icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pelayan Ranjang Maduku

Bab 5 rasa pahit

Jumlah Kata:2326    |    Dirilis Pada: 21/12/2025

n piring, nggak ada lagi suara TV yang menyiarkan berita pagi. Yang ada cuma keheningan yang tebal dan menyesakkan. Kalila bangun dengan perasaan aneh-ada rasa lega yang

lanya pusing kalau belum kena kafein". Tapi hari ini, Kalila cuma mengambil gelas, menuangkan air putih dingin, dan meminumnya perlahan sambil menatap ke luar jendela. Dia ngga

ang siap menumpahkan badai. Matanya merah, rambutnya acak-acakan. Dia melewati Kalila di dapur tanpa menoleh sedi

annya setiap kali mereka bertengkar: silent treatment. Arkan tahu betul kalau Kalila itu tipe orang yang paling nggak tahan didiamkan. Biasanya, kalau Arkan sudah mogok bicara, Kalila baka

rdiri di depan meja makan yang kosong, menatap ke arah tudung saji yang juga kosong dengan tatapan ngg

ya, memecah keheningan dengan nada suar

cermin. "Aku nggak sempat masak. Aku harus b

pe lima menit, Kalila. Kamu sengaj

kin sendiri? Bahannya ada di kulkas," jawab

cuma pelit, tapi juga udah nggak mau ngurusin suami. Inget ya Kal, rejeki suami itu tergantung gimana istri berb

ewat begitu saja di telinganya. Dia menatap Arkan yang berjalan keluar dengan langkah dihentak-hentakkan. Kalila

alanya sesekali masih terpikir soal Dimas. Namun, ketenangan itu nggak bertahan lama.

pasti sudah menceritakan versinya sendiri, versi di mana dia adalah suami

i pantry kantor yang sedang sep

ak ada lagi nada manis atau panggilan 'Sayang' seperti biasanya. "Arkan ke sini pagi-pagi belum sarapan,

a ada buktinya. Dimas pake uang yang aku kasih buat kuli

-baik, Kal. Dia itu di rumah nurut, sholatnya juga rajin. Kalaupun dia ke sana, pasti diajak temennya, dia cuma nggak

uliah, Bu. Tapi kalau dipake buat foya-foy

itu adekmu juga. Kamu nggak takut apa nanti kena azab karena pelit sama mertua dan ipar? Ibu nggak nyangka ya, jabatan Senior Manager itu ternyata bikin kamu ja

nya berdebat dengan Bu Lastri. Bagi Bu Lastri, Kalila hanyalah sebuah sumber dana. Selama uang men

Nanti kita bahas lagi," kata Ka

a Dimas juga. Kamu harus minta maaf sama dia karena udah bikin mental

gak mau makan". Dimas yang badannya paling subur

Assalamualaikum." Kalila langsung mematikan

st tentang kewajiban istri patuh pada suami dan ancaman-ancaman tentang dosa bagi istri yang menyakiti hati keluarga sua

luar biasa. Dia berharap Arkan nggak ada di rumah, tapi

akan dengan wajah yang sangat serius. Di depannya ada

soal masa depan keuangan kita," ka

n duduk di hadapan Arkan. "

isa semena-mena sama aku dan keluargaku. Jadi, mulai bulan depan, semua gaji kamu dan gaji aku harus masuk ke satu rekening b

dang bercanda atau sudah benar-benar hilang akal. "Rekening bersa

ak ada lagi kejadian kamu nyetop uang buat Dimas atau buat

ari ke mana saja? Kamu selalu bilang gaji kamu habis buat cicilan motor dan 'bantu-bantu' di rumah Ibu. Tapi kenyataannya, cicilan motor itu pun seringkali aku yang bayar k

na gaji aku nggak seberapa dibanding

ung." Kalila mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan. "Dalam sebulan, pengeluaran wajib kita itu sepuluh juta. Aku tanggung delapan juta, kamu dua juta-itu pun kalau

-bener udah nggak ada hormat-hormatn

tapi kamu jadikan aku mesin ATM? Kamu diem aja pas adek kamu nip

ta. "Pokoknya aku nggak mau tau. Kalau kamu masih mau diakuin sebagai istri di rumah ini, kamu harus ikut atu

dar 'sholehah' bagi kamu dan Ibu adalah perempuan yang mau diperas habis-habi

ing bersama itu... lupakan saja. Bahkan sepeser pun uang dari bonus kenaikan jabatanku nggak akan ad

r

elempar gelas atau piring. Kalila nggak peduli. Dia duduk di pinggir tempat tidur, tangannya gemetar. Menghadapi Ar

lnya yang kembali menya

i itu makbul lho. Mbak udah dzolim sama aku semalem. Kalau terjad

tangkap basah berbuat salah, malah berani mengancam dengan membawa-bawa doa dan kezaliman?

