icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pelayan Ranjang Maduku

Bab 2 Suasana kantor yang dingin

Jumlah Kata:1627    |    Dirilis Pada: 21/12/2025

et, ada rapat koordinasi antar divisi buat proyek kuartal depan, tapi fokusnya buyar setiap kali ponsel di atas mejanya bergetar. Dia tahu itu bu

tu seolah menari-nari tanpa makna. Pikirannya melayang kembali ke percakapan di meja makan tadi pagi. Rasa sesak di dadanya belum juga hil

elepon langsung dari Ibu mertuanya, Bu Lastri. Kalila menghela napas panjang

um, Bu?" sapanya ber

ni? Ibu ganggu nggak?" Suara di seberang sana terdengar sangat manis

tor sih, Bu.

pa lagi. Tadi malem kan Arkan ke sini, Ibu udah bilang sama dia, eh dia malah bilang katanya dia

ke mana arah pembicaraan i

sek napas rasanya. Kamar Ibu kan nggak ada jendela yang gede, jadi pengap banget. Ibu udah panggil tu

Kalau mau dibelikan yang biasa dulu gimana, Bu? Y

u tadi udah liat-liat di katalog toko elektronik deket sini. Ada itu lho, yang mereknya terkenal, yang ada pembersih udaranya, yang Inverter b

untuk mengecek dana darurat. "Tapi harganya pasti jauh beda ya, Bu, kalau yang tipe itu

masa kamu tega biarin mertua kamu mati kepanasan? Arkan bilang gaji kamu baru naik banyak kan? Masa buat kenyaman

an orang tua, dan membandingkannya dengan gaji Kalila. Kalila merasa sudu

ya," jawabnya pendek, ingin

-bener nggak kuat kalau harus tidur di ruang tamu lagi, badan Ibu sakit semua. Ya udah ya,

barin lagi, Bu.

ak di tengah kantor yang tenang itu. Belum lewat dua puluh empat jam sejak dia dapet promosi

perti ikut mengejeknya. Di dalam mobil, Kalila hanya melamun, membiarkan radio

e keluarganya untuk terus-terusan memalaknya?

di depan TV sambil ngemil. Nggak ada tanda-tanda di

sapa Arkan tanpa dosa.

snya ke sofa. "Ibu

oal AC ya? Tadi dia juga chat aku, katanya udah

ya berapa? Hampir delapan juta kalau sama pasang! Itu AC teknologi te

pa sih jadi sensi banget soal uang? Ibu kan butuh. Dia itu punya asma, kalau udaranya ngga

liah Dimas aku, AC Ibu aku, cicilan motor kamu aku, belanja bulanan aku. Terus gaj

u-bantu cicilan di rumah Ibu, buat bayar utang koperasi yang dulu aku ambil buat biaya nikah kita. Kamu pikir aku seneng

, bukan dengan numpang hidup sama istri terus malah nuntut macem-macem buat keluarga ka

mbongnya udah selangit. Kamu pikir aku nggak usaha? Aku juga kerja! Tapi rezeki aku emang belu

iperes, Mas? B

liin, nggak usah! Biar aku yang cari pinjaman. Biar aku makin n

fa, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangis yang tertahan akhirnya pecah jug

nusia, tapi cuma sebagai angka.' Sekarang Kalila merasakan kebenaran ucapan itu. Di mata Arkan dan ibunya, Kalila bukan lagi seora

temen-temennya, pake sepatu baru yang Kalila curigai dibeli pake uang "buku kuliah" yang dia kasih kemarin. Di bawah

hatan, mengabaikan hobi, bahkan jarang membelikan sesuatu untuk orang tuanya sendiri karena takut uangnya nggak cukup u

ginya, masih dalam mode marah karena keinginannya belum dituruti. Di tengah kesunyian itu, sebuah pik

pan aku m

setiap kali dia mengalah, tuntutan mereka bukannya berkurang, malah makin melunjak. Kalau hari ini d

yang sudah lama dia inginkan tapi selalu dia tunda demi keluarga Arkan. Ada sepatu lari baru, ada skincare yang sudah ha

saan untuk "mengalah demi kedamaian" ternyata masih terlalu kuat mencengkeramnya. Dia merasa kalau dia nggak belii

lila menyelesaikan transaksi itu. Delapan jut

l. Bukan karena dia kehilangan uangnya, tapi karena dia merasa baru saja mengkhianati dirinya sendiri lagi. Dia

ik pelan, hampir tak terdengar. "Ini yang t

anyalah sebuah kebohongan yang dia ciptakan untuk menghibur dirinya yang sedang hancur. Kalila memejamkan mata, mencoba ti

ang sukses, dan kembali bekerja keras. Bukan untuk masa depannya, tapi untuk memast

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pelayan Ranjang Maduku
Pelayan Ranjang Maduku
“Selama dua tahun terakhir, Kalila menganggap bahwa berbagi rezeki dengan keluarga suaminya, Arkan, adalah bentuk bakti yang tulus. Sebagai wanita karier yang sukses, ia tak keberatan menyokong gaya hidup mertuanya hingga cicilan yang tak ada habisnya. Meski sahabat-sahabatnya sudah berkali-kali mengingatkan bahwa ia hanya dijadikan "sapi perah" oleh keluarga Arkan, Kalila tetap bergeming karena percaya pada kekuatan cinta. Namun, perlahan tabir itu terbuka. Kalila mulai merasa lelah saat jerih payahnya hanya dianggap sebagai kewajiban yang tak perlu diapresiasi. Puncaknya, ia memutuskan untuk "mati rasa" dan menutup semua akses finansialnya. Tidak ada lagi uang belanja mewah untuk mertua, dan ia tak peduli lagi saat uang kuliah adik iparnya terancam menunggak. Kalila memilih berhenti menjadi pahlawan bagi mereka yang tak tahu cara berterima kasih. "Saat kesetiaan dibalas dengan eksploitasi yang tak berujung, apakah ego masih pantas disalahkan jika seseorang memilih untuk pergi menyelamatkan dirinya sendiri?"”
1 Bab 1 rasa lelah yang menghimpit2 Bab 2 Suasana kantor yang dingin3 Bab 3 Hari Sabtu seharusnya jadi waktu4 Bab 4 kafe kecil yang agak tersembunyi5 Bab 5 rasa pahit6 Bab 6 Arkan masuk lewat celah emosinya7 Bab 7 melewatinya begitu saja8 Bab 8 bayar cicilannya pake bonus9 Bab 9 Tiga hari di rumah sakit10 Bab 10 keluarga sudah nunggu buat menerkamnya11 Bab 11 menenangkan buat Kalila12 Bab 12 hidup Kalila sudah benar-benar berubah total13 Bab 13 suasana makin melow14 Bab 14 sesak itu tertinggal di belakang15 Bab 15 rasanya aneh banget16 Bab 16 keributan terakhir dengan Dimas17 Bab 17 Pernikahan mewah18 Bab 18 keriuhan pesta yang megah19 Bab 19 Keringat masih menempel tipis20 Bab 20 menyalakan shower21 Bab 21 merasakan tubuhnya pegal luar biasa22 Bab 22 mendinginkan suasana23 Bab 23 menggendongnya kembali24 Bab 24 kemesraan di hotel25 Bab 25 pertama di rumah baru26 Bab 26 pembuktian27 Bab 27 menjadi laki-laki yang memujanya28 Bab 28 pemulihan pasca operasi29 Bab 29 pewaris karena rahimku