Bayangan Luka di Balik Seragam Putih

Bayangan Luka di Balik Seragam Putih

istrirm

5.0
Komentar
15
Penayangan
27
Bab

"Kau tahu rasanya kehilangan seseorang yang berarti... lalu mengetahui kebenaran bahwa dia tak pernah benar- benar diperjuangkan untuk hidup?" Aldian kehilangan adik perempuannya dalam tragedi yang dibungkus oleh fitnah dan kebohongan. Sebuah catatan harian membawa Aldian pada satu nama: wali kelas adiknya - sosok wanita terhormat di mata sekolah, namun menyimpan rahasia kelam yang menghancurkan hidup seorang remaja. Dalam pencariannya akan kebenaran, Aldian bertemu Aluna - anak wali kelas tersebut. Seorang gadis cerdas, terkurung dalam jadwal dan ambisi ibunya untuk mengirimnya ke luar negeri. Aluna hidup sempurna di permukaan, tapi jiwanya terikat rantai yang tak kasat mata. Aldian memulai rencana balas dendam. Namun seiring waktu, ia mulai melihat sosok Aluna bukan sebagai alat, melainkan manusia dengan luka yang sama. Ketika masa lalu, cinta, dan dendam saling bersilangan, Aldian dihadapkan pada pilihan: membiarkan dendam menelan segalanya, atau melepaskan kebenaran untuk menyembuhkan luka. Namun, tidak semua kebenaran datang membawa kelegaan. Dan tidak semua luka bisa disembuhkan oleh waktu. "Terkadang, untuk menyelamatkan satu jiwa, jiwa yang lain harus terluka."

Bayangan Luka di Balik Seragam Putih Bab 1 Surat Terakhir Aluna

Hujan turun sejak pagi.

Bukan hujan deras yang mengamuk, tapi hujan diam- diam- rintik pelan yang mengiringi langit kelabu dan suara gemeretak jarum jam tua di dinding.

Aldian duduk di pojok kamarnya, berhadapan dengan tumpukan kardus yang belum sempat ia buka sejak pemakaman tiga minggu lalu.

Salah satu buku, buku harian itu kini tergeletak di lantai. Lembarnya terbuka sendiri oleh hembusan angin dari jendela yang tidak sempat Aldian tutup. Namun matanya tak lagi mampu membaca. Tidak lagi. Sudah cukup.

Ia terduduk di pojok kamar, tepat di antara kardus- kardus kenangan dan sisa masa lalu yang tak akan pernah kembali.

Kedua tangannya menutup wajah.

Lalu ia menangis.

Bukan tangisan pelan yang bisa disembunyikan. Tapi tangisan pecah- suara yang keluar dari kedalaman dada, seperti jeritan yang terlalu lama ditahan.

"Maaf... maaf, Nuna..."

Kalimat itu berulang, patah- patah.

Keluar seperti desakan napas yang pecah oleh sesak.

Suara yang bahkan tak terdengar oleh siapa pun, kecuali dinding- dinding kosong kamarnya.

Ia memeluk lututnya sendiri.

Dada terasa seperti diremas dari dalam. Nafasnya pendek- pendek, seolah udara di ruangan itu menghilang bersama kepergian satu- satunya orang yang masih memanggilnya "Kakak"

"Aku gagal..."

"Aku satu- satunya yang kamu punya... tapi aku malah sibuk jadi kuat."

"Sibuk jadi laki- laki dewasa."

"Sibuk bertahan, sampai lupa kalau kamu juga sedang menahan kerasnya dunia ini ..."

Air matanya jatuh membasahi lantai kayu. Basah. Hening. Luka.

Ia teringat malam- malam ketika Aruna masuk ke kamarnya hanya untuk duduk diam. Tak bicara. Hanya duduk. Kadang tertidur di kursi tanpa alasan.

Ia pikir saat itu, Aruna hanya sedang lelah belajar. Ia pikir, Aruna sudah cukup dewasa untuk tahu cara menjaga diri sendiri.

Ternyata tidak.

Ternyata, adiknya hanya ingin ditemani.

Ditemani dirinya.

Dan ia... terlalu buta untuk melihat itu.

Amanah itu jelas sekali teringat dalam otaknya.

Pesan terakhir dari ayah di rumah sakit

"Jagain adikmu, Di. Dia satu- satunya yang kamu punya sekarang."

Ia mengangguk waktu itu dengan mantap. Berjanji dalam hati.

Tapi apa arti janji jika pada akhirnya ia hanya tinggal sendiri.

Aldian menunduk. Menyeka wajahnya. Tapi air mata tidak bisa berhenti.

Karena ini bukan tentang kehilangan.

Ini tentang kegagalan.

Gagal menjaga.

Gagal mendengar.

Gagal memahami isyarat yang tidak pernah dikatakan dengan kata.

Dan di balik hujan yang mulai reda di luar sana, di dalam kamar itu... Aldian hancur untuk pertama kalinya, bukan karena kehilangan orang lain.

Tapi karena ia kehilangan dirinya sendiri.

