“Selama dua tahun terakhir, Kalila menganggap bahwa berbagi rezeki dengan keluarga suaminya, Arkan, adalah bentuk bakti yang tulus. Sebagai wanita karier yang sukses, ia tak keberatan menyokong gaya hidup mertuanya hingga cicilan yang tak ada habisnya. Meski sahabat-sahabatnya sudah berkali-kali mengingatkan bahwa ia hanya dijadikan "sapi perah" oleh keluarga Arkan, Kalila tetap bergeming karena percaya pada kekuatan cinta. Namun, perlahan tabir itu terbuka. Kalila mulai merasa lelah saat jerih payahnya hanya dianggap sebagai kewajiban yang tak perlu diapresiasi. Puncaknya, ia memutuskan untuk "mati rasa" dan menutup semua akses finansialnya. Tidak ada lagi uang belanja mewah untuk mertua, dan ia tak peduli lagi saat uang kuliah adik iparnya terancam menunggak. Kalila memilih berhenti menjadi pahlawan bagi mereka yang tak tahu cara berterima kasih. "Saat kesetiaan dibalas dengan eksploitasi yang tak berujung, apakah ego masih pantas disalahkan jika seseorang memilih untuk pergi menyelamatkan dirinya sendiri?"”