Hasrat Istriku

Hasrat Istriku

Vellyn Benvolio

5.0
Komentar
11.6K
Penayangan
120
Bab

Naya memiliki ambisi yang kuat tentang pekerjaannya. Yang mana ambisi tersebut membuatnya harus menyembunyikan pernikahannya dari pekerjaannya agar posisinya tak goyah di perusahaan. Satu sisi, dia mencintai Ghiyas. Di sisi lain, dia tak ingin kehilangan pekerjaannya. Hingga kehidupan menuntutnya untuk memilih antara pekerjaannya atau pernikahannya yang usianya sama-sama masih muda. Mana yang akan Naya pilih?

Hasrat Istriku Bab 1 Malam Pertama

"Ibu enggak lihat teman-teman kantor kamu. Kamu enggak mengundang teman-teman kantor kamu? Apa bos kamu juga enggak datang hari ini?"

Naya, pengantin wanita yang baru saja menikah di hari itu tampak masih mengenakan gaunnya di malam hari. Para tamu masih berdatangan, dan yang datang di malam hari adalah teman-teman suaminya. Yang membuatnya harus tetap menggunakan gaun resepsinya.

"Mereka datang, kok. Tadi siang, mereka semua datang. Bos enggak datang hari ini, karena katanya lagi sibuk," jawabnya kepada sosok ibunya yang masih memperhatikan riasan putrinya itu.

Naya menghela nafasnya berat, dia terlihat waswas selama di sana. Seolah dirinya merasa tengah diawasi. Dia tampak tegang dan sama sekali tak menikmati acara yang berlangsung hingga malam.

Sosok suaminya mendekatinya, tersenyum manis memperhatikan pengantin wanitanya yang mulai menguap karena kantuk. Bahkan dia terkekeh meledeknya karena mengantuk.

"Ngantuk, ya?" tanya Ghiyas, sosok suaminya yang kini menatapnya dengan tatapan teduh.

Naya mengangguk dan tersenyum malu. Keduanya tampak serasi menjadi pusat pesta itu. Ibunya Naya tersenyum manis menggoda Naya yang tampak masih malu-malu pada suaminya itu.

***

Malam itu, malam pertama bagi pengantin baru. Di mana keduanya akan saling mendekatkan diri dan mengenal satu sama lain lebih intim. Di sebuah kamar hotel dengan semerbak harum dan dihias seindah mungkin untuk menciptakan nuansa romantis dengan warna merah dan putih.

Naya menatapi kasurnya yang ditaburi kelopak bunga, dibentuk love di sana. Naya mendecak kecil seraya memegangi keningnya. Padahal, dirinya ingin bisa langsung tidur saja malam itu.

"Nay?" Ghiyas melepaskan dasinya dan memperhatikan Naya dengan senyum semringahnya.

"Hm?" Naya langsung menoleh, dengan raut wajahnya yang terkesan malas dan tak bergairah.

"Kenapa? Pusing? Kok, lemes banget?" tanya Ghiyas agak khawatir karena Naya tampak tak senang, padahal ini hari pernikahannya dan ini malam yang seharusnya menjadi momen terbaik di hidupnya.

"Enggak," jawab Naya seraya menggelengkan kepalanya pelan.

"Bersih-bersih dulu sana! Sebelum tidur, bersihkan dulu make-up, mandi dulu biar enggak terasa lengket!" ujar Ghiyas seraya memegangi bahunya Naya.

"Iya. Naya duluan ya, Mas?" Naya menganggukkan kepalanya dan meminta izin menggunakan kamar mandi lebih dulu dari suaminya itu.

"Iya." Ghiyas menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, mengalah untuk Naya.

Setelah Naya keluar dari kamar mandi dan menggunakan sebuah piama berwarna merah, Naya duduk di sisi kasur dan menyingkirkan kelopak bunga yang mengganggunya sedari tadi. Hiasan handuk dengan bentuk angsa juga membuat Naya mendecak. Dia tampak tak senang.

Untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa tak senang, Naya membuka handphonenya. Dan itu membuatnya bertemu dengan masalah baru di malam pernikahannya. Puluhan chat masuk sedari tadi, yang membuatnya segera menghubungi seseorang sambil bangkit dari duduknya.

"Halo? Kenapa? Ada apa? Sistemnya eror?"

Naya bergegas membuka tasnya, yang mana berisikan laptop. Sudah dia duga, jika dirinya pasti akan selalu membutuhkan laptop. Apa lagi, jika dirinya harus bekerja dadakan lagi seperti ini.

Gadis itu mengambil tempat di sebuah meja dan membuka laptopnya. Tangannya dengan cekatan mengutak-atik laptop dan juga handphonenya. Sesekali dia melihat laptop, dan sesekali handphone.

