Hasrat Liar Darah Muda

Hasrat Liar Darah Muda

kodav

5.0
Komentar
181.3K
Penayangan
334
Bab

Firhan Ardana, pemuda 24 tahun yang sedang berjuang meniti karier, kembali ke kota masa kecilnya untuk memulai babak baru sebagai anak magang. Tapi langkahnya tertahan ketika sebuah undangan reuni SMP memaksa dia bertemu kembali dengan masa lalu yang pernah membuatnya merasa kecil. Di tengah acara reuni yang tampak biasa, Firhan tak menyangka akan terjebak dalam pusaran hasrat yang membara. Ada Puspita, cinta monyet yang kini terlihat lebih memesona dengan aura misteriusnya. Lalu Meilani, sahabat Puspita yang selalu bicara blak-blakan, tapi diam-diam menyimpan daya tarik yang tak bisa diabaikan. Dan Azaliya, primadona sekolah yang kini hadir dengan pesona luar biasa, membawa aroma bahaya dan godaan tak terbantahkan. Semakin jauh Firhan melangkah, semakin sulit baginya membedakan antara cinta sejati dan nafsu yang liar. Gairah meluap dalam setiap pertemuan. Batas-batas moral perlahan kabur, membuat Firhan bertanya-tanya: apakah ia mengendalikan situasi ini, atau justru dikendalikan oleh api di dalam dirinya? "Hasrat Liar Darah Muda" bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah kisah tentang keinginan, kesalahan, dan keputusan yang membakar, di mana setiap sentuhan dan tatapan menyimpan rahasia yang siap meledak kapan saja. Apa jadinya ketika darah muda tak lagi mengenal batas?

Hasrat Liar Darah Muda Bab 1 Detik-Detik yang Menentukan

Tiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn!

Suara klakson panjang itu seperti alarm kiamat. Gendang telingaku terasa seperti digetok palu godam, memaksa otakku-yang sedang melayang entah ke mana-kembali menjejak realitas. Panik, aku menoleh ke belakang. Barisan kendaraan berderet seperti parade semut, tapi yang ini penuh kemarahan. Raungan klakson mereka menyuarakan satu pesan yang sama: "Gerak, woy!"

Dan sialnya, biang keroknya adalah aku. Atau lebih tepatnya, motor sport hitam mengilap 150cc-ku, yang berdiri gagah tak bergerak di barisan paling depan lampu merah. Lampu hijau sudah lama menyala, tapi aku malah ngelamun. Dengan terburu-buru, aku memutar gas, melesat seperti pembalap kelas dunia yang telat briefing.

Rasa malu? Ada, jelas. Tapi rasa bersalah lebih besar. Orang-orang di belakang pasti sudah mendampratku dalam hati, bahkan mungkin ada yang mendoakan ban motorku kempes.

"Maaf, maaf!" gumamku pelan, tentu saja mereka tak mungkin mendengar.

Namaku Firhan Ardana, 24 tahun, calon anak magang di sebuah perusahaan ternama di kota ini. Kata "calon" itu penting, karena aku masih dalam masa percobaan tiga bulan. Kalau masa percobaan ini gagal, tamat sudah riwayatku. Bayangkan, harus balik lagi ke kampung dengan status pengangguran. Malu setengah mati.

Soal penampilan, aku cowok standar Indonesia: tinggi 170 cm, berat badan normal. Kalau tampang? Itu relatif. Ada yang bilang mukaku ganteng, ada yang bilang manis, dan ada juga yang bilang sangar. Entah kenapa, aku curiga mereka yang bilang "sangar" itu ngincer rokokku waktu SMA. Tapi intinya, aku bukan levelnya artis sinetron, apalagi Brad Pitt.

Hari ini, aku sedang dalam perjalanan menuju acara reuni SMP. Lokasinya di gedung mewah di pusat kota. Sebenarnya, reuni ini acara tahunan. Tapi baru kali ini aku punya cukup keberanian untuk datang. Mungkin karena sekarang aku sudah jadi Firhan yang berbeda. Dulu, di masa SMP, aku anak cupu yang sering nggak dianggap. Untungnya, zamanku belum ada istilah "cyberbullying," jadi paling parah aku cuma dijutekin di kantin.

