icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Gairah Pelarian Cinta

Bab 3 Part 03

Jumlah Kata:1286    |    Dirilis Pada: 04/03/2025

ri dan bisa bangkit kembali seperti dulu, dengan tek

stri yang selalu bergelimang harta dan hidup

i berdagang pakaian. Aku mengambil dari penyalu

arga, dan teman-teman. Bahkan, kepada para relasi yang dulu menjadi rekanan bisn

angan iba orang-orang yang membeli bara

enggendong Jelita yang saat itu masih balita ke sana ke mari. Sement

ikahanku. Anak-anak membutuhkan biaya untuk sekolah dan tidak mungkin

bertumpu dan menggantungkan na

akan memberikannya pada suamiku sebagai modal untuk membangu

karena ingin menolong, lama-lam

gus dan mengikuti trend paling mut

di Jakarta. Harganya pun bersaing dan lebih murah

emberi kemudahan

ar kontan, tetapi bisa mengang

tu ternyat

orang kalap, memborong sem

ku yang mendatangi mereka dan mengantarkan p

perti ini membuat pelan

nganku dari pemasok. Kini sedikit demi sediki

ngkong dan China. Bahkan, aku juga mulai pergi ke negara it

dengan kepiawaianku mengatur cash flow membuat bisnisku makin lama semakin berkembang

k ekslusif untuk kole

ahankan untuk para pelanggan setiaku yang kelebihan ua

ai bangkit, setelah melih

untuk mencari pe

mengenyahkan harga

ya yang dulu untuk menjajaki k

menjadi penyalur alat tulis

ngan yang kuperoleh. Setelah terkumpul c

u sangat bahagia sekali, perjuanganku berhasi

apa," bisik suamiku dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih un

g rumit dan terlalu tinggi tingkat persaingan dan resiko kerugian tinggi. Kali ini, ia lebih hati-hati dalam m

aju. Negara-negara yang tidak memiliki cukup lahan untuk menanam sumber alam, pada

yaan alam di negeri yang subur dan permai ini, bukan? Dengan mengekspornya,

penyaluran alat tulis kantor, mebel dan elektronik. Da

h berkat bantuanku. Ia merasa berhutang budi

orang nomor satu, tetapi bila di rumah

tidak akan bisa sesukses ini lagi dan tidak

telah dibeli olehku, harga dirinya, gengsi

kebun kosong di sebelah, sehingga kami me

gah dan luas. Seolah dengan begitu aku ingin mengatakan ke

ih lagi semua kehormatan dan kedudukan

kemudian, melengka

r pemuda itu serba salah. "Jangan

nghapus air matan

u menatap ke spion menantang mata si supir, tepat di

muda itu me

aksa kawin dengan orang lain, apa yang akan kau lakukan?"

u sambil menelan ludah keluh. "Yang paling menyiksa bagi

andaran kursi. Ia membuang pandangannya ke luar j

uh...." bisiknya sa

tu....! Itu saja y

.? Rumah keluarga, atau teman,

" bisik Cinta getir. "Mereka mendukung mama saya untu

kan mbak?" tanya pemuda itu sambil

dingin luar biasa, ia mer

ikan jawaban yang memuaskan ke mana sebetulnya ia

ama," ucap Cinta akhirnya. "Supaya saya bisa menyembunyikan diri, mengasingk

rtanya apa-apa lagi, daripada malah tambah rumit. Belum

ak salah, diujung jalan tol Cikampek, ada penginapan yang lumayan bersih, kubawa s

eduanya membisu. Sesekali pemuda itu melirik ke kaca spion dan diam-diam mengagum

k, dinaungi sepasang alis yang tebal dan hitam

semakin memukau dengan rias

a. "Cantik-cantik

nta yang terpekur meman

a, tapi pikirannya menerawang ke mana-mana. Sampai-sampai ia tidak sadar

tan menginap di sini?"

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Gairah Pelarian Cinta
Gairah Pelarian Cinta
“Kepala ku mulai naik turun mengoral penis nya yang membuatku selalu terbayang. Sementara tangan kiri ku ikut mengocok naik turun. "Oooohhhh.... Cinta Stop...! Nanti keluaarrr! Aaaahhhh.....", lenguh Robi meminta ku berhenti mengoral penisnya. Aku berhenti dan kemudian berbalik badan, kami kembali saling pandang tanpa bicara satu kata pun. Lalu tiba-tiba tubuhku dipeluknya dan segera dibaliknya hingga kini posisi kami berganti menjadi Robi diatas tubuh ku dalam posisi missionary. Robi memandang tajam mata ku bebrapa saat seakan meminta ijin pada ku, aku hanya mengangguk dan berkata. "Pelan-pelan, ya!". Robi membelai pipi ku dan sesaat kemudian ia mencium kembali bibir ku agak lama dan setelah itu ia bicara dengan suara bergetar. "Jika sakit ngomong, ya. Ini juga yang pertama bagi ku, yang!". Aku hanya memejamkan mata saat kurasakan penisnya sudah berada di depan bibir vagina ku, di gesek-gesekannya sejenak supaya aku kembali bisa mengeluarkan cairan lubrikasi ku. Sambil terus menggesekkan penisnya di bibir vaginaku, Robi kemudian menggenggam penis nya dan mengarahkan serta menuntunnya ke bibir vagina ku. "Aawww....", pekik ku sambil meringis kesakitan saat kepala penis nya mulai membuka jalan, menuju vagina ku, 1/4 batangnya sudah memenuhi vagina ku yang kurasakan sesak dan penuh. "Sakit, Rob!", keluh ku. Robi yang melihatku meringis kesakitan kemudian ia mendiamkan sejenak sambil ia mengelus rambut dan mendaratkan ciumannya ke kening ku. Aku seperti merasa nyaman dengan perlakuannya barusan, sambil tersenyum aku berbisik pada nya. "Ambillah sayang, aku ikhlas menyerahkan untuk mu". Aku kembali memejamkan mata dan berusaha pasrah dan rileks, aku tahu ini bakalan sangat sakit dan merupakan kebanggan bagi kaum perempuan tapi rasa sayang ku menutup kesadaran ku saat itu, aku menanti dengan berdebar menyerahkan kehormatan ku pada lelaki yang sudah menaklukan hati ku. Melihat aku dengan pasrah di bawah membuat Robi mantap untuk memasukkan penis nya lebih dalam lagi hingga bisa merobek selaput darah ku. Lalu ia menghentakkan pinggulnya dengan keras sehingga membuat ku menjerit kembali. "Aaaaaawwwww..... Aduh.....! Aaaaaahhhhkkkk....".”