BERKAH SECANTING BERAS

BERKAH SECANTING BERAS

Ariirma

5.0
Komentar
1.3K
Penayangan
40
Bab

Mira adalah seorang ibu rumah tangga yang berhati mulia. Kehidupannya bisa terbilang pas-pasan. Namun, meski begitu, Mira tetap ikhlas saling tolong menolong terutama menolong Abah Karjo, pria renta yang hidup sebatang kara. Bagaimana kelanjutan kisah hidup Mira dan Abah Karjo? Mampukah Mira menjalani hidupnya yang penuh rintangan?

BERKAH SECANTING BERAS Bab 1 Bagian.1. Abah Karjo.

Angin sore berhembus pelan menerpa dedaunan layu yang berserakan di tanah gersang. Suara kicauan burung yang berterbangan terdengar saling bersahutan.

Di ujung jalan setapak, tampak pria renta sedang berjalan tertatih-tatih dengan menggunakan tongkat kayu. Tubuhnya pun sudah sedikit bungkuk. Maklum usianya sudah menginjak Delapan puluh tahun lebih.

Namanya adalah Karjo. Biasa dipanggil abah Karjo. Keseharian abah hanya bekerja sebagai pemulung barang bekas. Kadang jika tubuh ringkihnya kelelahan, abah hanya bisa berdiam dan berbaring dalam rumahnya.

Hidup seorang diri di daerah perantauan membuatnya tidak banyak dikenal warga sekitar. Hanya sebagian yang mengenalnya dengan baik bahkan ada juga sebagian warga yang mau mengasihinya.

Hasil memulung tidaklah seberapa. Jika kesehatan tubuhnya mendukung, abah pergi bekerja mencari barang bekas di sekitar. Ia kumpul hasil memulung itu selama tiga hari lalu ia jual pada orang pengumpul barang bekas.

Hasil penjualan terkadang hanya dapat lima belas ribu. Abah akan selalu bersyukur berapapun uang yang ia dapatkan. Terpenting baginya adalah dapat membeli beras.

Jika tubuhnya sedang tak enak, abah pun terpaksa tidak mencari. Terkadang ia terpaksa menahan lapar karena stok kebutuhannya sudah habis. Jika sudah begitu, abah hanya mampu meminum air putih untuk mengganjal perutnya.

Kaki kurus tanpa mengenakan sandal itu terlihat masih kuat berjalan. Hanya beberapa langkah lagi ia tiba di sebuah rumah yang dituju.

Akhirnya, ia tiba di halaman sebuah rumah yang sederhana. Sejak sebelum sore tadi ia sudah berniat mendatangi rumah tersebut. Tujuannya tidak lain hanya ingin meminta tolong dan ia yakini hanya pemilik rumah inilah yang mau menolongnya.

Abah melangkah pelan memasuki teras depan rumah tersebut. Ia mengangkat tangannya yang terlihat gemetar kemudian mencoba mengetuk pintu dan memberi salam.

Tok tok tok

"Assalamualaikum, Nduk!" ucapnya sambil mengetuk pintu.

Sembari menunggu pintu dibuka, abah mencoba duduk di kursi untuk mengurangi rasa lelahnya. Ia letakkan tongkat kesayangan di samping kursi tempatnya duduk.

"Waalaikumsalam." terdengar sahutan si empunya rumah dari dalam.

Seorang wanita muda beranjak dari kamarnya dan bergegas ke depan untuk membukakan pintu. Pekerjaannya melipat baju di kamar itu pun ia tinggalkan sebentar.

Nama wanita itu adalah Mira. Rumahnya memang tidak begitu jauh dari rumah abah. Mira merupakan seorang ibu rumah tangga. Keseharian ia hanya di rumah merawat rumah, suami dan kedua anaknya.

