian. Pakaian rapi, wajah sedikit pucat, tetapi mata itu-mata yang dulu membuatnya takut-kali ini terlihat bersalah dan lembut. Ia berjalan mendekat dengan hati-hati.

"Maura," ucapnya, suaranya lembut tapi tegas. "Terima kasih sudah mau bertemu denganku."

Maura menatapnya, mencoba menilai kesungguhannya. "Kau tahu kenapa aku di sini," katanya singkat. "Aku ingin tahu, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Ravel duduk di seberangnya, menunduk sejenak. "Aku tak bisa mengubah malam itu, Maura. Tapi aku ingin bertanggung jawab. Aku-aku ingin membantu, sebisa mungkin."

Maura menahan napas. Kata-kata itu membuat hatinya berdebar campur aduk. Ada rasa lega, tapi juga kemarahan yang membara. "Membantu? Bagaimana caramu membantu? Kau tidak bisa mengembalikan malam itu, dan kau tidak bisa menghapus apa yang sudah terjadi!"

Ravel menatapnya dengan mata sendu. "Aku tahu. Aku tidak meminta maaf hanya dengan kata-kata. Aku ingin memastikan kau dan anak itu tidak kesulitan. Aku... aku akan berada di sisimu, tapi hanya jika kau mau."

Maura menatap pria itu lama. Hatinya ingin marah, ingin lari, ingin menolak, tapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatnya sulit mengabaikan. Ia tahu Ravel memang bisa bertanggung jawab, tapi apakah ia bisa mempercayainya?

"Aku butuh waktu," kata Maura akhirnya, suaranya tegas. "Aku tidak akan terburu-buru mengambil keputusan. Ini bukan hanya tentangmu. Ini tentang hidupku, tentang anakku."

Ravel mengangguk, menerima kata-kata itu. "Aku mengerti. Aku akan menunggu seberapa lama pun kau butuh."

Pertemuan itu berakhir dengan suasana tegang tapi tenang. Maura pulang ke rumah nenek dan kakeknya, kepala penuh pikiran. Ia sadar, kehadiran Ravel tidak bisa diabaikan, tapi ia juga sadar bahwa memilih bergantung padanya bisa menjadi risiko besar. Ia harus berpikir matang, memastikan setiap langkah yang diambil untuk masa depan anaknya.

Hari-hari berikutnya Maura dipenuhi dengan rutinitas yang sama: membantu nenek, menjaga taman, dan memikirkan masa depan. Ia mulai mencatat segala hal yang perlu dipersiapkan sebagai calon ibu tunggal. Dari perlengkapan bayi hingga tabungan untuk pendidikan anaknya, Maura mulai merencanakan semuanya sendiri. Ia ingin memastikan, apapun yang terjadi, ia bisa menjaga anak itu dengan baik.

Namun, tekanan sosial mulai terasa. Beberapa tetangga mulai memperhatikan kehamilannya yang mulai terlihat. Bisik-bisik mulai terdengar, tatapan penuh pertanyaan, dan komentar samar yang membuatnya merinding. Maura belajar menahan diri, tersenyum di depan mereka, dan kembali ke dunia tenangnya di rumah kakek dan nenek.

Suatu sore, saat Maura sedang duduk di teras, menatap langit yang mulai merah oleh matahari terbenam, ia merasakan campuran rasa takut, cemas, dan tekad. Ia tahu hidupnya tidak akan sama lagi. Anak ini, buah dari malam yang kelam itu, adalah tanggung jawabnya sekarang. Dan keputusan tentang Ravel, apakah ia akan membiarkan pria itu masuk kembali dalam hidupnya atau tidak, harus ditentukan dengan hati-hati.

Maura menutup mata, menghela napas panjang, dan membisikkan pada dirinya sendiri, "Aku akan kuat. Aku harus kuat. Ini bukan hanya tentangku. Ini tentang hidup yang akan kujalani bersama anakku."

Dan malam itu, di tengah kesunyian rumah sederhana yang dipenuhi bunga-bunga yang mulai layu, Maura Laksmi menyadari satu hal: perjuangan hidupnya baru saja dimulai, dan takdir yang menantinya jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Nuranisah

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy
5.0

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Pemuas Nafsu Keponakan

Pemuas Nafsu Keponakan

kodav
5.0

Warning!!!!! 21++ Dark Adult Novel Aku, Rina, seorang wanita 30 Tahun yang berjuang menghadapi kesepian dalam pernikahan jarak jauh. Suamiku bekerja di kapal pesiar, meninggalkanku untuk sementara tinggal bersama kakakku dan keponakanku, Aldi, yang telah tumbuh menjadi remaja 17 tahun. Kehadiranku di rumah kakakku awalnya membawa harapan untuk menemukan ketenangan, namun perlahan berubah menjadi mimpi buruk yang menghantui setiap langkahku. Aldi, keponakanku yang dulu polos, kini memiliki perasaan yang lebih dari sekadar hubungan keluarga. Perasaan itu berkembang menjadi pelampiasan hasrat yang memaksaku dalam situasi yang tak pernah kubayangkan. Di antara rasa bersalah dan penyesalan, aku terjebak dalam perang batin yang terus mencengkeramku. Bayang-bayang kenikmatan dan dosa menghantui setiap malam, membuatku bertanya-tanya bagaimana aku bisa melanjutkan hidup dengan beban ini. Kakakku, yang tidak menyadari apa yang terjadi di balik pintu tertutup, tetap percaya bahwa segala sesuatu berjalan baik di rumahnya. Kepercayaannya yang besar terhadap Aldi dan cintanya padaku membuatnya buta terhadap konflik dan ketegangan yang sebenarnya terjadi. Setiap kali dia pergi, meninggalkan aku dan Aldi sendirian, ketakutan dan kebingungan semakin menguasai diriku. Di tengah ketegangan ini, aku mencoba berbicara dengan Aldi, berharap bisa menghentikan siklus yang mengerikan ini. Namun, perasaan bingung dan nafsu yang tak terkendali membuat Aldi semakin sulit dikendalikan. Setiap malam adalah perjuangan untuk tetap kuat dan mempertahankan batasan yang semakin tipis. Kisah ini adalah tentang perjuanganku mencari ketenangan di tengah badai emosi dan cinta terlarang. Dalam setiap langkahku, aku berusaha menemukan jalan keluar dari jerat yang mencengkeram hatiku. Akankah aku berhasil menghentikan pelampiasan keponakanku dan kembali menemukan kedamaian dalam hidupku? Atau akankah aku terus terjebak dalam bayang-bayang kesepian dan penyesalan yang tak kunjung usai?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku