Willow Hart
1 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Willow Hart
Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
Romantis Delapan tahun menanti buah hati lewat siksaan IVF, akhirnya garis dua itu muncul.
Berniat memberi kejutan, aku justru memergoki suamiku, Aditya, sedang tertawa bahagia memilih baju bayi bersama wanita lain yang perutnya membuncit.
Saat aku menuntut penjelasan, wanita itu berpura-pura kesakitan.
Tanpa ragu, Aditya mendorongku hingga tersungkur demi melindungi wanita itu.
"Jangan sentuh Nasywa! Dia sedang mengandung anakku!" bentaknya, lalu pergi meninggalkanku yang kesakitan di lantai mal yang dingin.
Hari itu, sementara dia menyambut kelahiran anak dari selingkuhannya dengan sukacita, aku terbaring dingin di ruang operasi.
Aku harus merelakan janin yang paling kunanti untuk pergi selamanya, karena hatiku sudah lebih dulu mati.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita sukses yang berdiri tegak di atas panggung.
Aditya, yang kini hidup berantakan, kurus, dan penuh penyesalan, datang mengemis di kakiku meminta kesempatan kedua.
Aku hanya tersenyum tipis, menatap matanya yang sembab, lalu berkata dengan dingin:
"Anda siapa? Amelia yang mencintaimu sudah mati lima tahun lalu." Anda mungkin suka
Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
Keely Alexis Aku menarik tunanganku dari sebuah kecelakaan mobil beberapa detik sebelum mobil itu meledak. Api meninggalkan punggungku penuh dengan luka bakar yang mengerikan, tapi aku berhasil menyelamatkan nyawanya. Selama empat tahun dia koma, aku menyerahkan segalanya untuk merawatnya.
Enam bulan setelah dia sadar, dia berdiri di atas panggung konferensi pers untuk kembalinya. Seharusnya dia berterima kasih padaku. Sebaliknya, dia membuat pernyataan cinta yang megah dan romantis untuk Stella, kekasih masa kecilnya, yang tersenyum dari bangku penonton.
Keluarganya dan Stella kemudian membuat hidupku seperti di neraka. Mereka menghinaku di sebuah pesta, merobek gaunku untuk memperlihatkan bekas lukaku. Ketika aku dipukuli di sebuah gang oleh preman yang disewa Stella, Adrian menuduhku mengarang cerita untuk mencari perhatian.
Aku terbaring di ranjang rumah sakit, memar dan hancur, sementara dia bergegas ke sisi Stella karena wanita itu "ketakutan". Aku tak sengaja mendengar dia mengatakan bahwa dia mencintai Stella dan bahwa aku, tunangannya, tidak berarti apa-apa.
Semua pengorbananku, rasa sakitku, cintaku yang tak tergoyahkan—semuanya tidak ada artinya. Baginya, aku hanyalah utang yang harus dia bayar karena rasa kasihan.
Di hari pernikahan kami, dia menendangku keluar dari limosin dan meninggalkanku di pinggir jalan tol, masih dalam gaun pengantinku, karena Stella pura-pura sakit perut.
Aku melihat mobilnya menghilang. Lalu aku memanggil taksi.
"Ke bandara," kataku. "Dan tolong lebih cepat." Madu Untuk Istriku
bundaRey "Ijinkan aku menikah lagi, Ren?" Dengan berkaca-kaca, Dani memamdang Reni.
"Apa kamu yakin sanggup, Mas? Membimbing satu istri saja kamu nggak bisa, apalagi dua?" Tidak! Reni tidak mau dimadu.
Tanpa sadar Reni mengelus perutnya. Berharap anak dalam kandungannya tidak mendengar keinginan gila ayahnya.
"InsyaAllah sanggup, Yank." Reni tersenyum kecut. Sholat aja tidak pernah sanggup dari mana?
"Kamu gila, Mas!" Jengah dengan kegilaan Dani, Reni segera beranjak dari duduknya dan berlalu dari hadapan Dani.
"Ren! Ren!" Dani segera menyusul Reni yang berjalan ke arah kamar.
"Ren!" Dani menarik tangan Reni, namun segera ditepis oleh wanita itu.
"Lepaskan, Mas!" Hatinya hancur, benar-benar hancur. Dia pikir suaminya telah kembali seperti dulu, namun ternyata dia salah. Malah sebuah permintaan gila yang dimintanya pada Reni.
Tak menyerah, Dani terus mengekor Reni hingga ke kamar. Seketika Reni muak hanya dengan melihat wajah Dani.
"Ren, dengarkan Mas dulu ...." Kali ini Dani telah berlutut di hadapan Reni. Wanita itu duduk di tepi ranjang dengan mata yang mulai sembab.