icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan

Bab 3 mendengar ocehan suaminya

Jumlah Kata:2592    |    Dirilis Pada: 24/10/2025

risi nasi sisa kemarin. Uap air mendidih dari teko di kompor gas kecil memenuhi udara lembap ruangan itu. Ia menghela napas panjang. Sejak pagi, Randi belum pulang dari proye

ahun, menarik ujung daster ibunya. "Bu,

tiba menggenang. "Iya, Nak. Ibu masak dulu, ya. Nanti mak

anan - minyak goreng, gula, dan bahkan sekilo daging ayam. Katanya, itu hanya titipan. Tapi Lina tahu, itu bukan titipan. It

il memotong bawang. Matanya pedih, entah karena

h menyala. Suara musik lembut terdengar, disusul tawa kecil. Entah mengapa, dada Lina terasa nyeri mendengarnya. Ada rasa iri yang tak b

pria itulah yang kin

ujan. Tanpa bicara banyak, ia langsung melempar sandal ke dekat pintu,

tanya Lina hati-hati samb

anyak-banyak. Uang tingga

ak ayam. Ada tetangga yang ng

ya curiga. "Te

"E... Bu Rina,"

er. Hati-hati aja, Lin. Jangan keseringan bergau

Dalam diam, Lina menatap punggung suaminya yang lelah. Ia tahu, pria itu bekerja keras, tapi entah mengapa, semua te

ng menemani. Di luar, petir menyambar sesekali, dan Lina diam-dia

ra motor berhenti di depan rumah. Ia menoleh. Damar turun dari motornya, masih mengenakan seragam

ina," sapa

awab Lina cepat, jantung

putus. Tapi sekalian, ini ada sedikit titipan," uc

bingung. "Tit

banyakan, katanya kalau dibagi-bagi ngga

tu dengan tangan gemetar.

rucap, sesuatu yang menggantung di udara. Damar akhirnya mengangguk pelan dan beranjak pergi. Tapi s

laman. Di tangannya, secangkir kopi yang mulai dingin. Rina

i, ya? Dia cerita tadi ke aku, katan

"Oh... nggak, cuma

dang kalau kerja suka kebanyakan ngomo

tawa. "Nggak, ko

kin menusuk. Ia tahu, semua ini salah. Tapi di sisi lain, setiap kali melihat Dama

amar. Mereka tidak pernah melakukan hal yang terlalu jauh, tapi kedekatan batin itu makin dalam. Pesan-pesan

n itu mulai berub

ina sedang menatap layar ponsel sambil tersenyum. "

apa-apa. Tadi Rina kirim pesan,

" suara Randi meni

Kok kamu ngom

Aku tahu kamu mulai banyak omong sama laki-laki itu. Hati-ha

am hatinya, ada ketakutan-bukan hanya karena ucapan Randi, tapi karena

erputar. Ia merasa seperti perempuan berdosa, tapi juga korban keadaan. Ia ingin berhenti, tapi

an acara ulang tahun anaknya. Di rumah besar itu, Lina disambut hangat. Rin

n, Pak?" tany

eh, tapi hati-hati ya, nanti kalau Rina

inya memanas. "Say

usah takut. Aku tahu semua ini salah, tapi a

berputar. Ia ingin berkata sesuatu, tapi tenggorokannya ke

ang tahunnya udah si

sibuk merapikan meja. Tapi dalam hati,

pulang. Damar mengantarnya sampai halaman. Lampu te

h bantu hari ini,

," jawab L

rdengar. Lalu tiba-tiba, Damar menggenggam tangan L

u butuh tempat buat cerita.

irinya yang justru menolak melepaskan genggaman itu. Tapi sebelum semp

Kamu di

ungnya berdegup kencang, bukan hanya karena takut ketahuan,

hilang di balik pagar. Hujan rintik-rintik mulai turun lagi malam itu

h tempat cerita, aku ada." Sesederhana itu, tapi terasa menembus relung hatinya yang paling

r bukan miliknya. Ia tahu, Rina tak pantas dikhianati. Tapi sema

dah aku lakukan?" bisikn

an mata basah. Ia tahu, Randi mungkin tak sempurna, tapi dulu pria itulah yang pertama

lam suara rintiknya, Lina tahu-hi

bahwa sesuatu yang berbahaya sedang tumbuh di

n jalanan yang basah licin. Lina duduk di teras, menatap cangkir kopi yang mulai mendingin, mencoba menenangkan pikirannya.

hat sepele, tapi bagi hatinya, itu ibarat pe

panggang memenuhi ruangan. Tapi Lina tidak berani menatapnya. Ia takut

" kata Randi sambil mele

lan. "Makasih, Mas

l yang berkeliaran di dapur tua mereka. Lina menelan l

emalam. Tangannya kotor, basah, tapi matanya sesekali melirik ke arah rumah Lina. Ia ta

sa tenang kalau nggak lia

tu yang tidak pernah ia rasakan di rumah sendiri. Rina... istrinya, baik, tapi dingin. Sejak awal pernikahan, Rina terlalu sibuk dengan

