KUTEBUS TALAKKU

KUTEBUS TALAKKU

YUNI NA

5.0
Komentar
4.7K
Penayangan
29
Bab

"Akan kutebus cintamu kedalam dekapanku."-Raqeef "Aku akan tebus talakku! Berapa yang kamu mau aku akan bayar." -Indah "Kau menggunakan taktik kotor! Kau jebak aku di klub itu! Kamera tersembunyi? What the fuck!"-Hairi "Hey... Jangan Tiba-tiba mau memanggil aku Kakak! Aku tidak memiliki saudara adik beradik karena aku anak tunggal. Dan .... aku tidak kenal orang seperti kamu. Pergi dari sini sebelum aku panggilkan sekuriti!"-Lovena "Bawa dia datang bertemu saya di dalam pertemuan keluarga. "- Teddy

Bab 1 PROLOG

PLAK !!!

Kelopak mata bundar itu terbuka lebar ketika kaget mendengar benda jatuh kelantai. Tangannya langsung memegang dada, karena jantungnya berdetak hebat. Dia terlelap rupanya, hanya di atas lantai yang dingin dan berbantalkan tangan . Cukup nyenyak. Mungkin karena kelelahan.

Indah kembali ke realita, matanya melilau mencari benda yang jatuh tadi. Dia menghela nafas lega saat melihat hanya tupperware kosong yang jatuh saat terkena gorden yang bergerak saat terkena tiupan angin dari luar jendela. Mata yang bundar itu sekali lagi melihat ke arah luar jendela, melihat awan yang mendung dan tiupan angin yang sedikit kencang. Sepertinya hujan akan segera turun hanya beberapa saat saja mungkin. Cuaca redup, pantas saja dia bisa tertidur saat membereskan gudang di sebelah dapur itu. Biarpun hanya gudang, Indah memastikan ianya tetap bersih dan rapih.

Ah ! Sudah jam berapa ini ?! Berapa lama kau tertidur Indah !

Wanita itu segera bangun mengambil tupperware kosong dan di taruh di tempat semula. Dia menarik daun jendela dan menutupnya rapat. Indah mencapai keranjang baju di belakang pintu gudang tersebut, dia bergegas keluar untuk mengangkat baju di jemuran.

Tangannya gesit seperti kecepatan kecoa. Kesemua baju seisi rumah itu diangkat dan di masukkan ke dalam keranjang yang sama. Ya, dia juga harus melipat baju baju itu dan mengasingkan kepada pemiliknya masing-masing. Setelah selesai mengangkat jemuran, dia bergegas juga kedapur mau menyiapkan makan malam untuk keluarga besar itu.

Sepertinya dia terlambat sore ini, jadi dia hanya memasak menu yang lebih mudah saja. Beberapa menit dia berdiri di depan kulkas yang terbuka. Semua barang tersusun dan tersimpan rapih. Matanya terkunci pada bungkusan pasta di rak sebelah dan langsung terfikir mau menyediakan spaghetti goreng saja. Udang dan cumi di keluarkan dari frizer.

Tangan yang kecil, tetapi cukup gesit saat menyediakan hidangan. Ketika selesai memasak dalam waktu 30 menit. Indah mengambil piring Porcelain berwarna putih dan menaruh spaghetti yang sudah di masak ke atasnya. Lengkap dengan hiasan untuk meningkatkan hasil yang lebih cantik di piringnya. Indah mencapai ponselnya yang bermerek Samsung dan sudah lama belum di ganti yang baru, layarnya juga sudah retak.

Klik!

Bibir yang kering dan pucat itu akhirnya mengukir senyuman. Foto hidangan itu cantik di pandangannya. Secarik kebahagiaan tumbuh mekar di dalam hatinya walaupun hanya sekeping foto.

Tepat jam 18.30 sore hidangan sudah siap sedia di meja makan. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi derum mesin mobil memasuki halaman rumah. Pasti ahli keluarga rumah ini baru pulang kerja. Dan kemudian satu buah lagi mobil memasuki garasi. Indah menyangkutkan kain lap dan mencuci tangannya.

"Laparnya.... makanan sudah siap ..?" Aina langsung terus menuju kedapur.

Indah masih di wastafel, dia hanya terdiam dan kaku. Menarik nafas tetapi tersekat !

"Hanya Spaghetti saja ?! Eh... kita ini lapar tau. Seharian bekerja. Mana nasi ? Lauk dan sayur ?"

"Tidak ada nasi ? Dia ngapain seharian di rumah? Hanya tidur saja kerjaannya " Suami Aina, Arman ikut memasuki ruangan dapur dan mengangkat tutup saji.

"Ribut ribut apa nih?" Sandra turun dari lantai atas ketika mendengar anak dan menantunya pulang.

Anak sulung Halim bekerja sebagai juru teknis di sebuah perusahaan swasta. Istrinya Imelda bekerja sebagai sekertaris di departemen pemerintah. Mereka memiliki seorang anak laki-laki bernama Donny. Sedangkan anak keduanya Aina, bekerja sebagai dosen di universitas swasta sedangkan suaminya Arman bekerja sebagai surveyor bahan. Mereka berdua memiliki anak kembar iaitu Nana dan Nunu.

Dan anak bungsunya.... sepertinya masih belum pulang. Bekerja di sebuah perusahaan besar dan akan di naikkan pangkat menjadi Menejer.