Krek

Pintu berbentuk persegi itu pun terbuka lebar. Mira melihat pria tua yang menggunakan tongkat duduk di kursi teras rumahnya. Ternyata yang mengetuk pintu rumahnya adalah Abah Karjo

"Eh, Abah. ada apa, Bah?" tanyanya menghampiri Abah.

Mira langsung duduk di samping pria tua itu. Ia memandangnya sambil tersenyum. Di lihatnya, wajah keriput itu pun ikut tersenyum ke arahnya.

Tampak di sebelah mata kanan abah ada kotoran mata yang menempel. Mira tahu, mata abah sudah sangat rabun. Akhirnya ia mengambil handuk kecil yang sedikit usang yang tergantung di leher abah kemudian mengelap kotoran mata tersebut.

"Nggak apa-apa, Nduk. Abah kesini cuma mau minta tolong kalau kamu berkenan." Ucap Abah langsung ke intinya. Kedua tangannya terlihat saling meremas merasa tidak enak dengan apa yang barusan diucapkan pada Mira.

"Minta tolong apa, Bah? InsyaAllah Mira selalu berkenan," jawab Mira kembali sambil tersenyum. Ia akan menolong semampunya, siapa pun yang membutuhkan pertolongannya. termasuk abah, pria tua di hadapannya itu.

Abah karjo tampak mengangguk. Mengambil nafas kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Sejujurnya ia merasa ragu untuk meminta tolong pada Mira. Sebab, dirinya bukan siapa-siapanya bagi wanita itu.

Akan tetapi, karena tak ada pilihan lain, abah pun terpaksa meminta pertolongan. Sebab tubuhnya sungguh tidak mampu lagi untuk berusaha. Akhirnya, dengan pelan dan hati-hati, abah pun mengatakan tujuannya pada wanita tersebut.

"Abah mau minjem beras, Nduk. kalau ada, secanting saja. Dari tadi pagi abah belum makan. karena beras abah habis. InsyaAllah kalau ada rejeki nanti, abah pasti kembalikan." Jelas abah kemudian sambil memandang Mira penuh harap.

Mira tertegun mendengar ucapan abah Karjo. Sekarang hari sudah pukul empat sore. Dari tadi pagi abah belum makan. Hatinya terasa teriris melihat pria renta di hadapannya. "Ya Allah, kasihan Abah," batinnya dalam hati.

"Iya, tunggu sebentar ya, Bah. Mira ambilkan beras dulu," ucapnya tersenyum.

Mira beranjak dari duduknya kemudian pergi kembali ke dalam. Tujuannya mengambil beras di dapur dan memberikannya pada abah Karjo.

Saat tiba di dapur, Mira bergegas mengambil sepiring nasi beserta lauk tumis kangkung dan sambal. Tak lupa ia mengambil beras di dalam wadah tempat ia menyimpan beras.

Saat membuka wadah beras, Mira terdiam.Ternyata beras-nya juga tinggal sedikit cuma secanting. Itupun untuk jatah makan esok hari.

Lama Mira terdiam sambil berpikir. Ia merasa bingung. Suaminya pun belum pulang dari kerja. Jika beras secanting ini ia berikan pada abah Karjo, bagaimana keluarga kecilnya makan esok hari. Ia takut suaminya nanti akan marah. karena mengingat hari ini suaminya pun belum gajian.

Suami Mira hanya bekerja jadi kenek mobil angkutan umum kota. Itu pun tak selalu dapat uang. kadang tiga hari kedepan ia baru mendapatkan uang. Itupun tergantung keberuntungan.

Bila angkot sedang ramai penumpang, dalam satu hari suaminya bisa membawa uang sebesar seratus ribu Rupiah. Terkadang bila lagi sepi, suaminya hanya bisa membawa uang sebesar dua puluh ribu Rupiah. Terkadang pulang suaminya tidak membawa uang sama sekali.

Dengan niat dan Bismillah, akhirnya Mira berniat menyedekahkan satu-satunya harta secanting beras pada abah Karjo.