Reuni ini, bagiku, adalah seperti gladi resik hidup baru di kota ini. Setelah bertahun-tahun jadi anak rantau karena ikut ibuku pindah, akhirnya aku kembali. Kota ini tempat semua kenangan masa kecil tersimpan, termasuk... dia.

"Aku merindukanmu..." gumamku lirih, kata-kata itu seperti tercecer dari sudut hatiku yang penuh debu.

Aku melirik jam tangan. Telat 30 menit. Gawat. Acara ini memang bukan wisuda, tapi siapa sih yang mau masuk gedung sambil diliatin semua orang? Tarikan gas motorku semakin dalam, melesat membelah lautan kendaraan yang entah kenapa terasa lebih ganas hari ini.

Dari jauh, seorang pengendara ojek online tiba-tiba menyalip dengan kecepatan rudal, membuatku refleks mengerem. "Bangke!" Hampir saja aku cium trotoar.

Zakarta-atau apa pun nama kota ini-memang masuk daftar lima besar kota termacet di dunia. Dunia, bro! Bayangkan hidup di tempat di mana setiap hari kamu harus berjibaku dengan kendaraan seperti ini. Ditambah jalan berlubang dan lampu lalu lintas yang kayaknya cuma pajangan. Lucunya, tiap tahun kita bayar pajak kendaraan, tapi hasilnya? Nihil. Kadang, aku membayangkan ada semacam "monster aspal" yang setiap malam memakan jalan-jalan kita.

Gedung itu, mercusuar nostalgia yang menjulang ke angkasa, sudah memanggil-manggil dari kejauhan. Tinggal satu sandungan bernama lampu merah lagi, dan gerbang dimensi waktu yang membawaku kembali ke masa lalu itu akan terbuka lebar. Tapi tunggu... ada yang aneh.

Di tiang lampu merah itu, bukan lagi angka digital membosankan yang menghitung mundur. Melainkan sebuah layar digital raksasa yang seakan mencuri perhatian semua pengendara. Di sana, sebuah lingkaran hijau berdenyut, seperti jantung alien yang sekarat, perlahan-lahan mengempis. Setiap detaknya menggerogoti ukuran lingkaran itu, dan di tengahnya, angka-angka sisa waktu berkedip-kedip. Inovasi Dinas Perhubungan, katanya. Biar pengendara nggak cuma bengong, tapi ikut merasakan sensasi bom waktu menjelang lampu merah menyala. Sebuah ide brilian, kalau saja jantungku tidak ikut berpacu lebih cepat dari biasanya.

04

Melihat pertunjukan lampu hijau yang tinggal beberapa kedipan lagi, insting pembalap jalanan dalam diriku berteriak. Empat detik? Cukup! Pedal gas kutekan lebih dalam, mengirimkan getaran kecil ke seluruh tubuh. Aroma knalpot motorku bercampur dengan aroma kopi dari warung di pinggir jalan. Semoga dewi fortuna masih berpihak padaku untuk menerobos lampu kuning yang sebentar lagi pasti muncul bagai wasit yang meniup peluit panjang.

03

Semakin dekat ke gedung tempat reuni, semakin ramai pula para 'penumpang gelap' di kepala ini. Wajah-wajah masa lalu berkelebat, beberapa samar, beberapa masih jelas terukir. Bagaimana ya rupa mereka sekarang? Apakah si Budi masih setia dengan rambut gondrongnya? Apa kabar si Ani yang dulu selalu membawa buku tebal ke mana-mana? Mampukah aku mengingat semua nama yang pernah menghiasi buku tahunan sekolah? Yang lebih menakutkan, apakah mereka masih mengingat si 'aku' yang dulu? Bisakah aku menyatu kembali dengan gerombolan masa lalu itu? Mungkinkah mereka menerima 'aku' yang sekarang? Atau jangan-jangan malah aku jadi seperti alien yang salah mendarat di pesta mereka? Argh... mending aku putar balik saja deh. Urusan adaptasi memang bukan keahlianku sejak lahir. Rasanya seperti mencoba berbahasa klingon di tengah konser dangdut. Terlalu banyak variabel, terlalu banyak potensi awkward moment.

