icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan

Bab 4 Ia sudah menangis sampai lelah

Jumlah Kata:2442    |    Dirilis Pada: 24/10/2025

ngatannya tidak mampu menyingkirkan rasa dingin yang menusuk hatinya. Semalam adalah malam terberat da

: rasa rindu pada Damar. Ia menekankan dirinya bahwa perasaan itu salah, tapi tak

ada kata yang keluar dari mulutnya, tapi ketegangan di udara terasa begitu pek

yang tepat. "Mas... aku... aku nggak ta

s. "Mulai dari jujur. Aku mau tahu semuanya. Kalau kamu masih ma

duk, dan mulai menceritakan semuanya: pertemuannya dengan Damar, perhatian yang ia dapat, bahka

perti menahan badai emosi yang ingin lepas. Lina menyelesaikan ceritanya dengan suara

nya. "Lina... aku nggak tahu bisa nerima ini atau nggak. Tapi aku nggak mau keputusan

ngkin satu-satunya harapan yan

ap interaksi dengan Randi terasa dingin, penuh ketegangan. Ia mencoba berbicara, mencoba tersen

mulai curiga, dan tetangga mulai menatap Lina dengan tatapan aneh. Bahkan Bu Yuni, tetangg

, Lin. Aku nggak bisa tinggal di tengah kebohongan ini. Aku

rti... tapi... aku... aku nggak bisa kehilan

ung. Tapi kita harus putusin ini seka

menyadari, hubungan yang ia anggap sebagai pelarian dan kenyamanan k

yimpan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Anak-anak mulai merasakan ketegangan itu. Nisa, yang biasanya ceria, kini seri

r panjang. Aku nggak bisa terus-terusan hidup dengan kebohongan dan rasa sakit ini. Aku nggak bisa bohong, aku masih sayang sama kamu,

menetes. "Mas... aku nge

ita mau selamatin rumah tangga ini, semua harus jujur. Tidak ada rahasia lagi. Dan... aku n

kirannya saling tarik menarik. Tapi ia tahu, jika ingin menye

embut, dan terkadang gugup saat bersama istrinya. Suatu sore, Rina mengikuti Damar ketika ia keluar

unyikan Damar darinya. Perasaan cemburu dan marah bercampur menjadi satu. Ia tidak

sibuk dengan laptopnya. "Kamu nggak bisa terus ngebohong

erkejut. "Rina..

n orang lain, lebih perhatian sama dia daripada

u, ini saatnya memilih. Tapi hatinya masih berat, kar

, Rina. Aku... aku butuh waktu," ujar D

tu lagi. Kalau kamu nggak jujur, semuanya bakal

i menyebar. Teman-teman ibu-ibu mulai menghindarinya, tetangga yang dulunya ramah kini me

g enak soal kamu sama Damar. Hati-hati, ya. Dunia kecil ini nggak a

Ia sadar, kesalahan yang ia buat bukan hanya menyakiti suam

in kesempatan terakhir untuk menyelamatkan rumah tangganya. Ia memutuskan, besok ia

Ketakutan bahwa meski ia mencoba mene

ng tidak terlalu ramai. Hujan rintik-rintik membuat su

rus putusin semuanya. Demi Randi, demi anak-anak,

ni harus terjadi. Aku nggak bisa terus bikin kamu tersiksa. Ak

sayang... tapi aku nggak bisa terus selin

yang terdengar. Dua hati yang saling sayang kini harus berpisah

janji... aku nggak akan ganggu kamu lagi. Aku mau kamu ba

sa hancur tapi lega.

jan, tapi karena luka yang tak mudah sembuh. Ia sadar, jalan ke depan akan berat. Membangun kemb

tuk dirinya sendiri, untuk anak-anak, dan untuk

alaman yang basah oleh embun. Semalam, setelah pertemuannya dengan Damar, hatinya terasa hancur, tapi juga lega. Ia tel

mudah bernapas. Malah, tekanan yang

an tatapan sinis. Lina menyadari, gosip tentang perselingkuhannya telah menyebar lebih cepa

kukan nggak akan pernah bisa hilang begitu saja," gum

Yuni benar. Tidak ada lagi

embawa keranjang cucian. Tatapannya masih dingin, tapi ada sesuatu yang b

Damar. Aku... aku nggak akan

ya dalam. "Kam

semuanya. Untuk kita, untuk anak-

masih terluka. Tapi... aku nggak mau nyerah sama kita. Aku mau kas

ega. Ia tahu, langkah pertama unt

anak lebih intens, menyiapkan sarapan lebih hangat, bahkan mencoba berbicara lebih lembut p

etiap kali ia lewat, terdengar bisik-bisik yang jelas: "Itu kan perempuan

idak ada yang bisa menolongnya

nya. Ia terlihat lelah, tapi ada sesuatu yang

a. Tapi aku juga mau tau... kamu benar-ben

ma dia. Aku nggak mau nyakitin siapa pun lag

Tapi Lina... aku nggak bisa janji ini gampang. A

erti, Mas. Aku juga butuh wakt

Meski hatinya hancur, ia mencoba mengalihkan perasaan itu dengan bekerja lebih keras dan mendekat pa

ersisa. Ia mulai curiga bahwa sesuatu yang besar terjadi di antara Lina dan Damar. Ma

a istrinya terlalu lama. "Aku nggak ba

a napas. "Aku cuma mau percaya...