Kardus- kardus di hadapannya penuh barang-barang milik adiknya, Aruna- atau biasa ia panggil "Nuna" saat kecil dulu, panggilan manja yang perlahan hilang seiring usia dan kehidupan yang memaksa mereka tumbuh lebih cepat.

Hari ini, ia memutuskan untuk mulai membereskan semuanya.

Tangannya bergerak perlahan, membongkar satu per satu barang yang dibungkus rapi seragam putih-abu yang masih wangi deterjen, album foto kecil, boneka kelinci yang salah satu telinganya robek... dan kemudian, di dasar kardus paling bawah, ada sesuatu yang membuat jantungnya berhenti sepersekian detik.

Sebuah buku kecil bersampul kain abu-abu, dengan benang jahit sedikit terkelupas di pinggirnya.

Bukan buku pelajaran. Bukan agenda sekolah.

Ini... buku harian.

Ia menatap benda itu lama.

Jari- jarinya ragu untuk menyentuh, seolah khawatir akan merusak sesuatu yang rapuh.

Namun rasa ingin tahu, dan dorongan dari luka yang belum mengering, lebih kuat daripada rasa takutnya.

Dengan napas tertahan, ia membuka halaman pertama.

Tanggal 10 Januari

"Aku tidak tahu harus cerita ke siapa. Rasanya aku tenggelam, tapi tetap harus tersenyum agar tak membuat orang lain khawatir. Kalau aku mengeluh, nanti dianggap manja. Kalau aku menangis, nanti dikira lemah. Jadi aku diam. Karena diam lebih aman daripada dipertanyakan."

Lembaran kedua.

Tanggal 17 Januari

"Aku ingin cerita padanya... tapi dia sudah cukup lelah. Dia sudah kehilangan lebih dulu. Aku tak ingin menjadi beban kedua. Biarlah aku simpan semuanya sendiri."

Mata Aldian mulai memanas. Ia tahu siapa yang dimaksud dengan "dia". Meskipun tak disebut nama, ia tahu itu tentang dirinya.

Tentang kakak yang terlalu sibuk bertahan, hingga lupa bahwa ada adik yang perlahan tenggelam dalam kesendirian.

Halaman berikutnya mulai berubah nada. Bukan hanya sedih, tapi mengarah pada sesuatu yang lebih gelap... dan lebih dalam.

Tanggal 5 Februari

"Ibu wali kelas bilang aku harus 'diam'. Kalau tidak, semuanya akan tambah rumit. Dia bilang semua ini bisa merusak masa depanku dan reputasi sekolah. Aku takut. Aku malu. Tapi lebih dari itu... aku merasa kotor."

Aldian membeku.

Tangannya menggenggam kencang buku itu. Jemarinya gemetar. Kata- kata yang baru saja ia baca seperti pisau yang menyayat ulang luka di dadanya.

"Diam?"

"Reputasi?"

Kata- kata itu tak asing. Ia pernah mendengar guru- guru berbicara dengan nada yang sama saat ia mendatangi sekolah, menuntut kejelasan soal kematian Aruna.

Semua terdengar... terlalu rapi.

Terlalu formal.

Terlalu kosong.

Kini, potongan- potongan itu mulai menyatu di otak Aldian.

Aruna tidak mati karena 'kelalaian pribadi' seperti yang sekolah katakan.

Ia disuruh diam.

Ia ditekan.

Ia merasa malu atas sesuatu... yang mungkin bukan salahnya.

Aldian merasakan tubuhnya menghangat, bukan karena api, tapi karena kemarahan.

Rasa bersalah dan marah bercampur menjadi satu, membuat pandangannya kabur.

Hujan di luar masih turun. Tapi hujan di dalam dadanya lebih deras.

Dan untuk pertama kalinya sejak pemakaman itu, Aldian berbisik pada dirinya sendiri.

"Ada yang disembunyikan."

Di tengah tangis yang belum sepenuhnya reda, Aldian memejamkan mata.

Dan seperti lembaran film yang kusut, satu per satu kenangan itu datang- tidak diundang, tapi juga tak mampu ia tolak.

ALdian Ingat saat Aruna kecil.

Sekitar usia lima tahun.

Rambutnya dicepol dua seperti telinga kelinci. Gigi depannya ompong sebelah. Suaranya cempreng tapi penuh semangat. Mereka bermain petak umpet di halaman rumah, saat matahari sore menggantung rendah dan pohon mangga tua menjadi tempat persembunyian favorit.

"Kakaaa, ayo cari aku!"

Suaranya terdengar dari balik tembok, jelas-jelas memberi petunjuk. Tapi itulah Aruna. Ia tidak pernah benar- benar ingin sembunyi. Ia hanya ingin ditemukan.

Dan Aldian, dengan pura- pura panik, akan menjawab,

"Wah, adikku hilang! Jangan- jangan diculik alien!"

Lalu terdengar tawa keras dari balik pot bunga.

Tawa yang sekarang hanya bisa hidup di dalam kepala Aldian.

Ingatan lain muncul.

Mereka berdua duduk di atas atap garasi rumah, menyantap mie instan yang dimasak diam- diam saat ibu tidur siang. Mie yang terlalu asin. Sendok plastik yang patah. Tapi malam itu, semuanya terasa sempurna.

