icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Stempel Miskin untuk Keluargaku

Bab 6 Tanah Bapak

Jumlah Kata:1248    |    Dirilis Pada: 10/06/2022

na harta itu harus kamu jaga, sementara

🍀

aaf, terdengar sampai ke dapur. Hingga bapak men

tika langsung membekap mulutk

kemari!" pangg

menoyor kepalaku pelan, i

ak ketika kami sudah

a Inah, atas apa yang tela

sanakan. Kulihat emak, sebagai tanda protes. Emak hanya mengangguk, menyetujui kalimat bapak. Kuperbaiki pos

emakin keras. Aku yang kebingungan langsung

alah, karena sudah mempermalukan Mbok di kamp

kantongan kresek hitam di sudut ruangan. Taufik sepertinya sadar, ia mera

Mak?" tanya Taufik, e

🍀

rekomendasi tersebut? Sepengetahuanku, untuk melanjutkan ke perguruan tinggi tidaklah perlu menggunakan surat rekom dari camat, cukup dari sekolah

TV yang masih berukuran kotak tersebut. Taufik menyerngitkan dahinya seraya me

apa,

k Inah pagi tadi. Bukannya Nia mau ikut campur, tapi ... ." kugantun

ari dapur, membawa sepiring pisang goren

apak memperbaiki

utur bapak seraya memperbaiki posisi duduknya

apak ada pegangan uang, karena baru panen. Tetapi saat Ipul berumur dua puluh lima tahun, dia melarikan seorang gadis, Inah. Kel

?!" potong Taufik cepat, terl

juga, lek," bapak ter

kembali tanah yang mereka jual. Karena Bapak kasihan, dan kita dianjurkan tolong menolong, Bapa

Pak?" tu

duk," sah

bahwa ia tidak sanggup untuk membelinya kembali. Waktu itu, ia mengatakan dan meminta izin pada Bapak, u

setelah kejadian kemarin, ia merasa bersa

ngar penjelasan ba

erban. Kejadian kebakaran saat itu, ketika Siti, anak mbok Inah yang masih terjebak di kobaran api ruma

kin, donk, Pak," ungk

aik ngomong

a, Pak? Mbok Inah, masih tin

Memangnya mau kema

ntuk selanjutnya mbok Inah tidak akan b

🍀

ntuk sarapan, sambal pete dan sayur bayam rebus ditambah tempe mendoan. Sarapan se

tidak ada jadwa

oh, te

, Mak. Kecuali, ada kepentingan dan panggilan dari seko

mu, Ilham, nggak

ak menghentik

dang berada di warung makan. Bang Ilham memperhatikan sepasang s

kupelankan suaraku, agar t

sama kakakmu, Abang masih belum bisa membuka

mun," emak memukul pundakku p

gak Emak tanya

kan gambar video. Handphone yang kubeli masih jauh dari kata bagus, merk yang masih belum diakui oleh pasar nasional, gambar ya

ang Ilham sedang mengg

" ujarnya tersenyum, men

san anak emak. Mau berangkat kerja, lek

k. Emak

lek? Cucu Emak, sehat? Betah di pesantren? J

dipotong tadi. Taufik datang dari arah pintu dapur, dengan sarung yang masih

ng," kembaran bang Ilham itu me

ia

biasanya, bang Ilham memanggil namaku. I

nya, jangan juga dipukulin siswanya," bang

ama Taufik, lanjutkan sekolah. Insyaallah, Abang ada tabungan. Jangan

n punggung tangan, begitupun Taufik, ia tertu

nangis, ke

ih," ujarku seraya memasang wajah sedih yang kub

a. Salam sama bapak," ucapnya seraya

*

o F, beranjak ke dapur

tu dapur, dering t

lham m

laikum, Ban

m," suara pria yang tidak kuken

e bang Ilham, kan" tanyaku ragu, ad

hone yang kugenggam terjatuh set

🍀

sambung l

k lagi ya Mak un

pa ya? Hemm. Makan g

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Stempel Miskin untuk Keluargaku
Stempel Miskin untuk Keluargaku
“"Bayar dulu hutang-hutang yang kemarin! Baru emak bisa belanja lagi disini." Hatiku terkejut mendengar seseorang menghujat emak. Empat tahun tidak pulang ternyata begitu banyak rahasia yang disimpan rapat keluargaku. Tidak hanya dari warga, pun dengan keluarga dekat ku sendiri. Miskin? Jika hanya dilihat dari harta siapapun pasti bisa menilai kami orang tak punya. Rahasia lain, ternyata bapak memiliki sebidang tanah. Benarkah? Bisakah aku membuktikan jika dengan kaya 'hati', semua bisa kami miliki agar tidak pernah dipandang sebelah mata lagi oleh mereka.”
1 Bab 1 Pulang Kampung 2 Bab 2 Hutang di Bayar Lunas3 Bab 3 Rahasia yang Mulai Terungkap4 Bab 4 Suara Merdu dari Surau5 Bab 5 Api dan Airmata6 Bab 6 Tanah Bapak7 Bab 7 Baju Seragam8 Bab 8 Tamu Tidak di Undang9 Bab 9 Gunawan Sukardi, Si Kepala Desa10 Bab 10 Dia, Camat