icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pernikahan Penuh Rahasia

Bab 3 menyapu pandangan ke seluruh ruangan

Jumlah Kata:903    |    Dirilis Pada: 10/12/2024

atanya masih terpejam dengan rapat saat sinar matahari menyelinap masuk melalui celah jendela. Pagi itu, ada pe

nuh dengan barang-barang yang diabaikan dan kenangan pahit. Namun, kali ini ia tidak merasa takut. Ada seman

s ia lakukan adalah memperbaiki hubungan dengan Kieran, meskipun ia tahu tidak akan mudah. Tadi malam, Kieran sempat menatapnya dengan pandangan

pagi hari. Namun, hari itu, tempat itu kosong. Ia menyadari bahwa Kieran pasti masih sibuk dengan urusannya di luar, di dunia yang tidak pernah ia ke

pintu, mengenakan kemeja putih yang bersih, dasi hitam yang melilit lehernya, dan ekspresi serius yang biasa. Tapi, k

a dipenuhi harapan dan keberanian. Kieran

eolah-olah setiap kata yang diucapkannya

buat suasana lebih santai. Ia tahu, untuk mendekatka

a masih mengawasi Nara, penuh rasa ingin tahu yang sulit dijelaskan. "Sarapan? Tidak, aku... hanya ingin ta

k menghabiskan waktu denganmu. Mungkin kita bisa berjalan-jalan di

kata itu. Beberapa saat berlalu, kemudian ia mengangguk perlahan. "Baik

liar. Udara pagi itu segar, membawa aroma tanah basah dan bunga yang mekar. Nara berusaha menaha

memulai dari mana, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Nara adalah gadis yang penuh misteri baginya-gadis

au pernah berpikir tentang masa depanmu? Tentang a

engerti. "Masa depan? Aku hanya berusaha menjalani hari-hari dengan memenuhi kewajiba

dunia di mana kebebasan adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa dia miliki. Ia ingin meraih

g kewajiban. Ada kebahagiaan yang bisa kita ciptakan, bahkan dalam kesu

nyum yang hampir tak terlihat di wajahnya. Senyum itu datang dan pergi

gar seperti desah lega. "Mungkin aku memang butuh

arik diri. Sentuhan itu memberikan rasa hangat yang mengalir melal

bertemu dengan mata Kieran. "Kita tidak akan tahu

rasaan yang tidak bisa dia pahami sepenuhnya, tapi perasaan itu terasa benar. Ia mengangguk, merasakan sebuah

atan, seolah-olah dunia di sekitar mereka berhenti sejenak, memberi mereka kesempatan untuk memulai sesua

tahu bahwa mereka sudah melangkah ke arah yang benar-menuju masa depan yang bisa mereka

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pernikahan Penuh Rahasia
Pernikahan Penuh Rahasia
“"Selama tiga bulan, aku terperangkap dalam permainan ini, Kieran. Apa kau memang berniat menghancurkan segalanya? Apa semua ini hanya permainan bagimu?" teriak Nara dengan mata yang hampir meneteskan air mata, suaranya bergetar penuh kebingungan dan kekecewaan. Di hadapannya, pria dengan sosok tinggi dan tampan berdiri tegak, wajahnya datar dan matanya tajam seperti pisau. "Apakah kau benar-benar tidak peduli dengan pernikahan ini?" tanya Nara, suaranya menjadi lirih, hampir seperti bisikan angin di tengah hutan yang sunyi. Kieran menghela napas, mengalihkan pandangannya sejenak, kemudian menatap Nara dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Dengarkan aku baik-baik, Nara. Aku menikahimu karena itulah yang diinginkan ayahku. Bukan karena aku mencintaimu. Jangan pernah berharap itu, meskipun aku harus menanggung rasa malu menjadi suami dari seorang gadis yang hanya dikenal sebagai putri petani desa," jawabnya dengan nada dingin, nada suara yang membuat daging di tubuh Nara menggigil. Nara terpaku, lidahnya terasa kaku di mulut, matanya membulat lebar saat kata-kata Kieran menyusup ke dalam hatinya seperti jarum yang menusuk perlahan. Perasaan itu, yang selama ini dia pendam, seolah-olah mencair, berubah menjadi sepasang mata yang berisi air mata yang sudah tak mampu ia tahan lagi. Kieran menatapnya, terlihat sejenak ragu, namun segera mengalihkan pandangannya. Pernikahan ini adalah hasil dari utang yang ditinggalkan oleh ayah Nara, utang yang tidak sempat dibayar hingga akhir hayatnya. Kieran, pewaris dari keluarga terkaya di kota, diikat oleh perjanjian yang mengharuskannya menikahi Nara, mengikat hidup mereka dalam kontrak pernikahan selama sembilan puluh hari. Di dalam rumah tua yang kini jadi rumah mereka, Nara merasa semakin terperangkap. Hatinya bergejolak dengan pertanyaan yang tak kunjung terjawab-apakah selama tiga bulan ini mereka hanya akan terus hidup dalam kebencian, ataukah ada secercah harapan di balik semuanya?”