"Kak, kalau aku udah gede nanti, kamu masih mau temenin aku?"

"Tentu. Bahkan kalau kamu punya pacar, aku bakal pura- pura jadi pacar kamu biar dia nggak macam- macam."

Aruna tertawa keras waktu itu.

"Ih, jijik! Kakak tuh aneh!"

"Tapi kamu sayang, kan, sama Kakak?"

Aruna menatap langit.

"Banget."

Aldian tersenyum getir saat kenangan itu berputar.

Kenangan yang terlalu indah, terlalu hidup... untuk dikubur bersama Aruna.

Ia menoleh ke arah boneka kelinci tua yang tergeletak di sudut kardus.

Telinga boneka itu robek, dijahit dengan benang warna- warni. Hasil jahitan pertamanya, saat ia belajar menjahit karena Aruna menangis bonekanya rusak.

Ia rela belajar menjahit, hanya demi senyum adiknya.

Dan kini, setelah semuanya hilang...

Ia baru sadar, tawa yang dulu dianggap biasa, adalah anugerah yang tidak akan pernah kembali.

Aruna bukan hanya adik.

Dia adalah separuh masa kecil Aldian.

Separuh tawa.

Separuh alasan untuk terus pulang ke rumah.

Kini semuanya tinggal diam.

Tinggal kenangan yang menampar.

Tinggal bayang yang menggantung di pojok-pojok ruangan.

Dan di tengah keheningan, Aldian memeluk lututnya lagi.

Ia tidak hanya merindukan Aruna. Ia merindukan dirinya sendiri-versi dirinya yang masih lengkap, yang masih punya alasan untuk tertawa tanpa luka.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Bayangan Luka di Balik Seragam Putih Bayangan Luka di Balik Seragam Putih istrirm Romantis
“"Kau tahu rasanya kehilangan seseorang yang berarti... lalu mengetahui kebenaran bahwa dia tak pernah benar- benar diperjuangkan untuk hidup?" Aldian kehilangan adik perempuannya dalam tragedi yang dibungkus oleh fitnah dan kebohongan. Sebuah catatan harian membawa Aldian pada satu nama: wali kelas adiknya - sosok wanita terhormat di mata sekolah, namun menyimpan rahasia kelam yang menghancurkan hidup seorang remaja. Dalam pencariannya akan kebenaran, Aldian bertemu Aluna - anak wali kelas tersebut. Seorang gadis cerdas, terkurung dalam jadwal dan ambisi ibunya untuk mengirimnya ke luar negeri. Aluna hidup sempurna di permukaan, tapi jiwanya terikat rantai yang tak kasat mata. Aldian memulai rencana balas dendam. Namun seiring waktu, ia mulai melihat sosok Aluna bukan sebagai alat, melainkan manusia dengan luka yang sama. Ketika masa lalu, cinta, dan dendam saling bersilangan, Aldian dihadapkan pada pilihan: membiarkan dendam menelan segalanya, atau melepaskan kebenaran untuk menyembuhkan luka. Namun, tidak semua kebenaran datang membawa kelegaan. Dan tidak semua luka bisa disembuhkan oleh waktu. "Terkadang, untuk menyelamatkan satu jiwa, jiwa yang lain harus terluka."”
1

Bab 1 Surat Terakhir Aluna

12/08/2025

2

Bab 2 Tatapan yang Tak pernah Salah

12/08/2025

3

Bab 3 Penyelidikan Kembali

12/08/2025

4

Bab 4 Geng Preman

12/08/2025

5

Bab 5 Penyelidikan

12/08/2025

6

Bab 6 Menyelamatkan Luna

13/08/2025

7

Bab 7 Dirawat Luna

13/08/2025

8

Bab 8 Bara yang Mendidih dalam Dada

13/08/2025

9

Bab 9 Aluna khawatir

13/08/2025

10

Bab 10 Malam Pengamatan

13/08/2025

11

Bab 11 Sisi Lain Aluna

13/08/2025

12

Bab 12 Luka di lengan Luna

13/08/2025

13

Bab 13 Aldo

13/08/2025

14

Bab 14 Penyelidikan Aluna

13/08/2025

15

Bab 15 Bertemu Aldian

13/08/2025

16

Bab 16 Di tembak Aldian

14/08/2025

17

Bab 17 Hari Pertama dari Lima hari

14/08/2025

18

Bab 18 Taman Kota

14/08/2025

19

Bab 19 Meyakinkan Aluna

14/08/2025

20

Bab 20 Aluna Mulai Memberontak

14/08/2025

21

Bab 21 Aluna Gelisah

07/12/2025

22

Bab 22 Ketahuan Aldian

07/12/2025

23

Bab 23 Pertimbangan

08/12/2025

24

Bab 24 Bertemu Bu Ratih

11/12/2025

25

Bab 25 Pernah bertemukah

12/12/2025

26

Bab 26 26. Aldian sebenarnya

14/12/2025

27

Bab 27 Siapa Aldian

16/12/2025