icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Gairah Pelarian Cinta

Bab 4 Part 04

Jumlah Kata:1392    |    Dirilis Pada: 04/03/2025

tan menginap di sini?"

asan bungalo yang rimbun karena banyak perpohonan rindang. Pemandangan d

elarikan diri dari rumah mbak, bukan?" ta

a malah cepat-capat tur

karena dibelit kain, ia berjal

bayar, bilang terima kasih saja tidak! Nanti

eluar dari bungalo itu. Jalan itu tida

ar mobilnya di ujung pelataran.

ah dan sampai di depan lobi lagi,

adang, ia berusaha mena

langsung membuka pintu begitu mobil melintas perlahan-lah

tidak membawa dompet." seru

elakang, dengan muka di tekuk les

bahkan saya tidak punya kartu identitas sama se

ulang saja, Mbak?" tany

rakhir juga masal

kau memulangkan saya, itu sama artin

rumah untuk mbak?" keluh pemuda

al di tempat yang penuh den

da tidak sabar. "Bagaimana jika mbak

a sedang mencari-cari saya, tapi juga memburu mu! Menelpon kantor mu, menanyakan alamat mu, dan mung

gis. Menggaruk-garuk kep

anik. "Jadi sekarang

ain." Cinta mengangk

sedikit pun dari tempa

biarkan mu pergi, tidak ada jaminan kau tidak akan membe

pemuda itu dar belakang, lalu i

paksa saya ja

u terkesi

tua menurun juga ke Mbak!

upir pergi begitu saja, terpaksa pemuda itu memarkirkan mobilnya. Ia l

berubah. Ia tidak lagi menunjukkan rasa sungkan mala

anku," katany

."Kau cuma dibayar untuk menyeti

iri. "Dasar tidak tahu diri. Meski tidak puny

n?" tanya pemuda itu geram. "Percuma kau m

an segala!" balas Ci

u langsung menyambar tangan Cinta. Ketika Cinta berusaha melepaskan genggamanny

itu mengancam. "Kalau mereka sampai menolak kit

utik. Ia patuh saja ketika pemuda itu menariknya men

tanda tanya. Perempuan, berbadan gemuk da

amu iseng yang hanya menanyakan harga sewa kamar,

karena mukanya terlihat bermusuhan keti

m ramah sambil mengerlingkan mata. Ber

nya penuh r

ngalo, kami pe

ia tidak percaya bahwa pemuda dan gadis yang berdiri b

ng, sementara si pria mengenakan setelan jas lengkap dengan dasi kupu-kupu. Tapi kenapa

engenal sama sekali," kata si

senyuman manisnya. "Karena sekarang dia sudah jadi istri saya, saya dong yang harus membayar semuan

pat tersentak ketika melihat isi dompet itu. Dompet itu lumayan tebal,

menarik KTPnya dan mengambil salah satu kartu kr

enatap keduanya dengan

uda itu sambil memamerkan seder

meja tempatnya bertugas. Ia menjenguk ke bawah kaki

selembar pakaian pun, kan?" tanya pemuda itu santai, sam

Cinta dan tiba-tiba mendarat

sayang?" bi

mpar pemuda itu sekeras-kerasnya, tapi

enyunggingkan senyum ramah. "Saya pilihkan bungalo

semprot Cinta begitu pint

tarkan mereka telah

sandiwara kita!" bal

udukan mereka telah seri. Tanpa pertolongann

owok ini semakin besar kepala saja," pikirnya kesal. "Ment

mengantarkanmu ke penginapan?" sahut pemuda itu dingin. "Tugasku

ngannya di dada, lalu menyi

lamat sampai ke dalam kamar. Kura

h. Ia melangkah hilir-mudik di dalam kama

harus kulakukan?" sindir pemuda itu

ka akan menginterogasimu." Cinta berpikir panik

punya pil

intai?" Cinta menatap pemuda itu dengan mata yang menyorot kesedihan yang mendal

apa yang menimpa gadis ini. Sebetulnya ia mulai kasihan, tapi lagak

ta melangkah terhuyung-huyung sambil memegangi perutnya. Gadis itu menerob

sampai terdengar suara air pembilas kloset. La

kelkan telah berubah. Ia langsung men

ak?" tanya pemuda itu den

ai tempat tidur dengan susah payah, dan

sama, tetapi bukan dari pemuda itu yang bert

mbung

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Gairah Pelarian Cinta
Gairah Pelarian Cinta
“Kepala ku mulai naik turun mengoral penis nya yang membuatku selalu terbayang. Sementara tangan kiri ku ikut mengocok naik turun. "Oooohhhh.... Cinta Stop...! Nanti keluaarrr! Aaaahhhh.....", lenguh Robi meminta ku berhenti mengoral penisnya. Aku berhenti dan kemudian berbalik badan, kami kembali saling pandang tanpa bicara satu kata pun. Lalu tiba-tiba tubuhku dipeluknya dan segera dibaliknya hingga kini posisi kami berganti menjadi Robi diatas tubuh ku dalam posisi missionary. Robi memandang tajam mata ku bebrapa saat seakan meminta ijin pada ku, aku hanya mengangguk dan berkata. "Pelan-pelan, ya!". Robi membelai pipi ku dan sesaat kemudian ia mencium kembali bibir ku agak lama dan setelah itu ia bicara dengan suara bergetar. "Jika sakit ngomong, ya. Ini juga yang pertama bagi ku, yang!". Aku hanya memejamkan mata saat kurasakan penisnya sudah berada di depan bibir vagina ku, di gesek-gesekannya sejenak supaya aku kembali bisa mengeluarkan cairan lubrikasi ku. Sambil terus menggesekkan penisnya di bibir vaginaku, Robi kemudian menggenggam penis nya dan mengarahkan serta menuntunnya ke bibir vagina ku. "Aawww....", pekik ku sambil meringis kesakitan saat kepala penis nya mulai membuka jalan, menuju vagina ku, 1/4 batangnya sudah memenuhi vagina ku yang kurasakan sesak dan penuh. "Sakit, Rob!", keluh ku. Robi yang melihatku meringis kesakitan kemudian ia mendiamkan sejenak sambil ia mengelus rambut dan mendaratkan ciumannya ke kening ku. Aku seperti merasa nyaman dengan perlakuannya barusan, sambil tersenyum aku berbisik pada nya. "Ambillah sayang, aku ikhlas menyerahkan untuk mu". Aku kembali memejamkan mata dan berusaha pasrah dan rileks, aku tahu ini bakalan sangat sakit dan merupakan kebanggan bagi kaum perempuan tapi rasa sayang ku menutup kesadaran ku saat itu, aku menanti dengan berdebar menyerahkan kehormatan ku pada lelaki yang sudah menaklukan hati ku. Melihat aku dengan pasrah di bawah membuat Robi mantap untuk memasukkan penis nya lebih dalam lagi hingga bisa merobek selaput darah ku. Lalu ia menghentakkan pinggulnya dengan keras sehingga membuat ku menjerit kembali. "Aaaaaawwwww..... Aduh.....! Aaaaaahhhhkkkk....".”