Soal esok hari, ia akan mencari. Apapun dan bagaimanapun ia harus berusaha. Yang penting baginya anak-anaknya bisa makan.

Mira lantas membungkus beras secanting tersebut dengan plastik kemudian bergegas beranjak pergi ke luar menemui abah Karjo kembali.

Sambil tersenyum, Mira memberikan sepiring nasi tadi serta beras dalam plastik tersebut pada abah karjo.

"Ini Bah, berasnya. nggak usah dikembalikan, Bah. Mira ikhlas. Dan juga ini ada nasi beserta lauk untuk makan Abah nanti malam," ucap Mira sambil memberikan kantong plastik dan sepiring nasi.

Mata abah Karjo berkaca-kaca menahan rasa haru dan syukur. Hatinya senang dan merasa sangat berterimakasih pada wanita di hadapannya.

"Terimakasih, Nduk. Mudah-mudahan rejeki nduk melimpah dan barokah."

"Amin, Bah," sahut Mira mengaminkan ucapan abah Karjo.

" Kalau begitu abah pulang dulu, Nduk! Bentar lagi hari mau malam." Ucapnya lagi mohon pamit untuk pulang.

"Iya, Bah. hati-hati di jalan." Balas Mira sambil menganggukkan kepala.

Abah karjo pun pulang. Sambil memegang kantong plastik dan sepiring nasi, abah tersenyum kemudian berlalu pergi berjalan mengenakan tongkatnya menuju pulang ke rumahnya.

Lanjutkan Membaca

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gairah Liar Dibalik Jilbab

Gemoy

Kami berdua beberapa saat terdiam sejanak , lalu kulihat arman membuka lilitan handuk di tubuhnya, dan handuk itu terjatuh kelantai, sehingga kini Arman telanjang bulat di depanku. ''bu sebenarnya arman telah bosan hanya olah raga jari saja, sebelum arman berangkat ke Jakarta meninggalkan ibu, arman ingin mencicipi tubuh ibu'' ucap anakku sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh di atas tempat tidur. ''bruuugs'' aku tejatuh di atas tempat tidur. lalu arman langsung menerkam tubuhku , laksana harimau menerkam mangsanya , dan mencium bibirku. aku pun berontak , sekuat tenaga aku berusaha melepaskan pelukan arman. ''arman jangan nak.....ini ibumu sayang'' ucapku tapi arman terus mencium bibirku. jangan di lakukan ini ibu nak...'' ucapku lagi . Aku memekik ketika tangan arman meremas kedua buah payudaraku, aku pun masih Aku merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu tongkatnya arman sudah benar-benar tegak berdiri. ''Kayanya ibu sudah terangsang yaa''? dia menggodaku, berbisik di telinga. Aku menggeleng lemah, ''tidaaak....,Aahkk...., lepaskan ibu nak..., aaahk.....ooughs....., cukup sayang lepaskan ibu ini dosa nak...'' aku memohon tapi tak sungguh-sungguh berusaha menghentikan perbuatan yang di lakukan anakku terhadapku. ''Jangan nak... ibu mohon.... Tapi tak lama kemudian tiba-tiba arman memangut bibirku,meredam suaraku dengan memangut bibir merahku, menghisap dengan perlahan membuatku kaget sekaligus terbawa syahwatku semakin meningkat. Oh Tuhan... dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak pernah melakukannya seenak ini, tapi dia... Aahkk... dia hanya anakku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi............ Oohkk...oooohhkkk..... Tubuhku menggeliat! Kenapa dengan diriku ini, ciuman arman terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. "Aahkk... aaahhk,," Tangan itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, Aahkk... hentikan, cairanku sudah keluar. Lidah arman anakku menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar. Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. "Aaahkk... Nak....!"

