icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Gairah Pelarian Cinta

Bab 5 Part 05

Jumlah Kata:1534    |    Dirilis Pada: 04/03/2025

Ci

u sakit?", ta

nggung ku yang membungkuk anggukan

, aku menegakkan tubuh ku. Kemudian aku beringsut begitu

ta anakku?", tanya mama

ngin? Kecapea

i kepala ranjang. Aku tetap diam tidak menjawa

skan apa yang te

membuat mama ku bisa memaham

llah", pekik

ntuk bertumpu pada dinding. Merasa l

ak hamil kan, C

seolah-olah baru saja menyampaikan b

ma malah meremas-remas rambutnya dan memegangi

u?", erang mama terpukul. "Kau masih kuliah! Ba

apek dianggap sebagai anak kecil melulu. Aku ingin menunjukkan p

kehormatannya sebagai ibu tela

kksss....", suara tangisku mem

enangan ku bersama mama sebulan yang lalu, me

dian-kejadian yang lampau yang m

i jurusan Akuntansi di salah sa

dan kebetulan juga menga

engkapnya Robi Hermawan, adalah pria muda yang tampan yang

ocok dengan gayanya yang flamboyan. Hidung mancung, dagu persegi dengan ceruk di tengahnya. Bibir yang tipis, alis yang hitam dan tebal, kulit

do, olahraga beladiri yang membutuhkan ketahanan f

an anak-anak zaman sekarang, banyak para gadi

utama para mahasiswi, yang baru maupun senior, ramai mengg

lih Robi. Aku saat itu sedang berjalan menuju ke perpust

mu cantik?", kata nya dengan bergay

ersipu malu menyamb

ng cantik bak peragawati. Kamu harus

n tingkahnya, tidak ada seorang pun y

u betul-betul tidak siap, apalagi lan

akan tidak menyangka begitulah ca

anya sekedar menggoda

awaban apa pun. Membuatnya hanya bisa berdiri mematung sambil memperhatikan ku per

capannya, ia setiap hari selalu mendekati ku

di pintu keluar dengan gaya flamboyan nya, m

tara sebelah kakinya ditekuk melekat di dinding. Kaos dan celana jeans jadi andala

tanya ku pada nya, saat kami

hemistry tidak bisa dipaks

, seluruh sel di sekujur tubu

h piala lambang supremasi dari pertandingan yang ketat. Tanpa perlu bersaing,

berdua dengan ku, ternyata tida

a ku. Aku cantik, cerdas, dan anak orang kaya. Aku pantas m

i sahabat sekaligus teman sekelas ku, saat aku

aksa menyingkir dengan rela karena tidak pantas bersaing dengan ku, mesk

l, menjadi buah bibir oleh

enghalangi para mahasiswa di kampus ku untuk mendeka

kap malu-malu pada Robi, tapi sebetulnya pengen dipilih oleh nya. Dan diantara

atau bahkan selama janur kuning belum berdiri, siapa pun berhak

ngan ku dengan mengajak ku ke kantin, menawarkan diri mengantarkan ku pulang, bahkan dengan lancang

dengan penuh kemarahan. Perkelahian pun tak terhindark

dan sudah beberapa kali memenangi kejuaraan Taekwondo, bahkan pernah mewakil

n ku dari pria-pria pengagumku, masih ada saja yang berani melakukan

a dengan bogem mentah, dia tidak pandang bulu semua ia sikat dari mahasiswa seangkatan bah

alagi menyentuhku? Pasti berakhir dengan tubuh dan wajah babak belur hingga membuat pa

ujar Robi meradang setiap kal

an pernah ku biarkan lel

n tangannya yang kokoh. Ditatapnya ma

Cinta", ucap

rikan diri mu kep

ya mendekap ku kuat-kuat seolah ing

gihan nya untum mempertahankan ku d

a Robi yang bidang, aku mera

iki kepribadian yang rapuh seperti menemukan benteng yang kokoh untuk menjauhkan ku dari s

Memasrahkan diri sepenuhnya kepada Robi, kepada

memonopoli dan menyiksa tapi membuat

nya, apalagi berpaling darinya, sama

saja dan tidak menunjukkan ketidaksukaan nya mungkin anggapan mama hubungan k

da Robi, apalagi mama sering memergoki ku selalu diantar pulang Robi, mungkin saat itu mama sudah

s, rapi dan terlihat macho karena ingin menemani ku ke pesta

sahabat ku mama ku mulai menginterogas

a mu, nak?", perintah mama seperti mau mengorek

ni mengikuti perintah nya kemudian meng

ng sering main ke sin

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Gairah Pelarian Cinta
Gairah Pelarian Cinta
“Kepala ku mulai naik turun mengoral penis nya yang membuatku selalu terbayang. Sementara tangan kiri ku ikut mengocok naik turun. "Oooohhhh.... Cinta Stop...! Nanti keluaarrr! Aaaahhhh.....", lenguh Robi meminta ku berhenti mengoral penisnya. Aku berhenti dan kemudian berbalik badan, kami kembali saling pandang tanpa bicara satu kata pun. Lalu tiba-tiba tubuhku dipeluknya dan segera dibaliknya hingga kini posisi kami berganti menjadi Robi diatas tubuh ku dalam posisi missionary. Robi memandang tajam mata ku bebrapa saat seakan meminta ijin pada ku, aku hanya mengangguk dan berkata. "Pelan-pelan, ya!". Robi membelai pipi ku dan sesaat kemudian ia mencium kembali bibir ku agak lama dan setelah itu ia bicara dengan suara bergetar. "Jika sakit ngomong, ya. Ini juga yang pertama bagi ku, yang!". Aku hanya memejamkan mata saat kurasakan penisnya sudah berada di depan bibir vagina ku, di gesek-gesekannya sejenak supaya aku kembali bisa mengeluarkan cairan lubrikasi ku. Sambil terus menggesekkan penisnya di bibir vaginaku, Robi kemudian menggenggam penis nya dan mengarahkan serta menuntunnya ke bibir vagina ku. "Aawww....", pekik ku sambil meringis kesakitan saat kepala penis nya mulai membuka jalan, menuju vagina ku, 1/4 batangnya sudah memenuhi vagina ku yang kurasakan sesak dan penuh. "Sakit, Rob!", keluh ku. Robi yang melihatku meringis kesakitan kemudian ia mendiamkan sejenak sambil ia mengelus rambut dan mendaratkan ciumannya ke kening ku. Aku seperti merasa nyaman dengan perlakuannya barusan, sambil tersenyum aku berbisik pada nya. "Ambillah sayang, aku ikhlas menyerahkan untuk mu". Aku kembali memejamkan mata dan berusaha pasrah dan rileks, aku tahu ini bakalan sangat sakit dan merupakan kebanggan bagi kaum perempuan tapi rasa sayang ku menutup kesadaran ku saat itu, aku menanti dengan berdebar menyerahkan kehormatan ku pada lelaki yang sudah menaklukan hati ku. Melihat aku dengan pasrah di bawah membuat Robi mantap untuk memasukkan penis nya lebih dalam lagi hingga bisa merobek selaput darah ku. Lalu ia menghentakkan pinggulnya dengan keras sehingga membuat ku menjerit kembali. "Aaaaaawwwww..... Aduh.....! Aaaaaahhhhkkkk....".”