icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai

Bab 2 

Jumlah Kata:666    |    Dirilis Pada: 09/12/2025

LIA

ku terasa remuk, hatiku hancur, namun ada kekuatan aneh yang mendor

Aditya tampak panik, mondar-mandir di

am erat tangan Aditya. Matanya berkaca-kaca, bibirnya b

a segera menghampirinya, menanyak

ku? Apakah dia baik-baik saja?"

ik-baik saja. Nona Nasywa hanya sedikit st

ga. Dia kembali ke sisi

ayang. Aku sa

u juga, Mas. Aku takut terj

nama. Masa depan. Sebuah keluarga

a berdua, begitu intim, begitu peduli satu sama lain, membicarakan anak mereka. Anak

balik, berjalan keluar dari rum

seharusnya pulang ke rumah, tapi kaki ini terasa be

ada Aditya. Sepertiga hidupku kuberikan padanya. Seja

sensitif. Aditya adalah orang yang mengubahku. Dia memanggilku "putr

reka tidak menyukaiku karena aku belum bisa memberikann

usaha, Bu, Yah. I

u saat hasil IVF pertama kami gagal

. Sampai kita punya anak kita se

idupku tanpa Aditya. Aku percay

n hanya untukku. Dia bisa memberikannya pada orang l

yai setiap kata manisnya. Men

rjam-jam berkeliaran tanpa tuj

hnya terlihat letih, matanya merah. D

ranya serak.

ya. Kebesaran hati

ejak kapan?"

egang. Dia

wa. Asist

itu terdeng

dis muda berambut panjang, sela

i," kataku suatu malam, melihat

nya, Mel. Orangnya aneh,

ring mengirim pesan padanya, bahkan di luar jam

jarku sambil tersenyum. "Tapi dia sep

is. "Tidak ada yang bisa d

. Percaya pada setiap ka

gannya?" tanyaku lagi, sua

an begitu, Mel! Itu...

perut sebesar itu ka

buk. Dia juga. Terjadi begitu saj

ng. Aku

annya karena ada masalah dengan rahimnya. Aku t

belakangan ini? Semua kata manisny

mengangguk lagi, mat

dalam. Mengetahui bahwa cinta yang kupikir tulus, ternyata ha

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
“Delapan tahun menanti buah hati lewat siksaan IVF, akhirnya garis dua itu muncul. Berniat memberi kejutan, aku justru memergoki suamiku, Aditya, sedang tertawa bahagia memilih baju bayi bersama wanita lain yang perutnya membuncit. Saat aku menuntut penjelasan, wanita itu berpura-pura kesakitan. Tanpa ragu, Aditya mendorongku hingga tersungkur demi melindungi wanita itu. "Jangan sentuh Nasywa! Dia sedang mengandung anakku!" bentaknya, lalu pergi meninggalkanku yang kesakitan di lantai mal yang dingin. Hari itu, sementara dia menyambut kelahiran anak dari selingkuhannya dengan sukacita, aku terbaring dingin di ruang operasi. Aku harus merelakan janin yang paling kunanti untuk pergi selamanya, karena hatiku sudah lebih dulu mati. Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita sukses yang berdiri tegak di atas panggung. Aditya, yang kini hidup berantakan, kurus, dan penuh penyesalan, datang mengemis di kakiku meminta kesempatan kedua. Aku hanya tersenyum tipis, menatap matanya yang sembab, lalu berkata dengan dingin: "Anda siapa? Amelia yang mencintaimu sudah mati lima tahun lalu."”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 11