icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

ADELINE SHABIRA : Jeritan Hati Seorang Istri

Bab 4 BUKTI YANG DIABAIKAN

Jumlah Kata:1002    |    Dirilis Pada: 06/02/2024

u hendak mencari tukang kebun,

ng tidak berguna!" Mama menatap

r sedang memarahi Nyonya Adeline, namun jauh d

emakin membela diri maka dipastikan akan semakin b

pa harga lukisan

Adeline dengan jemari merema

. "Harganya sangat mahal. Ini adalah guci kuno dan guci ini sat

puluh ribu kali kalimat itu selalu meluncur ke luar dari mul

da dimarahi tanpa berbuat salah akhirn

pa

semua ini. Bukankah Nyonya

isan!" Mama melihat lukisannya kembali. "Ini kacanya ganti Bi, tap

nya," ja

harus ha

Nyo

cahan guci yang terbelah. "Ya Tuhan, guciku.

nya Nyonya bersiap saja untuk pergi arisan," B

n adukan kelakuan kamu yang merusak barang-barang

ng-barang Mama, lukisan

asa

onya?" Tanya Bibi memotong agar Nyony

a. "Bersihkan ini semua Bi, jangan sa

Nyon

, Mama segera pergi deng

anya masih berdiri dengan wajah

dapi Mama yang tidak pernah menyukaiku, b

eperti itu, jangan dim

usah dibahas lagi,

Nyo

aku tidak membantu merapikan

-apa Nyonya. Ini suda

aku akan pergi untuk m

aja, Bibi bisa merapik

i dalam hatinya masih merasakan sakit atas semua p

peralatan lainnya untuk members

apa i

kaget saja! Datang tidak terd

gini?" Tanyanya lagi

pas Mang Ujang," jawab Bibi. "Tolong b

indah ke

ku mau membersihkan se

lukisan yang ukurannya memang cukup lu

ah. Lukisannya masih aman," ucap Ma

erdiri melihat lukisan yang ada di lantai

isan. "Beban lukisan ini sangat berat dengan bingkai yang terbuat

Mang Ujang?

mperlihatkan potongan paku. "

akunya patah, jadi luki

isan dengan paku kecil b

uan Ronald dan Nyonya

aku yang sedikit le

angkah suara sepatu yang men

ib

at Nyonya besarnya sudah rapi de

u pergi

Nyo

sar melihat tangan Mang Uj

aku Nyonya," ja

ngan

n beban berat lukisan. Nyonya bisa melihatnya, paku

idak menghiraukan ucapan Mang Ujang. "Jaga rumah bai

nya," ja

dongak Nyonya besarnya pergi begitu saja m

gat egois! Dari tadi sudah tahu kalau lukisan ini jatuh karena paku yang pata

sudah tahu, Nyonya Melanie

Adeline sedang dimarahi Nyonya Melanie. Kamukan tahu sen

mua. Tidak baik juga membicarakan orang

ya

ersihkan dan merapikan ruang ta

r Adeline memang

ajikannya sudah rapi dan cantik wa

tuk keperluan bulanan dap

ibi akan menjaga rumah ini

nyum. "Bibi a

ng Ujang atau bawa mob

Ujang saja,"

bilnya dulu di garasi." Dengan cep

baik-baik." Adeline melangkah

ibi kembali melanjutk

luar dari garasi, tapi dari arah pintu pagar terl

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
ADELINE SHABIRA : Jeritan Hati Seorang Istri
ADELINE SHABIRA : Jeritan Hati Seorang Istri
“Ketika cinta diabaikan, Ketika cinta tidak dihargai, Ketika cinta dikhianati, Semuanya akan hilang, ketika cinta tidak lagi bermain dengan perasaan. Semuanya akan lenyap, ketika cinta telah kalah oleh logika. Semuanya akan musnah, ketika cinta sudah habis kesabaran. "Aku membencimu! Aku sangat membencimu! Hati istri mana yang tidak tersakiti, jika suami yang telah bersumpah untuk menjaga istrinya di depan Tuhan, lebih mempercayai ucapan orang lain dibandingkan dengan ucapan istrinya sendiri!" "Lalu, aku harus bagaimana?!" Dengan amarah yang tak tertahan serta air mata menggenangi kelopak mata, Adeline menatap tajam wajah suaminya. "Hanya sebesar itukah, kamu percaya padaku?!" "Jangan membuatku berada diposisi yang sulit Adeline!" "Posisi yang sulit?!" Adeline tersenyum kecut. "Ok! Baik, baiklah. Aku akan mempermudah posisimu! Aku akan membebaskan dirimu, hidupmu dan keluargamu! Bayangan dirimu sekalipun, akan aku bebaskan!" "Adeline Shabira! Apa maksudmu?!" Penyesalan selalu datang terlambat, setelah badai besar yang terjadi dalam ikatan pernikahan mereka. Kebenaran mulai muncul satu per satu, tapi semuanya sudah terlambat. Cinta dan kepercayaan telah menguap bersama angin. Hati yang telah mengeras, akankah bisa mencair kembali? Hati yang telah terluka, akankah bisa memaafkan kembali? Hati yang telah kosong, akankah bisa terisi kembali? Note : Bijaklah dalam membaca 18+ Karya ini murni dari hasil imajinasi author sendiri tanpa ada maksud untuk menyinggung unsur manapun atau pihak manapun.”