icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai

Bab 4 

Jumlah Kata:513    |    Dirilis Pada: 09/12/2025

LIA

n detail-detailnya terasa begitu akrab. Bantal sofa yang sama denganku. Lukisan abstrak ya

senyum bersama. Mereka berdua di pantai, di r

a berselingkuh. Dia membangun kehidupan

ngiku. Saat dia berbalik, senyuman tipis t

nya manis menusuk. "Mas Aditya sering menceritakan

yang terlihat kaku

aper untuk kamar bayi," Nasywa terus berbicara, nadanya meremehkan. "Dia bahkan menghabiskan berjam-ja

ak lelah terus-terusan berjuang tanpa has

kan barang-barang terbaik untuk rumah kami. Dia desainer

ah kami. Dia tidak pernah memilih wallpaper untuk k

n tatapan mengejek. Mata polos itu kini penuh kebe

ya," kataku, suaraku datar. "Termasuk dirinya. Kau

Napasnya tercekat.

a tersenyum lagi. Se

siapa." Dia lalu mendekatiku, suaranya lebih renda

itu jatuh, pecah berantakan. Dia terhuyung, m

kik kesakitan, m

ke arahnya. "Kau baik-baik saja?

ta mengalir deras. "Tolong, Mbak..

p perutnya, seolah aku

penuh kekecewaan. Dia menga

umah sakit

a menoleh padaku. Matanya

danya?" tanyaku, suarak

. Hanya menatapku sesaat

men asing ini, di tengah pecahan kaca. Nasywa b

lantai. Aku membungkuk, mula

r

netes, membasahi lantai. Rasa perih itu mengin

ga yang bisa kubanggakan. Aku selalu mencari itu

ancur. Hancur lebur. Aku

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
“Delapan tahun menanti buah hati lewat siksaan IVF, akhirnya garis dua itu muncul. Berniat memberi kejutan, aku justru memergoki suamiku, Aditya, sedang tertawa bahagia memilih baju bayi bersama wanita lain yang perutnya membuncit. Saat aku menuntut penjelasan, wanita itu berpura-pura kesakitan. Tanpa ragu, Aditya mendorongku hingga tersungkur demi melindungi wanita itu. "Jangan sentuh Nasywa! Dia sedang mengandung anakku!" bentaknya, lalu pergi meninggalkanku yang kesakitan di lantai mal yang dingin. Hari itu, sementara dia menyambut kelahiran anak dari selingkuhannya dengan sukacita, aku terbaring dingin di ruang operasi. Aku harus merelakan janin yang paling kunanti untuk pergi selamanya, karena hatiku sudah lebih dulu mati. Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita sukses yang berdiri tegak di atas panggung. Aditya, yang kini hidup berantakan, kurus, dan penuh penyesalan, datang mengemis di kakiku meminta kesempatan kedua. Aku hanya tersenyum tipis, menatap matanya yang sembab, lalu berkata dengan dingin: "Anda siapa? Amelia yang mencintaimu sudah mati lima tahun lalu."”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 11