Ghiyas yang barus keluar dari kamar mandi memperhatikan Naya yang tampak serius di depan laptopnya. Ghiyas agak kaget karena Naya membawa laptop kerjanya. Dia mengenali barang itu.

"Nay? Enggak tidur? Bukannya tadi udah ngantuk?" tanya Ghiyas seraya menghampiri Naya.

"Enggak. Ada masalah di kantor. Mas bisa tidur duluan, Naya harus selesaikan ini sekarang."

"Bukannya kamu dalam masa cuti nikah?" Ghiyas menatapi Naya dengan penuh keheranan.

Naya melirik ke arah Ghiyas sesaat. Dia kemudian tampak membeku untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan Ghiyas itu. Memang, seharusnya sekarang dirinya dan Ghiyas bersenang-senang sebagai pengantin baru. Dan dirinya tak seharusnya bekerja di depan laptopnya.

"Ini masalah darurat. Kasihan team Naya, kalau enggak ada Naya. Secara, Naya bagian kepala team."

"Tapi dalam masa cuti nikah kamu? Kamu kemarin bahkan masih kerja, padahal hari ini hari pernikahan kita, Nay. Dan malam ini kamu malah bekerja lagi?" Ghiyas mengernyitkan dahinya.

"Kan, Naya udah bilang, Mas. Ini darurat, ini di luar kendali." Naya berusaha menjelaskannya.

"Tiga hari aja, Naya. Tiga hari kerja. Sebelum hari H, hari H, setelah hari H. Di tiga hari ini, kamu enggak bekerja sama sekali meski itu hari kerja, apa sulit? Ini pernikahan, Naya. Hal sakral yang harusnya jadi momen mengesankan dalam hidup kamu. Dan kamu masih menyempatkan waktu buat bekerja?" Ghiyas mendecak kecewa.

Naya balik mendecak. Naya lantas melepaskan kancing piamanya, yang membuat Ghiyas mengernyitkan dahinya melihat aksi Naya itu. Ghiyas memperhatikannya dengan bingung.

"Kamu ngapain?"

Naya berjalan ke kasur dan langsung berbaring terlentang. Seolah menyuguhkan seonggok daging di depan harimau. Dia menyajikan dirinya sendiri sebagai santapan bagi Ghiyas.

"Lakukan! Mas mau ini? Lakukan dengan cepat, habis ini Naya harus urus masalah kantor."

Ucapan Naya terdengar menantang. Itu membuat Ghiyas mengernyitkan dahinya. Bukan ini yang dia harapkan dari Naya. Reaksi Naya yang dia harapkan adalah kata maaf dan kemudian menjelaskannya dengan keadaan dilema, kemudian mereka mencari solusi bersama dengan romantis.

"Kamu pikir pria akan berselera?" balas Ghiyas dengan perasaan sebal balik.

"Enggak mau? Ya udah." Gadis itu langsung bangkut lagi dan menutup kancing piamanya.

Naya kembali lagi ke depan laptop dan kemudian melanjutkan tugasnya dengan serius. Sementara Ghiyas menolak pinggangnya seraya mendengus. Pria itu menatapi Naya dengan perasaan heran.

Yang dia kenal, Naya itu pendiam dan pemalu. Juga, dia terbilang ramah. Tapi malam ini, Naya terlihat ketus dan cuek. Apa mungkin karena sedang lelah dan kemudian ada masalah di kantor yang membuatnya gak bisa tidur setelah acara besar. Ghiyas bisa memakluminya jika memang demikian.

"Jangan tidur terlalu larut. Jangan terlalu memaksakan diri juga. Tidur kalau udah selesai!"

Ghiyas bicara dengan dingin, lantaran suasana hatinya juga memburuk karena perangai buruk Naya.

Sementara Naya menoleh ke arah Ghiyas, semula keningnya mengerut, namun kerutannya memudar. Naya memperhatikan Ghiyas yang berjalan ke kasur dan langsung membaringkan dirinya.

"Mas Agi!" panggil Naya sambil memperhatikan suaminya tersebut.

Ghiyas tak menyahut, namun dia menatap ke arah Naya sebagai responsnya. Dan Naya kemudian mendekatinya, dengan ragu-ragu dan perasaan yang tak menentu.

"Katanya ada-"

Naya kemudian mengecup pipinya Ghiyas.

"Maaf, soal tadi. Naya capek soalnya," ucapnya dengan pelan.

Ghiyas tentunya termangu atas tindakan istrinya yang cekatan itu. Kelihatannya Naya sangat peka terhadap dirinya. Ghiyas kemudian tersenyum dan menggelengkan kecil sebagai tanda dirinya tak keberatan soal yang tadi.

