icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan

Bab 24 pengkhianatan

Jumlah Kata:1720    |    Dirilis Pada: 24/10/2025

an yang terus mendera hatinya. Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan meningkat; jaringan Hitam tidak pernah b

ar

Buka bab ini

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
“Lina hanya bisa menahan sabar setiap kali mendengar ocehan suaminya, Randi. Pria itu bekerja sebagai kuli bangunan, berangkat pagi buta dan pulang dengan tubuh penuh keringat. Namun, yang paling membuat Lina sesak bukanlah lelahnya hidup miskin, melainkan kenyataan bahwa setiap hari dia hanya dijatah uang dua puluh ribu rupiah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Harga-harga yang semakin naik membuat Lina sering kebingungan. Beras menipis, sayur tak terbeli, dan anak-anak butuh uang sekolah. Randi memang baik, tapi keras kepala dan gengsinya tinggi. Ia menolak jika Lina ingin membantu mencari penghasilan tambahan. Hingga suatu hari, godaan itu datang tanpa Lina sadari. Di rumah sebelah tinggal pasangan Damar dan Rina. Damar bekerja sebagai teknisi listrik di perusahaan besar, gajinya tentu jauh lebih besar dibanding Randi. Awalnya, Lina hanya memperhatikan Damar diam-diam - cara pria itu berbicara sopan, penampilannya rapi, dan tatapannya yang tenang. Namun, siapa sangka, Damar ternyata juga sering memperhatikan Lina. Pandangan-pandangan singkat itu perlahan berubah menjadi percakapan kecil, lalu pertemuan-pertemuan diam-diam. Mereka saling memberi perhatian, sesuatu yang sudah lama tak dirasakan Lina dari suaminya sendiri. Sejak dekat dengan Damar, kehidupan Lina berubah. Entah bagaimana, uang belanja yang dulu pas-pasan kini selalu cukup. Ia bisa membeli lauk yang lebih layak, pakaian baru untuk anak-anaknya, dan sesekali menikmati makanan yang dulu hanya bisa dibayangkan. Namun setiap kali memandangi wajah Randi yang tertidur lelah sepulang kerja, hati Lina mulai terasa berat. Ia tahu, semua yang ia nikmati kini tak sepenuhnya benar. Tapi di sisi lain, ia juga merasa tak sanggup lagi hidup dalam kekurangan yang tiada akhir.”
1 Bab 1 Dua butir telur buat empat orang2 Bab 2 jangan kirim pesan3 Bab 3 mendengar ocehan suaminya4 Bab 4 Ia sudah menangis sampai lelah5 Bab 5 lingkungan rumah6 Bab 6 mereka masih dirundung ketakutan7 Bab 7 Kita hadapi bareng-bareng8 Bab 8 takut terseret dalam gosip9 Bab 9 kelelahan10 Bab 10 Hari ini ibu akan nemenin kalian11 Bab 11 kita nggak bisa lari12 Bab 12 mereka bakal nyakitin kita13 Bab 13 masih ada kekhawatiran yang tak mau pergi14 Bab 14 kafe yang dulu mereka rahasiakan15 Bab 15 haus akan kebenaran16 Bab 16 Dua bulan setelah penangkapan17 Bab 17 menantang perusahaan18 Bab 18 Jangan coba laporkan ke siapa pun19 Bab 19 Iqbal belum kembali20 Bab 20 matanya tetap penuh kewaspadaan21 Bab 21 menghilang22 Bab 22 Mereka mengawasi23 Bab 23 Kau pikir menang kemarin cukup 24 Bab 24 pengkhianatan25 Bab 25 Semua yang kau lakukan akan terungkap26 Bab 26 pengalihan