bahwa apa pun yang dia inginkan harus didapatkan, bahkan jika harus mengorbankan orang lain. Dan Arkan, suaminya, adalah produk d

ngan membaca ulang kontrak-kontrak asuransi dan investasinya. Dia memastikan semua ahli warisnya adalah orang tuanya sendiri, bukan Arkan. Dia tidak mau jik

ent treatment gagal, dan gertakan soal rekening bersama

hat Arkan duduk di sofa dengan waj

aranya terdengar serak, seolah

nti di dekat

g bukan suami yang baik. Mungkin aku emang gagal bimbing kamu. Aku cuma mau ki

na uang, Mas. Makanya, tolong berhenti minta uang terus ke aku buat hal-hal yang nggak penting. Biarkan aku atur u

epon lagi, nangis-nangis katanya dadanya sesak karena AC-

sang dari tokonya. Jadi tolong bilang sama Ibu buat sa

a, Kal," kata Arkan sambil ber

itu terasa seperti lilitan yang mencoba menahannya agar tetap berada dalam kendali Arkan. Dia tahu, permintaan maaf

dia bener-bener minta maaf. Tapi dia bilang dia ada tunggakan buku yang harus dibayar m

ap suaminya dengan tatapan dingin. Ternyata cuma butuh

iri. Atau suruh dia jual sepatu mahalnya yang

ng berubah menjadi kaku kembali. "Kam

Mas. Aku cuma baru ba

pa pun-diam, marah, atau pura-pura sedih-mempengaruhi pendiriannya lagi. Dia mulai mencari informasi tentang pengacara perceraian, hanya sebagai jaga-

rnah lagi menjadi mesin ATM yang bisa mereka tekan tombolnya kapan saja mereka mau. Perjuangan untuk mendapatkan kembali

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pelayan Ranjang Maduku
Pelayan Ranjang Maduku
“Selama dua tahun terakhir, Kalila menganggap bahwa berbagi rezeki dengan keluarga suaminya, Arkan, adalah bentuk bakti yang tulus. Sebagai wanita karier yang sukses, ia tak keberatan menyokong gaya hidup mertuanya hingga cicilan yang tak ada habisnya. Meski sahabat-sahabatnya sudah berkali-kali mengingatkan bahwa ia hanya dijadikan "sapi perah" oleh keluarga Arkan, Kalila tetap bergeming karena percaya pada kekuatan cinta. Namun, perlahan tabir itu terbuka. Kalila mulai merasa lelah saat jerih payahnya hanya dianggap sebagai kewajiban yang tak perlu diapresiasi. Puncaknya, ia memutuskan untuk "mati rasa" dan menutup semua akses finansialnya. Tidak ada lagi uang belanja mewah untuk mertua, dan ia tak peduli lagi saat uang kuliah adik iparnya terancam menunggak. Kalila memilih berhenti menjadi pahlawan bagi mereka yang tak tahu cara berterima kasih. "Saat kesetiaan dibalas dengan eksploitasi yang tak berujung, apakah ego masih pantas disalahkan jika seseorang memilih untuk pergi menyelamatkan dirinya sendiri?"”
1 Bab 1 rasa lelah yang menghimpit2 Bab 2 Suasana kantor yang dingin3 Bab 3 Hari Sabtu seharusnya jadi waktu4 Bab 4 kafe kecil yang agak tersembunyi5 Bab 5 rasa pahit6 Bab 6 Arkan masuk lewat celah emosinya7 Bab 7 melewatinya begitu saja8 Bab 8 bayar cicilannya pake bonus9 Bab 9 Tiga hari di rumah sakit10 Bab 10 keluarga sudah nunggu buat menerkamnya11 Bab 11 menenangkan buat Kalila12 Bab 12 hidup Kalila sudah benar-benar berubah total13 Bab 13 suasana makin melow14 Bab 14 sesak itu tertinggal di belakang15 Bab 15 rasanya aneh banget16 Bab 16 keributan terakhir dengan Dimas17 Bab 17 Pernikahan mewah18 Bab 18 keriuhan pesta yang megah19 Bab 19 Keringat masih menempel tipis20 Bab 20 menyalakan shower21 Bab 21 merasakan tubuhnya pegal luar biasa22 Bab 22 mendinginkan suasana23 Bab 23 menggendongnya kembali24 Bab 24 kemesraan di hotel25 Bab 25 pertama di rumah baru26 Bab 26 pembuktian27 Bab 27 menjadi laki-laki yang memujanya28 Bab 28 pemulihan pasca operasi29 Bab 29 pewaris karena rahimku