icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

MENIKAH DENGAN SULTAN

Bab 4 MDS4

Jumlah Kata:1092    |    Dirilis Pada: 30/03/2022

DIHINA SAUDARA TIRIN

DENGAN

Membac

is yang menentangnya dan tidak mau menjual rumah dan tanahnya dengan harga murah. Dia bermaksud akan turun tangan sendi

ng duduk di depannya dan tengah meny

g sok jago dan gak mau jual murah tanahnya!" ucap Re

a, Sayang! Siapa sih yang berani sama kamu

in lagi dipakai sama nyokap dan bokap. Sebel lah, ada mobil banyak malah kebagian yang pali

trinya dari kerabat keluarga Wira Eka Dharma naik motor?" kekeh Tasya sambil mera

ekian wanita yang sudah dipacarinya, hanya Tasya yang masih gadis sampai hari ini. Rendi sudah tak sabar

obil dulu dan pertemukan aku sama orang tua kamu! Buktiin kalau kamu pun serius sama aku," ucap Tasya samb

amu bisa membuktikan dulu cintamu saat ini juga, mobil ini aku kasih buat ka

terwujud. Di rumahnya memang ada mobil, akan tetapi itu pun mobil second yang

an tawaran aku?" R

kekasih hatinya itu lagi. Pendiriannya mulai goyah k

h," rengek Tasya. Dia teringat jika beberapa waktu lalu, Ren

bil ini kamu bawa pulang dulu. Lusa baru aku tukerin sama mobil yang satunya, ya!" ucap Rendi sambil mengerling nakal.

mobil, nanti nikahin aku!" ucap Tasya

a dapatkan. Dia akan datang ke tempat Rinai berjualan dan memamerkan betapa beruntungnya dia mendapatkan sebuah mobil mewah. Dia ingin mengatakan pada dun

rabat dekat penerus bisnis Wira Eka Dharma Grup, pastinya aku harus mati-matian membantu membangun perusahaan! Kalau bukan aku, siapa lagi?

n ibunya. Dia sudah sangat yakin, jika lelaki yang kini resmi menjadi pacarnya itu akan bertanggungjawab. Lagipula

ganan Rendi. Dia menggandeng Tasya dengan mesra dan terus-ter

*

isi botol-botol bekas itu di depannya. Wira segera masuk ke dalam bangunan itu

pit. Pemandangan yang cukup kontras sebetulnya, tetapi tempat yang Wira pilih cukup terlindung oleh beberpa bang

isi rempeyek ditentengnya. Ada senyum mengembang pada bibir merah lelaki berjambang tipi situ membayangkan binar bahagia dari netra Ri

ujar Wira sambil men

ka banget, Pak! Makasih!" Pak Im

Pak!" Wira men

g berada di sampingnya. Dia sudah tersenyum-senyum sendiri karena tidak perlu membeli oleh-

henti mengambil serpihan rempeyek. Entah kenapa semua teras

s eksekusi sebentar lagi. Biasanya Hardi---sekretaris pribadinya yang akan melakukan semua ini. Namun, Hardi masih berada di luar kota sedang meng

keluarganya. Satu pesan dari Bu Erni pun belum dia buka. Tampak sederet informasi Bu Erni

ri bagian general affair, hari ini mobil ini dipakai ol

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
MENIKAH DENGAN SULTAN
MENIKAH DENGAN SULTAN
“"Nay! rempeyek kacang apaan kayak gini? Aku 'kan bilang mau pakai kacang tanah, bukan kacang hijau!" pekik Natasya. Dia membanting bungkusan rempeyek yang sudah Rinai siapkan untuknya. Natasya berniat membawanya ke rumah calon mertuanya dan mengatakan jika itu adalah rempeyek buatannya. "Maaf, Sya! Bahan-bahannya habis kemarin. Aku uangnya kurang, Sya! Uang yang kamu kasih, sudah aku pakai buat berobat ibu. Ibu lagi sakit," getar suara Rinai sambil membungkuk hendak memungut plastik yang dilempar kakak tirinya itu. Namun kaki Natasya membuat pergerakannya terhenti. Dia menginjak-injak plastik rempeyek itu hingga hancur. *** "Aku mau beli semuanya!" ucap lelaki itu lagi. "T-tapi, Bang ... yang ini pada rusak!" ucap Rinai canggung. "Meskipun bentuknya hancur, rasanya masih sama 'kan? Jadi aku beli semuanya! Kebetulan lagi ada kelebihan rizki," ucap lelaki itu kembali meyakinkan. "Makasih, Bang! Maaf aku terima! Soalnya aku lagi butuh banget uang buat biaya Ibu berobat!" ucap Rinai sambil memasukkan rempeyek hancur itu ke dalam plastik juga. "Aku suka perempuan yang menyayangi ibunya! Anggap saja ini rejeki ibumu!" ucap lelaki itu yang bahkan Rinai sendiri belum mengetahui siapa namanya. Wira dan Rinai dipertemukan secara tidak sengaja, ketika lelaki keturunan konglomerat itu tengah memeriksa sendiri ke lapangan tentang kecurigaan kecurangan terhadap project pembangunan property komersil di salah satu daerah kumuh. Tak sengaja dia melihat seoarng gadis manis yang setiap hari berjualan rempeyek, mengais rupiah demi memenuhi kebutuhannya dan sang ibu. Mereka mulai dekat ketika Rinai menghadapi masalah dengan Tasya---saudara tirinya yang seringkali menghina dan membullynya. Masa lalu orang tua mereka, membuat Rinai harus merasakan akibatnya. Harum---ibunda Rinai pernah hadir menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang tua Tasya. Tasya ingin menghancurkan Rinai, dia bahkan meminta Rendi yang menanangani project pembangunan property komersil tersebut, untuk segera menggusur bangunan sederhana tempat tinggal Rinai. Dia tak tahu jika lelaki yang menyamar sebagai pemulung itu adalah bos dari perusahaan tempat kekasihnya bekerja. Wira dan Rinai perlahan dekat. Rinai menerima Wira karena tak tahu latar belakang lelaki itu sebenarnya. Hingga pada saatnya Wira membuka jati diri, Rinai benar-benar gamang dan memilih pergi. Dia merasa tak percaya diri harus bersanding dengan orang sesempurna Wira. Wira sudah frustasi kehilangan jejak kekasih hatinya. Namun tanpa disangka, takdir justru membawanya mendekat. Rinai yang pergi ke kota, rupanya bekerja menjadi ART di rumah Wira. Bagaimanakah kisah keduanya? Akankah Rinai kembali melarikan diri ketika tahu jika majikannya adalah orang tua Wira?”