icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai

Bab 6 

Jumlah Kata:598    |    Dirilis Pada: 09/12/2025

TYA

. Senyum merekah di wajah mereka. Ada rasa lega yang ane

u sudah memberikan cucu yang merek

, aku merasa bahagia. Ini anakku. A

a memiliki penerus keluarga. Dia tidak perlu lagi menanggung beban IVF y

nnya. Amelia akan bahagia. Aku juga. Kami

cur di mal tadi terngiang di telinga

harus cepat pulang. Aku harus

ku, berusaha melepaskan diri dar

Anakmu baru lahir!

lia," kataku, melesat

u caranya menenangkan Amelia saat dia marah. Sebuah buket mawar putih

g rumah sakit. Pikiranku su

ity

. Itu Dokter Rina, dokter spesialis kand

ku, sedikit terkeju

alnya sudah lewat seminggu. Apa dia baik-

Apa yang dia katak

k-baik saja." Suaraku terdeng

ya berhasil, Aditya. Amelia hamil. Dia sudah menunggu del

rdenging. Aku tidak bisa mendengar apa-apa

a...

kter katakan?" tany

an hasil USG pertama. Dia sangat bahagia, Aditya. Dia bilang dia ingin memb

rasa seperti pisa

ia h

potongan puzzle yang bera

ihat Amelia menatapku dengan tatapan terluka. Hari di mana ak

Dia datang untuk memberiku kabar gembira. Kab

mendorongnya. Aku membiarkan Nasywa m

ke lantai. Mawar putih di tanganku jatuh, kelopaknya berseraka

cerah saat dia mungkin melihat hasil USG itu. Seny

u tidak hanya mengkhianati Ameli

Aku menggelengkan kepala, mencoba men

esakitan saat suntik hormon. Amelia yang menangis setiap kali p

ku egois. Aku meng

arus memohon maaf padanya. Ak

memedulikan tatapan orang-orang, a

an menemukanmu. Aku ak

Aditya. Kau s

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
“Delapan tahun menanti buah hati lewat siksaan IVF, akhirnya garis dua itu muncul. Berniat memberi kejutan, aku justru memergoki suamiku, Aditya, sedang tertawa bahagia memilih baju bayi bersama wanita lain yang perutnya membuncit. Saat aku menuntut penjelasan, wanita itu berpura-pura kesakitan. Tanpa ragu, Aditya mendorongku hingga tersungkur demi melindungi wanita itu. "Jangan sentuh Nasywa! Dia sedang mengandung anakku!" bentaknya, lalu pergi meninggalkanku yang kesakitan di lantai mal yang dingin. Hari itu, sementara dia menyambut kelahiran anak dari selingkuhannya dengan sukacita, aku terbaring dingin di ruang operasi. Aku harus merelakan janin yang paling kunanti untuk pergi selamanya, karena hatiku sudah lebih dulu mati. Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita sukses yang berdiri tegak di atas panggung. Aditya, yang kini hidup berantakan, kurus, dan penuh penyesalan, datang mengemis di kakiku meminta kesempatan kedua. Aku hanya tersenyum tipis, menatap matanya yang sembab, lalu berkata dengan dingin: "Anda siapa? Amelia yang mencintaimu sudah mati lima tahun lalu."”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 11