icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Purba Mahkota

Bab 8 Chapter 7 - Yuk, Menari Bersamaku

Jumlah Kata:1159    |    Dirilis Pada: 06/11/2022

urba ... mema

IE

a utama kas

ngkai emas dan bohlam permata, ... tuk menerapkan cahaya secara merata mengenai

bersama-sama dengan Purb

ja, ratu, juga para selir ke pesta debutan tahunan ini, ... semuanya, tidak ada yang tidak membungkukkan

rta orang-orang yang menjadi pendampingnya itu hadir, ... ketujuh putri dengan alaminya langsung menyebarka

ari bulan, mata Saya telah diberka

ma tidak melihat Anda.

Putri! Anda bagaikan duplikatnya pe

seperti yang

yang ke tujuh, tempat di mana Purbasari berada itulah, ... yang tampaknya menja

... untuk sang kakak

rian di tengah keramaian ini, malahan tak ada barang seorang pun

dnya,

ng suka bersosialisasi. Tetapi, untuk saat-saat

embua

an netra kuning kejinggaan milik Purbamanik, ... yang jelas-j

Tida

angi dia sekarang walau hanya seo

erlihat kesepian y

ktu yan

begitu

aki-laki muda di belakangnya, ... secara otomatis, Purbararang langsung menunjukka

.. senyuman di bibirnya langsung buyar begitu menyadari akan siapa sosok orang yang kini balik menata

bur Anda di waktu yang sa

h

masa sesaat, ... Purbararang tak meny

beku, si putri muda itu hanya mampu berdiri

i ciri sari ketampanan berupa tahi lalat satu di bawah bibir sebelah kanan, dan dua di bawah

masan, cerah seperti pantulan sinar mentari pagi yang menyinari gel

badannya meraih tangan Purbararang, ... tuk kemudian berak

kepada Anda, ... Nyai Putri. Atau, bolehka

i bulu mata yang panjang lagi lentik, munculah netra merah men

berekspresi kaku itu, sekarang telah terang-terangan memberikannya sebu

Rar

US

g telah mengubah tunangannya, Indra Jaya, ... yang lagi-lagi dulunya adalah seorang bocah kelewat kikuk, saat ini tiba-tiba menjadi pemuda yang terlewat atraktif

anggung! Ini ...

ertemu, maka sekiranya ... apa yang haru

tegang

wajah, sampai-sampai membuatnya berhasil menjadi terlihat seperti kepiting rebus, ... Indra Jaya menangkup wajah sang tunangan, dan l

antikmu

rang menjadi tak mendengarkan dengan baik

g? Padahal, di antala pala Putli yang tujuh, yang paling mengun

n mencoba untuk mendekat Nyai Puteri, ada ningen yang sanga

aja membicarakannya, melirikkan mata merahnya tuk menunjukkan sorot mata yang tajam la

yang tengah menantinya untuk mati di tempat langsung berhenti begit

ng itu sudah pasti akan merasa tertekan sa

sa debuta

an debutan hari ini, ... yang dikhususkan untuk anak perempuan berusia 15 tahun, dan anak laki-laki berusia 17 tahun dala

ranya, Purbamani

ah aku

ke arahnya dengan lengan lain yang ditekuk di bel

i debutan, wahai tunanganku yang sanga

juga perlakuannya yang sangat menawan, ... tentu saja tak dapat

ering yang ia bisa, jika ia sendiri saja tak mau men

hai tunanganku yang tam

ling bertaut dan mulai genggam-menggenggam, secara alami ... Purbararang tersenyum kecil b

denganmu lagi,

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Purba Mahkota
Purba Mahkota
“Kalah menjadi abu. Menang menjadi arang. Ini adalah kisah tentang pertikaian sengit di antara para putri yang ikut serta di dalam perebutan mahkota Putri Purba. Tujuh bersaudara yang sedari kecil hidup bersama-sama dengan bahagia, ... mulai menjalani hubungan persaudaraan yang kacau nan berantakan, ... dikala mahkota yang didamba-damba telah jatuh ke tangan putri yang bahkan sama sekali tak mengharapkan takhta kerajaannya sedari awal. Akankah takhta kembali beralih kepada orang yang sudah seharusnya menerimanya sedari awal? Ataukah sang putri yang dijatuhi bingkaian hiasan kepala terbuat dari logam mulia, lengkap dengan intan dan juga permata itulah, ... yang pada akhirnya akan tetap menjadi pemimpin kerajaan? "Apa kau ingin tahu, kesalahan terbesar apa yang pernah dibuat olehku di sepanjang hidupku ini?" Sang putri tertua kerajaan ini, si Putri Mahkota yang bahkan tak dapat menggapai gelaran mahkotanya lagi, Putri Purbararang, ... bertanya dengan wajah yang pahit terhadap sang putri baik hati, yang saat ini tengah berdiri berhadapan dengannya diluar sel penjara. "Kesalahan terbesarku adalah, pernah membuat hatiku yang sudah hancur ini, untuk menyayangimu dengan segenap hati ...." Dia berucap lirih semacam itu, diiringi dengan lelehan air mata. "... Purbasari." Air mata keputusasaan yang akan senantiasa ia dapatkan, dikala berhasil dikalahkan oleh adik kandungnya sendiri, Putri Purbasari, lagi dan lagi.”