. Ia menyadari perubahan sikap Lina belakangan ini: senyumnya lebih jaran

al di meja. Ia tahu itu salah, tapi rasa curiga menuntunnya. Ia membuka layar ku

dari

rindu

gin melihatm

rumahmu, Lin. J

danya panas. Ia tahu, perasaannya campur aduk: marah, kecewa, bahk

keluar kemarin siang terbayang jelas di matanya. Ia tahu

, ia berjalan di antara genangan air, mencoba menjaga wibawa agar tidak basah kuyup. Tapi dari kej

irin dia?" gumam Damar, menatap Lin

dengan tetangga lain, Bu

bil menatap keranjang belanja Lina. "Eh, belanj

u. "Iya, Bu. Lagi

ngar-dengar kamu sering dekat sama Damar ya? Janga

nggak, Bu. Kami kan

nyelidik. "Kalau kamu bilang begitu... semoga aja, ya. Ta

ada. Kata-kata Bu Yuni membuat hatinya semakin gelisah

yang tertidur. Raka tidur di pangkuannya, sementara kakaknya, Nisa, sudah terlela

el bergetar. Pe

. Mau ngobro

ini berisiko. Tapi hatinya tetap ingin melihatnya. Ia me

alan. Hujan menetes di rambutnya, ta

ng?" tanya L

u nggak tenang kalau nggak tau k

nggak bisa terus gini. Kalau

ak bisa pura-pura nggak peduli sama ka

nya suara hujan ya

Lina. "Aku takut Randi tau. A

janji, aku bakal jaga. Aku nggak ba

. Lampu sorotnya menyinari jalan. Lina menatap deng

kan tangan Damar. "Mas...

dian melepaskan. "Aku pergi

el kamu," katanya sambil mengacungkan ponsel. "Aku nemuin ini

a tahu, semuanya sudah terbongkar. Tidak ada l

ku cuma... aku cuma butuh pe

turun. "Kamu... kamu selingkuh, Lina? Selama ini

Aku nggak bermaksud... aku cuma... aku lelah hidup k

s di jalanan seolah meniru perasaannya ya

eharusnya bilang, aku butuh perhatian...

si. "Kamu hancurin kepercayaan aku, Lina

ya kini berada di titik terendah. Tak ada yang bisa menolon

ra banyak, tapi tatapannya menusuk setiap kali Lina melintas. Lina beru

sudah terlalu berbahaya. Rina mulai curiga, tetangga mula

rkesudahan. Lina merasa sendirian, bersalah, dan hancur. Semua yang ia l

k ada lagi jalan untuk mundur. Semua harus dihadapi. Dan yang paling menyakitkan, ia harus menghad

sahi bantal, dan ia merasakan kehampaan yang begitu dalam. Ia tahu, hidup

a luka ini bisa sembuh, dan ia masih bisa men

dunia tetap berjalan, tidak pedu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
“Lina hanya bisa menahan sabar setiap kali mendengar ocehan suaminya, Randi. Pria itu bekerja sebagai kuli bangunan, berangkat pagi buta dan pulang dengan tubuh penuh keringat. Namun, yang paling membuat Lina sesak bukanlah lelahnya hidup miskin, melainkan kenyataan bahwa setiap hari dia hanya dijatah uang dua puluh ribu rupiah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Harga-harga yang semakin naik membuat Lina sering kebingungan. Beras menipis, sayur tak terbeli, dan anak-anak butuh uang sekolah. Randi memang baik, tapi keras kepala dan gengsinya tinggi. Ia menolak jika Lina ingin membantu mencari penghasilan tambahan. Hingga suatu hari, godaan itu datang tanpa Lina sadari. Di rumah sebelah tinggal pasangan Damar dan Rina. Damar bekerja sebagai teknisi listrik di perusahaan besar, gajinya tentu jauh lebih besar dibanding Randi. Awalnya, Lina hanya memperhatikan Damar diam-diam - cara pria itu berbicara sopan, penampilannya rapi, dan tatapannya yang tenang. Namun, siapa sangka, Damar ternyata juga sering memperhatikan Lina. Pandangan-pandangan singkat itu perlahan berubah menjadi percakapan kecil, lalu pertemuan-pertemuan diam-diam. Mereka saling memberi perhatian, sesuatu yang sudah lama tak dirasakan Lina dari suaminya sendiri. Sejak dekat dengan Damar, kehidupan Lina berubah. Entah bagaimana, uang belanja yang dulu pas-pasan kini selalu cukup. Ia bisa membeli lauk yang lebih layak, pakaian baru untuk anak-anaknya, dan sesekali menikmati makanan yang dulu hanya bisa dibayangkan. Namun setiap kali memandangi wajah Randi yang tertidur lelah sepulang kerja, hati Lina mulai terasa berat. Ia tahu, semua yang ia nikmati kini tak sepenuhnya benar. Tapi di sisi lain, ia juga merasa tak sanggup lagi hidup dalam kekurangan yang tiada akhir.”
1 Bab 1 Dua butir telur buat empat orang2 Bab 2 jangan kirim pesan3 Bab 3 mendengar ocehan suaminya4 Bab 4 Ia sudah menangis sampai lelah5 Bab 5 lingkungan rumah6 Bab 6 mereka masih dirundung ketakutan7 Bab 7 Kita hadapi bareng-bareng8 Bab 8 takut terseret dalam gosip9 Bab 9 kelelahan10 Bab 10 Hari ini ibu akan nemenin kalian11 Bab 11 kita nggak bisa lari12 Bab 12 mereka bakal nyakitin kita13 Bab 13 masih ada kekhawatiran yang tak mau pergi14 Bab 14 kafe yang dulu mereka rahasiakan15 Bab 15 haus akan kebenaran16 Bab 16 Dua bulan setelah penangkapan17 Bab 17 menantang perusahaan18 Bab 18 Jangan coba laporkan ke siapa pun19 Bab 19 Iqbal belum kembali20 Bab 20 matanya tetap penuh kewaspadaan21 Bab 21 menghilang22 Bab 22 Mereka mengawasi23 Bab 23 Kau pikir menang kemarin cukup 24 Bab 24 pengkhianatan25 Bab 25 Semua yang kau lakukan akan terungkap26 Bab 26 pengalihan