icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan

Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan

icon

Bab 1 Dua butir telur buat empat orang

Jumlah Kata:1467    |    Dirilis Pada: 24/10/2025

ai mengelupas, dengan meja kayu yang sudah retak di ujungnya, dan kompor gas tua yang api birunya sering berubah jad

genggam sayur kangkung yang layu. Lina menata

ng... ya, paling aku kasih buat

mu yang sederhana. Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki bera

Lin?" suaranya agak tinggi,

enjawab dengan nada yang sama. "Sebentar, aku

t pintu, membuka dompet lusuhnya, lalu mengambil sele

itu tanpa bergerak

aru cair separuh, sisanya minggu depan. Jangan b

kup untuk membeli beras, sayur, minyak, dan kebutuhan anak-anak yang harus sekolah.

bnya pelan sambil

n topi lusuh dan jaket kusamnya. "Aku berangkat dulu.

menghilang di tikungan, ia duduk di kursi ruang t

ukupin semuanya..." b

ak goreng setengah liter, dan sedikit tahu tempe. Uang di tangannya nyaris habis, bahkan tanp

emu dengan seorang pria yang sedang memperbaiki kabel di depan rumahnya. Pria itu

apa pria itu sambi

Oh, Pak Damar... pagi. L

ab Damar santai. "Istri saya sudah teriak-

. "Bu Rina memang

andangannya sempat menatap Lina sedikit lebih lama dari

u berpaling, melanjutkan langkah pulang. Namun entah ken

tidaknya terlihat begitu dari luar. Tapi dalam diam

yang membuatnya ingin menyapa. Kadang Damar sekadar melambaikan tangan, kadang hanya

alan. Pulang kerja hanya untuk makan, mandi, lalu tidur. Setiap ke

kerja tiap hari, Lin," kata Randi suatu

asing. Lelaki itu dulu begitu hangat di awal pernikahan mereka. Ta

ng seperti angin segar yang membawa

njemur pakaian di halaman, Damar

mber di rumah bocor, Rina lagi

jawab Lina. Ia mengambil ember biru dar

k ada ibu, repot juga saya," ujar

iasa aja, Pak Damar. Tetang

tap Lina dengan lembut. "Tapi n

k bermaksud apa-apa, tapi cara tatapannya membuat ja

kali-kali. Ada rasa bersalah yang mulai tumb

jalan saat sama-sama mengantar anak ke sekolah. Mereka berbincang ringan, lalu tertawa kecil. Semua

Sementara Randi semakin sibuk dengan proyek barunya. Keadaan itu memberi r

Ia berteduh di teras rumah Damar yang kebetulan paling dekat. Damar

annya deras banget," katanya

pakaiannya sudah basah kuyup. Ia pun menganggu

a, Pak Damar. S

ak juga di rumah ibunya. Cuma saya sendiri," j

sejenak. Hanya suara huja

alam foto itu, memeluk dua anak kecilnya. Ada rasa iri yang tiba-t

ihatan bahagia,

itu kadang cuma di foto, Bu Lina

n mereka bertemu, dan waktu seolah berhenti sesaat. Ada keh

dan berkata lirih, "Kadang kita cuma butu

mendengarnya. Ia tahu percakapan itu berbah

ukar pesan singkat. Awalnya hanya sapaan biasa, lalu menjadi obrolan panjang setiap malam. Mereka

lihat. Ia tidak lagi kebingungan soal uang belanja. Ada saja ala

k ayam goreng dan sambal terasi yang menggoda. Randi sempat heran, tapi tidak menanya

yang manis. Ia tahu sumbernya bukan dari kerja keras suaminy

k, memperbaiki atap bocor, atau sekadar mengganti sandal anaknya yang putus. Ta

tiap kali Randi kembali dengan wajah letih tanp

suatu malam sambil menatap punggung suaminya

nti bertemu Damar, meski hatinya tahu itu salah. Damar pun semakin berani. Kadang ia dat

lihat sesuatu dari balik jendela rumahnya. Lina dan Damar sedang berb

tidak bicara apa pun malam itu. Tapi sejak h

adar, telah menanam ben

ngannya, ada uang beberapa lembar yang baru diberikan Damar so

membakar seluruh hidupnya kapan saja. Tapi ketika bayangan wajah Randi melint

gai," bisiknya lirih, seolah me

kebahagiaan yang benar-benar lahir dari kesalaha

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
“Lina hanya bisa menahan sabar setiap kali mendengar ocehan suaminya, Randi. Pria itu bekerja sebagai kuli bangunan, berangkat pagi buta dan pulang dengan tubuh penuh keringat. Namun, yang paling membuat Lina sesak bukanlah lelahnya hidup miskin, melainkan kenyataan bahwa setiap hari dia hanya dijatah uang dua puluh ribu rupiah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Harga-harga yang semakin naik membuat Lina sering kebingungan. Beras menipis, sayur tak terbeli, dan anak-anak butuh uang sekolah. Randi memang baik, tapi keras kepala dan gengsinya tinggi. Ia menolak jika Lina ingin membantu mencari penghasilan tambahan. Hingga suatu hari, godaan itu datang tanpa Lina sadari. Di rumah sebelah tinggal pasangan Damar dan Rina. Damar bekerja sebagai teknisi listrik di perusahaan besar, gajinya tentu jauh lebih besar dibanding Randi. Awalnya, Lina hanya memperhatikan Damar diam-diam - cara pria itu berbicara sopan, penampilannya rapi, dan tatapannya yang tenang. Namun, siapa sangka, Damar ternyata juga sering memperhatikan Lina. Pandangan-pandangan singkat itu perlahan berubah menjadi percakapan kecil, lalu pertemuan-pertemuan diam-diam. Mereka saling memberi perhatian, sesuatu yang sudah lama tak dirasakan Lina dari suaminya sendiri. Sejak dekat dengan Damar, kehidupan Lina berubah. Entah bagaimana, uang belanja yang dulu pas-pasan kini selalu cukup. Ia bisa membeli lauk yang lebih layak, pakaian baru untuk anak-anaknya, dan sesekali menikmati makanan yang dulu hanya bisa dibayangkan. Namun setiap kali memandangi wajah Randi yang tertidur lelah sepulang kerja, hati Lina mulai terasa berat. Ia tahu, semua yang ia nikmati kini tak sepenuhnya benar. Tapi di sisi lain, ia juga merasa tak sanggup lagi hidup dalam kekurangan yang tiada akhir.”
1 Bab 1 Dua butir telur buat empat orang2 Bab 2 jangan kirim pesan3 Bab 3 mendengar ocehan suaminya4 Bab 4 Ia sudah menangis sampai lelah5 Bab 5 lingkungan rumah6 Bab 6 mereka masih dirundung ketakutan7 Bab 7 Kita hadapi bareng-bareng8 Bab 8 takut terseret dalam gosip9 Bab 9 kelelahan10 Bab 10 Hari ini ibu akan nemenin kalian11 Bab 11 kita nggak bisa lari12 Bab 12 mereka bakal nyakitin kita13 Bab 13 masih ada kekhawatiran yang tak mau pergi14 Bab 14 kafe yang dulu mereka rahasiakan15 Bab 15 haus akan kebenaran16 Bab 16 Dua bulan setelah penangkapan17 Bab 17 menantang perusahaan18 Bab 18 Jangan coba laporkan ke siapa pun19 Bab 19 Iqbal belum kembali20 Bab 20 matanya tetap penuh kewaspadaan21 Bab 21 menghilang22 Bab 22 Mereka mengawasi23 Bab 23 Kau pikir menang kemarin cukup 24 Bab 24 pengkhianatan25 Bab 25 Semua yang kau lakukan akan terungkap26 Bab 26 pengalihan