icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Hello, My Husband

Bab 7 Menggumam

Jumlah Kata:1002    |    Dirilis Pada: 25/05/2022

...." Dia terus saja

ku seraya meletakkan handuk kec

gigau sambil me

n ...." Mau kesal pun tak bisa, rasa

.." Suara

alu meraih alat pengukur

u bergeming membaca angka yang tertera

Gegas aku bangkit, meraih baskom kecil dari

pria yang terbaring lemas di atas peraduan. Tubuhku berbalik, lalu menujunya

ak kunjung mengulang nama itu. Malaha

Mencoba memastikan. Mungki

ggeliat, bulir sebesar biji j

li keluar dari bibir tipis s

bermim

ku dapat merasakan rasa sakit dar

ena wanita lain. Sungguh, aku tak rela. Meskipun pernikahan ini hanya sebatas kompromi, tapi tetap sa

gusap kepalanya. Namun, niatan itu

sungguh membuatku bingung. Ini untuk kemanusiaan, kenapa juga aku harus bimban

uncak kepalanya. Ternyata, cara menidurkan anak kecil cocok juga untuk pria dewasa seperti Gia

i wajah dan lehernya. Setelah itu, kembali me

cuci piring. Mengambil panci dari rak penyimpanan da

nya ke dalam baskom lalu mencampurnya dengan air dingin. Gian masih memerlukan air hangat untuk mengurangi suhu panas tubuhnya

baskom dan nampan di nakas. Bubur nasi, menu favoritnya kala sakit. Dulu, aku sering m

. Napasnya terlihat teratur, sepertinya dia tidur nyenyak. Mana b

tangan sebagai tumpuan. Menghela napas panjang, lalu menoleh pada lelaki sakit di sebelah. Memb

ejak kapan menghilang. Tadinya aku lapar, tapi enggan untuk maka

Baru jam delapan malam. Kenapa waktu terasa begitu lama? Aku bosan, ingin segera berbaring, ta

di atasnya itu menggeliat. Aku kaget, gelagapan mencari tempat sembunyi. Namun, langkahku

keningnya pun berkerut dalam. Merubah posisi rebahannya menjadi duduk bersila. "Ngapain kamu di sini?" Di

bil menegangkan punggung. Mencoba rile

mungkin nyawanya belum terkumpul semp

padaku. Tangannya menyilang di dada, entah apa yang ada da

ku hanya sedikit memberika

bantuanmu!" katanya memasang wajah t

t," ucapku bergaya angkuh, melirik-lirik t

emasang wajah yang ... entahlah tak bisa did

ggut-ma

akas. "aku sudah buatkan bubur, mungkin sudah dingin, kamu bisa memanaskannya sendiri.

enuju pintu, memb

terulur, mempersilakannya untuk pergi. Cukup sampai di sini aku memperla

jang, meraih nampan di naka

telah perlakuan tak menyenangkannya barusan, t

n terima kasih barang sekalipun p

ah melewati pintu. "Kenapa kamu mengigau n

ngin, dia berucap sa

rang itu sangat berarti dalam hidup. Benarkah begitu?" Aku menelisik ke d

harapkan dari o

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Hello, My Husband
Hello, My Husband
“"Jika sebatas tanggung jawab, cukupkan hanya sebatas ini. Jangan menuntut banyak hal, jika seperti itu, kamu akan terlihat benar-benar mengkhawatirkanku." "Bukankah kamu keterlaluan?" Dia bangkit, tak berselang lama derap langkah menjauh terdengar. "Kenapa kamu kembali?" tanyaku saat derit pintu mengalun nyaring. "Kamu, tak ingin aku kembali?" Dia bertanya balik. "Apa ... sudah saatnya kita berpisah?" Tak ada jawaban, hanya helaan napas yang disusul suara pintu ditutup rapat. Kuremas ujung piyama yang kukenakan, apa sekarang saatnya?”