menjadi-jadi. Anak-anak mulai bertanya mengapa teman-teman mereka di sekolah menghindari m

ga anak-anak. Malam itu, ia duduk di ruang tamu sambil memeluk Raka dan Nisa. "Ibu minta ma

mua ini, tapi mereka merasakan ketegangan yang sama. Lina berjanji pad

atinya selalu tergoda untuk melihat kabarnya. Ia tahu, hubungan itu sudah berakhir, da

iksa pesan-pesannya, mengintai aktivitasnya. Damar mulai merasa

tajam. "Aku nggak bisa terus hidup dengan

n tanpa merusak semuanya. "Rina... aku... aku pernah dekat dengan seseorang. Tapi

n yang lebih. "Kamu nggak mau cerita si

ng bisa menghancurkan hubungan yang tersisa. "Aku nggak bisa ngomong semu

alu mengangguk perlahan. "Aku cuma m

tap menjaga jarak, tapi tidak lagi dingin sepenuhnya. Ia mulai melihat usaha Lina yan

k, dan selalu mencoba hadir untuk Randi dan anak-anak. Semua itu terasa mele

di samping Lina. "Lina... aku lihat usaha kamu.

a kasih, Mas. Aku janji... a

derhana, tapi bagi Lina, itu adalah sinyal pertama bah

i, gosip masih beredar, dan masa lalu Lina tidak bisa dihapus begitu s

intangan. Tapi satu hal yang pasti: ia tidak akan menyerah. Bukan hanya untuk diriny

Tapi kali ini, Lina melihatnya sebagai simbol kehidupan baru

erapa minggu, ia merasakan sedikit ketenangan. Mungkin masih ada jalan un

ap menggosip, dan masa lalu akan selalu membayang. Tapi kini, hatinya bertekad: ia

i. Ia tahu, besok akan menjadi hari baru. Hari di mana ia akan terus berjuang untuk menebus

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
“Lina hanya bisa menahan sabar setiap kali mendengar ocehan suaminya, Randi. Pria itu bekerja sebagai kuli bangunan, berangkat pagi buta dan pulang dengan tubuh penuh keringat. Namun, yang paling membuat Lina sesak bukanlah lelahnya hidup miskin, melainkan kenyataan bahwa setiap hari dia hanya dijatah uang dua puluh ribu rupiah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Harga-harga yang semakin naik membuat Lina sering kebingungan. Beras menipis, sayur tak terbeli, dan anak-anak butuh uang sekolah. Randi memang baik, tapi keras kepala dan gengsinya tinggi. Ia menolak jika Lina ingin membantu mencari penghasilan tambahan. Hingga suatu hari, godaan itu datang tanpa Lina sadari. Di rumah sebelah tinggal pasangan Damar dan Rina. Damar bekerja sebagai teknisi listrik di perusahaan besar, gajinya tentu jauh lebih besar dibanding Randi. Awalnya, Lina hanya memperhatikan Damar diam-diam - cara pria itu berbicara sopan, penampilannya rapi, dan tatapannya yang tenang. Namun, siapa sangka, Damar ternyata juga sering memperhatikan Lina. Pandangan-pandangan singkat itu perlahan berubah menjadi percakapan kecil, lalu pertemuan-pertemuan diam-diam. Mereka saling memberi perhatian, sesuatu yang sudah lama tak dirasakan Lina dari suaminya sendiri. Sejak dekat dengan Damar, kehidupan Lina berubah. Entah bagaimana, uang belanja yang dulu pas-pasan kini selalu cukup. Ia bisa membeli lauk yang lebih layak, pakaian baru untuk anak-anaknya, dan sesekali menikmati makanan yang dulu hanya bisa dibayangkan. Namun setiap kali memandangi wajah Randi yang tertidur lelah sepulang kerja, hati Lina mulai terasa berat. Ia tahu, semua yang ia nikmati kini tak sepenuhnya benar. Tapi di sisi lain, ia juga merasa tak sanggup lagi hidup dalam kekurangan yang tiada akhir.”
1 Bab 1 Dua butir telur buat empat orang2 Bab 2 jangan kirim pesan3 Bab 3 mendengar ocehan suaminya4 Bab 4 Ia sudah menangis sampai lelah5 Bab 5 lingkungan rumah6 Bab 6 mereka masih dirundung ketakutan7 Bab 7 Kita hadapi bareng-bareng8 Bab 8 takut terseret dalam gosip9 Bab 9 kelelahan10 Bab 10 Hari ini ibu akan nemenin kalian11 Bab 11 kita nggak bisa lari12 Bab 12 mereka bakal nyakitin kita13 Bab 13 masih ada kekhawatiran yang tak mau pergi14 Bab 14 kafe yang dulu mereka rahasiakan15 Bab 15 haus akan kebenaran16 Bab 16 Dua bulan setelah penangkapan17 Bab 17 menantang perusahaan18 Bab 18 Jangan coba laporkan ke siapa pun19 Bab 19 Iqbal belum kembali20 Bab 20 matanya tetap penuh kewaspadaan21 Bab 21 menghilang22 Bab 22 Mereka mengawasi23 Bab 23 Kau pikir menang kemarin cukup 24 Bab 24 pengkhianatan25 Bab 25 Semua yang kau lakukan akan terungkap26 Bab 26 pengalihan