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh Vellyn Benvolio

Selebihnya

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

My Doctor genius Wife

My Doctor genius Wife

Amoorra

Setelah menghabiskan malam dengan orang asing, Bella hamil. Dia tidak tahu siapa ayah dari anak itu hingga akhirnya dia melahirkan bayi dalam keadaan meninggal Di bawah intrik ibu dan saudara perempuannya, Bella dikirim ke rumah sakit jiwa. Lima tahun kemudian, adik perempuannya akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga terkenal dikota itu. Rumor yang beredar Pada hari dia lahir, dokter mendiagnosisnya bahwa dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Ibunya tidak tahan melihat Adiknya menikah dengan orang seperti itu dan memikirkan Bella, yang masih dikurung di rumah sakit jiwa. Dalam semalam, Bella dibawa keluar dari rumah sakit untuk menggantikan Shella dalam pernikahannya. Saat itu, skema melawannya hanya berhasil karena kombinasi faktor yang aneh, menyebabkan dia menderita. Dia akan kembali pada mereka semua! Semua orang mengira bahwa tindakannya berasal dari mentalitas pecundang dan penyakit mental yang dia derita, tetapi sedikit yang mereka tahu bahwa pernikahan ini akan menjadi pijakan yang kuat untuknya seperti Mars yang menabrak Bumi! Memanfaatkan keterampilannya yang brilian dalam bidang seni pengobatan, Bella Setiap orang yang menghinanya memakan kata-kata mereka sendiri. Dalam sekejap mata, identitasnya mengejutkan dunia saat masing-masing dari mereka terungkap. Ternyata dia cukup berharga untuk menyaingi suatu negara! "Jangan Berharap aku akan menceraikanmu" Axelthon merobek surat perjanjian yang diberikan Bella malam itu. "Tenang Suamiku, Aku masih menyimpan Salinan nya" Diterbitkan di platform lain juga dengan judul berbeda.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Hasrat Istriku Hasrat Istriku Vellyn Benvolio Romantis
“Naya memiliki ambisi yang kuat tentang pekerjaannya. Yang mana ambisi tersebut membuatnya harus menyembunyikan pernikahannya dari pekerjaannya agar posisinya tak goyah di perusahaan. Satu sisi, dia mencintai Ghiyas. Di sisi lain, dia tak ingin kehilangan pekerjaannya. Hingga kehidupan menuntutnya untuk memilih antara pekerjaannya atau pernikahannya yang usianya sama-sama masih muda. Mana yang akan Naya pilih?”
1

Bab 1 Malam Pertama

08/02/2025

2

Bab 2 Ditinggal Di Hotel

08/02/2025

3

Bab 3 Dokter Romantis

08/02/2025

4

Bab 4 Naya yang Menghanyutkan

08/02/2025

5

Bab 5 Bangkai yang Tercium

08/02/2025

6

Bab 6 Kasus yang Sama

08/02/2025

7

Bab 7 Di Balik Ambisi

08/02/2025

8

Bab 8 Yang Terbaik

08/02/2025

9

Bab 9 Perkara Dinner

08/02/2025

10

Bab 10 Dilabrak Suami

08/02/2025

11

Bab 11 Tak Mungkin Damai

08/02/2025

12

Bab 12 Berusaha Mencari Solusi

08/02/2025

13

Bab 13 Hanya Karena Lunch Box

08/02/2025

14

Bab 14 Tetap Perhatian

08/02/2025

15

Bab 15 Pertemuan Tak Terduga

08/02/2025

16

Bab 16 Niat Pindah

08/02/2025

17

Bab 17 Kedatangan Ghiyas ke Kantor

08/02/2025

18

Bab 18 Bertengkar

08/02/2025

19

Bab 19 Tanpa Sadar Dia Pergi

08/02/2025

20

Bab 20 Tak Kunjung Pulang

08/02/2025

21

Bab 21 Kabar Terang

08/02/2025

22

Bab 22 Naya Mual

15/02/2025

23

Bab 23 Kecelakaan Kerja

15/02/2025

24

Bab 24 Kantung Janin

15/02/2025

25

Bab 25 Kunjungan Dadakan

16/02/2025

26

Bab 26 Rindu

16/02/2025

27

Bab 27 Disudutkan

17/02/2025

28

Bab 28 Dalam Masalah

17/02/2025

29

Bab 29 Pria yang Dirindukan

18/02/2025

30

Bab 30 Akankah Pria Itu Mengerti

18/02/2025

31

Bab 31 Ghiyas Traktiran

19/02/2025

32

Bab 32 Naya dan Perasaannya

19/02/2025

33

Bab 33 Dari Perut Naik ke Ranjang

20/02/2025

34

Bab 34 Memalukan

20/02/2025

35

Bab 35 Testpack

21/02/2025

36

Bab 36 Bermain Kotor

21/02/2025

37

Bab 37 Liburan ke Pedesaan

22/02/2025

38

Bab 38 Kala Bencana Menimpa

22/02/2025

39

Bab 39 Dalam Jurang

23/02/2025

40

Bab 40 Pencarian

23/02/2025