02

"Huuuuussshhh...!" Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha mengusir kawanan pikiran negatif yang sudah siap berpesta di otakku. "Ini cuma reuni, Bambang! Bukan audisi pencarian jodoh!" Aku mencoba mengaktifkan mode 'bodo amat' level dewa. Apapun yang terjadi setelah lampu merah ini, kuterima dengan lapang dada... atau setidaknya, mencoba terlihat lapang dada. Seperti pasrah saat kalah main batu-gunting-kertas melawan bocah lima tahun.

01

Hari ini reuni dengan teman-teman sepermainan yang kini wajahnya mungkin sudah banyak bermain kerutan. Besok, tantangan baru menanti: beradaptasi dengan spesies baru di tempat magang. Dua hari berturut-turut ini akan menjadi debutku di panggung kehidupan yang baru. Semoga saja sutradaranya tidak iseng memberiku peran figuran tanpa dialog. Semoga saja semua skenario berjalan sesuai harapan. Semoga saja...

00

Lingkaran hijau itu benar-benar habis tak bersisa, seperti kuota internet di akhir bulan. Layar digital itu berganti kostum, dari hijau cerah menjadi oranye menyala, sebuah peringatan terakhir yang diabaikan oleh sebagian besar pengendara di negeri ini. Detik berikutnya, warna merah membara mendominasi layar, sebuah titah tak tertulis yang memaksa semua roda berhenti berputar. Waktu seolah melambat, seperti adegan slow motion dalam film action, saat sang jagoan berhasil menjinakkan bom di detik-detik terakhir. Atau seperti saat pelari maraton melihat garis finish yang tinggal beberapa langkah lagi. Semuanya terasa dramatis.

Tapi, namanya juga hidup, seringkali lebih mirip sinetron azab daripada film superhero. Kenyataan seringkali punya selera humor yang kejam. Kulihat posisi motorku masih beberapa meter dari garis putih sakral sebelum lampu merah. Bukan di zona aman seperti yang kubayangkan.

"Kampret..." Umpatan lirih lolos dari bibirku. Nasi sudah jadi bubur ayam... dan aku sudah lapar. Tanggung! Dengan mental preman pasar yang ogah rugi, aku semakin memelintir gas. Menerobos lampu merah yang baru saja berubah warna. Sebuah keputusan brilian, Gassss!

Di saat yang bersamaan, entah dari mana datangnya, sebuah motor matic meluncur dari arah kanan dengan kecepatan penuh, layaknya roket nyasar yang lupa tujuan. Pengendara motor itu, seorang bapak-bapak dengan jaket ojek online, terlihat kaget bukan main. Wajahnya pucat pasi, matanya melotot seperti melihat hantu mantan. Dan akhirnya...

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!

