icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Hello, My Husband

Bab 6 Teringat masa lalu

Jumlah Kata:1016    |    Dirilis Pada: 25/05/2022

ukan pada pintu membuatku yang baru saja

ertengkar dengan 'suami' siang tadi aku langsung terkapar di ata

pintu sana. Aku memiringka

iapa lagi kalau bukan Gian. Aku yang tadinya terbaring dalam p

kepala, membuat rambut sepu

r nggak?" Suaranya

elera!" tebakku berapi-api. Sepertinya mulutnya akan

utuh bantuanmu

g membalut sebagian tubuh, menuruni ranjang deng

tus setelah membuk

menjatuhkan tubuhnya padaku, beruntungnya kedua kaki

ertambah sewot, lahar dalam

an kepalanya di bahuku. Tinggi kami tidak berbeda jau

u terjeda karena Gian menyambar

ntar ... saja," lirihnya m

meluk punggungku, erat, erat sekali,

dak timbul. Ingin menolak, tapi tak bisa mengelak secara

panjang dari biasanya, terlihat hingga menutup telinga, entah kapan terakhir kali dia memotong rambut.

apa seb

ulang-ulang hal yang sama, kenangan sebelas tahun yang lalu. Saat itu dia membawaku ke salah satu

ku menurut, seketika melingkarkan tangan pada pinggangnya. Kuda besi

disuguhkan begitu mempesona. Tebing-tebing curam di pinggiran jalan pun tak terlihat menakutkan, karena pe

iuman membuatku tak henti-hentinya mengh

bus patas tengah malam. Udara penuh polusi Ibu Kota Jakarta tak bisa dibandingkan dengan ini.

akkan di rumah milik keluarg

lum banyak orang yang tahu," ucap pemud

. Lautan hijau zamrud menghipnotis, membuaiku, hingga lupa bagaima

melingkari pinggangnya. Aku tersentak,

gis. Dia membalasnya

gas kusambut tangan itu. Kami be

rsama keluarga. Di kota ini banyak pantai, loh. Dan semuanya indah."

tingkah saat pemuda pemilik lesungan

ap, belum bisa mengatasi dentuman hebat pa

tertunduk saat langkah kami terhenti, pem

tangan Gian berada di pundakk

riuh terdengar, dan sentilan pada

an. Ah, ternyata dia mengerjaiku. Kami masih tujuh belas tahu

a. Setelah sampai tepian laut, dia menyeretku masuk air. Teriakkan dariku pun tidak dia indahka

adanya hingga dia terjengkang di air. Kini, bukan

air. Kami bermain seolah-olah tak ada lagi hari esok. Tawaku

p lembut pipi ini. Sentuhannya menghanyutkanku. Entah sejak kapan wajah pemuda itu berada terlalu dekat dengan wajah ini,

ari Gian menyadarkanku

u mulai panik dia seper

rsengal. Langsung saja kuraba

h berat pria itu terperoso

m, tapi bibir tipis itu s

embawanya menuju tempat tidur. Tentu saja tempat tidurku. Memapah tubuh tegapnya yang hanya berjarak beberapa meter menuj

aik-baik saja. Bagaimana bisa aku tahu dia dalam kondisi baik? sedangka

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Hello, My Husband
Hello, My Husband
“"Jika sebatas tanggung jawab, cukupkan hanya sebatas ini. Jangan menuntut banyak hal, jika seperti itu, kamu akan terlihat benar-benar mengkhawatirkanku." "Bukankah kamu keterlaluan?" Dia bangkit, tak berselang lama derap langkah menjauh terdengar. "Kenapa kamu kembali?" tanyaku saat derit pintu mengalun nyaring. "Kamu, tak ingin aku kembali?" Dia bertanya balik. "Apa ... sudah saatnya kita berpisah?" Tak ada jawaban, hanya helaan napas yang disusul suara pintu ditutup rapat. Kuremas ujung piyama yang kukenakan, apa sekarang saatnya?”