icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pernikahan Penuh Rahasia

Bab 4 perbedaan dalam hubungan

Jumlah Kata:837    |    Dirilis Pada: 10/12/2024

uka, tawa kecil yang mereka bagi di pagi hari, dan momen-momen diam di mana mereka hanya saling memandang. Kieran mulai memberanikan diri berbicara tentang masa kecilnya, tentang bagaimana a

berbisik di luar jendela dan lampu temaram di ruang keluarga mulai meredup, Nara duduk di dekat Kieran yang seda

untuk membuat pria itu terjaga dari lam

m. "Aku berpikir tentang perjanjian ini, Nara," katanya dengan suara serak. "Aku

ran, kita bisa menghadapinya bersama. Aku tahu perjanjian ini tidak mudah unt

berkilau di sana, tetapi itu segera terhapus oleh kepedihan di dalam dirinya. "Aku ingin percaya, Nara.

kut. Aku hanya takut kalau kau akan terus melawan perasaanmu. Aku tahu kau lebih dari

rasa ada sesuatu yang bisa dia genggam-sesuatu yang bisa memberinya kekuatan. Namun, tepat saat itu, suara

adalah saudara sepupu ayahnya, seorang pria yang sering muncul d

genakan jas hitam dengan ekspresi penuh tekanan. "Kieran, aku tahu apa

ku di tempat. "Paman, aku tida

u. Perjanjian ini tidak hanya tentang dirimu dan Nara. Ini tentang masa depan

ngingatkannya pada kenyataan yang selalu mengintai-bahwa mereka tidak bisa hanya hidup dalam du

, suaranya tegas namun terasa rapuh. "Kita harus teru

tahu apa yang harus dilakukan, Kieran. Aku tidak ingin kau merusak semu

jantungnya dengan keras. Namun, ia tahu bahwa ia tidak bisa

namun penuh tekad. "Kami punya hak untuk memilih apa yang kami inginkan. Kieran

a. "Kau tidak tahu apa-apa tentang dunia ini, gadis. Dunia ini tidak peduli pada perasaanmu. Ka

wan dan rasa takut akan akibatnya. Ia memandang Nara, dan dalam panda

engan suara yang bergetar tetapi penuh tekad. "Aku akan memilih

udara seolah menuduh. "Kieran, jika kau memil

kuatan meskipun tubuhnya terasa lemah. "Kieran, kita akan had

an ini adalah pertaruhan terbesar dalam hidupnya. Di sisi lain, Alden, Paman yang selal

napasnya. Dan di tengah semua itu, Kieran tahu satu hal pasti-bahwa apapun yang terja

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pernikahan Penuh Rahasia
Pernikahan Penuh Rahasia
“"Selama tiga bulan, aku terperangkap dalam permainan ini, Kieran. Apa kau memang berniat menghancurkan segalanya? Apa semua ini hanya permainan bagimu?" teriak Nara dengan mata yang hampir meneteskan air mata, suaranya bergetar penuh kebingungan dan kekecewaan. Di hadapannya, pria dengan sosok tinggi dan tampan berdiri tegak, wajahnya datar dan matanya tajam seperti pisau. "Apakah kau benar-benar tidak peduli dengan pernikahan ini?" tanya Nara, suaranya menjadi lirih, hampir seperti bisikan angin di tengah hutan yang sunyi. Kieran menghela napas, mengalihkan pandangannya sejenak, kemudian menatap Nara dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Dengarkan aku baik-baik, Nara. Aku menikahimu karena itulah yang diinginkan ayahku. Bukan karena aku mencintaimu. Jangan pernah berharap itu, meskipun aku harus menanggung rasa malu menjadi suami dari seorang gadis yang hanya dikenal sebagai putri petani desa," jawabnya dengan nada dingin, nada suara yang membuat daging di tubuh Nara menggigil. Nara terpaku, lidahnya terasa kaku di mulut, matanya membulat lebar saat kata-kata Kieran menyusup ke dalam hatinya seperti jarum yang menusuk perlahan. Perasaan itu, yang selama ini dia pendam, seolah-olah mencair, berubah menjadi sepasang mata yang berisi air mata yang sudah tak mampu ia tahan lagi. Kieran menatapnya, terlihat sejenak ragu, namun segera mengalihkan pandangannya. Pernikahan ini adalah hasil dari utang yang ditinggalkan oleh ayah Nara, utang yang tidak sempat dibayar hingga akhir hayatnya. Kieran, pewaris dari keluarga terkaya di kota, diikat oleh perjanjian yang mengharuskannya menikahi Nara, mengikat hidup mereka dalam kontrak pernikahan selama sembilan puluh hari. Di dalam rumah tua yang kini jadi rumah mereka, Nara merasa semakin terperangkap. Hatinya bergejolak dengan pertanyaan yang tak kunjung terjawab-apakah selama tiga bulan ini mereka hanya akan terus hidup dalam kebencian, ataukah ada secercah harapan di balik semuanya?”