icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan

Bab 5 lingkungan rumah

Jumlah Kata:1969    |    Dirilis Pada: 24/10/2025

ereka makin terasa menekan. Gosip tentang perselingkuhannya dengan Damar kini menjadi bahan perbincangan yang tak

semua orang bakal tahu," ujar Bu Yuni saat mereka bertemu d

ta yang bisa membela dirinya. Ia hanya bis

aca. Ada rasa marah, kecewa, tapi juga sedikit harapan yang samar. Sejak Lina berjanji menutup hubungan dengan Da

mbuka pembicaraan

ke. Tapi aku liat usaha kamu. Aku mau per

duk, menah

berusaha. Aku mau perbaiki semuanya,

la. "Semua butuh waktu, Lina. Aku nggak bisa c

ikit lega. Ia tahu, perjalanan panjang unt

bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan hangat untuk anak-anak, membersihka

inis. Di pasar, beberapa ibu-ibu membicarakan gosipnya. Anak-anak mulai merasakan dampakn

menyakiti Randi, tapi juga anak-anak. Malam itu, i

kalian tersiksa karena kesalahan i

os, tak sepenuhnya mengerti, tapi me

kin, tapi rasa cinta yang tersisa membuatnya sulit. Rina, istrinya, mulai merasakan perubahan pa

a menatap Damar

nyakitin aku lag

, ini saatnya ia jujur

i sekarang... aku udah putusin semuanya. Aku ma

nunggu kejujuran lebi

cerita semuanya. Yang penting, aku n

gangguk pelan. "Aku cuma mau pe

ai setiap langkah Lina, mengomentari pakaian, perilaku, dan interaksinya dengan Randi. Bah

ak-anak dari sekolah, seorang ibu

.. katanya mau perbaiki rumah ta

anak tampak bingung, menatap ibunya dengan mata polos. H

pur, menulis catatan hari

ari kesalahanmu. Tapi kamu bisa memperbaikinya. U

ina, tapi luka akibat pengkhianatan itu sulit sembuh. Ia kadang merasa mar

endiri di teras, menatap b

nggak aku percaya lagi? Bisa nggak aku

na yang bisa mengubah perasaannya. Ia bert

lebih perhatian. Ia mulai ikut mengantar anak-anak ke sekolah, membantu PR mereka, bahkan menghadiri rapat

lumnya menggosip mulai melunak, meski tidak sepenuhnya pe

ri, seorang tetangga sengaja menyinggun

uat ya. Dengar-dengar beberapa bulan la

anak-anak. Ia tersenyum tipi

. Tapi aku dan keluarga akan berusah

kesempatan pada Lina untuk membuktikan kesungguhan. Setiap senyuman Lina, seti

ak-anak tidur, Randi me

nggak bisa janji ini gampang, tap

duk, air m

ku janji... aku nggak

tu adalah tanda pertama bahwa rumah tang

nan sosial masih ada. Anak-anak kadang mendengar komentar, tetangga meng

angan. Namun satu hal yang pasti: ia tidak akan menyerah. Bukan hanya untuk dirinya s

ang terus berjalan, basah oleh tantangan, tapi penuh harapan. Ia menarik napas panjang, menatap Randi y

ah tangga mereka. Mungkin masih a

amai. Besok akan menjadi hari baru. Hari di mana ia akan terus berjuang untuk menebus kes

ke sekolah, namun wajah mereka tidak ceria seperti dulu. Nisa menatap ibunya dengan mata y

ngomongin aku... tentang ibu," bi

dupan anak-anaknya. "Nak... ibu tahu, ibu minta maaf. Tapi kita harus kuat. Jangan dengark

tegangan yang sama. "Iya, Bu... tapi mereka bi

naknya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, dan berjan

harusnya netral tampak ragu ketika menatap Nisa, sementara bebera

k sama aku di kelas," ucapny

i ibu janji... ibu akan perbaiki semuanya. Kita h

an semua tekanan yang dirasakan anak-anak, mulai d

at. Tapi aku juga harus bisa percaya sama kamu. Kita harus ke

ya, Mas... aku ngerti. Aku akan ber

a ibu-ibu bergosip di depan anak-anaknya, membuat anak-anaknya malu. Bahkan beberapa k

menghampiri Lina d

soal kamu sama Randi. Anak-anak juga kena imbasnya. K

ahan kini semakin kompleks. Bukan hanya harus menghadapi Randi, t

tapi ia mulai memberi kesempatan pada Lina untuk menunjukkan kesungguha

nggak bisa janji ini gampang, tapi

"Terima kasih, Mas... aku janji

tu adalah tanda pertama bahwa rumah tang

kebutuhan rumah tangga, ia bertemu dengan Damar. Pria itu tampak ber

soal kamu dan anak-anak,"