Sandra bangga dengan anak menantunya, masing-masing mempunyai pekerjaan yang menjamin masa depannya. Mereka semua tinggal di rumah warisan merupakan banglo lama peninggalan ayah mertuanya. Suaminya juga sudah meninggal dua tahun yang lalu. Tetapi, hubungan antara anak-anak masih erat dan mereka mau tinggal bersama biarpun mereka masing-masing sudah berkeluarga.

Tetapi....

Ada sesuatu yang menyakitkan mata di rumah itu pada pandangan Sandra.

"Lihatlah perempuan ini mak. Kita semua ini pulang kerja lapar, dia hanya masak spaghetti saja. Sudahma kita semua yang bayar tagihan di dalam rumah ini. Pajak lah semuanya. Dia tinggal senang lenang, satu pekerjaan pun enggak bisa di harapkan. "

Ani mendengus marah, dan memamerkan wajah menyebalkan

"Siang tadi guru telpon, kau terlambat ngambil si kembar kan ? Itu kan pekerjaan kau, kami ini tidak sempat untuk mengurus Nana dan Nunu." Kata Arman dengan lantang, agar Ibu mertuanya dengan mereka tau kalau Indah itu takut dengan Sandra.

"Minta maaf, siang tadi saya terlupa, karena saya sedang masak ." Jawab Indah pelan. Entah kenapa rasa di permalukan membuat keyakinan dirinya menurun hingga merasa berada di bawah telapak kaki. Bahunya juga menciut setiap kali berhadapan dengan mereka.

"Kau pakai alasan memasak segala. Memanglah setiap hari kau harus masak, tapi sudah tugas kau untuk menjemput si kembar. Terus kau tinggal di rumah ini hanya mau tumpang kaki saja menjadi putri..?" Sepertinya marah Aina belum selesai. Matanya merenung tajam ke arah Indah yang membuatnya menciut.

"Ani, sudah lah. Baru pulang kerja kan, capek . Naik dulu mandi. Setelah itu makan malam ini kita keluar makan. Mak juga tidak ada selera mau makan pasta. Fikirnya kita Nana dan Nunu keh...?" Sandra biarpun hanya bersuara tenang cukup untuk mengirim sindiri halus.

"Oke. Kita tunggu kak Halim dan Ka Imel pulang. Kau makan semua ini sendiri." Kata Aina sambil melangkah keluar dari dapur sepertinya marah dia masih tersisa.

Sandra hanya merenung Indah, Arman seperti ingin berkata sesuatu tetapi melihat ibu mertuanya berada di situ akhirnya dia ikut beredar.

"Minta maaf mak, Indah enggak tau kalau semua orang mau makan nasi malam ini." Luah Indah pelan. Kedua belah tangannya yang kasar di genggam erat.

"Kau sengaja kan ? Mau bikin anak anak aku marah saat pulang kerja. Kau tau mereka itu capek ? Setelah itu kau mau tanya dulu ke semua orang mau makan apa. Baru 10 jenis kau mau bikin. Tinggal di rumah bukannya kerja capek pun." Sandra menjawab. Hati yang panasnya terpaksa di tahan. Bimbang jika Indah kabur lagi seperti beberapa tahun yang lalu.

Kali ini Indah tidak bisa bersuara. Hatinya terasa sangat perih. Biarpun sudah terbiasa dengan sindiran seperti itu 5 tahun lamanya. Tinggal di rumah tidak buat pekerjaan yang capek ? Indah mau tertawa takut nanti di bilang gila pulak!!

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh YUNI NA

Selebihnya

Buku serupa

Patah Hati Mendatangkan Pria yang Tepat

Patah Hati Mendatangkan Pria yang Tepat

Renell Lezama
5.0

Tunangan Lena adalah pria yang menyerupai iblis. Dia tidak hanya berbohong padanya tetapi juga tidur dengan ibu tirinya, bersekongkol untuk mengambil kekayaan keluarganya, dan kemudian menjebaknya untuk berhubungan seks dengan orang asing. Untuk mencegah rencana jahat pria itu, Lena memutuskan untuk mencari seorang pria untuk mengganggu pesta pertunangannya dan mempermalukan bajingan yang selingkuh itu. Tidak pernah dia membayangkan bahwa dia akan bertemu dengan orang asing yang sangat tampan yang sangat dia butuhkan. Di pesta pertunangan, pria itu dengan berani menyatakan bahwa dia adalah wanitanya. Lena mengira dia hanya pria miskin yang menginginkan uangnya. Akan tetapi, begitu mereka memulai hubungan palsu mereka, dia menyadari bahwa keberuntungan terus menghampirinya. Dia pikir mereka akan berpisah setelah pesta pertunangan, tetapi pria ini tetap di sisinya. "Kita harus tetap bersama, Lena. Ingat, aku sekarang tunanganmu." "Delon, kamu bersamaku karena uangku, bukan?" Lena bertanya, menyipitkan matanya padanya. Delon terkejut dengan tuduhan itu. Bagaimana mungkin dia, pewaris Keluarga Winata dan CEO Grup Vit, bersamanya demi uang? Dia mengendalikan lebih dari setengah ekonomi kota. Uang bukanlah masalah baginya! Keduanya semakin dekat dan dekat. Suatu hari, Lena akhirnya menyadari bahwa Delon sebenarnya adalah orang asing yang pernah tidur dengannya berbulan-bulan yang lalu. Apakah kesadaran ini akan mengubah hal-hal di antara mereka? Untuk lebih baik atau lebih buruk?

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
5.0

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku