icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan

Bab 2 jangan kirim pesan

Jumlah Kata:1718    |    Dirilis Pada: 24/10/2025

i ini, suasananya berbeda. Lina duduk di tepi ranjang, memandangi suaminya yang tertidur deng

, pesan dari

isa tidur, Lin. Kep

kirim pesan malam-malam b

ur. Aku cuma pengin

ukup lama, lalu mengetik ba

ku juga

dalikan oleh sesuatu yang lebih kuat dari logika. Ia meletakkan ponsel di bawah bantal, lalu

h kopi untuk Randi, lalu menyiapkan bekal nasi dengan sambal dan telur goreng. Randi m

sok ada rapat orang tua di sek

atang aja. Tapi jangan minta

pelan. "Iya, M

p pintu yang baru saja ditutup suaminya. Perasaannya hampa, se

ar suara pesan masuk. Ponselnya

ah sebentar, Lin. Ad

erdetak cepat. Ia menoleh ke arah jende

kan seragam kerjanya yang bersih dan rapi.

enyerahkan bungkusan itu. "Sedikit sus

itu dengan gugup. "Aduh,

uma pengin bantu. Aku ta

lama. "Aku nggak mau orang salah paha

lah paham, apa pun yang kita lakuin bakal

aman - sekaligus takut. Aman, karena Damar memberinya perhatian yang tul

, Mas," bisik

elangkah pergi. Tapi langkahny

gang, di bawah pohon mangga besar yang sepi. Kadang hanya untuk berbicara, kadang untuk sekadar dudu

tahu gimana?" tan

pagi sampai malam. Aku bahkan jarang makan bareng dia. Kadang aku ber

ng ngerasa begitu sama Randi. Tapi

Kalau dua orang sama-sama terluka, tapi cuma bi

ya yang terdalam, ia tak bisa menolak logika lembut dari kata-kata itu.

ering merapikan diri sebelum berangkat kerja. Parfumnya lebih wangi, bajunya s

na menatapnya d

nget. Sering pulang malam juga

"Iya, banyak lembur.

itu. Tapi proyeknya kok kayaknya deket banget, ya? So

kecil. "Lah, kan rumah dia searah jalan ke pro

uga sih." Tapi dalam hatinya

pendiam dari biasanya. Kadang matanya menatap tajam tanpa alasan. Ia tak per

piring, Randi mendekat pelan. "Lin, akhi

"Enggak, Mas. P

Randi dingin. "Soalnya tadi aku li

galir. Suara itu terdengar menekan di teli

tulan. Aku mau beli s

Aku nggak mau nuduh, Lin. Tapi hati-hati. Orang bisa ng

nahan air mata. "

dan menangis diam-diam. Bukan karena takut, tapi karena merasa

tara. Damar mengusulkan itu demi kebaikan keduanya, agar tidak menimbulkan kec

asihan, kini berubah menjadi kebutuhan. Mereka mer

Damar meng

Lin. Rasanya ha

i. Kita udah sepak

gin lihat kamu sebentar aja.

sekali. Hatinya berperang. Ta

n di bawah pohon mangga besar, tempat biasa mereka bertem

emu," katanya lirih. "Soalnya tiap

"Kita nggak bisa terus begini.

epat. "Aku yang salahin diri sendiri. Aku yang minta m

nya menetes. "Mas jangan ngomon

gat dan kuat. "Aku nggak peduli apa kata

, sementara jari-jari mereka masih saling mengg

Lina. Ia mengetuk pintu dengan wajah tenang, tapi mata

apa ya?" tanyanya

mau ngasih tahu, Bu Lina. Hati-hati kalau bicara sama suami saya.

i tajam. Lina terpaku, ja

maksud apa-apa. Saya

n. Saya cuma peringatin aja. Kadang perempuan suka

pinya terbakar. Rina kemudian berb

duk di lantai. Tangannya menutup wajah.

isiknya. "Aku u

nomor teleponnya. Tapi Damar tidak menyerah. Ia menunggu di ujung gang, mengirim sura

ga. Suatu malam, ia memergoki Lina sedang membaca selembar kertas keci

uara Randi pel

elanja, Mas," j

inya, mengambil kertas it

ku masih nunggu. Aku nggak bi

emerah. Tangannya bergetar

iapa?" suaranya s

u bisa j

a pecah di ruang sempit itu. "Selama ini

laskan, tapi suaminya sudah

butuh diperhatiin, Mas... a

terhuyung, hampir jatuh. Randi memandangn

nting tulang tiap hari buat keluarga, ta

u..." Lina terisak, meme

membanting pintu kamar, dan meninggalk

jadinya. Ia tahu, semuanya sudah hanc

gkak. Dari jauh, Damar datang mendekat, tapi langkah

g terjadi?" sua

jawab Lina dengan suara parau.