Lanjutkan Membaca

Buku lain oleh kodav

Selebihnya
Terjebak Gairah Terlarang

Terjebak Gairah Terlarang

Romantis

5.0

WARNING 21+‼️ (Mengandung adegan dewasa) Di balik seragam sekolah menengah dan hobinya bermain basket, Julian menyimpan gejolak hasrat yang tak terduga. Ketertarikannya pada Tante Namira, pemilik rental PlayStation yang menjadi tempat pelariannya, bukan lagi sekadar kekaguman. Aura menggoda Tante Namira, dengan lekuk tubuh yang menantang dan tatapan yang menyimpan misteri, selalu berhasil membuat jantung Julian berdebar kencang. Sebuah siang yang sepi di rental PS menjadi titik balik. Permintaan sederhana dari Tante Namira untuk memijat punggung yang pegal membuka gerbang menuju dunia yang selama ini hanya berani dibayangkannya. Sentuhan pertama yang canggung, desahan pelan yang menggelitik, dan aroma tubuh Tante Namira yang memabukkan, semuanya berpadu menjadi ledakan hasrat yang tak tertahankan. Malam itu, batas usia dan norma sosial runtuh dalam sebuah pertemuan intim yang membakar. Namun, petualangan Julian tidak berhenti di sana. Pengalaman pertamanya dengan Tante Namira bagaikan api yang menyulut dahaga akan sensasi terlarang. Seolah alam semesta berkonspirasi, Julian menemukan dirinya terjerat dalam jaring-jaring kenikmatan terlarang dengan sosok-sosok wanita yang jauh lebih dewasa dan memiliki daya pikatnya masing-masing. Mulai dari sentuhan penuh dominasi di ruang kelas, bisikan menggoda di tengah malam, hingga kehangatan ranjang seorang perawat yang merawatnya, Julian menjelajahi setiap tikungan hasrat dengan keberanian yang mencengangkan. Setiap pertemuan adalah babak baru, menguji batas moral dan membuka tabir rahasia tersembunyi di balik sosok-sosok yang selama ini dianggapnya biasa. Ia terombang-ambing antara rasa bersalah dan kenikmatan yang memabukkan, terperangkap dalam pusaran gairah terlarang yang semakin menghanyutkannya. Lalu, bagaimana Julian akan menghadapi konsekuensi dari pilihan-pilihan beraninya? Akankah ia terus menari di tepi jurang, mempermainkan api hasrat yang bisa membakarnya kapan saja? Dan rahasia apa saja yang akan terungkap seiring berjalannya petualangan cintanya yang penuh dosa ini?

Gairah Liar Perselingkuhan

Gairah Liar Perselingkuhan

Romantis

5.0

Kaindra, seorang pria ambisius yang menikah dengan Tanika, putri tunggal pengusaha kaya raya, menjalani kehidupan pernikahan yang dari luar terlihat sempurna. Namun, di balik semua kemewahan itu, pernikahan mereka retak tanpa terlihat-Tanika sibuk dengan gaya hidup sosialitanya, sering bepergian tanpa kabar, sementara Kaindra tenggelam dalam kesepian yang perlahan menggerogoti jiwanya. Ketika Kaindra mengetahui bahwa Tanika mungkin berselingkuh dengan pria lain, bukannya menghadapi istrinya secara langsung, dia justru memulai petualangan balas dendamnya sendiri. Hubungannya dengan Fiona, rekan kerjanya yang ternyata menyimpan rasa cinta sejak dulu, perlahan berubah menjadi sebuah hubungan rahasia yang penuh gairah dan emosi. Fiona menawarkan kehangatan yang selama ini hilang dalam hidup Kaindra, tetapi hubungan itu juga membawa komplikasi yang tak terhindarkan. Di tengah caranya mencari tahu kebenaran tentang Tanika, Kaindra mendekati Isvara, sahabat dekat istrinya, yang menyimpan rahasia dan tatapan menggoda setiap kali mereka bertemu. Isvara tampaknya tahu lebih banyak tentang kehidupan Tanika daripada yang dia akui. Kaindra semakin dalam terjerat dalam permainan manipulasi, kebohongan, dan hasrat yang ia ciptakan sendiri, di mana setiap langkahnya bisa mengancam kehancuran dirinya. Namun, saat Kaindra merasa semakin dekat dengan kebenaran, dia dihadapkan pada pertanyaan besar: apakah dia benar-benar ingin mengetahui apa yang terjadi di balik hubungan Tanika dan pria itu? Atau apakah perjalanan ini akan menghancurkan sisa-sisa hidupnya yang masih tersisa? Seberapa jauh Kaindra akan melangkah dalam permainan ini, dan apakah dia siap menghadapi kebenaran yang mungkin lebih menyakitkan dari apa yang dia bayangkan?

Buku serupa

Gairah Liar Ayah Mertua

Gairah Liar Ayah Mertua

Gemoy

Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?

