icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Hello, My Husband

Bab 3 Gelas pecah

Jumlah Kata:1041    |    Dirilis Pada: 25/05/2022

mar dengan dress hitam selutut dikeju

engos seraya

kamu menjadi bisu?!" Ponsel yang kugenggam erat ingin melayang

ari pria yang bertitel suamiku itu. Mengayunkan kaki, cepat-cepa

yun, sebuah benda melewatik

an

berdiri. Dia, melemparkan benda berbahaya ke arahku? Entah m

ngkah seraya melindungi wajah

li tersaji. Tangan kokoh pria berpostur tinggi tegap itu mencengkeram k

Pasrah satu-satunya cara untukku berta

at pria berwajah kak

ab?" katanya penuh penekanan. Terlalu dekat, h

rasa takut men

rusanmu!" A

kan genggamannya pada lenganku. Mataku terpejam, bibir bawa

am rongga dadaku semakin tak terke

tangannya, menarik

riku pergi." Intonasinya menurun drastis. Ada apa dengannya?

stri? Me

nyeri dan sepertinya merah

apa yang barusan melewati gendang

ibu, dan kedua mertuaku dengan mamih-papih, kini men

da dari Ravis. "Bundanya Ravis," imbuhk

gkat. "Rupanya kamu masih terngiang-ngiang orang mati itu?!

tak terima saat dia menyebut R

n sigap tanganku terulur, hingga telapak tanganku

. berdebar tak normal.

but polos atau terhimpit keingintahuan

wajah, terlihat salah tingkah terb

nggak deg-degan aku mati!" selembut apa aku berucap, sekh

apa. Masuk telinga kan

kaki terangkat, dia kembali mer

kasih ijin!" Tat

i sungguhan, itu membuatku ingin terbahak!" Aku membuang wajah, tak sanggup

retku ke ruangan pribadiku. Melemparnya hingga aku terperosok di lan

g yang kini sudah di bar dapur

membuat air yang masih tersisa dala

erah, rahangnya mengeras, menciu

ng yang menggenang di pelupu

tnya lepaskanlah aku!" Tangisku pecah, aku tak sanggup lagi

tang, aku tak acuh, te

r tubuh, menghadap pria yang masih berdiri di tempatnya. Tatap

p. Sesak dalam dada mengalahkan ketakutan. Gian meletakkan gelas dari t

asa membuatku takut." Suaraku bergetar, meng

engan berlari. Sesekali menoleh ke be

*

elabu tepat di atas kepalaku. Tepat pukul sebela

" Tahun ini pun aku datan

buket mawar putih ke atas

nku? Mimpi itu datang lagi, sudah tiga hari, dan datang setiap tahunnya

Membelai rerumputan hijau muda di atas makam. Sepertinya, bunda sudah data

rkekang bersamaan. Aku harus bagaimana? Aku ingin terlepas darinya, namun hati kecilku enggan mener

ah manusia tempatku m

ama dia tak berkunjung kan. Apa kamu juga mengunjunginya beberapa malam ini, seperti apa yang kamu lakukan

menoleh ke belakang. Senyuman ramah dari wan

manja, gegas bangkit da

ngerutkan kening melihat tangannya yang mem

aku masih memanda

Ragu-ragu memandang wajah

datang, kok," ucapnya memb

a?" Bunda melihatku penuh tanya

yang menabur bu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Hello, My Husband
Hello, My Husband
“"Jika sebatas tanggung jawab, cukupkan hanya sebatas ini. Jangan menuntut banyak hal, jika seperti itu, kamu akan terlihat benar-benar mengkhawatirkanku." "Bukankah kamu keterlaluan?" Dia bangkit, tak berselang lama derap langkah menjauh terdengar. "Kenapa kamu kembali?" tanyaku saat derit pintu mengalun nyaring. "Kamu, tak ingin aku kembali?" Dia bertanya balik. "Apa ... sudah saatnya kita berpisah?" Tak ada jawaban, hanya helaan napas yang disusul suara pintu ditutup rapat. Kuremas ujung piyama yang kukenakan, apa sekarang saatnya?”