icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Bayangan Luka di Balik Seragam Putih

Bayangan Luka di Balik Seragam Putih

Penulis: istrirm
icon

Bab 1 Surat Terakhir Aluna

Jumlah Kata:1197    |    Dirilis Pada: 12/08/2025

urun se

m- diam- rintik pelan yang mengiringi langit kel

dengan tumpukan kardus yang belum sempat

terbuka sendiri oleh hembusan angin dari jendela yang tidak sempat Aldi

ntara kardus- kardus kenangan dan sisa

annya menu

ia me

i tangisan pecah- suara yang keluar dari kedalama

. maaf,

berulang,

esakan napas yang

ar oleh siapa pun, kecuali din

k lututny

pendek, seolah udara di ruangan itu menghilang bersama ke

gag

kamu punya... tapi aku

i laki- la

a kalau kamu juga sedang me

mbasahi lantai kayu.

amarnya hanya untuk duduk diam. Tak bicara. Hany

ah belajar. Ia pikir, Aruna sudah cukup d

ata t

knya hanya in

ani d

lalu buta unt

s sekali tering

ir dari ayah

Dia satu- satunya yan

itu dengan mantap.

ika pada akhirnya ia

a wajahnya. Tapi air ma

bukan tentan

tang ke

l me

mend

t yang tidak pernah d

, di dalam kamar itu... Aldian hancur untuk per

kehilangan di

au biasa ia panggil "Nuna" saat kecil dulu, panggilan manja yang perlahan

skan untuk mulai me

ang masih wangi deterjen, album foto kecil, boneka kelinci yang salah satu telinganya robek... dan k

n abu-abu, dengan benang jahit

ajaran. Bukan

buku

p benda i

yentuh, seolah khawatir akan

an dari luka yang belum mengering,

tahan, ia membuk

l 10 J

gar tak membuat orang lain khawatir. Kalau aku mengeluh, nanti dianggap manja. Kalau aku m

ran k

l 17 J

h. Dia sudah kehilangan lebih dulu. Aku tak ingin menj

yang dimaksud dengan "dia". Meskipun tak

ahan, hingga lupa bahwa ada adik yang

ukan hanya sedih, tapi mengarah pada ses

l 5 Fe

bah rumit. Dia bilang semua ini bisa merusak masa depanku dan reputasi

n mem

ya gemetar. Kata- kata yang baru saja ia baca s

ia

put

guru berbicara dengan nada yang sama saat ia mendata

engar... t

alu f

lu ko

ongan itu mulai men

'kelalaian pribadi' sepe

suruh

dit

sesuatu... yang mu

menghangat, bukan karena a

ercampur menjadi satu, me

run. Tapi hujan di dal

jak pemakaman itu, Aldian be

g disemb

belum sepenuhnya reda,

atu per satu kenangan itu datang- tidak

at saat Ar

usia li

cempreng tapi penuh semangat. Mereka bermain petak umpet di halaman rumah, saat matah

, ayo c

emberi petunjuk. Tapi itulah Aruna. Ia tidak pernah

n pura- pura pani

ng! Jangan- janga

tawa keras dari

hanya bisa hidup di

n lain

yang dimasak diam- diam saat ibu tidur siang. Mie yang terlalu asin

gede nanti, kamu ma

ar, aku bakal pura- pura jadi pacar

awa keras

ik! Kakak

ayang, kan,

enatap

ang

getir saat kena

dah, terlalu hidup... unt

ka kelinci tua yang ter

arna- warni. Hasil jahitan pertamanya, saat ia bel

enjahit, hanya de

telah semuan

ianggap biasa, adalah anugerah

ukan ha

eparuh masa

aruh

n untuk terus

anya ting

enangan ya

ng menggantung di

ningan, Aldian mem

irinya sendiri-versi dirinya yang masih lengkap,

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bayangan Luka di Balik Seragam Putih
Bayangan Luka di Balik Seragam Putih
“"Kau tahu rasanya kehilangan seseorang yang berarti... lalu mengetahui kebenaran bahwa dia tak pernah benar- benar diperjuangkan untuk hidup?" Aldian kehilangan adik perempuannya dalam tragedi yang dibungkus oleh fitnah dan kebohongan. Sebuah catatan harian membawa Aldian pada satu nama: wali kelas adiknya - sosok wanita terhormat di mata sekolah, namun menyimpan rahasia kelam yang menghancurkan hidup seorang remaja. Dalam pencariannya akan kebenaran, Aldian bertemu Aluna - anak wali kelas tersebut. Seorang gadis cerdas, terkurung dalam jadwal dan ambisi ibunya untuk mengirimnya ke luar negeri. Aluna hidup sempurna di permukaan, tapi jiwanya terikat rantai yang tak kasat mata. Aldian memulai rencana balas dendam. Namun seiring waktu, ia mulai melihat sosok Aluna bukan sebagai alat, melainkan manusia dengan luka yang sama. Ketika masa lalu, cinta, dan dendam saling bersilangan, Aldian dihadapkan pada pilihan: membiarkan dendam menelan segalanya, atau melepaskan kebenaran untuk menyembuhkan luka. Namun, tidak semua kebenaran datang membawa kelegaan. Dan tidak semua luka bisa disembuhkan oleh waktu. "Terkadang, untuk menyelamatkan satu jiwa, jiwa yang lain harus terluka."”
1 Bab 1 Surat Terakhir Aluna2 Bab 2 Tatapan yang Tak pernah Salah3 Bab 3 Penyelidikan Kembali4 Bab 4 Geng Preman5 Bab 5 Penyelidikan6 Bab 6 Menyelamatkan Luna7 Bab 7 Dirawat Luna8 Bab 8 Bara yang Mendidih dalam Dada9 Bab 9 Aluna khawatir10 Bab 10 Malam Pengamatan11 Bab 11 Sisi Lain Aluna12 Bab 12 Luka di lengan Luna13 Bab 13 Aldo14 Bab 14 Penyelidikan Aluna15 Bab 15 Bertemu Aldian16 Bab 16 Di tembak Aldian17 Bab 17 Hari Pertama dari Lima hari18 Bab 18 Taman Kota19 Bab 19 Meyakinkan Aluna20 Bab 20 Aluna Mulai Memberontak21 Bab 21 Aluna Gelisah22 Bab 22 Ketahuan Aldian23 Bab 23 Pertimbangan24 Bab 24 Bertemu Bu Ratih25 Bab 25 Pernah bertemukah 26 Bab 26 26. Aldian sebenarnya27 Bab 27 Siapa Aldian