Desy Cichika Harish
7 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Desy Cichika Harish
Dosa Dalam Pelukan Brondong
Romantis Warning: Area 21+
Sheana, 35 tahun. Cantik, elegan, istri sah dari seorang pengusaha kaya raya. Tapi hidupnya sunyi. Pernikahannya dingin. Suaminya nyaris tak pernah peduli.
Sampai suatu malam, ia diajak ke klub malam oleh sahabatnya. Di sanalah ia bertemu Ellandra, 23 tahun-pria tampan, penggoda, dan jauh lebih muda. Bukan gigolo, tapi juga bukan pria biasa.
Ellandra tahu caranya menyentuh hati wanita... termasuk hati Sheana.
Awalnya hanya permainan. Tapi lama-lama, Sheana mulai mempertaruhkan segalanya. Termasuk pernikahannya.
"Shea... kamu tahu nggak, kulit kamu ini kayak..." bisiknya, lalu menggigit manja sisi pinggang Sheana, membuat wanita itu melenguh kecil.
"...kayak dosa yang pengen aku ulang-ulang tanpa tobat."
Sheana mengigit bibir, menahan tawa dan rasa geli.
Tapi cinta mereka bukan tanpa batas.
Ada suami yang menyimpan rahasia besar.
Ada pacar yang tak ingin ditinggalkan.
Dan ada masa lalu yang bisa menghancurkan semuanya.
Ini bukan tentang siapa yang lebih muda atau lebih tua. Tapi siapa yang paling mampu membuatmu merasa hidup.
Terjebak Cinta dan Gairah Mantan Suami
Romantis Warning: Area 21+
Nazharina pikir, perceraiannya dengan Arian adalah akhir dari semua penderitaan. Sepuluh tahun menikah tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa kehangatan-itu sudah cukup membuatnya ingin menyerah. Jadi, saat gugatan cerai akhirnya dikabulkan, Nazharina merasa bebas.
Tapi siapa sangka...
Arian tidak pernah benar-benar melepaskannya.
Saat Nazharina melanjutkan hidup, diam-diam Arian selalu berada di sana. Memastikan mantan istrinya baik-baik saja, memberikan pekerjaan tanpa sepengetahuan Nazharina, bahkan menempatkan bodyguard untuk menjaganya.
Lalu suatu hari, saat Arian merasa sudah siap, ia muncul kembali.
Sebagai bos besar tempat Nazharina bekerja.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Nazharina terpaku melihat pria yang dulu pernah menjadi suaminya berdiri di hadapannya dengan jas mahal dan aura mendominasi.
"Aku pemilik hotel ini," jawab Arian santai, namun tatapan matanya menusuk tajam.
Sejak saat itu, semuanya berubah.
Arian, yang dulu dingin dan acuh tak acuh, kini menjadi pria yang posesif, protektif, dan tak segan menunjukkan ketertarikannya. Dia mengontrol siapa yang boleh mendekati Nazharina, mengawasinya dengan tatapan penuh makna, bahkan terang-terangan menunjukkan kecemburuannya.
"Jaga sikapmu, Nazharina. Aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan pria lain."
Nazharina terkejut. "Arian, kau tidak berhak mengatur hidupku lagi!"
Arian mendekat, senyumnya tipis tapi matanya gelap. "Benarkah? Tapi kenapa kau masih membiarkan aku menyentuhmu seperti ini?"
Nazharina terdiam.
Dia tahu, Arian berubah. Tapi yang tidak ia tahu adalah...
Apakah perubahan itu benar-benar berarti Arian mencintainya?
Atau hanya bentuk lain dari kepemilikan dan obsesi?
Dalam kebingungannya, Nazharina harus menghadapi kenyataan bahwa mungkin, perpisahan mereka hanyalah awal dari kisah yang lebih rumit.
Karena jika Arian sudah menginginkan sesuatu...
Dia tidak akan membiarkan itu pergi begitu saja.
Anda mungkin suka
Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
Keely Alexis Aku menarik tunanganku dari sebuah kecelakaan mobil beberapa detik sebelum mobil itu meledak. Api meninggalkan punggungku penuh dengan luka bakar yang mengerikan, tapi aku berhasil menyelamatkan nyawanya. Selama empat tahun dia koma, aku menyerahkan segalanya untuk merawatnya.
Enam bulan setelah dia sadar, dia berdiri di atas panggung konferensi pers untuk kembalinya. Seharusnya dia berterima kasih padaku. Sebaliknya, dia membuat pernyataan cinta yang megah dan romantis untuk Stella, kekasih masa kecilnya, yang tersenyum dari bangku penonton.
Keluarganya dan Stella kemudian membuat hidupku seperti di neraka. Mereka menghinaku di sebuah pesta, merobek gaunku untuk memperlihatkan bekas lukaku. Ketika aku dipukuli di sebuah gang oleh preman yang disewa Stella, Adrian menuduhku mengarang cerita untuk mencari perhatian.
Aku terbaring di ranjang rumah sakit, memar dan hancur, sementara dia bergegas ke sisi Stella karena wanita itu "ketakutan". Aku tak sengaja mendengar dia mengatakan bahwa dia mencintai Stella dan bahwa aku, tunangannya, tidak berarti apa-apa.
Semua pengorbananku, rasa sakitku, cintaku yang tak tergoyahkan—semuanya tidak ada artinya. Baginya, aku hanyalah utang yang harus dia bayar karena rasa kasihan.
Di hari pernikahan kami, dia menendangku keluar dari limosin dan meninggalkanku di pinggir jalan tol, masih dalam gaun pengantinku, karena Stella pura-pura sakit perut.
Aku melihat mobilnya menghilang. Lalu aku memanggil taksi.
"Ke bandara," kataku. "Dan tolong lebih cepat."