gi berusaha perbaiki semuanya. Aku nggak

rap kamu bisa benar-benar menebus semuanya. Aku nggak ak

. Pertemuan itu menjadi pengingat bahwa masa lalu tak per

an lebih terbuka dari teman-temannya. Suatu hari, Nisa pulang sambil mena

p. Tekanan itu kini menembus kehidupan anak-anaknya

g, Mas. Aku nggak bisa sendirian,"

hadapi ini bareng. Aku masih sayang sam

an situasi, ikut rapat wali murid, dan mencoba menjernihkan gosip yang beredar. Ia juga mendampin

perhatian yang tulus, dan perubahan sikap yang konsisten. Meski ha

ndi memeluk Lin

kamu. Aku mau coba lagi. Aku

"Terima kasih, Mas... aku janji

intai, gosip tetap beredar, dan masa lalu Lina terus membaya

idupan yang terus berjalan-basah oleh tantangan, tapi penuh harapan. Ia menarik napas panjang, menatap R

ah tangga mereka. Mungkin masih a

baru. Hari di mana ia akan terus berjuang untuk menebus kesalahan, memperb

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
“Lina hanya bisa menahan sabar setiap kali mendengar ocehan suaminya, Randi. Pria itu bekerja sebagai kuli bangunan, berangkat pagi buta dan pulang dengan tubuh penuh keringat. Namun, yang paling membuat Lina sesak bukanlah lelahnya hidup miskin, melainkan kenyataan bahwa setiap hari dia hanya dijatah uang dua puluh ribu rupiah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Harga-harga yang semakin naik membuat Lina sering kebingungan. Beras menipis, sayur tak terbeli, dan anak-anak butuh uang sekolah. Randi memang baik, tapi keras kepala dan gengsinya tinggi. Ia menolak jika Lina ingin membantu mencari penghasilan tambahan. Hingga suatu hari, godaan itu datang tanpa Lina sadari. Di rumah sebelah tinggal pasangan Damar dan Rina. Damar bekerja sebagai teknisi listrik di perusahaan besar, gajinya tentu jauh lebih besar dibanding Randi. Awalnya, Lina hanya memperhatikan Damar diam-diam - cara pria itu berbicara sopan, penampilannya rapi, dan tatapannya yang tenang. Namun, siapa sangka, Damar ternyata juga sering memperhatikan Lina. Pandangan-pandangan singkat itu perlahan berubah menjadi percakapan kecil, lalu pertemuan-pertemuan diam-diam. Mereka saling memberi perhatian, sesuatu yang sudah lama tak dirasakan Lina dari suaminya sendiri. Sejak dekat dengan Damar, kehidupan Lina berubah. Entah bagaimana, uang belanja yang dulu pas-pasan kini selalu cukup. Ia bisa membeli lauk yang lebih layak, pakaian baru untuk anak-anaknya, dan sesekali menikmati makanan yang dulu hanya bisa dibayangkan. Namun setiap kali memandangi wajah Randi yang tertidur lelah sepulang kerja, hati Lina mulai terasa berat. Ia tahu, semua yang ia nikmati kini tak sepenuhnya benar. Tapi di sisi lain, ia juga merasa tak sanggup lagi hidup dalam kekurangan yang tiada akhir.”
1 Bab 1 Dua butir telur buat empat orang2 Bab 2 jangan kirim pesan3 Bab 3 mendengar ocehan suaminya4 Bab 4 Ia sudah menangis sampai lelah5 Bab 5 lingkungan rumah6 Bab 6 mereka masih dirundung ketakutan7 Bab 7 Kita hadapi bareng-bareng8 Bab 8 takut terseret dalam gosip9 Bab 9 kelelahan10 Bab 10 Hari ini ibu akan nemenin kalian11 Bab 11 kita nggak bisa lari12 Bab 12 mereka bakal nyakitin kita13 Bab 13 masih ada kekhawatiran yang tak mau pergi14 Bab 14 kafe yang dulu mereka rahasiakan15 Bab 15 haus akan kebenaran16 Bab 16 Dua bulan setelah penangkapan17 Bab 17 menantang perusahaan18 Bab 18 Jangan coba laporkan ke siapa pun19 Bab 19 Iqbal belum kembali20 Bab 20 matanya tetap penuh kewaspadaan21 Bab 21 menghilang22 Bab 22 Mereka mengawasi23 Bab 23 Kau pikir menang kemarin cukup 24 Bab 24 pengkhianatan25 Bab 25 Semua yang kau lakukan akan terungkap26 Bab 26 pengalihan