Bab
Baca Sekarang
Unduh Buku
Hasrat Liar Darah Muda Hasrat Liar Darah Muda kodav Anak muda
“Firhan Ardana, pemuda 24 tahun yang sedang berjuang meniti karier, kembali ke kota masa kecilnya untuk memulai babak baru sebagai anak magang. Tapi langkahnya tertahan ketika sebuah undangan reuni SMP memaksa dia bertemu kembali dengan masa lalu yang pernah membuatnya merasa kecil. Di tengah acara reuni yang tampak biasa, Firhan tak menyangka akan terjebak dalam pusaran hasrat yang membara. Ada Puspita, cinta monyet yang kini terlihat lebih memesona dengan aura misteriusnya. Lalu Meilani, sahabat Puspita yang selalu bicara blak-blakan, tapi diam-diam menyimpan daya tarik yang tak bisa diabaikan. Dan Azaliya, primadona sekolah yang kini hadir dengan pesona luar biasa, membawa aroma bahaya dan godaan tak terbantahkan. Semakin jauh Firhan melangkah, semakin sulit baginya membedakan antara cinta sejati dan nafsu yang liar. Gairah meluap dalam setiap pertemuan. Batas-batas moral perlahan kabur, membuat Firhan bertanya-tanya: apakah ia mengendalikan situasi ini, atau justru dikendalikan oleh api di dalam dirinya? "Hasrat Liar Darah Muda" bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah kisah tentang keinginan, kesalahan, dan keputusan yang membakar, di mana setiap sentuhan dan tatapan menyimpan rahasia yang siap meledak kapan saja. Apa jadinya ketika darah muda tak lagi mengenal batas?”
1

Bab 1 Detik-Detik yang Menentukan

02/01/2025

2

Bab 2 Senyuman yang Menggetarkan

02/01/2025

3

Bab 3 Jari-jari Nackal

02/01/2025

4

Bab 4 Sensasi Liar Lia

02/01/2025

5

Bab 5 Hasrat Yang Terpendam

02/01/2025

6

Bab 6 Serangan Fajar

02/01/2025

7

Bab 7 Godaan Hari Pertama

02/01/2025

8

Bab 8 Penampakan Keisha

02/01/2025

9

Bab 9 Sedotan Maut

02/01/2025

10

Bab 10 Ketegangan Detik Terakhir

02/01/2025

11

Bab 11 Perintah Keisha

04/01/2025

12

Bab 12 Rasa Itu

05/01/2025

13

Bab 13 Ke Kost Puspita

06/01/2025

14

Bab 14 Romantic Night

07/01/2025

15

Bab 15 Keisha x Lia

08/01/2025

16

Bab 16 Keisha x Lia II

08/01/2025

17

Bab 17 Keisha x Lia III

09/01/2025

18

Bab 18 Dipaksa

09/01/2025

19

Bab 19 Ancaman Keisha

09/01/2025

20

Bab 20 Apartemen Keisha

10/01/2025

21

Bab 21 Godaan Keisha

10/01/2025

22

Bab 22 Hampir Ditinggal

10/01/2025

23

Bab 23 Sugar Dad

11/01/2025

24

Bab 24 Sugar Dad II

11/01/2025

25

Bab 25 Persiapan

11/01/2025

26

Bab 26 Berharap

12/01/2025

27

Bab 27 Pelarian

12/01/2025

28

Bab 28 Tamparan Keisha

13/01/2025

29

Bab 29 Gede Banget

14/01/2025

30

Bab 30 Terlalu Cepat

15/01/2025

31

Bab 31 Ciuman Diatas Langit

15/01/2025

32

Bab 32 Lupakan Puspita

16/01/2025

33

Bab 33 Puncak Keisha

16/01/2025

34

Bab 34 Public Kiss

16/01/2025

35

Bab 35 Kunjungan Malam Itu

17/01/2025

36

Bab 36 Jadikan Aku Pelac*rmu

17/01/2025

37

Bab 37 Serangan Fajar Keisha

17/01/2025

38

Bab 38 Kemana Keisha

18/01/2025

39

Bab 39 Kasmaran

18/01/2025

40

Bab 40 Ditembak

18/01/2025