icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pelayan Ranjang Maduku

Bab 3 Hari Sabtu seharusnya jadi waktu

Jumlah Kata:1660    |    Dirilis Pada: 21/12/2025

ingin bangun siang, pesan kopi lewat aplikasi, lalu luluran sambil nonton serial favorit di kamar yang sejuk. Apalagi se

i, gedoran pintu kamar s

ongan tante-tante dari kampung udah di depan,"

nutupi kepala. "Mas, ini jam tujuh. Sabtu.

bulan lalu. "Ya namanya juga orang tua, pengen cepet-cepet liat rumah menantunya yang baru naik jabatan.

nggir kasur. Kepalanya berdenyut. "Mereka sarapan apa? Biar

bilang, 'Masakan Kalila kan paling enak, masa kita ke sini cuma dikasih makanan plastik'. Jadi,

a pagi karena nyelesain laporan. Aku capek banget. Kenapa nggak pesan katering aja?

en liat kamu pantes nggak jadi Senior Manager di rumah juga. Masa di kantor hebat, di dapur paya

kan, memetik satu dua helai bayam, sambil memberikan instruksi

sudah ada Bu Lastri dan dua saudaranya, Tante Rosa dan Tant

di kampung mah udah selesai nyuci daster,"

wab Kalila singkat, mencoba tetap sopa

u Lastri. "Itu Kal, Ibu udah beli daging rendang dua kilo. Dimas juga ikut, dia pengen b

ang asyik teriak-teriak main game online di ponselnya, kaki diangkat ke atas kur

ar dulu ya, Bu

rin dong, kasian kamu bawa bela

ya kotor banget mau dipake nanti sore buat nganter

anjaan yang makin lama makin berat. Bahunya perih, kakinya pegal. Sambil menawar harga cabai yan

lila harus mulai memotong daging, menghaluskan bumbu, mengupas bawang yang jumlahnya sekilo sendiri. As

wa dan obrolan terdengar riuh. Arkan, Bu Lastri, dan tante-tante itu sed

yak Kalila. Udah pinter cari uang, pinter

astri bangga. "Dulu kan Kalila nggak kayak gini. Sekarang mah apa-

nya. Nurut? Bimbing? Yang ada dia merasa seperti robot yang sudah d

ya! Aku lagi sariawan nih!" teriak Dimas

ng di rumahnya sendiri. Dia yang membayar kontrakan ini, dia yang membeli kompor ini, dia yang membeli semu

ah hampir pingsan karena kelelahan dan lapar.

n dengan semangat, seolah dia yang

ambal-semuanya ludes dalam sekejap. Mereka makan dengan lahap sambil t

Lastri setelah suapan ketiga. "Dagingnya juga kurang

"Tadi Ibu bilang jangan kelama

a. Harus pas. Namanya juga masak buat orang tua, h

. Dia melihat Arkan yang sedang asyik nambah rendang untuk ketiga kalinya. Suam

Mereka semua beranjak dari meja makan kembali ke sofa untuk nonton TV, meningg

tu pinter masak begini, tiap minggu bisa makan e

ukan piring itu den

irahat bentar, kepalaku pusing banget," bisik Kalil

a aku yang nyuci piring? Malu dong diliat Tante sama Ibu. Cowok k

Dari pagi aku belum duduk!"

ih, tinggal cuci piring aja kok repot. Kamu kan biasa kerja berat di kantor,

rgi begi

ejekan yang menusuk telinganya. Dia mulai mencuci piring satu per satu. Air

punya kuasa atas ratusan orang di kantor, dia punya gaji besar, tapi di sini... di sini dia bahkan lebih rendah da

elana bergetar. Pes

luran? Atau lagi jadi Chef Dad

ingin curhat, tapi dia terlalu malu. Malu karena dia tahu dia nggak mengikuti na

satu! Haus nih abis makan

ngambil gelas, mengisinya dengan air putih bias

an gelas itu di depan Dimas de

oang? Es jeruknya man

n aku cuma dua, dan aku bukan pelayan kamu," jawab Kalila d

Lastri menoleh dengan wajah kaget. Arkan

u ngomong gitu sama ad

num enak, tolong hargain orang yang nyiapinnya. Jangan cuma tau pesen ini-itu ta

rakting, matanya berkaca-kaca. "Ibu cuma mau kumpul keluarga, ko

bu nganggep tenaga saya itu gratisan dan n

ndengar Arkan menggedor pintu, memanggil namanya dengan penuh emosi, dan suara Bu Lastri

ega. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dia berani bersuara. Meskipun dia tahu, setelah ini badai besar akan datang

pada titik di mana dia tidak bisa lagi berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dia menatap map biru di atas meja riasnya-map ke

sin ATM yang juga merangka

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pelayan Ranjang Maduku
Pelayan Ranjang Maduku
“Selama dua tahun terakhir, Kalila menganggap bahwa berbagi rezeki dengan keluarga suaminya, Arkan, adalah bentuk bakti yang tulus. Sebagai wanita karier yang sukses, ia tak keberatan menyokong gaya hidup mertuanya hingga cicilan yang tak ada habisnya. Meski sahabat-sahabatnya sudah berkali-kali mengingatkan bahwa ia hanya dijadikan "sapi perah" oleh keluarga Arkan, Kalila tetap bergeming karena percaya pada kekuatan cinta. Namun, perlahan tabir itu terbuka. Kalila mulai merasa lelah saat jerih payahnya hanya dianggap sebagai kewajiban yang tak perlu diapresiasi. Puncaknya, ia memutuskan untuk "mati rasa" dan menutup semua akses finansialnya. Tidak ada lagi uang belanja mewah untuk mertua, dan ia tak peduli lagi saat uang kuliah adik iparnya terancam menunggak. Kalila memilih berhenti menjadi pahlawan bagi mereka yang tak tahu cara berterima kasih. "Saat kesetiaan dibalas dengan eksploitasi yang tak berujung, apakah ego masih pantas disalahkan jika seseorang memilih untuk pergi menyelamatkan dirinya sendiri?"”
1 Bab 1 rasa lelah yang menghimpit2 Bab 2 Suasana kantor yang dingin3 Bab 3 Hari Sabtu seharusnya jadi waktu4 Bab 4 kafe kecil yang agak tersembunyi5 Bab 5 rasa pahit6 Bab 6 Arkan masuk lewat celah emosinya7 Bab 7 melewatinya begitu saja8 Bab 8 bayar cicilannya pake bonus9 Bab 9 Tiga hari di rumah sakit10 Bab 10 keluarga sudah nunggu buat menerkamnya11 Bab 11 menenangkan buat Kalila12 Bab 12 hidup Kalila sudah benar-benar berubah total13 Bab 13 suasana makin melow14 Bab 14 sesak itu tertinggal di belakang15 Bab 15 rasanya aneh banget16 Bab 16 keributan terakhir dengan Dimas17 Bab 17 Pernikahan mewah18 Bab 18 keriuhan pesta yang megah19 Bab 19 Keringat masih menempel tipis20 Bab 20 menyalakan shower21 Bab 21 merasakan tubuhnya pegal luar biasa22 Bab 22 mendinginkan suasana23 Bab 23 menggendongnya kembali24 Bab 24 kemesraan di hotel25 Bab 25 pertama di rumah baru26 Bab 26 pembuktian27 Bab 27 menjadi laki-laki yang memujanya28 Bab 28 pemulihan pasca operasi29 Bab 29 pewaris karena rahimku