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
BERKAH SECANTING BERAS BERKAH SECANTING BERAS Ariirma Lainnya
“Mira adalah seorang ibu rumah tangga yang berhati mulia. Kehidupannya bisa terbilang pas-pasan. Namun, meski begitu, Mira tetap ikhlas saling tolong menolong terutama menolong Abah Karjo, pria renta yang hidup sebatang kara. Bagaimana kelanjutan kisah hidup Mira dan Abah Karjo? Mampukah Mira menjalani hidupnya yang penuh rintangan?”
1

Bab 1 Bagian.1. Abah Karjo.

04/08/2023

2

Bab 2 Bagian.2. Bagaimana dengan besok

04/08/2023

3

Bab 3 Bagian. 3. Kerja Mencuci Baju.

04/08/2023

4

Bab 4 Bagian. 4. Rezeki Anak.

04/08/2023

5

Bab 5 Bagian. 5. Lima Jam Lagi.

04/08/2023

6

Bab 6 Bagian. 6. Allah Maha Kaya.

04/08/2023

7

Bab 7 Bagian. 7. Berbagi Rezeki Ke Tetangga.

04/08/2023

8

Bab 8 Bagian. 8. Ke rumah Abah.

04/08/2023

9

Bab 9 Bagian. 9. Makan Bersama Abah.

04/08/2023

10

Bab 10 Bagian. 10. Karma Pasti Berlaku.

05/08/2023

11

Bab 11 Bagian. 11. POV. Bu Rina.

05/08/2023

12

Bab 12 Bagian. 12. Di sapa Suami Bu Rina.

05/08/2023

13

Bab 13 Bagian. 13. Ancaman Bu Rina

05/08/2023

14

Bab 14 Bagian. 14. Tak Tahan Lagi.

05/08/2023

15

Bab 15 Bagian. 15. Apa Abah Sakit

05/08/2023

16

Bab 16 Bagian. 16. ATM Tabungan Abah.

05/08/2023

17

Bab 17 Bagian. 17. Ritual Malam.

08/08/2023

18

Bab 18 Bagian. 18. Mengecek Kartu

08/08/2023

19

Bab 19 Bagian. 19. Saldo Tabungan

16/08/2023

20

Bab 20 Bagian. 20. Abah pingsan

17/08/2023

21

Bab 21 Bagian. 21. Abah ingin pulang.

18/08/2023

22

Bab 22 Bagian. 22. Merawat Abah

20/08/2023

23

Bab 23 Bagian. 23. Bonus Tabungan

21/08/2023

24

Bab 24 Bagian. 24. Tiga Juta Rupiah

22/08/2023

25

Bab 25 Bagian. 25. Rencana besok

23/08/2023

26

Bab 26 Bagian. 26. POV. Farhan 1.

24/08/2023

27

Bab 27 Bagian. 27. POV. Farhan 2.

26/08/2023

28

Bab 28 Bagian. 28. Kursi Roda Untuk Abah.

29/08/2023

29

Bab 29 Bagian. 29. Menengok Rumah Abah.

31/08/2023

30

Bab 30 Bagian. 30. Namanya Diyah.

02/09/2023

31

Bab 31 Bagian. 31. Maling beraksi.

04/09/2023

32

Bab 32 Bagian. 32. Meminta bantuan.

09/09/2023

33

Bab 33 Bagian. 33. Musibah kebakaran.

09/09/2023

34

Bab 34 Bagian. 34. Mira di tangkap.

13/09/2023

35

Bab 35 Bagian. 35. Menjenguk Mira.

13/09/2023

36

Bab 36 Bagian. 36. Pengakuan Haris.

13/09/2023

37

Bab 37 Bagian. 37. Memaafkan Haris.

17/09/2023

38

Bab 38 Bagian. 38. Bebas dari penjara.

17/09/2023

39

Bab 39 Bagian. 39. Tertangkapnya Bu Rina.

17/09/2023

40

Bab 40 Bagian. 40. Rencana pembangunan Masjid.

17/09/2023