"Aku... aku minta maaf. Aku

udah salah dari awal, Mas. Aku udah hancurin rumah

n mengangguk dengan mata basah

yang temaram. Hujan kembali turun rintik-rintik, dan Lina

nya, ia benar-bena

iling-dinding kusam, meja reyot, dan sisa kopi Randi di atas me

di kaca jendela, wajah dengan

ar..." bisiknya lirih. "Sedikit pe

n bukan alasan untuk berbuat salah. Karena tidak ada ken

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
“Lina hanya bisa menahan sabar setiap kali mendengar ocehan suaminya, Randi. Pria itu bekerja sebagai kuli bangunan, berangkat pagi buta dan pulang dengan tubuh penuh keringat. Namun, yang paling membuat Lina sesak bukanlah lelahnya hidup miskin, melainkan kenyataan bahwa setiap hari dia hanya dijatah uang dua puluh ribu rupiah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Harga-harga yang semakin naik membuat Lina sering kebingungan. Beras menipis, sayur tak terbeli, dan anak-anak butuh uang sekolah. Randi memang baik, tapi keras kepala dan gengsinya tinggi. Ia menolak jika Lina ingin membantu mencari penghasilan tambahan. Hingga suatu hari, godaan itu datang tanpa Lina sadari. Di rumah sebelah tinggal pasangan Damar dan Rina. Damar bekerja sebagai teknisi listrik di perusahaan besar, gajinya tentu jauh lebih besar dibanding Randi. Awalnya, Lina hanya memperhatikan Damar diam-diam - cara pria itu berbicara sopan, penampilannya rapi, dan tatapannya yang tenang. Namun, siapa sangka, Damar ternyata juga sering memperhatikan Lina. Pandangan-pandangan singkat itu perlahan berubah menjadi percakapan kecil, lalu pertemuan-pertemuan diam-diam. Mereka saling memberi perhatian, sesuatu yang sudah lama tak dirasakan Lina dari suaminya sendiri. Sejak dekat dengan Damar, kehidupan Lina berubah. Entah bagaimana, uang belanja yang dulu pas-pasan kini selalu cukup. Ia bisa membeli lauk yang lebih layak, pakaian baru untuk anak-anaknya, dan sesekali menikmati makanan yang dulu hanya bisa dibayangkan. Namun setiap kali memandangi wajah Randi yang tertidur lelah sepulang kerja, hati Lina mulai terasa berat. Ia tahu, semua yang ia nikmati kini tak sepenuhnya benar. Tapi di sisi lain, ia juga merasa tak sanggup lagi hidup dalam kekurangan yang tiada akhir.”
1 Bab 1 Dua butir telur buat empat orang2 Bab 2 jangan kirim pesan3 Bab 3 mendengar ocehan suaminya4 Bab 4 Ia sudah menangis sampai lelah5 Bab 5 lingkungan rumah6 Bab 6 mereka masih dirundung ketakutan7 Bab 7 Kita hadapi bareng-bareng8 Bab 8 takut terseret dalam gosip9 Bab 9 kelelahan10 Bab 10 Hari ini ibu akan nemenin kalian11 Bab 11 kita nggak bisa lari12 Bab 12 mereka bakal nyakitin kita13 Bab 13 masih ada kekhawatiran yang tak mau pergi14 Bab 14 kafe yang dulu mereka rahasiakan15 Bab 15 haus akan kebenaran16 Bab 16 Dua bulan setelah penangkapan17 Bab 17 menantang perusahaan18 Bab 18 Jangan coba laporkan ke siapa pun19 Bab 19 Iqbal belum kembali20 Bab 20 matanya tetap penuh kewaspadaan21 Bab 21 menghilang22 Bab 22 Mereka mengawasi23 Bab 23 Kau pikir menang kemarin cukup 24 Bab 24 pengkhianatan25 Bab 25 Semua yang kau lakukan akan terungkap26 Bab 26 pengalihan